Mencintai itu mudah, yang sulit itu melupakannya.
Mencintai itu mudah, yang sulit itu mengungkapkannya.
Mencintai itu mudah, yang sulit itu mengikhlaskan kepergiannya.
Pernah sekali aku mencintai sahabatku, ia selalu menemaniku dalam suka maupun duka, ia selalu menyemangati ku yang sedang lelah untuk berjuang, ia selalu ada di dekatku di manapun aku berada.
Hingga pada suatu hari ia memberikan aku sebuah undangan dan mengatakan bahwa ia akan segera menikah, ia tidak pernah dekat dengan wanita manapun selain aku sedari kecil, apalagi berpacaran, rasanya itu mustahil.
Dan katanya itu adalah sebuah perjodohan yang sudah direncanakan oleh orangtuanya sedari dulu, dan saat acara lamaran beberapa hari yang lalu ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan calon istrinya.
Saat ia mengatakan hal itu seakan ada petir yang menyambar ku, aku langsung diam seribu bahasa, seperti tidak ada semangat untuk hidup lagi, karena aku sudah tidak punya siapa-siapa.
Tapi ia mengatakan padaku bahwa ia akan tetap ada, dan akan tetap datang padaku apapun yang terjadi jika aku memanggilnya.
Meskipun aku tidak rela, namun mau tidak mau aku harus merelakannya, karena kurasa aku akan bahagia jika ia bahagia.
Tidak lama setelah hari itu ia benar-benar melangsungkan pernikahannya dengan wanita tersebut, dia lebih cantik, anggun, kaya dan (mungkin) lebih baik dan Sholehah dari diriku. Aku hanya bisa menahan tangis saat sedang bersalaman dengan mereka.
Entah mengapa rasanya Ingin sekali aku lari dari acara itu, namun tidak bisa, karena yang menikah adalah sahabatku.
Rasanya Sakit, namun tidak berdarah.
Perih, namun tidak terluka.
Inilah kisahku saat "mencintai dalam diam".