Pagi itu terdapat sebuah surat undangan di depan rumah Jeon. Ia melihat isi surat tersebut dan itu adalah sebuah undangan untuk acara makan malam. Lelaki itu heran dan bertanya-tanya akan perihal undangan yang ada padanya tersebut.
Lalu Jeon pun meletakkan surat undangan di atas meja di ruang makan. Adiknya yang bernama Mida datang ke ruang makan dan mengambil surat undangan yang ada di atas meja. Mida membacanya, lalu dia mengajak sang kakak untuk pergi ke acara tersebut. Namun, Jeon menolak. Sebab ia tidak tahu siapa yang mengirim undangan itu. Mida yang mendengar penolakan abangnya, langsung pergi sambil membawa surat undangan ke dalam kamarnya.
Malam harinya, Jeon sedang makan seorang diri di ruang makan. Saat baru selesai makan, tiba-tiba dirinya melihat sang adik tengah bersiap-siap pergi.
Setelah ditanya oleh Jeon, ternyata perempuan itu hendak pergi ke acara makan malam tersebut. Mendengar hal itu, Jeon langsung melarangnya. Tetapi Mida bersikeras ingin datang dan pergi meninggalkan abangnya di rumah.
Jeon yang merasa khawatir langsung bergegas mengikuti Mida dari belakang. Dan mereka berdua pergi menuju lokasi acara yang sesuai dengan isi surat tadi pagi.
Mida sampai di depan tempat acara makan malam.
Sebuah rumah besar berada di depan mata. Kemudian Mida melangkah masuk, di ikuti oleh Jeon yang masih berusaha sembunyi dari pandangan adiknya itu.
Acara makan malam pun dimulai. Terlihat orang-orang datang memenuhi undangan yang di serahkan tadi pagi. Dan mereka semua datang dengan rasa penasaran yang masih melekat di diri masing-masing. Namun, pengecualian bagi Mida. Sebab perempuan ini hanya berpikir mengenai apa saja yang di tampilkan di acara tersebut dan hidangan apa yang akan di suguhi untuk para hadirin yang datang. Mida menantikannya dengan senyuman bahagia. Sementara Jeon hanya melihat Mida dari kejauhan dan berusaha memerhatikan gerak geriknya.
Meja besar yang di isi oleh tetamu itu di datangi oleh para pelayan dengan membawakan beberapa hidangan tertutup. Mida penasaran apa yang akan di makannya malam ini.
Kemudian penutup hidangan dibuka. Alangkah terkejutnya para tamu yang datang. Mereka tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Dan merasa kesal karena hal itu. Mida pun juga turut kesal dan merasa di permainkan.
Terdapat beberapa jarum suntik dibalik penutup hidangan tadi. Mida langsung berdiri bersama orang-orang lainnya. Mereka turut menyampaikan kekesalannya pada para pelayan yang ada.
Dan sesuatu pun terjadi pada tamu undangan.
Dengan menyaksikan secara langsung, seorang pelayan mengambil jarum suntik dan mengambil darah dari salah seorang tamu secara kasar. Dan darah itu dimasukkan ke dalam gelas yang sebelumnya sudah di sediakan di masing-masing sisi tamu. Jeon juga melihat kejadian tersebut dan langsung menoleh ke arah Mida.
Satu persatu para tetamu yang datang di tangkap dan di suntik paksa oleh para pelayan yang ada. Mida histeris dan kabur dari sana. Di susul oleh Jeon yang mengikutinya dari belakang. Beberapa orang langsung mati seketika di tempat setelah penyuntikan paksa dari para pelayan. Sementara yang lainnya berusaha kabur dari rumah besar itu.
Pintu tertutup dan mereka semua terjebak di dalam.
Panik dan histeris, membuat semuanya saling dorong mendorong agar bisa mendapat posisi di depan pintu sambil berusaha untuk membukanya.
Mida terjatuh setelah di dorong ke belakang oleh salah seorang tamu yang panik.
Para pelayan datang mendekati para tetamu itu dan masing-masing memegang alat suntik.
Jeon melihat bekas darah di mulut sang pelayan yang berarti darah para tetamu tadi diminum oleh mereka semua. Dan dengan sigap Jeon menghampiri Mida, lalu mengajaknya untuk mendobrak pintu sekuat tenaga.
Usaha mereka berdua tidaklah berhasil.
Para tetamu yang masih sibuk dengan diri sendiri itu di bentak oleh Jeon dan berharap mereka semua bisa bekerja sama kali ini. Setelah itu mereka semua pun bersama-sama mendobrak pintu. Beberapa kali dobrakan belum mampu membukakan pintu, hingga pada akhirnya saat dobrakan terakhir pintu pun berhasil dibuka. Jeon menarik lengan Mida agar bisa berlari lebih cepat secara bersamaan.
Beberapa orang tamu lainnya ada yang terkena serangan dari pelayan disana. Jeon tak kuasa melihatnya dan dengan keberanian yang ada, dia langsung menyerang para pelayan tersebut.
Mida berteriak, namun Jeon tetap terus melakukan serangan balasan.
Para tamu yang tersisa berhasil keluar dari pekarangan rumah besar itu. Sementara Mida masih menunggu Jeon yang sibuk menyerang para pelayan yang ada dengan pukulannya. Saat Jeon tengah memukul salah seorang pelayan, tiba-tiba datang sebuah serangan yang ada di belakangnya. Jarum suntik itu mendekati tubuh Jeon. Mida yang melihat itu pun dengan sigap langsung membantu abangnya.
Serangan dari Mida berhasil. Dan ia berteriak agar Jeon segera pergi dari sana. Adiknya yang berteriak sambil menangis itu, membuat Jeon akhirnya mundur dan pergi dari pekarangan rumah besar tersebut.
Semuanya telah keluar dari pekarangan rumah besar yang misterius itu. Para tamu yang selamat, langsung memutuskan pulang. Dan menyisakan Jeon dan Mida di depan gerbang pagar rumah misterius itu. Dalam sekejap, rumah besar yang dikunjungi tadi hilang setelah kabut tebal menutupi bagian rumah tersebut.
Mida memeluk Jeon dan meminta maaf padanya. Dia merasa menyesal atas keputusannya. Jeon hanya mengelus kepala adiknya itu sambil menenangkannya.
Selepas kejadian itu, para polisi datang atas laporan dari Jeon dan memeriksa tempat kejadian perkara.
Lalu mereka berdua pun pulang bersama usai memberikan keterangan terkait kejadian sebelumnya.
-----SELESAI-----