Putri Agni senang berpetualang dan terobsesi dengan seekor naga yang pernah menyelamatkan nyawanya ketika ia masih kecil dalam sebuah peperangan antara Kerajaan Candraloka dan Kerajaan Lembu Petak. Seekor naga itu membawa Agni ke sebuah taman tersembunyi di Kerajaan Candraloka. Taman itu bernama Taman Narayana. Di sana terdapat banyak naga dengan jenis berbeda-beda.
Seekor naga yang menyelamatkan Putri Agni dan membawanya ke Taman Narayana itu bernama Naga Laksa. Naga Laksa memiliki sisik emas dan memiliki dua warna semburan api yaitu merah untuk membakar sesuatu dan biru untuk mendinginkan sesuatu. Naga Laksa adalah raja dari para naga yang hidup di Taman Narayana.
Ketika pecah perang kerajaan Candraloka dan Lembu Petak, Naga Laksa sedang bersemedi di sebuah gua. Ia merasakan suhu bumi semakin memanas. Ia pun keluar dari gua dan mengakhiri semedinya.
Naga Laksa terbang mengitari Kerajaan Candraloka dan melihat peperangan yang sedang terjadi antara Kerajaan Candraloka dan Kerajaan Lembu Petak. Suasana di sana sangat kacau. Hampir semua bagian kerajaan terbakar.
Saat itu, Naga Laksa melihat Putri Agni yang berusaha kabur lewat jendela di kamarnya. Putri Agni berniat untuk terjun dari kamarnya ke taman belakang kerajaan yang belum terbakar. Namun tepat di tepi jendela, ia ragu untuk terjun ke bawah, karena ia berada di bangunan teratas.
Melihat kejadian itu, Naga Laksa menghampiri Putri Agni sambil mengepak-ngepakkan sayapnya. Naga Laksa juga menyemburkan api biru untuk mendinginkan beberapa jendela kamarnya yang terbakar. Naga Laksa memberikan kode kepada Putri Agni berupa kepakan sayapnya agar ia menaikinya.
Karena situasi semakin memburuk, akhirnya Putri Agni memberanikan diri untuk terjun dari kamarnya. Ia pun mendarat di punggung Naga Laksa. Naga Laksa langsung membawanya ke Taman Narayana.
Setibanya di Taman Narayana, Putri Agni menjadi seorang yang pendiam dan murung. Ia tak mau makan apapun, meskipun beberapa naga pelayan telah memberinya buah-buahan spesial dari Taman Narayana. Ia hanya menangis sepanjang waktu sambil memanggil ayah dan ibunya.
Tidak tega dengan keadaan Putri Agni, Naga Laksa memutuskan untuk mencari kedua orang tua Putri Agni dan membantu Kerajaan Candraloka. Naga Laksa pun mengutus beberapa pengawalnya untuk pergi bersamanya. Selama kepergiannya, Naga Laksa menitipkan Putri Agni kepada adiknya bernama Soca.
Bersama Soca, mulai terlihat perubahan dari Putri Agni. Ia sudah mau memakan buah-buahan yang disajikan oleh Soca. Ia juga mau bermain dengan teman-teman naga lainnya. Putri Agni sangat senang melihat pertunjukan dari para naga tersebut yang menunjukkan semburan api mereka yang berwarna-warni.
Ketika Putri Agni hampir terkena semburan api merah dari seekor naga kecil, Naga Soca pun melindunginya dengan menyemburkan api biru. Pertemuan dua semburan api itu mengenai sebuah pohon, lalu pohon itu menghitam seperti hangus terbakar. Sejak saat itu, Putri Agni mengetahui bahwa semburan api dari para naga itu mengandung racun berbahaya.
Beberapa bulan kemudian, perang antara Kerajaan Candraloka dan Kerajaan Lembu Petak pun berakhir dengan kemenangan Kerajaan Lembu Petak. Naga Laksa dan Ayah Putri Agni, yaitu Raja Wisanggeni menjadi tahanan Kerajaan Lembu Petak. Sementara Ibu Putri Agni, yaitu Ratu Kejora, beserta kakak-kakak Putri Agni meninggal dalam peperangan tersebut.
Putri Agni dan Naga Soca merasa putus asa menunggu kabar dan kedatangan dari Naga Laksa. Naga Soca pun mengajak Putri Agni berkeliling di Taman Narayana untuk menghibur diri. Naga Soca tidak berani mengajak Putri Agni keluar dari taman itu karena taman itu dilapisi oleh tabir pelindung agar tidak ada penyusup atau para naga yang keluar masuk sembarangan. Hanya naga terpilih saja yang bisa melewati tabir pelindung itu.
Ketika melewati sebuah pohon emas di Taman Narayana, Putri Agni melihat ada sebuah kendi yang menyala terang. Naga Soca pun mengajaknya turun menghampiri pohon itu. Putri Agni mendekati kendi itu dan mengintip isinya. Karena masih penasaran, Putri Agni pun mengangkat kendi itu.
Putri Agni merasa keberatan mengangkat kendi itu, Naga Soca berusaha membantunya. Namun tiba-tiba Putri Agni tersandung oleh akar pohon itu dan membuatnya meminum air yang ada di kendi itu.
Suasana di Taman Narayana pun berubah. Angin kencang berembus. Kilatan petir menyambar. Terdengar raungan dari Naga Soca dan para naga lainnya. Beberapa detik kemudian Taman Narayana lenyap tak bersisa begitu pula para naga. Mereka semua seolah-olah ikut terhisap dalam tubuh Putri Agni.
Taman Narayana berubah menjadi padang pasir yang gersang. Putri Agni menangis dengan sangat keras. Tidak ada siapa pun di sana. Ia menyesali perbuatannya yang ceroboh itu.
Putri Agni kemudian berkelana sebatang kara. Ia mencari jalan pulang ke istananya, meskipun ia tidak mengetahui bagaimana keadaan istana saat itu.
Di tengah-tengah perjalanan, Putri Agni bertemu dengan beberapa penduduk yang bersedia memberinya makan minum dan juga tempat untuk beristirahat. Putri Agni menyembunyikan identitasnya sebagai seorang putri.
Suatu hari di tempat penduduk tersebut terjadi kebakaran. Sayangnya, di tempat penduduk itu sedang terjadi krisis air karena beberapa bulan hujan tidak turun. Para penduduk kebingungan untuk mendapatkan air.
Putri Agni ikut membantu memadamkan api itu. Karena kelelahan, Putri Agni mengembuskan napasnya dalam-dalam. Tiba-tiba muncul semburan api biru dari mulutnya ketika ia mengembuskan napasnya. Kobaran api itu langsung padam. Para penduduk terkejut melihat kemampuan Putri Agni yang bisa menyemburkan api.
Sejak kejadian itu, Putri Agni diangkat menjadi pemimpin oleh para penduduk itu. Putri Agni bersama para penduduk membangun perkampungan mereka menjadi lebih maju dan makmur.
Beberapa tahun berlalu, Putri Agni menceritakan identitasnya sebagai seorang putri berniat untuk kembali ke kerajaannya. Kebetulan tempat para penduduk itu dekat dengan Kerajaan Candraloka. Untuk membalas kebaikan Putri Agni, para penduduk ikut pindah ke Kerajaan Candraloka.
Sesampainya di kerajaan, betapa terkejutnya Putri Agni melihat kondisi kerajaannya. Tidak ada sanak saudara yang ia jumpai di sana. Saat itu juga amarah Putri Agni membara, tanpa sadar, ia menyemburkan api merah dan membakar bangunan kerajaan yang tersisa. Para penduduk yang ikut dengannya mencoba menenangkannya. Setelah tenang, Putri Agni kemudian menyemburkan api biru untuk memadamkan api yang tengah berkobar.
Beberapa hari berlalu sejak Putri Agni kembali ke kerajaan. Para penduduk membantunya untuk membangun kembali Kerajaan Candraloka. Sementara Putri Agni memikirkan bagaimana cara mengembalikan Taman Narayana yang telah ia lenyapkan.
Kemudian terlintas dalam pikirannya untuk memasukkan semburan api biru dan merah ke dalam sebuah kendi. Ia memusatkan pikirannya dan mengontrol emosinya agar bisa mengeluarkan semburan api yang tepat.
Putri Agni pun berhasil mengeluarkan semburan api biru dan merah dan memasukkannya ke dalam kendi. Ia melakukannya di taman belakang kerajaan. Saat itu juga, tiba-tiba taman tersebut berubah menjadi Taman Narayana. Beberapa naga pun keluar dari kendi itu.
Naga yang terakhir keluar dari kendi itu adalah Naga Soca. Putri Agni langsung memeluknya sambil menangis. Putri Agni pun meminta maaf pada Naga Soca atas kecerobohan yang dilakukannya. Naga Soca menjawab Putri Agni menggunakan bahasa manusia. Putri Agni terkejut mendengarnya. Ternyata semua naga itu bisa bicara menggunakan bahasa manusia.
Putri Agni lalu memberitahu para penduduk tentang Taman Narayana dan para naga itu. Mereka kemudian hidup berdampingan dan membangun kerajaan bersama-sama.
Setelah keadaan Kerajaan Candraloka mulai membaik, Naga Soca memberitahu Putri Agni bahwa selama ia berada dalam tubuh Putri Agni, ia terhubung dengan Naga Laksa. Ia bisa melihat keadaan Naga Laksa juga Raja Wisanggeni yang tengah ditahan oleh Kerajaan Lembu Petak. Mendengar berita itu, perasaan Putri Agni bercampur aduk. Di satu sisi ia bahagia mengetahui ayahnya dan Naga Laksa masih hidup, tapi di sisi lain, ia bersedih mendengar mereka menjadi tahanan kerajaan.
Putri Agni dan Naga Soca kemudian menyusun sebuah rencana penyerangan ke Kerajaan Lembu Petak. Penyerangan itu sekaligus jadi pembalasan untuk Kerajaan Lembu Petak karena telah mengkhianati kesepakatan dengan Kerajaan Candraloka dalam hal batas-batas wilayah.
Putri Agni mengerahkan pasukan naga dan para penduduk dalam penyerangan tersebut. Setelah Taman Narayana dan para naga itu muncul kembali, Putri Agni kehilangan kemampuannya untuk menyemburkan api. Tetapi sebagai gantinya, para naga bisa berbahasa manusia dan mereka terhubung dengan pemimpin mereka yaitu Naga Laksa.
Putri Agni memimpin penyerangan dengan menaiki Naga Soca. Begitu pula penduduk lainnya, mereka menaiki para naga yang telah menjadi teman baik para penduduk itu. Mereka akan melakukan penyerangan dari udara.
Setibanya di Kerajaan Lembu Petak, sedang terjadi pesta besar-besaran serta eksekusi mati bagi Raja Wisanggeni dan juga Naga Laksa. Melihat kondisi itu. Para naga yang memiliki semburan api merah langsung menyemburkan api ke kerajaan tersebut. Pesta pun berubah ricuh. Para penduduk berhamburan meninggalkan halaman kerajaan.
Para naga yang memiliki semburan api biru bersama Putri Agni dan Naga Soca menuju ke tempat eksekusi mati. Di sana mereka menemukan Raja Wisanggeni dan Naga Laksa yang sedang dirantai. Kobaran api di sekitar tempat itu kemudian dipadamkan oleh para naga berapi biru.
Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya mereka bertemu kembali. Putri Agni pun memeluk ayahnya sambil menangis dan membantunya membukakan rantai yang membalut tubuhnya. Kemudian Putri Agni menghampiri Naga Laksa dan melepaskan rantainya lalu memeluknya.
"Jangan menangis Putri Agni, semua akan baik-baik saja," ucap Naga Laksa.
"Kamu dapat berbicara seperti manusia juga?" Putri Agni terkejut mendengar suara Naga Laksa.
"Iya Putri, kami para naga telah mengalami resonansi terhadap jiwamu. Kami pun bisa berbahasa seperti bangsamu," jelas Naga Laksa.
"Putriku tersayang, tanpa kamu sadari kamu telah membangkitkan kekuatan resonansimu yang menjadi kekuatan turun temurun dari leluhur kita. Sudah beberapa generasi berlalu dan kekuatan itu terputus alias tak terwariskan. Tapi ternyata hari ini, ayah melihat kebangkitan dari kekuatan itu lagi," tutur Raja Wisanggeni.
"Jadi kekuatan ini adalah warisan turun temurun dari leluhur kita, Ayah?" Raja Wisanggeni mengangguk, "Lalu para naga ini berasal dari mana, Yah? Mengapa mereka bisa terhubung dengan kita?" tanya Putri Agni penasaran.
"Para naga ini adalah peliharaan lelulur kita, mereka adalah naga khusus yang memiliki dua semburan api yang berbeda serta memiliki racun dalam semburannya. Mereka bertugas untuk membantu pertahanan kerajaan pada masa itu. Lalu suatu hari Kerajaan Lembu Loka berniat memburu para naga itu. Oleh lelulur kita, para naga itu kemudian di sembunyikan ke sebuah tempat bernama Taman Narayana yang memiliki tabir pelindung dari dunia luar," jelas Raja Wisanggeni dengan sangat rinci.
"Jadi mereka sudah ada sejak zaman leluhur kita? Oleh karena itu, Naga Laksa menyelamatkanku saat terjadi peperangan beberapa tahun lalu karena memang dia mengenaliku sebagai anggota keluarga kerajaan," ucap Putri Agni terharu.
"Betul putri, sudah kewajiban kami untuk melindungi kerajaan beserta keluarganya, dan terima kasih Putri karena telah menyelamatkan saya dari tahanan Kerajaan Lembu Petak," kata Naga Laksa penuh haru.
Para naga berapi merah telah kembali dari tugasnya. Seluruh kerajaan telah hangus terbakar. Namun para penduduknya banyak yang selamat, sementara keluarga kerajaan Lembu Petak telah tiada dalam peristiwa itu.
Kini, para penduduk Kerajaan Lembu Petak bergabung dengan Kerajaan Candraloka. Raja Wisanggeni yang mengambil alih kepemimpinan mereka. Setelah itu, Raja Wisanggeni dan rombongan kembali ke Kerajaan Candraloka menaiki para naga.
Sekembalinya mereka ke Kerajaan Candraloka, pertumbuhan ekonomi dan pertanian mereka berkembang pesat. Taman Narayana pun menjadi taman hiburan dan bermain bagi anak-anak bersama para naga. Di kerajaan itu juga dibangun sebuah sekolah agar para generasi penerus bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Mereka kemudian hidup berdampingan dengan damai. Raja Wisanggeni memerintahkan kerajaan dengan bijaksana didampingi oleh Putri Agni dan Naga Soca, sedangkan Naga Laksa, ia kembali ke tempat persemediannya.