Ketika aku membuka mata, aku terkejut dengan apa yang ku lihat. Dengan segera aku terduduk dari posisi tidurku. Aku melihat sekeliling terlihat asing. "Dimana aku? Mengapa aku tertidur di ranjang dan mengenakan pakaian bangsawan?"
Aku sangat bingung. Seingatku, aku sedang tidur siang di sofa rumahku, bangun-bangun aku sudah berada di sini. Apa aku sedang dalam time travel seperti cerita-cerita di komik ya?
"Ternyata kamu sudah sadar."
Suara pria mengejutkanku. Aku pun menoleh mencari asal suara itu. Dan lebih terkejutnya ada seekor naga di ruangan yang sama denganku. Tubuhku gemetar melototi naga itu.
"Apa kau baik-baik saja?"
Apa? Naga itu bisa berbicara? Oh tidak!
Tubuhku terkulai lemas, tidak kuat lagi menahan tubuh yang diselimuti rasa takut. Aku tidak percaya mengapa aku sesial ini. Apa aku sedang bermimpi?
"Hei! Sepertinya kau sedang tidak baik," kata naga itu.
Semakin membuatku ketakutan, naga itu mendekat ke arahku. Spontan aku melempar bantal disekitarku ke arah naga itu. "Jangan mendekat! Pergi kau naga jelek!"
Naga itu tertawa, "Hahaha. Apa kau mencoba ingin membunuhku dengan bantal itu?"
Suara tawanya benar-benar membuatku takut. Aku tidak bisa lagi menahannya. Aku menangis sekeras-kerasnya di depan naga itu. "Huhu. Tolong aku ayah, ada naga besar yang ingin memakanku," rengek ku.
"Hei! Siapa juga yang ingin memakanmu. Tubuh kurus kering seperti itu, tidak akan memuaskan perutku."
"Siapa yang akan percaya dengan naga jelek sepertimu tidak akan memakanku?"
"Jangan khawatir, aku meminjammu hanya sebagai sandera saja. Aku benar-benar tidak akan melukaimu," bujuknya
"Apa kau bilang? sandera? sudah sangat jelas ada akhirnya kau akan memakanku jika tidak ada yang menebusku, huhu."
"Hei-hei. Sudahlah jangan menangis lagi"
"Bagaimana mungkin aku tidak menangis? Kau membuatku takut setengah mati"
Naga itu terdiam, menghela nafas panjang. "Kau benar. Siapa yang tidak takut melihat sosokku yang seperti ini. Orang dewasa saja menangis, apalagi anak kecil."
Tangisku seketika terhenti mendengar kalimatnya si naga. Lalu naga itu melanjutkan, "Seandainya aku bisa kembali ke wujud asliku, aku akan menjadi lebih baik lagi, melindungi orang-orang terdekatku"
"Apa maksudmu? Apa kau dulu seorang manusia?" tanyaku
Si naga menghela nafas lagi, menceritakan kisahnya.
"Dulu aku seorang pangeran. Aku memiliki orang tua yang sangat menyayangiku. keluarga kami begitu harmonis.
Hingga suatu hari datanglah seorang penyihir tua ke keluarga kami. penyihir itu menghancurkan sebagian istana kami dan membantai para pelayan kami.
Penyihir itu juga ingin menyakitiku, namun dihadang oleh ayahku. ibu yang saat itu takut aku dihabisinya, menyuruhku pergi membawa permata merah sebagai simbol kekuatan keluarga kami.
Singkatnya, penyihir itu membunuh ayah dan ibuku tepat di hadapanku. Aku yang berusia 10 tahun hanya bisa menangis menyaksikannya.
Di nafas terakhir, ibu memintaku pergi. penyihir itu menyadari bahwa permata merah ada di genggamanku. Aku segera melarikan diri, lalu penyihir itu mengutukku menjadi seekor naga. Meski begitu, aku berhasil pergi dari sana dan menyembunyikan diri."
Ternyata dongeng seperti itu benar-benar ada ya, gumam ku.
"Lalu mengapa aku bisa menjadi sandera mu?" tanyaku.
Si naga itu dengan cepat merubah ekspresinya menjadi marah dan menjawab, " itu karena ayahmu telah mengambil permata merah dari tanganku, satu-satu barang yang berhargaku"
"siapa? ayahku?" tanyaku kebingungan.
"Iya, ayahmu si raja Idris. Dia mengambil paksa permata merahku untuk dihadiahkan kepada putrinya. Namun siapa sangka kini putrinya ada di tanganku. Dasar raja bodoh. Dia kira aku lebih bodoh darinya," ejek si naga.
Jadi si pemilik asli tubuh ini adalah seorang putri? dan ayahnya seorang raja? Tapi kenapa aku bisa berada dalam tubuh ini? Apa jangan-jangan..
"Tunggu dulu. Apa yang tadi kau lakukan padaku hingga tak sadarkan diri?"
"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab si naga
"Jangan berbohong!"
"Aku hanya membawamu terbang ke sini, dan kamu sudah tidak sadarkan diri, lalu aku meletakan mu di ranjang," jelas si naga.
Jadi hanya itu? Tak ku sangka si pemilik asli tubuh ini takutnya luar biasa hingga mati. Dasar lemah.!
Esok hari, aku bangun dari tidurku, aku tidak mendapati naga itu, kemana? Aku mendekati jendela kastil yang sangat besar. Aku tidak yakin apa benar ini jendela atau pintu aula, bahkan seekor naga yang besarnya melebihi gajah itu bisa masuk melewatinya.
Perutku mulai keroncongan.
Aku mencoba membuka pintu, namun terkunci. Lalu aku mencari makanan disekitar ruangan itu, dan tidak menemukan makanan secuil pun.
Apa yang harus aku lakukan? Aku bisa mati kelaparan dong jika seperti ini. Kemana naga itu pergi? Dasar naga jelek, tega sekali membiarkanku kelaparan.
Karena aku muak berada di sana, aku mencoba melarikan diri. Aku mencari-cari sebuah tali, namun tidak ku dapati. Lalu aku menarik kain sprei dan tirai sebagai tali, kemungkinan aku bisa turun dari jendela.
Ku ikat ujung kain di salah satu pilar ranjang dengan kuat, dan ujung lainnya ku lempar keluar jendela.
Dengan gaun panjang dan berat yang ku pakai, aku bertekad memanjat keluar jendela, menggenggam erat kain.
Sesampai di ujung kain, ternyata kain ini kurang panjang. panjang kain hanya setengahnya dari tinggi menara kastil. Bodoh!
Aku kembali naik memanjat. Tiba-tiba kedua tanganku terlepas dari kain yang ku genggam. "Aaaaaaa...."
Dan....
Hap!
Aku kira aku sudah mati. Lalu aku membuka mataku yang terpejam. Dan ternyata aku berada di punggung si naga yang sedang terbang.
"Apa kau mencoba bunuh diri?" tanya si naga.
"Kau membiarkanku kelaparan diatas sana, aku frustasi."
"Baiklah. Aku akan membawamu mencari makan"
Naga itu membawaku terbang dan singgah di bawah bukit. Dia mencarikan ku buah-buahan di sana.
Kami pun mulai dekat. Mengobrol, tertawa bersama. Menceritakan kehidupannya yang dulu. Hingga menjelang sore tiba, sekumpulan kesatria mengepung kami.
"Hei naga! Lepaskan putri Adele!" teriak seorang pimpinan dengan mengacungkan pedangnya ke arah si naga.
"Aku akan melepaskannya jika kau mengembalikkan permata itu," kata si naga.
"Apa dia ayahku?" tanyaku
"Ya, dia si raja Idris."
Tanpa ragu-ragu, sebuah anak panah melesat ke arah si naga dan diikuti anak panah lainnya. Namun tidak ada satu pun anak panah yang mengenainya.
Aku segera mendekati si naga, mencoba melindunginya. Entah apa alasannya, yang jelas aku tidak ingin naga itu mati.
"Putriku tenanglah. Ayah akan menyelamatkanmu dan membunuh naga itu," teriak raja Idris menunggangi kuda mendekat ke arahku.
"Tidak ayah, dia bukan naga jahat. Ku mohon jangan membunuhnya"
Raja Idris yang tak menghiraukan ucapanku tetap mencoba membunuh si naga. Lalu ia melompat dari kudanya dan mengarahkan pedangnya ke arah si naga yang sedang menghalau lesatan para anak panah.
Dan..
Aaggrrhhh..!!
Pedang raja Idris tertancap tepat di leher si naga. Si naga meronta-ronta kesakitan.
Aku terkejut. Semua itu terjadi seketika. Dan si naga itu akhirnya tersungkur kalah.
"Tidak...!!" aku berlari mendekati si naga. Menangis tidak terima ia mati dengan mudahnya.
"Tidak! Ku mohon jangan mati. Kau adalah naga yang baik, huhu"
Kulitnya yang kasar dan tebal itu, ku kecup dengan sepenuh hati sebagai tanda pelepasan yang terakhir. Lalu mayat si naga itu bersinar terang, membuat para mata silau melihatnya.
Dalam sekejap mayat si naga itu berubah menjadi seorang pria dewasa yang sangat rupawan. Dengan gagah mendekati ku.
"Apa kau si naga jelek?" tanya ku
Pria itu menganggukkan kepalanya. "Mantra sihir telah patah, semuanya berkat kau putri."
Aku hanya diam melongo melihatnya. Lalu ia membungkukkan badannya, "Salam putri! Namaku Tristan Lo Petter".