Dahulu kala, ada seorang anak laki-laki yang dikutuk memiliki kulit bersisik seperti naga. Sejak kelahirannya di dunia, dia sudah menerima kutukan itu.
Tak ada siapapun yang menerima kehadirannya, bahkan orangtuanya mengurung sang anak di dalam sebuah gua di dekat pantai tak berpenghuni.
Tahun demi tahun berlalu, gua tersebut tak lagi muncul di permukaan, dia tenggelam ke dasar lautan yang dalam.
Kini, sudah tak ada yang mengingat seorang anak yang tak diharapkan itu. Hanya bumi dan langit yang merasakan kehadirannya.
🐲🐲🐲
1 Januari 2021
Gadis bernama Lira sedang bersiap untuk keberangkatannya ke daerah pesisir tempat sang paman tinggal. Sudah seminggu yang lalu dia mempersiapkan liburannya itu. Lira sungguh tidak sabar untuk melihat kolam dunia yang tak berujung dengan kedua matanya.
Semua sudah siap, Lira bergegas keluar menuju pintu depan kosnya.
"Buk, Lira pamit dulu ya! Jaga kesehatan Ibuk, jangan sering marah-marah sama anak-anak yang gak berpendidikan itu." Ucap Lira pada pemilik kosan tempatnya tinggal.
"Aduh ... kamu Ra! Udah hampir botak Ibuk ngurusin mereka, mau gimana lagi udah nasip Ibuk nampung anak yang seperti itu!" Ketus pemilik kosan dengan kesal.
"Hehe ... Jangan khawatir Buk! Serahkan semua pada yang di atas! Ya sudah Lira berangkat dulu ya, salam buat semuanya." Lira mengecup punggung tangan Ibu kos dan segera menuju kang ojek yang sudah menunggu.
"Hati-hati, Ra! kalo sudah sampai kabari Ibuk ya!" Ucap ibu kos sembari melambaikan tangannya.
Lira berangkat menuju ke stasiun kereta api. Sekitar tiga atau empat jam, Lira akan sampai di kampung halaman sang paman.
Perjalanan menuju takdir dimulai.
🐲🐲🐲
Jam 16:05 WIB
Kereta berhenti di stasiun yang dituju oleh Lira. Dia dengan selamat sampai di kota sang paman. Dengan cepat lira mengambil koper bawaannya turun dari kereta.
Di pintu depan stasiun, seorang pria dewasa memakai baju biru melambai kearah Lira. Lira tersenyum lebar dan membalas lambaian tangan pria itu.
"Paman! Apa kabar?" Tanya Lira dengan semangat penuh rindu.
"Paman baik-baik saja, nak. Hanya saja paman sudah tambah tua." Ucap sang paman dengan wajah lesu.
"Hahaha... Paman jangan khawatir, semakin tua buah kelapa, semakin banyak pula santannya!" Ketus Lira dengan terbahak.
"Sudah! Ayo kita ke rumah, jangan sampai pohon jeruk paman yang baru tumbuh habis dicabut bibi mu." Ucap sang paman.
"Hahaha... Bibi terlalu bersemangat, Paman." Putus Lira dan terus berjalan menuju parkiran.
🐲🐲🐲
Betapa indahnya bumi ini dihias oleh Yang Kuasa. Tak hentinya Lira terpana melihat hamparan pasir dan air biru yang berkilau bagaikan kaca seakan mengawalnya di tepi jalan yang dilewatinya.
Jantung Lira seakan tak normal. Dia jatuh cinta dengan lukisan nyata di hadapannya itu. Dia tak dapat berucap, dia hanya terdiam di depan keajaiban bumi Pertiwi.
Semilir angin sore membelai tubuh Lira saat dia turun dari mobil sang paman. Rumah yang begitu dia rindukan, kini terpampang di depannya.
"Ayo, nak!" Ajak sang paman.
Lira segera mengangguk dan berjalan mengikuti sang paman.
"Lira ...!!!" Seorang perempuan dewasa dengan wajah berseri lari menuju kearah Lira.
"Eh! Bibi ... Apa kabar, Bi?!" Lira memeluk erat sang bibi yang melakukan hal yang sama.
"Wah! Aku hampir tak dapat membedakan ini drama atau bukan." Sahut seorang laki-laki seumuran Lira yang berdiri di depan pintu rumahnya.
Lira tersenyum kerah sepupunya itu, "Kau tambah ganteng ya sekarang." Ucap Lira sedikit memuji.
"Pastinya! Selebriti desa gitu lo!"
"Selebriti bapakmu! Sana ambil barang di mobil!" Ketus Bibi yang membuat Lira terbahak.
"Ya ampun, Mak ... Gitu amat sama anak sendiri!" Ucap Jarot dengan wajah kesal.
🐲🐲🐲
Begitu lelahnya Lira sampai-sampai langsung membuatnya tertidur saat merebahkan tubuhnya di kasur.
Bulan terlihat agak redup malam ini. Angin laut terdengar sibuk berhembus kesana-kemari. Suara katak yang tengah bersenandung menunggu hujan mengusik tidur lelap Lira.
"Woaaahh!" Lira menguap seakan bisa menelan lemari di depannya.
"Ah! Lapar, berapa jam aku tidur ya?" Lira merogoh tas ranselnya.
Layar android menyala saat dia menyentuhnya.
"Eh! Jam sepuluh! Ya ampun ...!" Segera Lira beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar.
Tidak ada siapapun di rumah, di meja makan ada sebuah surat yang tertulis bahwa paman, bibi, dan Jarot sedang keluar ke acara selamatan warga desa sebelah.
Perut yang sudah keroncongan sejak tadi membuat Lira segera menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh bibi nya hingga ludes.
🐲
Di depan rumah, Lira duduk sembari mencerna makanan yang baru saja dia makan.
"Ahhh ... udara malam yang nyaman," Lira memejamkan matanya menikmati malam dingin itu.
Namun, suara ombak laut membuat Lira tertarik untuk melihatnya.
"Aku rasa pantainya tidak jauh dari sini, emm... aku akan pergi sebentar." Putus Lira.
Tidak jauh dari rumah sang paman, lautan luas sedang sibuk menggoyangkan riaknya.
Pasir halus itu menyambut kedatangan Lira. Semilir angin malam memeluk tubuh Lira. Mata gadis itu tak dapat berkedip melihat indahnya laut yang berkilau diterangi rembulan yang separuh.
Untuk sesaat Lira memejamkan matanya merasakan suara alam yang begitu nyaman di telinga.
Namun, begitu terkejutnya Lira saat dia melihat sesuatu yang tengah berenang sambil meloncat-loncat di tengah laut tidak jauh dari daratan.
Lira mencoba memfokuskan matanya kearah sesuatu yang bergerak itu.
"Lumba-lumba?!" Aneh pikir Lira.
"Mana ada lumba-lumba yang berenang mendekati daratan." Ucap Lira kembali dengan perasaan bingung.
"Eh?!" Semakin aneh pikir Lira saat melihat objek bergerak itu semakin mendekati pesisir.
Lira tak beranjak dari tempat dia berdiri. Untuk sesaat dia ingin memastikan apa itu. Sesuatu itu semakin mendekati daratan.
Lira mengerutkan keningnya saat retina matanya menangkap sebuah ekor yang berbeda dari lumba-lumba.
"A ... Apa itu sebenarnya?!" Ucap Lira penasaran.
Lira mulai berjalan mendekati bibir pantai. Dia ingin memastikan makhluk apa yang dilihatnya itu.
"LIRA ...!!!" Suara yang memanggilnya dari belakang membuat Lira berpaling.
"Jarot?"
"Sedang apa kau disini malam-malam?! Ayo pulang, tidak baik malam-malam ke laut." Ajak Jarot yang segera menarik tangan Lira.
"Tu-Tunggu sebentar Jarot, aku ingin melihat sesuatu!"
"Lihat apa?" Jarot menghentikan langkahnya.
"Itu disana ada sesuatu!" Tunjuk Lira kerah laut yang kosong.
"Kau lihat hantu? Gak ada apa-apa disini. Sudahlah, ayo pulang." Putus Jarot dan segera meninggalkan laut.
🐲🐲🐲
Keesokan harinya ...
Lira masih kepikiran dengan apa yang dilihatnya semalam. Jika Jarot tidak datang, mungkin saja Lira sudah melihat apa itu sebenarnya.
"Sedang apa, Nak?" Tanya sang bibi yang duduk di sebelah Lira.
"Gak ada, Bik. Lira cuma lagi mikir sesuatu yang gak penting." Jelas Lira.
"Oya, Nak! Paman mu dan Jarot akan pergi berlayar besok, kau mau ikut?"
"Mereka mau menjala?" Tanya Lira.
"Bukan, mereka mau bawa beberapa wisatawan keliling laut. Jadi bibi pikir kamu pasti bosen kalau di rumah terus, gimana? Mau ikut?" Tanya bibi sekali lagi.
"Mau dong Bik!" Jawab Lira antusias.
"Ya sudah, nanti bibi bilang ke pamanmu ya."
Betapa senangnya Lira mendengar dia akan bisa melihat laut dari dekat.
🐲🐲🐲
Hari dimana Lira akan berlayar sudah tiba, sejak pagi Lira sudah tidak sabar untuk segera naik ke kapal.
"Ayo, Ra!" Ajak Jarot yang segera diangguki oleh Lira.
Kapal yang berukuran sedang sudah terparkir di bibir pantai. Semangat Lira semakin bertambah.
"Baik! Sepertinya semua sudah berkumpul. Ayo satu persatu naik ke kapal!" Seru Paman yang menjadi nahkoda kapal.
🐲
Perlahan, kapal sudah berlayar menuju ke tengah lautan. Lira tak henti-hentinya memotret dengan kamera miliknya.
"Ini indah sekali ...!" Seru Lira merasa puas.
Semua wisatawan juga merasakan hal yang sama. Tidak ada yang bisa tahan dengan keindahan yang nyata.
Namun, tiba-tiba langit perlahan mendung. Matahari yang sebelumnya bersinar dengan terang kini hilang ditelan awan gelap dan tebal.
Angin kian berhembus tak beraturan. Para wisatawan mulai merasa cemas dan takut, tak terkecuali Lira yang duduk meringkuk di dalam kapal.
Akan tetapi, anak seorang wisatawan tiba-tiba berjalan kearah ujung kapal. Tak ada yang melihat itu selain Lira.
Lira mencoba memanggil Jarot, tapi salam sekali tak didengar oleh Jarot karena suara hembusan angin kencang dan ombak yang kian meninggi.
Anak itu semakin jauh, tak ada yang bisa dilakukan Lira selain menolong anak itu sendiri. Dengan perlahan dan hati-hati, Lira mendekati anak kecil itu .
BHUM!!!
Suara ombak yang menghantam kapal hingga kapal terguncang sangat keras. Lira kembali menunduk, anak kecil itu mulai menangis.
Sedikit lagi Lira dapat menangkap anak itu.
"Dek ... ! Kemari lah...!" Seru Lira sembari merentangkan kedua tangannya.
Anak itu segera berjalan kearah Lira. Kapal kembali berguncang. Orang-orang mulai berteriak ketakutan.
Tak ada yang menyangka, ombak besar tengah mengikuti mereka. Semua mata terbelalak, tak ada yang berkutik, kini hanya Yang Kuasa yang dapat menolong mereka.
"PEGANG YANG KUAT TALI DI DEPAN KALIAN! JANGAN ADA YANG BERDIRI ...! TETAP DUDUK!!!" Seru Paman yang tengah mencoba mengendalikan kapal yang terus bergoyang.
BHUMMM ...!!!!
Ombak raksasa itu menghantam seisi kapal.
Blup ... Blup ... Blup ..
Tubuh Lira tenggelam ditelan sang ombak.
"To ... Tolong ... Aku ..."
Begitu perih disaat mulut tak dapat berteriak. Disaat uluran tangan tak ada yang menyambut. Disaat pandangan mata perlahan menghitam.
"Paman ... Bibi ... Jarot ... Maafkan aku ... Aku harus meninggalkan kalian ... selamanya ..." Lirih hati Lira yang tak dapat tersampaikan. Dia perlahan tenggelam ke dasar lautan.
🐲🐲🐲
Matahari sudah naik dipuncak angkasa. Deru ombak yang begitu lembut membelai naluri seorang gadis yang terbaring di atas alas daun yang ditumpuk.
Perlahan matanya mulai bergerak. Sedikit demi sedikit dia mencoba membuka kedua matanya.
Dengan samar, gadis bernama Lira itu melihat ada suatu bayangan di hadapan wajahnya. Lira mengedipkan matanya beberapa kali. Kini wajah itu terlihat dengan jelas.
Sebuah wajah yang dipenuhi rambut yang gimbal dan panjang. Seketika Lira tersentak saat kesadarannya telah terkumpul semua.
Lira meringkuk di pojok tempat yang terlihat seperti gua itu. Lira mencoba menjaga jarak dari makhluk itu. Namun, makhluk itu mendekati Lira dengan perlahan.
"Ja ... Jangan mendekat!" Bentak Lira yang sama sekali tak digubris oleh makhluk itu.
"JANGAN MENDEKAT ...!" Bentak Lira kembali dengan panik.
"Aoa ...?" Ucap makhluk itu seakan dia sedang berbicara, tapi sama sekali tak dimengerti oleh Lira.
Tiba-tiba makhluk itu mengulurkan sebelah tangannya kearah Lira.
"A ... Apa yang ingin kau lakukan?!" Ucap Lira gemetar.
"Aoaa ..."
"A ... Apa?! Aku ... tidak mengerti?!" Ucap Lira dengan bingung.
Tiba-tiba Lira merasa kedinginan, seketika Lira melihat tubuhnya.
"KYAAAAaaa ...!!!" Begitu terkejutnya Lira melihat tubuhnya tak dibalut dengan sehelai kain pun.
"Aoa?" Makhluk itu memiringkan kepalanya.
"Di ... Dimana ba ... bajuku ...?!!" Ucap Lira dengan wajah malu dan takut.
Makhluk itu berhenti mendekat, kini dia terlihat seperti sedang berpikir.
"Aoa? Aoa! Aoaaa ...!!! Aoa!" Ucap makhluk itu sembari menunjuk-nunjuk kearah api kecil di depan mulut gua.
Lira langsung melihat kearah yang dia tunjuk. Lira begitu lega melihat bajunya disitu. Namun, dia tidak bisa bergerak sama sekali. Mana mungkin dia berjalan di depan makhluk yang terlihat seperti manusia berjenis kelamin pria itu tanpa busana.
"To ... Tolong ambil bajuku kesini!" Pinta Lira padanya sembari menunjuk kearah baju dan dirinya agar orang di depannya itu paham.
"Aoa? Aoaaa ...!" Setelah berpikir sejenak makhluk itu langsung mengambil baju Lira dan memberikan ini padanya.
🐲🐲🐲
Situasi antara Lira dan sosok itu sudah sedikit mencair dan tenang. Karna sudah merasa tenang, Lira mulai merasakan perutnya yang keroncongan.
Manusia berambut gimbal itu tengah sibuk membakar ikan di mulut gua. Lira melirik kearahnya, dia terlihat tenang dan teliti dalam membakar ikan itu, pikir Lira.
"Ahhh ... Aku lapar ..." Rintih Lira pelan.
Saat Lira tengah sibuk mengelus perut yang keroncongan, sosok itu datang mendekatinya dengan membawa dua ikan bakar yang diletakkan di atas daun kearah Lira.
Lira tersentak dan melihat kearah sosok itu.
"Aoa! Aoa!" Dia mengulurkan dua ikan bakar itu kerah Lira.
Lira mengerti maksud sosok itu adalah ingin memberi Lira ikan untuk dimakan. Karna sudah tidak tahan, Lira segera mengambil ikan yang diberikan sosok itu dan memakannya dengan lahap.
Sosok itu menganggukkan kepalanya sekali dan berlalu dari hadapan Lira.
🐲
Malam semakin larut, Lira mulai merasa ngantuk. Sosok itu mendekati Lira perlahan saat melihat Lira sudah tertidur.
Dengan pelan dia mengangkat tubuh Lira dan meletakkannya di atas dedaunan kering yang ditumpuk. Sebuah selimut dari kulit serigala menjadi penghangat malam yang dingin.
Sosok itu membaringkan tubuhnya tidak jauh dari Lira. Malam semakin larut, membuat setiap mata telah terpejam.
🐲🐲🐲
Pagi itu, saat matahari belum keluar dari balik bumi, Lira perlahan keluar dari gua itu dengan hati-hati. Dia mencoba kabur dan mencari tau dimana dia sebenarnya sekarang.
Namun nihil, harapan itu musnah di saat Lira melihat hamparan laut yang mengelilingi sebuah pulau kecil tak berpenghuni.
Sudah hampir tiga jam Lira mengelilingi pulau itu. Namun, dia hanya berputar-putar ditempat yang sama.
"DIMANA AKU SEBENARNYA ...!!!" Teriak Lira putus asa.
Di atas pasir putih itu, Lira terduduk lemah. Tak ada lagi harapan, dia tidak akan bisa pulang.
"Aoa ...!!! Aoa ...!!!" Pria gimbal itu berlari mendekati Lira.
Namun, tak ada respon dari Lira. Dia hanya duduk termenung kecewa. Tak henti Lira menghela nafas berat.
Melihat wajah Lira, pria gimbal itu tiba-tiba lari kearah hutan.
Beberapa saat kemudian ...
"Aoa ...!!!" Seru pria gimbal itu sembari berlari kerah Lira.
Puluhan buah segar ia hamburkan di depan Lira. Lira begitu terkejut melihat hal itu.
"Apa ini?!" Tanya Lira bingung.
"Aoa ...!" Pria gimbal itu menyuruh Lira untuk memakannya.
"Apa kau ... ingin menghiburku?" Tanya Lira.
"Aoa!" Angguk nya.
"Hah ... terimakasih ... kau baik sekali." Ucap Lira dengan nada rendah.
Pria gimbal itu ingin pergi, namun ditahan oleh Lira. Dengan pelan, Lira memegang pergelangan tangan pria gimbal itu dan menyuruhnya untuk duduk.
"Duduk lah ... ku mohon," pinta Lira penuh harap.
Segera pria gimbal itu duduk di samping Lira.
"Emm ... siapa namamu? Apa kau punya nama?" Tanya Lira mencoba bicara santai dengan pria gimbal itu.
"Aoa?" Dia memiringkan kepalanya.
"Aku rasa kau tidak punya nama. Oh! Apa kau mau aku kasih nama?"
"Aoa??"
"Emm ... nama apa yang cocok untukmu ya?"
"Aoa???"
"Tunggu! Semalam aku melihatmu berubah wujud! A ... Apa kau siluman?!" Wajah Lira berubah pucat.
"Aoa???? Ah! Aoa!"
Pria gimbal itu tiba-tiba berdiri dan berlari ke tengah laut.
"Hei! Apa yang kau lakukan?!" Ucap Lira merasa heran.
Dan seketika jantung Lira hampir berhenti berdetak saat melihat pria gimbal itu berubah menjadi seekor naga.
"A ... Apa ...! Na ... Naga?!!" Lira tertegun hingga tak dapat bergerak.
Namun, saat naga itu mendekati pesisir pantai, dia berubah kembali menjadi pria gimbal sebelumnya.
Sungguh malang nasib gadis itu, dia semakin terlihat seperti roh telah meninggalkan tubuhnya.
🐲🐲🐲
Malam yang dingin kembali menjelang ...
Lira dan pria gimbal itu tengah sibuk membakar ikan di mulut gua.
"Hei! Aku rasa ... ada nama yang cocok untukmu."
"Aoa?"
"Emm ... karna sangat sulit jika memanggilmu tanpa nama, jadi ... aku akan memanggilmu Nagan! Itu sesuai dengan wujud mu yang seperti ular berkaki itu." Jelas Lira dengan antusias.
"Aoa! Aoa!" Nagan terlihat senang dengan nama yang diberikan oleh Lira untuknya.
~
Hari demi hari berlalu, Lira dan Nagan mulai berbagi hidup bersama. Namun, tidak sedetikpun Lira tak merindukan keluarganya. Dia ingin segera pulang, tapi semua itu sangat mustahil untuknya. Tidak ada yang tau tentang tempat ini.
Bahkan saat Lira bertanya pada Nagan adakah pulau lain di dekat sini, Nagan selalu saja tak mengerti dengan yang dia katakan.
🐲
"Nagan! Kemari lah!"
Lira melambaikan tangannya kearah Nagan yang tengah berbaring di bawah pohon kelapa di dekat gua.
Dengan segera Nagan berlari kearahnya.
"Aoa?" Nagan memiringkan kepalanya.
"Emm ... Coba lihat rambutmu ini! Ini sangat tidak enak dilihat! Tunggu disini! Aku akan mengambil sesuatu di gua dulu." Segera Lira berlari kearah gua.
Lira kembali dari gua dengan membawa sebuah gunting kecil yang dia bawa di ranselnya. Sangat beruntung bahwa Nagan juga menemukan ransel milik Lira.
"Duduk dengan tenang ya! Jangan gerakkan kepalamu sedikitpun! Terus lihat lurus ke depan." Pinta Lira sambil mengambil ancang-ancang untuk memotong rambut gimbal milik Nagan.
"Aoa?"
Nagan terlihat tidak mengerti sama sekali dengan apa yang ingin dilakukan Lira padanya.
Dengan terampil, Lira memotong gumpalan demi gumpalan rambut Nagan hingga bertumpuk di tanah.
"Selesai!" Ucap Lira sembari menghela nafasnya.
"Aoa?" Nagan memegang kepalanya yang terasa ringan.
"Sekarang ... Ayo kita cuci rambutmu dulu!" Lira menarik tangan Nagan agar ikut bersamanya.
Aliran sungai kecil di belakang gua adalah sumber air bagi pulau itu.
"Duduk! Jangan bergerak! Aku akan membersihkan rambutmu dulu." Pinta Lira.
Alangkah tertegun nya Lira saat menemukan wajah tampan dibalik rambut panjang tadi. Matanya yang berwarna senada dengan lautan biru. Alisnya yang tebal. Hidungnya yang mancung. Dan bibirnya yang seksi.
"Ah!" Lira menepuk kedua pipi nya dengan keras.
Nagan sedikit tersentak melihatnya.
"Aoa?!" Tanya Nagan heran.
"Emm ... Hei kau! Wa-wajahmu ... tidak buruk." Ucap Lira dengan wajah memerah.
Tiba-tiba Nagan mendekatkan wajahnya ke wajah Lira saat melihat wajah Lira memerah.
"Aoa?!" Tanya Nagan.
Seketika Lira tersentak dan berdiri dari jongkoknya. Namun, Lira tergelincir dan jatuh ke dalam sungai dangkal itu bersama Nagan yang memeluk tubuh Lira yang terjatuh di atasnya.
"A ... Aduh ... Ini sakit ..." Rintih Lira.
Dia tidak sadar kalau tubuhnya yang basah masih dalam pelukan Nagan.
"Aoa?" Nagan bertanya apa dia baik-baik saja.
"Kyaaaa ...!" Lira meronta saat sadar kalau tubuhnya dipeluk oleh Nagan.
Sungguh adegan yang indah.
🐲🐲🐲
1 Februari 2021
Bulan purnama kembali terlihat. Cahaya bulan menyorot langsung ke dasar laut. Lira yang baru keluar dari dalam gua, melihat Nagan yang tengah berdiri tegak di depan bibir pantai.
Lira berjalan mendekati Nagan.
"Sedang apa kau disini?!" Tanya Lira yang berdiri tidak jauh di belakang Nagan.
Tak ada respon dari Nagan, dia hanya berdiri tanpa berkutik.
"Woaaah ...! Aku ngantuk, aku mau tidur dulu." Lira berjalan membelakangi Nagan.
"Lira ..."
Langkah Lira terhenti saat mendengar namanya disebut. Segera dia berpaling melihat kearah Nagan.
"Aku rasa ... sudah waktunya kita berpisah, Lira."
Benar, Kalimat itu keluar dari mulut Nagan. Lira hanya terdiam membisu tanpa kata.
Nagan berjalan mendekati Lira.
"Kau pasti sangat merindukan keluargamu bukan? Lira ... Aku akan mengantarmu kembali ke keluarga mu malam ini."
Patahan kata dari Nagan masih belum dapat di cerna oleh Lira.
"Lira! Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak ingin kembali?" Tanya Nagan dengan sayu menatap Lira.
"Tidak! Emmh ... Ma-Maksudku ... Apa kau ... mempermainkan ku selama ini?! Ka-Kau bisa bicara?! Apa maksudnya ini, Nagan?!" Tuntut Lira dengan wajah kecewa.
"Aku memang tidak bisa bicara, Lira. Tapi ... Hanya malam ini kutukan ku akan sedikit memudar. Lira, Saat matahari muncul esok, pulau ini akan hilang. Semua akan kembali ke dasar lautan. Jadi, kau tidak akan bisa tinggal di sini lagi Lira. Aku akan berusaha membawamu pulang." Jelas Nagan kembali mendekati Lira.
"Jadi ... selama ini ... ada jalan dimana aku bisa pulang?! Kenapa kau sembunyikan itu dari ku, Nagan?! Kenapa?!!" Ucap Lira dengan penuh kekecewaan.
"Aku sendiri! Aku kesepian! Tidak ada yang mau menemaniku selama ini! Aku ... Aku butuh seseorang di sisiku, Lira. Aku sangat bahagia saat kau disini, Lira. Tapi ... aku tidak ingin orang yang berharga bagiku harus ditelan oleh lautan. Lira ... jangan membenciku, setidaknya, ada satu orang di dunia ini yang tidak membenciku."
Air mata yang mengalir di pipi Nagan, membuat hati Lira bagaikan tersayat. Lira tak akan bisa membenci orang yang sudah menyelamatkan dan menjaganya selama ini.
"Nagan ... sejak kapan kau secengeng ini?" Lira berjalan mendekati Nagan.
Dengan lembut, Lira memeluk tubuh Nagan yang kekar.
"Terimakasih, Nagan. Aku tidak akan membencimu. Kau itu pahlawanku Nagan! Kau pangeran berkuda yang menyelamatkanku." Ucap Lira lembut.
"Aku mencintaimu, Lira."
Seketika Lira tersentak dan melepas pelukan dari Nagan.
Nagan menatap sayu kearah Lira, "Boleh?" Tanya Nagan dengan penuh harap.
"Tidak! Ja-Jangan katakan itu! A ... Aku tidak ingin berharap! Ini akan menyakitkan!" Bantah Lira dengan wajah tersipu.
"Baiklah ... Sesuai yang kamu mau." Jawab Nagan patuh.
"Em! Ba-Bagus kalau begitu!" Rasanya Lira semakin gugup.
🐲
Malam itu, Lira dan Nagan harus segera berpisah. Dengan hati yang mulai menghangat, tapi harus kembali dingin karna jalan takdir.
Lira menaiki punggung dari naga yang berwarna biru itu. Satu pesan terakhir yang diucap oleh Lira pada Nagan.
"Nagan, ingat! Namamu Nagan. Jangan lupakan itu. Hiduplah dengan tenang. Jangan terlalu mendekati manusia. Tidak semua manusia itu akan menerimamu. Nagan, ini hadiah untuk mu." Lira mengecup kening Nagan sekali.
"Aku juga mencintaimu. Terimakasih Kekasihku." Lira tersenyum lebar kearah Nagan yang tersipu.
🐲🐲🐲
Tit ... Tit ... Tit ...
"Lira?! Sayang ...! Nak! Kau sudah bangun?! Dokter?! Suster?!" Seru Bibi dengan wajah yang lega.
Selama satu bulan setelah kejadian badai di laut saat itu, Lira mengalami koma di rumah sakit. Tak ada yang menyangka kalau Lira akan kembali sadar dari komanya.
Selain Lira, semua korban saat itu tak mengalami dampak yang parah.
🐲
1 Maret 2021
Lira sudah sepenuhnya sembuh. Tak ada memar atau luka yang tertinggal. Namun, Hati Lira begitu berat. Dia sangat merindukan sosok itu.
Entah itu hanya mimpi atau bukan, tapi Lira tetap percaya bahwa Nagan ada di dunia ini.
Angin laut yang sejuk, mengalun lembut. Lira berharap, Nagan baik-baik saja.
"Lira! Ayo pulang! Makan siang udah siap!" Seru Jarot yang berdiri jauh di belakang Lira.
Lira berpaling melihat kearah Jarot, "Iya! Aku kesana!"
Lira berjalan membelakangi lautan biru itu, meninggalkan kenangan indah tenggelam bersama buih.
"Lira ..."
Seketika Lira menoleh kearah lautan kosong.
"Nagan?!"
🐲TAMAT🐲
Terimakasih sudah membaca 😉😘 semoga kalian suka dan jangan lupa like dan komen nya😘😘
Note: Ini lumayan panjang💋🤦