Di tengah hutan
•••
Suatu hari di tengah malam, Alfa seorang pangeran yang berada sendiri di tengah hutan,Ia memakai pakaian perang dan melakukan latihan pedangnya “Aku harus bisa mengalahkan raja dari kegelapan itu” melemparkan beberapa pisau ke pepohonan. Setelah istirahat di bawah pohon tiba-tiba cahaya putih bersinar dari atas langit jatuh mengarah ke hutan,“Cahayanya. cahaya apa itu?” Alfa sambil sedikit menutup matanya melihat ke langit “Astaga, mengapa semakin mendekat kesini” Ia terkejut, berlari ke beberapa belakang pohon dan cahaya itu jatuh di dekatnya “Apa itu? ku kira sebuah meteor tapi malah sebuah pesawat aneh?” sambil mengambil pedang dan perisai untuk berjaga-jaga, Ia berjalan mendekati sebuah pesawat yang cukup hancur dikarenakan jatuh dan membentur sebuah pohon, cahaya silau dari arah kaca kapal, Ia terkejut mengarahkan perisai untuk menutupi wajahnya. Namun Alfa melihat seorang gadis berpakaian kerajaan yang tidak sadarkan diri dekat pohon tak jauh dari pesawat, gadis itu terluka sehingga Alfa menolong dan membawanya menujuh pendopo kerajaan.
Pagi harinya di pendopo tua milik kerajaan Alfa, [suara aliran sungai mengalir terdengar] Alfa yang sambil mencuci muka di tepi danau.“Dari mana asalnya pesawat itu, bentuknya seperti pesawat luar angkasa, ku harap gadis itu baik-baik saja” Mengambil air di sebuah kendi lalu kembali ke pondok, Alfa berjalan masuk menuju sebuah kamar “Kemana gadis itu pergi” Ia terkejut karna gadis yang di selamatkannya dari kejadian tadi malam menghilang, Alfa mencoba mencarinya di sekeliling pendopo hingga menemukannya di tepi sungai, gadis itu menangis “Hei… apakah kamu baik-baik saja” Alfa menghampiri gadis itu, “Sangat buruk…” gadis itu sambil menangis, “Kau tunggu aku disini” Alfa berlari kembali ke pondok, tidak berapa lama kembali “Minum lah dan isi perut mu dengan roti ini“ Ia menyodorkan sebotol air dan roti, gadis itu menatapnya “Setidaknya Kau membutuhkan sedikit energi untuk menceritakan semuanya kepada ku” ucap Alfa tersenyum, “Trimakasih, atas bantuan mu“ gadis itu memakannya meski terlihat murung, “Boleh aku tahu nama mu?” Alfa melirik ke wajahya, “Tentu saja, aku Aline dari istana Cahaya Bulan”
“Cahaya Bulan? Setahu ku, di bumi ini tidak ada kerjaan semacam itu”Alfa sedikit kebingungan, “Memang, kami tidak berasal dari asalmu tapi dari dimensi lain”ucap Aline, “Benarkah, itu sungguh nyata?” Alfa terkejut dengan apa yang dibicaran oleh Aline, “ Tentu saja kenapa tidak” ucap Aline.
Setelah suasana hati Aline sudah cukup membaik, “Lalu bagaimana pesawatmu bisa jatuh? Apakah ada yang rusak dengan mesinnya?coba ceritakan pada ku apa yang terjadi ”ucap Alfa, “Tidak" Pada saat itu istana kami sedang dalam ancaman yang cukup bahaya dari Eroz si penguasa dimensi, dan Ayah ku menciptakan suatu elemen yang dapat melindungin kerajaan kami, namun tak disangka ternyata Eroz mengetahui apa yang Ayah ku lakukan kemudian dimalam purnama saat Ayah hampir saja selesai dengan elemennya, Eroz datang dengan beberapa prajuritnya untuk merebut semua yang Ayah ku miliki termasuk elemennya. Namun saat itu Ayah berusaha untuk menghancurkan elemen tersebut dikarnakan kalau jatuh ketangan Eroz dia akan dengan mudah menguasa beberapa dimensi diluar sana termasuk bumi, Eroz menarik Ibu untuk mengancam Ayah ku dan menyerahkan elemen tersebut, kemudian entah cairan apa yang Ayah tuangkan kedalam elemen tersebut sehigga cairan itu meluap dan memiliki asap yang sangat pekat, Ayah memegang tangan Ku dan menarik Ku ke sebuah ruangan yang langsung terhubung ke luar, Aku melihat kain putih yang menutupi benda besar dan Ayah membukanya, ternyata itu sebuah pesawat dan Aku tidak mengetahuinya , Ia memaksa ku untuk masuk kedalam “Ayah, bagaimana degan kau dan ibu ?” Aline sambil menangis, ”Tenang sayang aku akan selamatkan ibu mu, sekarang kamu harus baik-baik saja, jangan cemaskan Kami, Ayah dan Ibu akan selalu ada dihati kamu” ucap Ayah sambil mengusap rambut Ku. ”Tidak, tidak ayah aku ingin ikut bersama mu” Aline terus menangis. Ayah menyalahkan mesin dan menutup pintu kaca pesawat, Ayah melambaikan tangan dan pergih meninggalkanku. Pesawatnya berjalan semakin jauh entah bagaimana cara menggunakannya, dari jendela aku melihat ke arah belakang cahaya putih yang sangat terang dan langsung menghancurkan dimensi ku itu, Aline menangis sambil menceritakan semuanya.
"Ayah mengorbankan semuanya demi menyelamatkan Ku"terus menangis, "Tenang lah (megusap rambutnya), kau akan baik-bak saja”Alfa dengan rasa peduli, “Tetapi aku tidak tahu harus bagaimana sekarang ini”Aline terus menangis. “Kau bisa ikut tinggal dengan ku, karna bumi ini juga cukup berbahaya jika sendirian” Alfa memegang pundak Aline, “Bolehkah? sungguh, apakah kau tidak merasa keberatan?” ucap Aline. “Tentu tidak, karna sepertinya nasib mu sama dengan ku” ujar Alfa, “Nasib katamu?”Aline menatapnya, “Iyah karna sekarang ini kerajaan ku sedang di kuasai oleh penguasa kegelapan yang mempunyai ilmu sihir yang cukup kuat “ Alfa menghela nafas,
“Lalu apa yang yang mesti ku bantu” Aline bangun dari duduknya, “Tidak usah kau cukup disampingku” Alfa tersenyum, “ Hmmm… baik lah..” ucap Aline dengan lembut, mereka kembali kedalam pendopo dan melakukan sebuah perjalanan.
••••
Satu pekan telah berlalu.
Keesokan sorenya langit menjadi mendung dan berkabut tebal, Alfa mengajak Aline menuju rumah Kakek Penyihir karena ada pesan dari Ayah Alfa yang harus segera disampaikan. Setelah beberapa waktu mereka melakukan perjalanan, sampailah mereka dirumah penyihir “Permisi..” Alfa mengetuk pintu, ”Permisi..” mengetuk untuk keduakalinya, “tidak ada orang sepertinya” Aline melihat ke arah jendela,tak lama Kakek Aica keluar membuka pintunya “ Masuklah kedalam” ucap Kakek sambil berjalan masuk, “Duduk lah, akan Ku ambilkan air “Kakek menarik kursi sedikit, “tidak usah Kek, biar Aku saja”Alfa berjalan ke arah dapur, “Apa Kau dan Alfa akan menikah ?” tanya Kakek menatap Aline,
Aline hanya tersenyum “Tidak Kek dia hanya teman Ku” Alfa menaruh air di atas meja, “Hmm, bagaimana dengan kabar Ayah Mu Al?”Kakek, “Ayah lagi dalam sekapan penguasa kegelapan Kek, dan kerajaan sekarang ini lagi dikuasainya” Alfa dengan rasa cemas, “Tepatnya Amor penyihir kegelapan, Dia datang dari dimensi Worr untuk mengambil gelang
rembulan yang disimpan Ayahmu”Kakek, “Amor kata Mu Kek?” Aline berhenti minum dan melihat ke arah Kakek, “Kau tahu Lin?” Tanya Alfa, “Dia adalah adiknya Eroz, mereka berdua sangat ambisius untuk menguasai semua dimensi yang ada”Aline , “Bagaimana gadis ini bisa tahu tentang Eroz?”Kakek melihat ke arah Alfa, sehingga Alfa menceritakan semua kejadian mengenai Aline, “Jadi Kau ini putri dari kerajaan Cahaya Bulan?”tanya Kakek, “Iyah benar Kek” Aline menjawab sambil menganggukan kepala, “Lalu kenapa gelang itu ada di Ayah dan
kenapa Kakek bisa tahu banyak tentang istana Cahaya Bulan?”Alfa, “Aku juga berasal dari
sana,Aku adalah ahli sihir kerajaan Cahaya Bulan dan Aku kemari hanya mencari ketenangan dari kekacauan yang terjadi di dimensi Cahaya Bulan, kemudian Aku tak sengaja bertemu orang baik seperti Ayah Mu, setelah beberapa waktu disini Aku mengajak Ayahmu pergi mengunjungi dimensi Ku untuk menemui raja, karna Aku tahu Eroz akan menguasai kerajaan Cahaya Bulan maka dari itu Aku menemui Ayahnya untuk membuat suatu elemen yang dapat melindungi kerajaan, tak hanya itu Dia juga mengincar gelang rembulan, gelang
itu adalah energi cahaya dari istana sinar bulan, energi yang dimiki gelang itu sangat kuat dan sangat berbahaya jika di salah gunakan, kemudian raja menyerah kan gelang itu kepada Ayah Mu Alfa, karna mungkin dibumi lah tempat yang aman untuk menyembunyikan gelangitu dari orang jahat, kemudian kami berdua pergih kembali ke bumi dan sampai sekarang Ayahmu menyimpan gelang itu.” Kakek menceritakan semuanya tentang dirinya dan
kejadian yang dialami oleh Ia dan Ayahnya Alfa.
“Jadi ketidak beradaan gelang itu yang membuat istanaku menjadi begitu redup dan tak bercahaya kek?” Tanya Aline kembali kepada kakek itu, “Iyah benar sekali nak, tetapi Aku masih tak sangka Ia bisa tahu mengenai keberadaan gelang itu dibumi” Kakek mencobaminum segelas air.
“Sekarang bagaimana Kita dapat mengalahkan penyihir itu Kek?”Alfa
berdiri dari kursinya, ”Kau tunggu lah, akan Ku ambilkan sesuatu” kakek bangun dari tempatnya, “Baiklah kek” ucap Alfa. Selang beberapa menit kakek kembali membawa panah dan sebuah anak panah yang terbuat dari kristal, “Beberapa waktu belakangan Aku pergi ke
dimensi kristal untuk meminta dibuatkan panah sihir untuk berjaga- jaga di situasi seperti ini, jadi pakai lah ini untuk mengalahkan penguasa itu, anak panah ini akan bersinar menunjukan kekuatanya, tepatkan pada bagian kalung kegelapan yang berada tepat di dada Eroz, maka dengan itu kekuatan yang dimilikinya akan musnah”Kakek menyerahkan panah itu kepada Alfa “Baiklah Kek, kalau gitu Aku akan segera berangkat dan sebaiknya Aline tetap tinggal disini” Ucap Alfa dengan serius, “Aku akan ikut dengan Mu” Aline membantah, “Tetaplah disini, Ku mohon Aku akan baik-baik saja” Alfa berjalan meninggalkan rumah Kakek.
Langit semakin gelap, malam ini adalah malam purnama. Gelang itu akan sangat bersinar jika purnama datang maka keberadaan gelang itu akan terlihat oleh Eroz penguasa gegelapan, Alfa bergegas menuju kerajaannya namun gerbang kerajaan di jaga oleh beberapa prajurit Eroz mereka semua seperti roh, Alfa menyiapkan pedangnya dan mengalahkan beberapa prajurit di depan gerbang hingga Ia bisa masuk kedalam, saat ini tepat dihadapan Eroz Ayah nya akan di bunuh saat gelang itu muncul bersinar “Ayah !“ Alfa sangat terkejut dan memegang panah ke arah Eroz, “Haha.. Kau rupanya kembali “ Eroz dengan nada picik, “Aku akan mebunuh Mu!“ Alfa menarik dan melepaskan anak panah itu, anak panah itu mengarah tepat di wajah Eroz, tetapi Eroz menggunakan kekuatannya
sehingga anak panah itu berhenti seketika dan malah pecah berkeping-keping dihadapan wajah Eroz “ Hah, kau pikir hebat!” Eroz menyerang Alfa membuat Ia membentur beberapa peralatan kerajaan, “Anak Ku“ Ayah melihat dengan rasa cemas, “Bagaimana bisa? apa yang salah“ Alfa terkejut mengalami luka yang cukup parah, beberapa detik bulan purnama muncul gelang itu yang di simpan di sebuah ruangan bawah tanah kerajaan bersinar terang, Eroz menyuruh beberapa prajurit untuk mengambilnya dan membawanya kepadanya, saat Eroz ingin membuka kotak gelang dihadapannya, Aline tiba-tiba muncul bersama Kakek “Tunggu!” Aline berteriak, “Apa lagi!, sebentar lagi Kalian semua akan musnah Ha..ha" Eroz
ketawa picik sambil membuka kotak itu namun saat kotak itu terbuka gelang itu malah melayang mengarah ke arah Aline, Aline ikut melayang kemudian gelang itu terpasang sendiri di pergelangan Aline, Kekuatan itu menyatuh ke tubuh Aline, karena gelang sihir itu hanya bisa di guanakan Eroz jika semua keturunan kerajaan dimensi Cahaya Bulan musnah, namun sekarang ini Aline lah satu-satunya keturunan dari kerjaan sinar bulan maka gelang itu terikat kepadanya. “Kau! dimensi itu sudah hancur, bagaimana kau bisa selamat?” Eroz
terkejut sehingga sangat marah, “Aline kau?” Alfa bangun dan terkejut melihat situasi ini, “Alfa panahnya!” Aline sambil mengalihkan Eroz dengan kekuatannya, Alfa berlari dan memegang mengarahkan anak panak ke bagian kalung Eroz, Aline menggabungkan kekuatan cahanya ke pada anak panah tersebut sehigga kekuatan cahaya kristal itu menjadi lebih kuat dan berhasil memecahkan bagian kalung Eroz “Tidak...” Eroz kesakitan hingga hilang berkeping – keping bersama dengan prajuritnya.
Langit malam yang tadinya di penuhi kabut-kabut tebal kini menjadi cerah, Aline berdiri di balkon kerajaan memandangi bulan yang begitu indah beberapa menit kemudian Alfa datang menghampirinya “Kau cukup hebat“ Alfa mengusap rambut Aline, “Maaf aku telat mamahaminya“ Aline menatap ke arah Alfa, Alfa tersenyum memeluknya dengan erat.
••••
End