Saat aku membuka mata semua badan ku terasa lemas. Aku terbaring di ruangan serba putih dengan baju biru dan infus. Dan yang kutebak, ini pastilah rumah sakit.
Tunggu, kenapa aku ada di rumah sakit? selain itu saat aku menoleh ke kiri.. Bunda, Ayah, Kak Yuni, Sasa, dan Sisi mereka menangis!
Dan aku ingat, saat itu aku lagi membantu adikku Sasa dan Sisi untuk mengambilkan buku cerita di perpustakaan pusat kota dan setelah itu.. pandangan ku kabur dan terjatuh.
"Bun, Yah!" Aku berusaha memanggil mereka dengan suara kecil karena kondisi ku yang sangat susah untuk bergerak dan berbicara.
Mendengar suaraku, Bunda langsung berlari ke arahku dan memelukku diikuti juga oleh semua keluarga ku. Apakah sakit ku sangat parah sampai-sampai mereka seperti ini? Tidak! mungkin ini hanya sebuah ke khawatiran mereka.
Setelah beberapa menit, akhirnya keluarga ku pun tentang. Bunda menanyakan apakah aku merasa sakit atau ada keluhan lain. Aku hanya menjawab mereka dengan gelengan karena aku sangat sulit untuk berbicara.
"Yuni cepat panggilkan dokter!" Suruh Bunda Dengan suara yang senang dicampur cemas.
Tak lama pun dokter akhirnya sampai. Aku ditanyai oleh dokter itu apa yang aku rasakan. Aku menjawab dengan suara kecil kalau aku hanya merasa lemas dan sulit bicara.
Setelah itu dokter pun menyarankan agar aku beristirahat, dan semua keluarga ku diminta agar keluar ruangan agar aku mudah untuk istirahat.
Sebelum keluar Bunda pun membisikkan sesuatu."Kalau kamu ada apa-apa cepat tekan bel itu ya!" Ucap Bun cemas sambil menunjuk bel untuk memanggil dokter. Bukannya kekhawatirannya terlalu berlebihan?
Setelah beberapa hari aku di rumah sakit, aku pun diperbolehkan pulang. Dan juga, sekarang kondisiku bisa dibilang sangat baik aku bisa bergerak leluasa seperti tidak ada yang terjadi padaku.
Sesampainya di rumah pun bunda masih khawatir dan dia bilang agar aku istirahat aja karena ini juga sudah jam 8 malam. Mungkin karena aku mengalami koma beberapa hari sebelum siuman jadi sudah wajar kalau orang tua khawatir.
Yah sudahlah tidur aja, mumpung sekolah masih libur dan tugas pun sudah dikerjain.
Kemarin malam aku tidur sangat nyenyak dan Sekarang sudah jam 10 pagi! Kenapa gak ada yang bangunin ya?
Seperti biasa Aku bermain bersama kedua adikku. Tumben hari ini mereka berdua anteng, biasanya mereka selalu rebutan agar bisa duduk di pangkuanku saat aku membacakan cerita. Tapi mereka rukun dan duduk di lantai tepat didepan ku.
"Sasa, Sisi boleh Kaka foto? Nanti kakak masukin ke medsos loh! Hehehe." Aku coba menggoda mereka seperti yang biasa aku lakukan.
Biasanya mereka akan lari dan langsung bersembunyi, tapi...
"Boleh kok! Kak Naomi." Sasa mengangguk sambil meraih tangan Sisi untuk ikut berpose. "Ayo Sisi."
dan juga Sisi ikut mengangguk.
Eh aneh, Mereka berdua masih tenang dan saling bergandengan tangan menghadap ke arah kamera dengan tersenyum.
Sudahlah jangan diambil pusing mungkin ini hanyalah ke khawatiran anak kecil.
Setelah menemani kedua adikku Sasa dan Sisi bermain, ngomong-ngomong mereka berdua kembar cowo dan cewe. Aku pun pergi ke kamar kak Yuni.
Seperti biasa, Aku akan selalu menjahili dia sebelum dia pulang dari kerja part time nya. Aku pun langsung tiduran dan sedikit membuat kasurnya berantakan dan tak lama setelah aku menutup tubuhku dengan selimutnya, kak Yuni pun datang.
aku bisa membayangkan apa yang akan dilakukannya, pasti seperti biasa dia akan marah-marah sambil memukulku dengan bantal guling nya.
"Duh, Naomi!" Ucapan awal kakak sebelum marah dan memukulku. " Kamu seharusnya jangan menutupi seluruh tubuhmu kalau tidur kan nanti jadi susah nafas."
Eh.. kenapa Kak Yuni malah bersikap seperti ini? kenapa dia tidak marah seperti biasanya? Dia juga malah membelikan jajanan kesukaan ku ekspresi nya terus tersenyum membuat ku semakin nyaman.
Mungkin kak Yuni juga masih khawatir dan apa mungkin dia sedang menyiapkan kejutan ulang tahun ku kah?.
Keesokan harinya saat aku kehabisan kuota dan ada event gacha terbatas yang mengharuskan top up mm... mungkin aku harus mencoba meminta nya ke Ayah hehe.
"Yah! Minta uang dong mau beli pulsa buat Kouta."
"Berapa?" Tanya papa tanpa pikir panjang yang biasanya ngomel dulu.
"100K hehe!" Sekalian buat top up.
Ayah pun mengeluarkan pecahan 100k 10 buah dan langsung memberikan semuanya kepadaku.
"Ini uang sampai Festival bintang." Ucapnya diakhiri senyuman
Eh.. Bukannya seharusnya Ayah mengomel? Dia biasanya bilang "Duit Mulu yang kamu tahu! seharusnya Kalau sudah gede kerja!" seperti itu biasanya.
Ini diomelin nggak malah Dikasih Uang banyak bahkan hanya untuk sampai Festival bintang beberapa Minggu lagi. Apakah hadiah ulangtahun?.
Ini aneh mungkin nanti setelah pulang membeli pulsa aku harus menanyakan kepada bunda kemarin aku sakit apa.
"Kamu tidak sakit apa-apa kok, kamu cuman kelelahan doang kata dokter!" Dan itulah jawaban dari bunda.
Tidak! pasti ada yang disembunyi in dilihat dari nada bicara bunda yang seperti ada rahasia yang mereka semua tidak ingin aku mendengarnya.
Aku semakin curiga! Karena, sikap mereka bukan hanya hari itu saja, ini udah seminggu loh! Dan sikap mereka yang segan terhadap ku itu sangat menggangu. Aku bukan raja loh!
Tunggu sebentar mungkin kah sikap mereka yang seperti itu ingin agar aku nyaman karena.. Aku akan segera ma.. Tidak mungkin! Aku harus memastikan nya sendiri. Tapi kalau ditanya biasa mereka pasti tidak akan menjawab. oleh karena itu, aku mempunyai cara!
Sekarang adalah hari minggu dan sepertinya kebiasaan bangun kesiangan ku telah usai. Semua berada di meja makan sekarang, dan seperti biasa sikap mereka sangat mengganggu.
"Tumben kamu bangun pagi Naomi!" Ayah membuka obrolan.
"Iya biasanya juga jam 10." Tambah Bunda diikuti tawa kecil.
"Sini Kakak ambilin nasi sama lauknya!" Kak Yuni mengambil piring yang ku pegang
"Kakak juga boleh ambil Ayam punya kami!" Sasa ikutan. "Ya kan Sisi?"
Sisi juga malah mengangguk.
Yah seperti itu lah minggu kemarin yang terjadi di meja makan, kekhawatiran mereka sangat mencurigakan dan cara mereka menyembunyikan nya sangat payah.
"Ayah! Bunda!" Aku sedikit meninggi kan suara ku. Aku tahu itu tidak sopan apalagi ketika makan tapi, ini caranya agar mereka buka mulut.
"Kak Yuni! Sasa! Sisi!" Mereka semua melihat ke arahku
"Eh kamu.. kenapa kelihatan nya marah Naomi? apakah masakan bunda kurang enak? Atau kami ada yang salah?" Tanya bunda dengan suara lembut.
Kan? Dari suasana nya juga sudah aneh. Dulu aku pernah marah sama bunda dan ayah langsung memukul dan memarahi ku. Tapi dia hanya tertunduk sekarang.
"Bisakah kalian semua berhenti dengan sikap kalian begini! Sangat menggangu." Kata-kataku itu membuat mereka kaget. "Kalau kalian terus begitu Aku akan pergi dari dunia ini dengan keadaan tidak tenang!" Tentu saja bagian akhir itu aku hanya ngasal.
Hening sebentar suasana di meja makan. Aku memperhatikan wajah keluarga ku dan Air mata pun mengucur perlahan dari mata mereka.
"Kamu bicara apa Naomi! Ka..kamu jangan bicara begitu.." Bunda yang menahan kata-kata tadi akhirnya menangis dan ditenangkan oleh ayah.
"Ja..jadi kamu sudah tau kalau kamu akan ma...mati?" Kak Yuni ikut menangis.
Oh hahaha.. haha.. ha. Jadi benar tebakanku yah! Aku akan mati yah! Seharusnya aku senang karena dari dulu aku selalu berpikir kalau aku gak ada beban ayah dan bunda akan berkurang. Tapi.. tapi kenapa aku menangis?
"Yah kapan Aku akan mati?" Aku bertanya kepada ayah yang kulihat dia lumayan bisa mengontrol emosinya.
"Setelah Festival bintang." Jawab ayah dengan suara pelan.
Festival bintang.. Jadi hanya seminggu an lagi ya? Aku juga akan jelasin sedikit apa itu Festival bintang. Festival bintang adalah festival yang diadakan setiap tahunnya untuk memperingati ulang tahun negara ini. Biasanya orang-orang akan berpakaian dengan tema zodiak.
"Jadi saat usiaku 18 tahun yah!" Karena Aku lahir setelah Festival bintang. "Tenang saja masih semingguan kok, Masih lama!"
Aku berusaha tersenyum agar semuanya tidak sesedih ini. Tapi kenapa? Air mata malah mengucur dari mataku? Bukannya seharusnya aku senang? Kalau aku tidak ada ayah dan bunda tidak perlu lagi menuruti keegoisan ku dan itu bisa membuat mereka lebih bahagia. Tapi apakah akan bahagia? Apa mereka akan sangat sedih kalau Aku tidak ada?
"Kalian juga tidak perlu sedih kok! Kan kalau aku tidak ada kalian jadi bisa lebih bahagia karena karena Aku..aku hanyalah beban jadi kalian harusnya senang!" Ucapan ku yang sedikit ku tahan dan terus tersenyum meskipun air mata masih mengucur.
"Jangan berbicara seperti itu!" Tiba-tiba bunda berlari dan memeluk ku. "Jangan berbicara seolah-olah kalau kami akan senang kalau kamu tidak ada! Jangan katakan kalau kamu beban kami tidak pernah merasa terbebani. Jadi.. jangan pernah berbicara seperti itu didepan bunda!" Bunda menangis sangat keras.
Semua Keluarga ku pun memelukku dan sekarang aku pun mengerti kalau aku sangat berarti di hidup mereka. Kenapa? kenapa bunda bilang seperti itu? A.. aku kan jadi gak mau meninggalkan kalian. Kalau tahu begini aku tidak akan banyak membantah, aku sangat ingin mengulangi waktu untuk bisa menghabiskan waktu bersama keluarga ku ini.
Tapi tidak bisa! Karena hitung mundur kehidupan ku telah dimulai.