"hei kalian tahu tidak, lorong berhantu di sekolah kita?"
----
Hari ini langit nampak berawan membuat sang mentari hanya sedikit menampakkan sinarnya
seorang lelaki tampan bernama Diko sedang duduk di kelas X3 sembari mendengarkan temannya bergosip ria
"emang lu gatau apa? itu lorong kalo malem serem banget sumpah" ucap Riko membuka pembicaraan
"lu aja penakut, sok ngomongin horor" jawab Ciko
"heh walaupun begitu ya gua ini aslinya pemberian ahaha" ucap Riko membagakan diri, padahal dia adalah yang paling penakut di antara kedua teman nya yang lain
"kalo gitu ntar malem aja gimana?kita uji nyali" kata Ciko
"ayo aja si" jawab Diko yang mendapat anggukan dari Ciko sedangkan Riko hanya mengangguk pasrah
"ciee yang mau uji nyali, awas lu di culik arwah kang somay ahaha" teriak seorang gadis di bangku paling belakang kelas
"yahaha kira-kira mau diapain ya?" canda Riko
"mau di ehem ehem ahahahaha"
----
pukul 22.37 di sekolah
terlihat tiga orang pemuda sedang berkumpul di sekolah nya, mereka adalah Diko, Ciko dan Riko yang akrab dipanggil 'Trio KO'
Diko sedang sibuk mengecek peralatan yang mereka bawa seperti lampu senter dan alat pemukul besball, kenapa pembawa alat pemukul? yaa kan takut nya ada apa apa bagaimana?
"duh dingin banget nih, kalian dingin ga si?" tanya Riko mulai membuka obrolan
"dingin apa merinding hayoo, eh tapi emang dingin si haha" jawab Ciko dengan sedikit candaan
"nih dah semua peralatan nya" ucap Diko sembari membagikan lampu senter kepada kedua temannya
mereka bertiga pun mulai menelusuri jalan melewati kelas per-kelas. Baru saja 5 menit berlalu Riko mulai membuka obrolan lagi, membuat suasana di sekolah tidak terlalu mencekam
"heh ko gua merinding ya" ucap Riko
"kalo takut lu balik aya sana" jawab Ciko
"bukan nya takut tapi emm" kata Riko bingung mau bicara apa
"am em am em apaan si?" tanya Diko
"ehehe apaan ya" jawab Riko sambil cengengesan. Ketika Riko tak sengaja menoleh ke arah kelas X5 ia melihat bayangan tinggi nan besar disana
"woi itu apaan eh" ucap Riko mulai panik
"apa apaan si gada apa-apa juga" sahut Ciko santai
"itu ada se..se..SETANN WOAHHH" teriaknya sembari lari kalang kabut meninggalkan dua temannya itu
"hahaha orang gada apa-apa juga HALU LUU" pekik Ciko
"ehh ko gua kebelet ya, gua tinggal ke wc bentaran ya Dik" lanjut Ciko
"ya sana hati-hati ada yang waw ahaha" jawab Diko dengan candaan
---
di sini lain Riko yang tadi berlarian karna melihat penampakan nampak sedang duduk di sebuah bangku sembari meminum minuman botol yang ia temukan di jalan.
"haduh apaan tuh tadi gila gede bat lagi" ucapnya yang masih ngos-ngosan
belum juga selesai menegak minum nya tiba-tiba di samping nya ada seseorang yang ikut duduk bersamanya
deg
jantungnya terasa tidak nyaman, dengan hati-hati ia memberanikan diri untuk menoleh ke arah samping
dan...
hasilnya nihil
"hufft gua kira ada orang tadi bikin panik aja" ucapnya masih dalam mode sedikit takut
Riko mulai berdiri ia berfikir untuk menyusul kedua teman yang ia tinggalkan di tengah jalan tadi, baru saja berjalan lima langkah Riko merasa ada seseorang yang memperhatikan nya dari jarak dekat.
dengan refleks Riko mengarahkan pandangan nya ke belakang, ia terbelalak bukan main melihat mahluk halus berdiri terbalik di hadapan nya
mahluk itu mempunyai delapan kaki panjang, mulut nya terbuka lebar bak ingin memakan Riko hidup-hidup. Darah amis mengucur dari salah satu matanya yang bisa di bilang buruk
wajah mereka maksud ku wajah makhluk itu dengan Riko hanya berjarak beberapa meter saja
apa kabar dengan Riko?
sontak saja Riko langsung mematung tiba-tiba, tubuh nya menolak untuk di gerakan, tapi sedetik kemudian ia mulai tersadar, memundurkan langkahnya perlahan menatap makhluk yang sedang menyeringai di hadapannya.
"Bismika allahumma ahya wa bismika amut...aminn" doa Riko, setelah selesai berdoa Riko langsung tertidur lelap di depan kelas-kelas kosong
heh memang nya benar Riko tidur? tentu saja bukan tidur melainkan pingsan.
----
Diko masih melanjutkan perjalanan nya di lorong kelas, semakin ia berjalan semakin ia merasa ada orang lain yang mengikuti dari arah belakang.
"ko...Riko? Ciko? gausah bercanda kalian" ucap Diko dengan notasi suara agak keras
karna merasa di jahili teman nya, Diko pun mengambil keputusan untuk memutar arah kembali ke belakang, mengagetkan balik teman nya itu.
malam semakin gelap pencahayaan di sekolah tidak terlalu terang hanya beberapa tempat saja yang di nyalakan tapi tiba-tiba, lampu senter yang di bawa oleh Diko mati seketika
"ini ko bisa mati si, kan batre nya baru" ucap Diko heran, seketika lampu yang ia pegang terjatuh
ketika Diko ingin mengambil lampunya yang terjatuh tiba-tiba saja ada yang memegang tangan nya, Diko menghela napas kasar lalu merogoh saku celana nya, mengambil batu-batu kerikil yang ia bawa dari rumah
"Allahuakbar"
"Allahuakbar" ucap nya berkali-kali sambil melempari makhluk yang memegang tangan nya tadi dengan batu kerikil
"Alhamdulillah"
seketika itu juga lampu senter yang tadinya mati kembali menyala, Diko berfikir untuk kembali dan memberi tahu kedua teman nya. Baru saja Diko ingin mengambil ponsel nya iya di kejutkan dengan sebuah penampakan yang terlihat dari ujung matanya.
seorang wanita yang mengenakan daster putih penuh lumpur dengan mulut yang di jahit -entah karena apa, kantung matanya membentuk bulatan hitam seperti mata panda
ia mengarahkan kedua tangan nya yang penuh dengan darah itu ke leher Diko, ingin sekali mencekik pemuda itu seperti nya
"mamvus batu gua abis lagi" ucap nya mulai sedikit panik, dan sial nya kaki nya malah mati rasa dan itu membuat nya jatuh duduk di lantai
Diko mulai memejamkan kan matanya dan membaca surat-surat yang ia hafal
hingga...
/puuk
sebuah tangan menyentuh pundak nya, pemuda itu mulai membuka matanya terlihat seorang lelaki paruh baya berjongkok di hadapan nya dengan senyum yang terukir di wajah pria tersebut.
"ma...maaf tapi anda siapa?" tanya Diko was-was
"oh saya Pak Didi, saya menggatikan pak Irwan yang sedang sakit, untuk menjaga sekolah malam ini" jawab nya masih tersenyum ramah
"kamu ngapain di sini hayoo" lanjut nya lagi dengan sedikit candaan
"ehehe saya lagi uji nyali pak" jawab Diko sedikit gugup
"oh yasudah mari saya antar kamu keluar tapi, kita harus menemukan kedua teman mu yang lain" ucap nya sambil mulai berjalan di depan Diko
tanpa memikirkan apapun Diko mengangguk pasrah sembari mengikuti Pak Didi dari belakang.
----
"hufft lega akhirnya beres juga" ucap Ciko sambil mengancingkan celana nya
di dalam kamar mandi ia melihat kaca menatap dirinya dalam cermin namun, yang di lihat nya bukan lah wajah nya melainkan wajah seorang anak kecil
anak kecil dengan senyum nya yang luar biasa membuat semua orang jantungan, bukan karna manis melainkan menakutkan
"GYAAHH SIAPA ITUU" pekik nya sambil berlari keluar dari kamar mandi
"kak mari kita mainn...." ucap anak kecil itu sambil trus mengikuti Ciko dari belakang
"maen truss belajar sana" jawab Ciko sambil berlari
'oh iya kan gua bawa pemukul ya' ucap nya dalam hati, Ciko berhenti lalu menatap hantu anak kecil yang tidak menyeramkan menurut nya, ia melempar pemukul besball itu ke arah hantu anak kecil tersebut
dan
STRAIGHT
pas mengenai kepala anak tersebut dan juga berhasil membuat makhluk itu marah
darah amis bercucuran dari kepala nya matanya melotot bahkan buah matanya hampir keluar, ia menajamkan kuku-kuku jari nya terlihat sangat tajam bahkan melebihi sebuah pisau
anak kecil itu berjalan agak terseret ke arah Ciko, secepat kilat Ciko bersembunyi ke dalam kelas tepatnya di bawah meja
"huh mungkin ini aman kali ya, kenapa dia jadi serem huuaaa" ucap nya lirih
/brakk
pintu kelas tempat persembunyian Ciko di buka dengan sekali dorongan membuat suara pintu itu nyaring di telinga siapa pun yang mendengar nya
"kak apa sedang main petak umpat dengan ku..." ucap anak kecil itu dengan suara halus dan intonasi nada lambat, terdengar sangat menyeramkan di telinga Ciko
/BAA...
"GYAAHHH mamak tolongin Ciko makk" teriak Ciko setelah di temukan oleh hantu anak kecil tersebut
"woi Ko Ciko ini guaa" ucap seseorang yang suaranya tidak asing di telinga Ciko, ya itu suara Diko
"Gyahh Diko gua cinta ama lu huaaa" pekik nya sok dramatis
---
setelah Diko dan pak Didi menemukan Ciko merekapun mulai mencari seorang teman nya lagi, Riko.
"Riko mana sih ga ketemu-ketemu nih" keluh Diko
"jangan-jangan si Riko huaaa" ucap Ciko menduga-duga
"sttt jangan bicara seperti itu, tida baik" sahut pak Didi kepada Ciko
tidak lama kemudian Riko pun di temukan sedang pingsan di depan kelas, Riko pun di bangun kan terlebih dahulu kemudian mereka keluar dari sekolah di antar pak Didi
"Alhamdulillah sudah semua kan ini?" tanya pak Didi
" iya pak maaf ya pak kita jadi ngerepotin"
" iya pak makasih udah nolongin kita"
"lain kali jangan berbuat hal seperti tadi lagi, jika tidak ada siapa-siapa nanti kalian gimana?" nasehat pak Didi
"oke pak, saya juga kapok pak"
----
jam 07.15 di sekolah
"gimana uji nyali nya semalem, ketemu om-om cantik ga haha" tanya Sarah gadis yang waktu itu mem-bercandai 'Trio KO'
"serem bat gamau lagi gua uji nyali di sekolah kita" lirih Riko dan Ciko bersamaan
Diko berada di lapangan sekolah sedang menyapu halaman karna telat, ia melihat pak Irwan yang sedang mengopi ria
Diko menghampiri pak Irwan lalu menyapa nya setelah itu ia bercerita bagaimana kejadian semalam tapi pak Irwan hanya mengernyitkan dahinya.
"mohon sampai kan salam saya kepada pak Didi ya pak?!" minta Diko
"tapi dek Diko saya tidak punya saudara atau teman bernama Didi, semalam memang tidak ada yang menjaga sekolah karna semua nya di liburkan dek" jelas pak Irwan kepada Diko
setelah mendengar kan penjelasan pak Irwan Diko kembali mengingat kata-kata pak Didi semalam
---
"oh yasudah mari saya antar kamu keluar tapi, kita harus menemukan kedua teman mu yang lain" ucap nya sambil mulai berjalan di depan Diko
----
di pikiran Diko, padahal ia kan tak mengatakan bahwa dia bersama dua orang lain nya, lantas bagaimana bisa pak Didi mengetahui nya?
pak Didi juga tahu tempat di mana teman-teman Diko bersembunyi
lantas jika semua penjaga di liburkan dan lagi pak Didi bisa mengetahui itu semua lantas, siapa pak Didi sebenarnya?
----
kita berfikir positif nya saja mungkin pak Didi adalah jin muslim yang menjadi perantara untuk menolong Diko, Riko dan Ciko.
TAMAT