Di suatu Desa ada sebuah kerajaan yang megah dan sangat terkenal. Di kerajaan itu hidup seorang putri yang cantik dan baik hati, namanya putri Ambar.
Di hari yang cerah, putri Ambar sedang melihat-lihat bunga di taman kerajaan. Sambil bersenandung dia kesana kemari memetik bunga bermacam-macam variasi.
"La la la la ... na na na na, wah indah sekali bunga ini ... harum lagi. Sebelum bunga ini layu dan gugur, aku harus memetiknya dan akan aku gunakan untuk mandi nanti," gumam putri Ambar yang sedang asik memetik beberapa bunga.
Putri Ambar begitu bahagia dan girang sehingga dia tak menyadari ada makhluk yang sangat besar berada di belakangnya. Saking asiknya putri Ambar memetik bunga sedangkan makhluk besar itu murka karena keberadaannya tidak dipedulikan oleh sang putri. Kemudian makhluk itu mengeluarkan suara yang sangat besar menggelegar seperti kilat petir dan guntur yang memekakkan telinga.
"Aaaa...!!" teriak putri Ambar memegang kedua telinga hingga bunga yang dipetiknya jatuh berserakan di tanah.
Putri Ambar langsung berbalik dan hendak berlari dari area taman bunga itu, tapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat melihat seekor naga yang sangat besar dan menakutkan dirinya.
"Aaaa, K-kauuu...!!" putri Ambar ketakutan dan akhirnya pingsan. Kemudian naga besar itu membawa pergi putri Ambar ke kediamannya dengan melingkarkan ekornya pada tubuh sang putri.
Satu jam kemudian putri Ambar terbangun dan dia menggerjapkan matanya kemudian melihat seekor naga besar dan panjang tepat dihadapannya dengan menjulurkan lidahnya yang panjang.
"Aaaa, tolong ... tolong ... pengawal tolong aku!!" teriak putri Ambar yang tak mengetahui jika dia saat ini berada di kediaman naga besar itu.
"Hei, wanita apa kau ditakdirkan hanya untuk berteriak? Pengawalmu tidak ada di sini. Jadi berhenti berteriak, mengerti?" ucap naga itu kali ini mengeluarkan suaranya.
"Kau bisa bicara? Kau ini makhluk atau monster, kenapa bisa bicara seperti aku?" tanya sang putri heran.
"Namaku Satria, aku adalah seorang pangeran dari kerajaan desa sebelah timur."
"Hahaha, kau bercanda? Hei setahuku pangeran satria itu tampan dan jahat dan dia tidak akan pernah melakukan hal sekonyol naga seperti kamu," putri Ambar tak percaya dan masih dengan tawanya.
"Kau pikir ini lelucon? Aku serius, aku ini seorang pangeran. Aku akui jika aku jahat makanya aku disihir oleh seorang nenek tua yang pernah aku hina. Nenek itu sangat pintar menyihir. Aku menyesal karena perbuatanku yang jahat padanya," ucap naga itu penuh penyesalan.
"Sudahlah, aku tidak ingin mendengar dongengmu itu, aku tidak percaya dengan ucapan seekor naga jahat sepertimu. Jadi biarkan aku pergi dari sini," lagi-lagi putri Ambar tak percaya dengan ucapan sang naga dan akhirnya putri Ambar berjalan pergi dari tempat sang naga membawanya.
"Hei tunggu putri, jangan pergi ke arah sana, itu bahaya kau akan terjatuh, ini negeri awan! Hei... dengarkan aku!!" teriak sang naga dengan lantang.
Ternyata apa yang dikatakan oleh sang naga itu benar, saat sang putri melangkah ke arah depan, tiba-tiba saja sang putri terhuyung jatuh hendak ke bawah.
"Aaaa...!!" teriak sang putri kembali, lalu sang naga pun dengan cepat menangkap putri Ambar.
Saat menangkap putri Ambar dalam lingkaran ekornya, kemudian sang naga meletakkan putri Ambar duduk di tubuhnya yang bersisik itu. Sang putri baru tahu jika dia berada di atas awan yang jauh dari kerajaannya.
"Kau itu ceroboh putri, kau lihat di bawah sana, bagaimana jika kau tertancap di pohon yang runcing? Maka kau akan mati," jelas sang naga.
"Apa pedulimu padaku, aku hanya ingin pulang ke rumahku!"
"Aku akan membawamu pulang, tapi kau harus membantuku untuk memulihkan sihir yang ada di tubuhku," ucap sang naga berjanji.
"Aku tidak bisa. Kenapa kau tidak meminta bantuan saja dengan nenek sihir itu. Lagi pula aku ini tuan putri buka seorang penyihir," jelas putri Ambar meyakinkan.
"Aku tahu, hanya saja aku membutuhkan seorang putri yang bisa merubahku menjadi pangeran kembali dengan sentuhan tanganmu yang mengenai sisikku saat bulan purnama, jika kamu tulus melakukannya, maka aku akan seperti sedia kala. Tapi jika kau tidak tulus melakukannya, maka aku akan selamanya menjadi seekor naga. Dan aku janji akan mengembalikan kamu ke kejaraanmu dengan keadaanku yang seperti pangeran atau seperti seekor naga," kata sang naga menjelaskan dengan suara yang terdengar memilukan.
"Baiklah, tapi aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku tulus atau tidak melakukannya untukmu, karena sesungguhnya ketulusan hanya dimiliki oleh orang-orang yang hatinya bersih," ucap sang putri memberi pencerahan.
"Terima kasih, Putri. Kalau begitu, aku akan mengajakmu keliling di atas awan saat malam nanti, pasti kau akan menyukainya."
"Benarkah?"
"Iya."
Hari pun berganti malam, bintang-bintang bertaburan di langit membuat malam itu semakin indah.
"Sekarang pegangan yang kuat ya, aku akan mengajakmu mengelilingi desa ini," ujar sang naga bahagia saat mendengar ucapan sang putri yang menenangkan hatinya.
"Wahhhh ... indah sekali. Aku baru pertama kali melihat keindahan malam dari atas sini," putri Ambar sangat takjub.
"Apa kau bahagia?" tanya sang naga.
"Aku bahagia, sangat bahagia!" sahut putri Ambar dengan jujur.
"Ternyata kau sang naga yang baik, aku janji akan berusaha membantumu untuk mengeluarkan sihir di tubuhmu itu," batin putri Ambar.
Malam bulan purnama pun datang, dan ritual untuk melenyapkan sihir nenek tua sedang dilakukan oleh sang putri. Saat sang putri menyentuh sisik dari sang naga, tiba-tiba sang naga mengeluarkan suara yang sangat keras.
"Aghhhh, sakittt, panasss!!" teriak sang naga menggelegar dan kembali kilat petir di sana-sini.
"Kau tidak apa?" tanya sang putri cemas.
"Ti-tidak apa-apa, mungkin ini reaksi dari pemulihan sihir," ucap sang naga terbata-bata kesakitan.
Satu menit kemudian sihir itu ternyata lenyap dan sang putri akhirnya bisa memulihkan kembali tubuh sang naga menjadi pangeran Satria yang tampan dan terkenal jahat itu.
"Akhirnya sihir di tubuhku lenyap dan aku kembali menjadi pangeran. Terima kasih Putri, kau telah menyelamatkanku," ucap pangeran berbahagia.
"Aku lebih suka kau menjadi naga, karena sangat menyenangkan. Di banding kau menjadi Pangeran, kau tidak menarik!" seru sang putri kecewa.
"Apa kau ingin aku menjadi naga kembali? Baiklah, aku bisa meminta kembali pada nenek sihir itu untuk merubah wujudku menjadi naga lagi asal kau bahagia bersamaku, Putri Ambar!!" seru pangeran dengan ikhlas karena putri Ambar telah menjadikan pangeran Satria sadar akan perbuatannya di masa lalu. Kemudian pangeran memegang kedua tangan sang putri.
Putri Ambar begitu tersentuh mendengar ucapan dari sang pangeran, tapi ada rasa sakit yang menusuk dadanya saat sang pangeran mengatakan 'bahagia bersamanya'. Sang putri pun berkaca-kaca lalu membalas genggaman kedua tangan sang pangeran. Alasan sang putri menyukai sang naga yaitu karena sang naga memberikan kebahagian telah membawanya berkeliling di atas awan.
"Maafkan aku Pangeran, aku terlalu egois. Tak mengapa, walau wujudmu menjadi pangeran atau naga, aku akan selalu bahagia bersamamu," pengakuan sang putri pada pangeran.
Setelah mengucapkan itu tiba-tiba saja sang pangeran berubah kembali menjadi sang naga.
"Ah, tidak mungkin. Maafkan aku pangeran. A-aku tidak melakukan apa-apa sehingga dirimu kembali seperti naga," sesal sang putri.
"Tidak mengapa Putri, asal kau bahagia bersamaku!" seru sang naga mengakui.
"Hihihi ... pangeran Satria, kau akan menjadi naga kembali jika sang putri menyentuhmu dan menyebutmu seorang naga. Dan kau akan menjadi pangeran kembali jika sang putri menyentuhmu dan menyebutmu pangeran. Tapi ingat, ritual ini harus dilakukan saat bulan purnama. Satu hal lagi, jika sang pangeran berbuat jahat kembali, maka sihir itu akan selamanya membelenggumu menjadi seekor naga, hihihi...!!" tiba-tiba nenek sihir itu pun datang memberi pesan kemudian pergi begitu saja saat menyelesaikan perkataannya.
"Jadi, apa kau siap mengelilingi dunia bersamaku dan hidup bahagia bersamaku, putri?" tanya sang pangerang yang berubah menjadi naga kembali.
"Aku siap Pangeran Naga!!" seru sang putri sembari menduduki tubuh sang naga dan memeluknya erat.
"Hahaha...!!"
Akhirnya sang putri dan sang naga hidup bahagia bersama.
-----END-----
Terima kasih sudah mampir dan membaca cerpenku.
Semoga kalian terhibur 😃😄