Sudah menjadi kewajiban putra dan putri bangsawan untuk memiliki kemampuan bela diri dan mampu bertahan hidup di alam.
Seperti hari ini, Putri Emeralda yang masih berusia 10 tahun dan kakaknya Pangeran Holland yang satu tahun lebih tua dari sang adik, pergi ke hutan untuk melakukan tes. Rencananya hari ini, sang Raja akan melatih putra-putrinya untuk berburu. Sebuah kemampuan dasar, sebagai kunci bertahan hidup di alam liar.
"Emer, Holland, siapa diantara kalian yang berhasil mendapat hewan buruan pertama kali, ayah akan memberi kalian hadiah," janji sang Raja. "Kalau begitu ... mulai!"
Emeralda dan Holland lari ke dalam hutan dengan arah berbeda. Keduanya membawa serta anak panah di punggung mereka.
Singkat cerita, Emeralda sudah berhasil memanah satu ekor rusa dan akan membawa hewan buruannya kepada sang Ayah. Namun, niatnya urung ketika mendengar sebuah erangan.
Emeralda kecil bukannya takut, gadis berambut perak itu justru berjalan mencari sumber suara, dan meninggalkan hewan buruannya di tempat. Ia terus berjalan masuk ke dalam hutan. Dan, tiba di dalam hutan, suara erangan semakin jelas terdengar. Suara itu bersumber dari dalam goa.
"Siapa ya yang ada di dalam goa itu?" Emeralda bertanya-tanya. Tanpa ragu, ia segera mencari tahu jawaban dari rasa penasarannya. Emeralda memasuki mulut goa dan berjalan menyusuri lorong goa itu.
"Hah!" Gadis itu terperangah dengan mulut terbuka lebar. Matanya membulat sempurna dengan kedua lutut yang gemetar. "Na-naga?" Emeralda terkejut saat melihat seekor naga besar yang terkapar tak berdaya.
Baru saja ia berniat kabur, namun langkahnya terhenti begitu mendengar suara yang meminta bantuannya.
"Tolong aku. Siapapun, tolong selamatkan aku!" Naga itu berucap dengan suara gemetar.
Emeralda semakin takut. Terlebih lagi binatang besar itu bisa berbicara layaknya manusia. Ia ingin segera kabur, namun nurani berkata sebaliknya.
"Hey, nak! Tolong selamatkan aku!" ucap naga itu pada Emeralda.
Emeralda mengumpulkan keberaniannya untuk mendekati sang Naga yang malang. Ia mengangkat tangan mungilnya menyentuh kulit sekitar luka sang naga.
"Arrgh! Sakit sekali!" rintih Naga itu, membuat hati Emeralda semakin tak tega meninggalkannya.
"Tunggu disini, aku akan mencarikan obat untukmu." Emeralda segera berlari keluar goa.
Berkat pelajaran yang pernah diterimanya, gadis itu tau macam-macam tanaman obat beserta masing-masing fungsinya dalam pengobatan. Setelah mencari begitu lama, akhirnya ia mengambil tanaman obat dengan jumlah banyak. Karena luka di tubuh naga itu cukup parah.
Emeralda berlari kembali ke dalam goa, dan menumbuk daun-daun yang dibawanya disana. Setelah cukup halus, gadis itu dengan hati-hati dan telaten, membubuhkan ramuan obat yang ditumbuknya ke atas luka si naga.
"Arrggh!" rintih naga itu.
"Bertahanlah naga yang malang. Awalnya memang perih, tapi nanti ramuan ini akan terasa dingin dan membatu supaya lukamu cepat mengering," ucapnya lembut sembari terus meratakan ramuan obat pada luka sang naga. "Jangan banyak bergerak, supaya lukamu tidak selalu bergesekan. Itu akan memperlambat penyembuhan. Kau mengerti?" tanya gadis itu polos. Kini ketakutan akan naga di hadapannya lenyap seketika.
"Terima kasih gadis kecil," ucap sang Naga dengan kondisi yang masih sangat lemah.
"Tak masalah. Apa kau punya nama naga?"
"Namaku Stelioss."
Tiba-tiba Emeralda teringat akan misi utamanya datang ke hutan ini. Dia juga ingat telah membiarkan hewan buruannya.
"Stelioss, aku harus pergi. Aku lupa tugasku pada Ayah." Emeralda membersihkan tangannya dari sisa ramuan obat.
"Terima kasih gadis baik. Aku berhutang budi padamu."
"Jangan begitu, Ayah selalu mengajarkanku untuk membantu tanpa mengharap balasan apapun. Tenang, aku tidak keberatan melakukannya."
"Hemm ... kau sangat baik."
"Oh ya, panggil aku Emeralda. Besok aku akan datang menjengukmu lagi. Sampai jumpa besok Stelioss!" Emeralda melambaikan tangan ke arah sang naga dan berlari keluar goa.
Gadis itu berlari dengan sangat cepat. Ia kembali ke tempat awal, dimana hewan buruannya ditinggalkan. Namun setibanya disana, hewan buruannya menghilang.
Emeralda mencari sekitar, namun tak menemukan rusa yang tadi berhasil di panahnya itu. Gadis kecil itu tak ingin kembali dengan tangan kosong. Ia kembali mengintai pergerakan untuk mendapatkan seekor rusa lagi. Namun keuntungan tidak selalu datang dua kali, Emeralda kini harus rela kembali dengan tangan kosong.
"Emeralda, kenapa kau tidak membawa apa-apa?" tanya Raja Evers begitu melihat putrinya kembali dengan tangan kosong.
Disamping Raja, Holland berdiri dengan pongah menatap kekalahan sang adik. Emeralda baru menyadari bahwa rusa buruannya tergeletak di depan sang ayah.
"Ayah, dari mana ayah mendapat rusa buruanku?" tanya Emeralda yakin bahwa rusa itu miliknya yang telah menghilang.
"Hei, Emer, jangan sembarangan! Ini rusaku, aku yang memanahnya," sergah Holland.
"Holland apa benar ini rusa milik Emer?" tanya Raja pada putranya.
"Ti-tidak Ayah! Rusa ini aku yang memanahnya." Holland tetap tak mau mengaku. Angkara memenuhi hatinya.
"Emer ...."
"Maafkan aku Ayah. Mungkin aku yang salah." Emeralda tak berani menyanggah lagi. Ia takut sang ayah dan kakaknya bertanya kemana ia pergi tadi. Emeralda tidak ingin keberadaan sang naga diketahui orang lain, dan akan membahayakan makhluk itu.
Namun, Raja tak kalah cerdiknya. Ia mencabut panah yang menancap pada tubuh rusa dan melihat bentuk panah itu.
Sebelumnya, Raja sudah menyiapkan panah yang berbeda antara Emeralda dan Holland. Tentu saja perbedaan senjata itu tanpa diketahui oleh keduanya. Raja khawatir kecurangan akan terjadi dalam tes kali ini.
Dan ternyata, dugaan Raja benar. Hari ini kecurangan itu benar-benar terjadi. Model panah yang ia cabut dari tubuh rusa, sama dengan model panah yang disiapkannya untuk Emeralda.
Lalu sang Raja diam-diam menghitung jumlah panah di punggung kedua anaknya. Panah di punggung Emeralda berkurang 1 sedangkan panah milik Holland masih lengkap seperti jumlah awal.
Dengan begitu Raja tau, siapa diantara kedua anaknya yang berhati jujur dan tulus. Dan Raja Evers pun tau siapa diantara kedua anaknya yang berlaku curang untuk memperoleh kemenangan.
Bagi Raja Evers curang adalah sebuah cara rendahan, yang menggambarkan ketidak percayaan diri seseorang untuk bertarung secara jujur dengan orang lain. Dan tes kali ini sangat berguna bagi Raja untuk memilih pewaris tahtanya dikemudian hari.
"Seperti janji ayah. Ayah akan memberi hadiah kepada yang datang pertama membawa hewan buruan."
"Hore!" Holland begitu senang.
Raja tersenyum melihat putrinya yang murung. dalam hatinya Raja berkata, 'Jangan sedih karena tidak mendapat hadiah hari ini putriku. Ayah janji, kejujuranmu hari ini akan mendapat hadiah yang lebih besar dari Ayah di kemudian hari.'
~~
Seperti janjinya kemarin, Emeralda kembali mendatangi gua tempat sang naga berada. Ia datang membawa banyak ramuan yang tersimpan dalam tas di punggungnya.
Tok ... tok ... bug ... bug ...
Suara tumbukan kedua batu yang digunakan Emeralda berhasil membangunkan sang naga.
"Kau menepati janjimu Emeralda." Stelioss menoleh ke arah Emeralda yang sibuk menumbuk ramuan obat.
"Janji adalah hutang Stelioss. Dan hutang harus dilunasi. Ayah bilang, kehidupan setelah mati tidak akan tenang jika seseorang masih memiliki hutang semasa hidupnya," celoteh gadis kecil itu seraya mengenyampingkan rambut peraknya.
Sejak kemarin Stelios selalu merasa tersentuh dengan semua ucapan gadis kecil di sebelahnya. Gadis itu memang kecil, tapi pengetahuan dan kemuliaannya melebihi penilaian luar dari Stelioss.
"Hah, aku sangat beruntung bertemu dengan gadis yang baik sepertimu, Emeralda." Stelios menarik bibir di moncongnya.
"Sama-sama."
Emeralda kemudian membersihkan luka di tubuh Stelioss. Menggantikan ramuan obat yang diberinya kemarin, dengan ramuan obat yang baru dibuatnya hari ini.
Stelioss begitu jinak di dekat Emeralda. Naga itu merasa begitu beruntung saat bertemu gadis kecil yang baik padanya.
Setiap hari Emeralda menyempatkan diri berkunjung ke gua tempat Stelioss berada. Ia dengan senang hati merawat naga malang itu sampai benar-benar sembuh.
Persahabatan antara Emeralda dan Stelioss berjalan sangat baik. Bahkan saat dirinya telah beranjak dewasa, gadis itu selalu mencuri waktu malam untuk terbang bersama Stelios. Karena, Stelioss hanya bisa mengajak Emeralda terbang pada malam hari. Jika tidak, orang-orang akan memburu keberadaan naga itu.
~~
Beberapa tahun kemudian, Emeralda sudah berusia 25 tahun dan Holland telah mencapai usia 26 tahun. Sang Raja mentitahkan kepada putranya untuk memimpin wilayah kuasanya di bagian utara. Mengingat wilayah utara merupakan dataran gersang dan tidak subur, Holland menolak keras untuk memimpin rakyat bagian utara.
"Tidak, aku tidak setuju! Ayah, apa kau ingin membuatku hidup sengsara dengan mengirimku kesana?" Holland seketika bangkit dari tempat duduknya, menentang sang Ayah.
"Holland! Untuk menjadi Pemimpin sejati, kau harus siap berada di situasi tersulit sekalipun. Menjadi pemimpin bukan berarti selalu mendapat kelayakan hidup, tapi kau juga harus mampu merubah hidup mereka lebih layak dan makmur. Barulah kau akan disebut pemimpin sejati."
"Aku tetap tidak setuju!" Holland bersikeras menolak. Suasana musyawarah antar bangsawan pun sempat menegang.
"Jika kau berhasil, aku akan menarikmu kembali ke bagian selatan, dan menjadi Raja di sini." Dengan berat hati Raja Evers memberikan keputusan untuk memancing persetujuan Holland memimpin di wilayah utara.
"Baiklah, aku setuju!" Dengan senyum licik Holland meninggalkan ruang rapat.
Raja Evers sengaja memberikan tugas berat kepada Holland, berharap bisa menumbangkan sikap keangkuhan putranya. Ia teringat peristiwa 15 tahun silam saat Holland mencuri hewan buruan sang adik yang diakui miliknya. Raja Evers ingin mendidik Holland lebih keras, agar laki-laki itu tau caranya berusaha.
~~
Sejak Raja Evers menurunkan titahnya, Holland pergi ke wilayah utara untuk menetap dan memimpin disana. Sejak kepindahannya, Holland selalu mengeluh tentang betapa sulitnya hidup di wilayah utara.
Panen gagal, sumber mata air bersih sulit didapat dan jauh dari pemukiman, serta kasta penduduk yang rendah membuat Holland semakin tidak betah berada di antara mereka.
Akhirnya, berkat dari banyaknya keluhan rakyat utara, Holland pergi ke wilayah selatan. Berniat menghadap sang Ayah untuk kembali meminta mengirimkan bantuan sandang pangan ke wilayah utara.
Setelah melalui perjalanan jauh dengan menunggangi kuda, Holland tiba di kawasan wilayah selatan. Tepatnya di pasar, ia melihat banyak warga yang bergembira mengantri bantuan sandang pangan.
"Cih! Ayah selalu pura-pura bijak. Nyatanya dia melupakan kesengsaraan rakyat utara. Dan justru memberi bantuan untuk rakyat selatan yang justru lebih baik segi kehidupan mereka," umpat Holland iri melihat kondisi antara wilayah selatan dengan wilayahnya sendiri.
Holland lalu memanggil seorang warga dan bertanya padanya.
"Hei, sini!" panggil Holand pada seorang pria tua yang melintas dan memegang sekarung sandang pangan.
Pria tua itu mengenali Holland adalah bagian bangsawan, dari caranya berpakaian. "Apa yang bisa saya bantu Tuan?" tanya pria tua itu sembari menunduk.
"Apa yang kau pegang itu?"
"Oh, ini bantuan dari Ratu Emeralda, Tuan."
"Ratu Emeralda? Maksudmu Putri Emeralda?" Holland menautkan alisnya bingung.
"Aku tidak ingin lancang memanggil pemimpinku dengan menyebutnya selain Ratu, Tuan. Permisi." Pria tua itu undur diri, meninggalkan Holland yang berubah emosi mendengar Emeralda bergelar Ratu.
"Jadi, Ayah mengirimku ke bagian utara agar bisa membuat Emeralda menjadi Ratu di wilayah selatan! Cih, mereka berdua benar-benar licik! Beraninya membohongiku!" Holland menarik tali kendali pada kudanya. Ia berbalik arah, tak jadi menghadap sang Ayah. Kemurkaan Holland menimbulkan rasa benci dan dendam yang membara. Ia kembali ke wilayah utara. Di kepalanya sudah tersusun rencana jahat untuk menghancurkan wilayah selatan.
~~
Hari masih begitu pagi. Namun mendung sudah bergelayut, menghalangi sinar mentari sehingga pagi masih tampak begitu gelap.
Hari ini, perasaan Emeralda menjadi tidak tenang. Hatinya mendadak khawatir. Ia menatap mendung yang semakin pekat, seolah memberi kabar akan datangnya berita buruk hari ini.
"Aaa ... tolong ... tolong ...!"
Emeralda mendengar banyak suara teriakan dan minta tolong dari warga. Ia berlari kalang kabut menuju kamar sang Ayah.
"Ayah, Ayah, sepertinya ada yang terjadi diluar." Emeralda panik.
"Iya Emer. Kau disini dulu, Ayah akan melihatnya." Raja Evers pun memutuskan untuk keluar, memastikan apa yang terjadi di luar istana.
Emeralda hanya bisa menunggu sang ayah kembali. Ia berpikir untuk pergi ke hutan, meminta bantuan Stelioss saat ayahnya kembali. Tiba-tiba ...
"Aaargggh!" rintihan Raja Evers terdengar oleh Emeralda.
Dengan tergesa-gesa Emeralda keluar istana dan mendapati sang Ayah terkena panah di bagian dada sebelah kirinya.
"Ayah!" Emeralda menghampiri dan memangku kepala sang Ayah. Tubuh yang terbiasa berdiri gagah itu kini tersungkur menahan sakit dari panah yang menghunus jantungnya.
"Em-mer ...." ucap sang Raja dengan tertatih-tatih.
"Ayah, bertahanlah!" Emeralda tak kuasa menahan tangisnya. Baru saja ia hendak menegakkan tubuh sang Ayah. Namun suara yang begitu familiar terdengar di telinganya.
"Hai Ayah, Hai adikku. Oh maaf, maksudku Ratu Emeralda," ucap Holland penuh penekanan pada kata Ratu Emeralda. "Apa kabar? Bagaimana kemampuan memanahku? Apa sudah tepat sasaran?" Holland menggerakkan panah yang masih menancap di dada sang ayah, hingga membuat pria paruh baya itu menjerit.
"Aaarggh!" Rintih Raja.
"Kau yang melakukan kekacauan ini dan mencelakai ayah?" Bentak Emeralda seraya tetap menangis memangku kepala ayahnya.
"Jangan berlaku lancang adikku. Ingat, aku juga seorang Raja. Jadi panggil aku Yang Mulia Raja Holland." Holland menyeringai ke arah Emeralda. Sifat angkuhnya tak pernah berubah.
"Percuma jika kau seorang Raja. Tapi tidak memiliki kepribadian yang menggambarkan bahwa kau pantas menjadi pemimpin!" umpat Emeralda menegakkan tubuh sang Ayah dan memapahnya berjalan ke dalam.
Holland sakit hati mendengar ucapan Emeralda. Dia mengeluarkan pedangnya dan menghalangi jalan Emeralda dan sang ayah.
"Jika kau merasa lebih pantas dari padaku, mari bertarung," tantang Holand.
"Jika atas dasar tahta yang kau pandang sebagai materi aku menolak. Tapi jika ini tentang kehormatan, aku sanggup," ucap Emeralda seraya membawa masuk ayahnya.
"Apapun itu, mari bertarung!"
Tak lama kemudian Emeralda keluar dengan senjata yang sudah ia siapkan. Pedang sudah tergenggam di tangannya. Begitupun dengan panah yang sudah ia bawa di punggungnya.
Emeralda dan Holland bertarung begitu sengit. Ternyata di luar istara banyak rakyat wilayah selatan yang terluka akibat serangan dari rakyat utara.
Pasalnya, kekacauan ini terjadi karena Holland berhasil mempengaruhi pikiran rakyat utara. Holland menyatakan di depan rakyatnya, jika mereka berhasil merebut wilayah selatan, maka penderitaan akan berakhir. Rakyat utara akan hidup damai menempati wilayah selatan.
Karena terlalu lama menderita, mereka juga merindukan ketentraman yang dieluh-eluhkan oleh Holland. Akhirnya rakyat utara bersedia mengikuti saran sang pemimpin untuk menyerang dan menguasai wilayah selatan.
"Arggh!" Emeralda terjatuh ketika mata pedang milik Holland berhasil menggores lengannya.
"Menyerahlah adikku!" seringai Holland menggambarkan kemunafikannya.
"Tidak akan!" tolak Emeralda mentah-mentah.
"Bajingan!" Baru saja Holland akan melayangkan pedangnya ke arah Emeralda, dia kemudian di kejutkan oleh suara gelegar yang nyaring dan menakutkan.
"Haarrrggg!"
Semua yang bertarung di bawah menghentikan aktivitas mereka dan menengadahkan wajah ke atas. Begitupun Holland, ia membelalak sempurna ketika melihat seekor naga raksasa berwarna hitam yang terbang di atas kepalanya.
"Stelioss!" Emeralda terkejut melihat naga itu berani menampakkan diri.
Stelios mendaratkan dirinya di samping Emeralda dan tanpa berlama-lama, gadis itu naik di atas punggung Stelioss.
Stelioss membawa Emeralda terbang dan menyerang rakyat utara dengan bantuannya.
"Semuanya serang monster itu!" titah Holland kepada rakyatnya.
Mereka telah melupakan rakyat selatan yang menjadi targetnya. Dengan mudah semua rakyat selatan memisahkan diri dan tidak ikut menyerang Stelioss, karena melihat sang Ratu dekat dengan naga itu.
Sedangkan Holland dan pasukannya para rakyat utara, mengarahkan panah ke langit. Bersiap memanah Stellios dan Emeralda.
"Emer, aku tau dia saudaramu. Jika kau mengijinkan, aku akan menyerang mereka. Agar ketakutan di wajah rakyatmu segera binasa." Stelios meminta ijin Emeralda. Karena bagaimanapun, salah satu dari orang-orang yang akan mereka serang adalah Holland, kakak Emeralda sendiri.
Emeralda termenung di atas punggung Stelioss yang membawanya terbang menjauh dari pemukiman penduduk. Ia kembali berpikir mengenai keamanan sang ayah, dan keamanan seluruh rakyat wilayah selatan. Akhirnya, setelah melalui pergulatan batin, dengan berat hati Emeralda menyetujui Stelioss untuk menyerang Holland dan pasukannya.
"Sebagai pemimpin, aku harus tegas mengambil keputusan. Tidak memandang bulu menghukum siapapun yang bertindak keji, sekalipun dia bagian dari keluargaku sendiri. Stelioss, lakukan."
Stelios tercengang mendengar keteguhan hati Emeralda. Rambut perak gadis itu berterbangan menutup matanya yang sengaja terpejam, saat Stellios menyemburkan api ke arah orang-orang yang menyerangnya.
"Bwarrgghhh!" Sekali saja naga itu menyemburkan api dari mulutnya, seluruh pasukan Holland tumbang.
"AAAARGGHH!" Jerita demi jeritan terdengar sebelum mereka kaku tak bergerak dan berubah menjadi abu.
Stelioss mendarat di dekat tumpukan abu manusia atas permintaan Emeralda. Gadis itu berjalan mengambil sebuah permata biru yang biasa digunakan Holland. Air mata gadis itu menetes mengingat sang kakak sudah tiada dari muka bumi ini.
"Inilah akibat untuk manusia-manusia serakah, yang hati mereka hanya dipenuhi iri dan dengki. Mereka menindas demi kepentingan pribadi. Dan ini hasilnya, mereka tak mendapat apa-apa karena sampai kapanpun kebaikan tak akan pernah terkalahkan oleh kejahatan."
"Stelioss, apakah aku pemimpin yang jahat karena telah membinasakan mereka?"
"Ratu Emeralda, kau pemimpin terbaik. Aku yakin kau memiliki banyak pertimbangan sampai harus mengambil jalan ini. Percuma kau menyesal, aku tidak bisa merubah abu kakakmu untuk kembali hidup."
Emeralda setuju dengan perkataan Stelioss. Naga itu tak bisa membuat kakaknya kembali. Ia berpikir, kebaikan ayah dan rakyatnya adalah yang utama saat ini. "Stelioss aku tidak bisa berbohong padamu, aku tidak menyalahkanmu, tapi aku ... merasa bersalah. Tapi sekali lagi aku tidak menyalahkanmu. Aku justru berterimakasih, karena kau membantuku menyelamatkan rakyatku."
"Apa yang kau tuai sekarang, adalah hasil dari yang pernah kau tanam di masa lalu Ratu. Kau pernah membantuku 15 tahun silam. Dan sejak saat itu aku berhutang budi padamu." Ada kesedihan di mata besar Stelioss. "Sebenarnya, aku adalah naga di dunia para dewa. Pantang bagiku untuk kembali ke alamku sebelum membalas kebaikanmu. Tak disangka, 15 tahun kemudian aku bisa membalas kebaikanmu dan aku bisa kembali ke tempat asalku."
Emeralda mendekati Stelioss. Ada rasa sedih saat mendengar makhluk itu akan pergi. "Jadi kau akan meninggalkanku sekarang?"
"Dengan berat hati aku harus kembali Ratu." Mata Stelioss memancarkan sinar putih kekuningan yang mengarah ke leher Emeralda. Tak lama kemudian, sebuah kalung bersimbol naga menggantung di leher gadis itu. "Jika kau ada kesulitan atau ingin bertemu denganku, datanglah ke goa lalu sentuh kalung naga itu dan panggil aku dalam hatimu. Aku akan datang membantu."
"Terima kasih Stelioss."
"Ini saatnya aku pergi Ratu." Netra Stelioss menatap kedua netra Emeralda yang berkaca-kaca.
"Jangan panggil aku Ratu. Aku ini temanmu, ayolah Stelioss jangan buat aku sedih." Emeralda melingkarkan tangannya di leher panjang makhluk itu. Sesekali isaknya terdengar pilu ketika ia harus melepas naga hitam yang sudah menjadi sahabatnya selama 15 tahun terakhir.
"Emer, jaga dirimu baik-baik. Jangan menjadi pongah, tetap rendah hati seperti Emer kecil yang telah menolongku dulu." Stelioss memundurkan langkahnya. Naga hitam itu berbalik membelakangi Emeralda, dan sesekali menoleh untuk melirik gadis itu. Setelah menyiapkan hatinya, Stelioss akhirnya terbang melayang dan sesekali menoleh ke bawah, ke arah Emeralda.
"Stelioss, sampai jumpa lagi." Emeralda melambaikan tangan ke arah Stelioss. Naga hitam itu terbang menjauh dan kemudian menghilang.
~~
Setelah rakyat utara tumbas. Kehidupan rakyat wilayah selatan membaik seperti sedia kala. Kesehatan Raja Evers pun membaik setelah Emeralda meracik obat untuk sang Ayah. Dia juga membagikan ilmu pengobatannya kepada rakyat untuk membantu penyembuhan mereka, akibat dari serangan lalu.
Emeralda tidak bisa melupakan Stelioss. Naga hitam raksasa yang menjadi temannya selama 15 tahun. Ia ingat akan perkataan Stelioss padanya.
'Apa yang kau tuai sekarang, adalah hasil dari yang pernah kau tanam di masa lalu.'
-TAMAT-
Hai, semoga aja ada yang baca.
Aku cuma mau menyampaikan, semoga kita bisa mengambil sisi positif dari cerita diatas.
Terimakasihhh 😘😘😘😘😘