Di sebuah hutan terlarang. Di Negara Ming.
Hari itu, saat putri Yue An sedang berburu dan kemudian tersesat.
“Siapa kau. Kenapa kau menatap ku seperti itu. Apa aku berhutang padamu?” tanya Yue tanpa rasa takut sedikitpun.
“Kau melihatku?” tanya lawan bicara Yue.
“Yak! Kau pikir aku buta hah! Kau saja sebesar itu, bagaimana mungkin tak terlihat?” jawab Yue sedikit kesal.
“Kau bisa mendengarku???” tanya lawan bicara Yue lagi, bingung.
“Yak! Kau pikir aku tuli hah! Suaramu begitu besar, bahkan semua yang memiliki telinga di ujung desa ini pun pasti mendengarmu.” Yue tambah kesal.
“Habis mengira aku buta, sekarang mengira aku tuli. Memangnya dia pikir dia siapa, bicara seenak udelnya padaku.” beo Yue pelan sambil tertunduk komat kamit.
“Yak! Apa yang kau lakukan. Kau sedang baca mantra kah?” tanya lawan bicara Yue lagi.
“His! Kau ini... Sudahlah. Aku tak mau bicara padamu lagi.” Yue yang kesal lalu balik badan hendak pergi.
Namun tiba-tiba langkah Yue terhenti. Sang lawan debatnya ternyata ambil langkah seribu dan menghalangi jalannya.
“Ya ampun! Apa lagi sih!” tanya Yue, males-malesan sambil melipat kedua tangannya di dada.
Lawan debat Yue bergerak cepat, mendekatkan wajahnya ke wajah Yue.
Yue kaget. Matanya melebar sedetik.
Untuk beberapa saat Yue terpaku menahan napas.
“Ah... Jadi seperti ini kah kulitmu dari dekat. Sepertinya sangat lembut saat di kunyah.” lawan debat Yue menyeringai penuh napsu.Sepasang taring runjing, seolah siap di hunuskan menembus daging segar Yue.
Yue tak bergerak sedikitpun. Sang lawan debat tersenyum puas.
“He he he... Apa sekarang kau sudah sadar? Kau takut padaku? Cih... Dasar manusia bodoh. Lari sekarang. Kau pikir kau mampu! Woshh....” lawan debat Yue terus menatap tajamnya.
Yue masih tak bergeming. Yue seolah berubah menjadi patung batu.
Lawan debat Yue mengernyitkan dahinya, heran. Dimundurkan wajahnya menjauh dari wajah Yue. Dilihatnya tubuh Yue dari atas kepala hingga ujung kaki. Yue tak bergerak sedikitpun.
Lawan debat Yue kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Yue, meneliti. Kali ini bola matanya mengabsen setiap inci wajah Yue dengan seksama.
“Hm... Apa dia mati?” Kena serangan jantung kah?” beo lawan debat Yue memutar bola matanya sembari mengusap dagunya, mikir.
Pas bola mata lawan debat Yue, sampai kembali ke wajah Yue...
“WUASTAGA! Whooss....” teriak lawan debat Yue kaget setengah mati, tubuhnya terlempar kebelakang nyaris jatuh sangking kagetnya.
Bagaimana tidak, Yue... Sudah melotot dan menatap tajam lawan debatnya.
“Ka—Kau--” lawan debat Yue berubah gagap.
“YAK! KAU PIKIR KAU SIAPA HAH! MENATAP KU DENGAN BOLA MATA SEBESAR ITU. DAN LAGI, LUBANG HIDUNGMU ITU... BEGITU BESAR, SAMPAI-SAMPAI AKU BAHKAN BISA TERSEDOT KEDALAMNYA. JUGA MULUTMU ITU, APA YANG KAU MAKAN SEBENARNYA. BAU BANGET! AKU HAMPIR MENYEBRANG KE ALAM BAKA KARENA TERLALU LAMA MENAHAN NAPAS. KALO AKU MATI GIMANA. KAU MAU TANGGUNG JAWAB HAH! KAU MAU JELASKAN ALASANKU MATI KARENA LUPA NAPAS! MEMANGNYA KAU BISA, BICARA PADA ORANG TUA KU YANG ADALAH PENGUASA DI NEGARA INI!”
“Heran..., gak nyadar diri banget, bentuknya itu kek apa. Ngagetin saja, deket-deketin muka.” Kuliah panjang Yue An, sekali tarikan napas.
Lawan bicara Yue yang tadinya sangar dan mengerikan, berubah jadi iwak peyek.
“Ayah..., ibu..., tolong....” batin lawan debat Yue menahan tangis.
“YAK! Kau mau berdiri disitu sampai kapan heh! Menghalangi jalanku saja. Minggir!" bentak Yue lagi sambil menggeser kasar tubuh raksasa lawan debatnya.
“Eh, tunggu dulu." Yue berbalik. "Kau itu berdiri gak sich. itu kaki apa tangan sich. Cara jalan mu ngesot apa melangkah sich?” Yue tiba-tiba menanyakan hal tabu yang sudah sangat telat untuk disadarinya.
“Hm, sepertinya dia tak marah padaku lagi. Baiklah, aku akan memperkenalkan diri secara resmi.” batin lawan debat Yue, percaya diri.
Lawan debat Yue yang merasa gadis di hadapannya, tak lagi semengerikan tadi, niat menjelaskan jati dirinya dengan lantang.
“Ekhem,ekhem. Ak--” belum sempat lawan debat Yue buka suara.
“Ah sudahlah! Aku mau pulang. Ibu pasti cemas menungguku di rumah.” Yue kembali melanjutkan langkah tanpa memperdulikan lagi lawan debatnya.
Belum jauh Yue melangkah, tiba-tiba sebuah cahaya terang dan sangat menyilaukan memancar dari balik tubuh Yue.
Yue menoleh, dan benar saja...
Sebuah pusaran angin yang bercampur dengan cahaya putih biru terang menyilaukan mata Yue. Yue menutup matanya dengan dengan kedua tangan.
Merasa cahaya dan angin kencang sudah menghilang, Yue lalu menurunkan tangannya perlahan. Dan betapa kagetnya Yue.
Seorang pria tampan berambut perak sudah berdiri santai dan sedang menatapnya, dingin.
Yue terpesona...
Mulutnya mengagah dan matanya terbelalak seolah enggan untuk berkedip.
“Cih! Dasar, manusia bodoh! Semua sama saja. Lihat yang tampan dikit, langsung meleleh.” batin si pria tampan sambil menatap remeh Yue An.
Tapi sayang, sedetik kemudian...
DEG!!!
“ASTAGA! Perasaan ini???” batin si pria tampan, merasa sangat mengenali reaksi merinding yang dirasakan tubuhnya.
“Heuh! Jangan-jangan...” si pria tampan menyadari sesuatu.
Tapi sayang, kesadaran si pria tampan--
T
E
R
L
A
M
B
A
T
Yue An...
Dengan sorot mata tajam, dan entah sejak kapan. Sudah berdiri tepat di hadapan si pria tampan. Dan...
“YAK! KEMBALIKAN..., KEMBALIKAN..., KEMBALIKAN.... MUNTAHIN GAK! MUNTAHIN GAK! MUNTAHIN KATAKU!” teriak Yue sambil menjambak rambut perak si pria tampan.
“Yak! Yak! Yak! Wadao, wadao,” rintih si pria tampan sambil berusaha melepaskan cengkeraman Yue.
“Yak! Muntahin kataku..., muntahin. Muntahin ulet albinoku. Muntahin... Muntahin... Yaaaakkkkk...” Yue terus menjambak rambut perak si pria tampan.
“Yak! Muntahin apa. Ulet apa? Aku tak memakan ulet milikmu. Aow..., aow..., Akh....” jawab si pria tampan sambil terus berusaha melepas tangan Yue An.
“Tak makan apanya. Jelas-jelas tadi si ulet disini, sekarang tak ada. Kau pasti memakannya kan. Muntahin... Pokoknya muntahin. Atau ku cabut semua rambut uban mu... Muntahin, muntahin kataku!!!” Yue terus mengomel sambil melirik kesal si pria tampan.
“His! Kau ini gila ya. Main tuduh sembarangan. Lepasin! Lepasin gak. Lepas kataku!” Si pria tampan balik menatap kesal Yue.
“Cih! Kura-kura ketusuk paku. Masih gak ngaku. Ku cabut..., ku cabut..., ku cabut sampe botak.... Hiyaaakkkk...” Yue menggila.
“Aaaakkh..., dasar perempuan gila.... Ku botakin balik kau... Hiyaaaaaakkk” si pria tampan tak mau kalah.
Tit.
Tit.
Tit.
Cukup lama pertarungan sengit keduanya. Sifat tak mau mengalah dan merasa benar sendiri membuat pertarungan keduanya SERI.
“Hah! Huh! Hah! Huh! Hah! Huh!” napas naik turun Yue dan si pria tampan saling bersahutan.
Keduanya terkapar di pelataran rumput liar sambil menatap langit sore yang mulai gelap.
“Hah! Hah! Hah! Yak! Kau kuat juga ya. Hah! Hah! Hah! Tapi, sungguh kau tak memakan ulet albinoku kah?” tanya Yue lagi sambil atur napas.
“Huh! Huh! Huh! Yak! Aku tak berbohong. Dan lagi, untuk apa aku memakan ulet penyakitan seperti itu. Ulet segar saja banyak!” jawab si pria tampan, ketus.
“Yek! Kau menjijikan. Masak makan ulet. Hiii..., geli. Menjauh dariku, sana.” Yue mendorong pelan tubuh lelah si pria tampan di sampingnya.
“Cih! Kau ini..., meskipun aku memakan binatang lain. Aku tak mungkin memakan jenis ulet, apalagi penyakitan kek binatang kesayangan mu yang albino itu.”
“Yakk! Mau berantem lagi. Ngomong sembarangan! Tapi nanti lah, aku capek. Sebenarnya, Ulet itu bukan milikku sich. Aku juga baru melihatnya hari ini. Dia sangat imut. Awalnya aku sangat menyukainya. Tapi ternyata, saat dia berbicara, sungguh membuat darahku naik saja. Kami sempat adu mulut tadi, sebelum akhirnya kau muncul dan dia menghilang.... Jadi, maafkan aku ya jika salah menuduhmu.” Jelas Yue sambil menatap sesal si pria tampan.
Si pria tampan terenyuh.
“Hah, sudahlah. Kau tak salah. Tak ada yang salah disini. Nanti kita cari bareng-banreng ulet albino mu itu. Mungkin saja dia masih di sekitar sini....” si pria tampan tersenyum tulus.
Namun tiba-tiba, seolah tersadar akan sesuatu.
“Tunggu dulu, tadi kau bilang apa. Kau dan ulet albino mu adu mulut?”
“Hmmm....”Yue mengangguk, lugu.
“Dan dia menghilang sebelum aku muncul?”
“Em, em.” Yue ngangguk lagi, polos.
“ULET!!! ALBINO!!! YAK!!! YUE AN!!! AKU.... ANTHAN!!! PUTRA RAJA NAGA!!! DAN KAU SAMAKAN AKU DENGAN SEEKOR ULET!!!ALBINO LAGI!!! KAU SUNGGUH BERNYALI YUE AN!!!” teriak si pria tampan yang adalah Anthan, tersinggung.
“Yak! Kenapa kau meneriaki ku. Memangnya kenapa kalo kau putra Raja Naga. Kau pikir aku takut hah! Aku juga seorang Putri di Negara ini. Kau mau apa!” Yue balik meneriaki Anthan sambil melotot.
“Cih! Seenaknya saja meneriaki ku, memangnya kau sedekat itu denganku. Pake ngaku-ngaku Putra Raja Naga lagi, sinting. Tersinggungan banget sich. Kek si ulet albino saja—Eh, tunggu dulu. Ulet albino? Si pria tampan? Putra Raja Naga???” Otak Yue An loading lambat sebelum akhirnya koneksi terhubung bagus.
“WUASTAGA!!! MATI AKU!!!” batin Yue, yang menyadari identitas Anthan.
Yue melotot, paham, lalu perlahan memalingkan wajahnya menjauh dari Atnthan. Yue menarik kakinya sejengkal demi sejengkal. Berharap Anthan tak menyadari apa yang akan di lakukannya. Yue bersiap kabur mengambil langkah seribu.
Namun sial! Anthan sudah berubah wujud kembali menjadi seekor Naga Putih Raksasa.
Yue balik badan.
“ASTAGA! IBU... Tolong....” Yue meringis, menahan tangis.
“Kau..., Kau sudah menghinaku. Dosamu tak terampuni.... Kau akan kumakan...,” ucap Anthan menakuti-nakuti Yue An.
“Hiks..., hiks..., ibu....” rengek Yue, gemetar.
“Ha, ha, ha, baru takut sekarang. Menyesal kah?. Tapi semua sudah terlambat! Aku sangat lapar saat ini. Jadi, kau menangis dan memohon ampunlah dalam perutku. Ha, ha, ha,"
"Kik kik kik. Astaga, wajah takutnya benar-benar imut. Lucu sekali.” batin Athan menahan tawa.
“Itu..., anu.... Ulet, eh salah. Uler..., aduh salah lagi. Pangeran uler maksudnya. Bisakah kau memaafkan ku. Aku tadi cuma bercanda. Jangan di ambil hati ya,” Yue menatap melas wajah seram Athan yang sebesar gapura kecamatan.
“Cih! Maaf. Bercanda! Kau pikir aku bodoh hah! Gadis licik seperti mu, aku tak percaya kau tulus menyesali perbuatanmu. Aku takkan tertipu. Aku akan tetap memakanmu.” Athan mendekatkan wajahnya ke wajah Yue.
Bola mata Athan dalam wujud Naga raksasa sungguh besar. Pantulan tubuh Yue, seperti belek nyempil di pelupuk matanya. Sedetik, mata besar Anthan beradu dengan mata polos Yue.
“Cantik..., dia sangat cantik.... Mengapa aku tak menyadarinya tadi.” batin Anthan terpesona.
Dan..., “CUP” Yue tanpa permisi langsung menyambar bibir Anthan dalam wujud Naga Raksasa.
Mata Athan yang besar makin melebar, kaget. “Gadis ini,” batin Anthan yang tanpa sadar memejamkan mata besarnya dan berubah kembali ke wujud pria tampan.
Yue yang menyadari Anthan kembali ke wujud pria tampan, semakin memperdalam ciumannya. Anthan membalas ciuman Yue, lembut.
Yue, tersenyum dalam aksinya. Anthan mempererat pelukannya. “Kau yang meminta ini, aku takkan melepaskanmu...” batin Anthan memperdalam ciumannya.
“Jangan lepaskan aku...,” Yue tersenyum sembari membalas ciuman Anthan hangat.
“Aku mencintai mu Yue An....”
“Aku tau....”
=TAMAT=