Di belahan bumi timur nan jauh terdapat hamparan tanah berselimut salju tebal yang sangat dingin. Kawasan itu hanya di isi oleh pohon-pohon yang tiada daun, sebab musim dingin tengah terjadi.
Di daerah yang sangat jauh tersebut, terdapat seorang gadis yang merupakan putri dari anak seorang raja yang berasal dari sebuah kerajaan di bagian barat. Namanya Ezelica. Biasa dirinya dipanggil dengan sebutan Lica. Gadis cantik nan manis itu tengah berjalan melewati tebalnya salju yang berada di atas tanah. Hanya bermodalkan pakaian yang ada di tubuhnya, Lica nekat melintasi kawasan itu tanpa tahu tujuan yang sebenarnya.
Langkah kaki terus bergerak maju dan semakin menjauh dari tempat ia berasal. Hari sudah mendekati malam, dan Lica harus segera mencari tempat untuk ia tinggali sementara waktu.
Sudah tiga hari dirinya berjalan, dan terasa sangat melelahkan melangkah tanpa adanya tujuan pasti.
"Sampai sejauh mana aku melangkah lagi?"
Lica kebingungan dalam setiap langkah kakinya. Di sisi lain ia juga takut bila tertangkap oleh pasukan dari sang ayah yang tengah mencari dirinya. Maka mau tidak mau Lica harus bergerak untuk semakin jauh dari jangkauan pasukan ayahnya itu.
Dilihatnya cakrawala yang membentang luas di dalam kesendiriannya. Lica merasa sangat kesepian. Walau alam menyuguhi adiwarna terbaik, tetap saja hatinya masih bisa teralihkan akan masalah hidupnya.
"Aku ingin seperti alam yang kulihat saat ini, begitu indah dan tenang. Akan tetapi perasaan akan kesendirianku ini, malah menjadi lawan dari apa yang tengah aku lihat."
gumamnya sembari berjalan.
Lica menemukan tempat untuk tinggal, yaitu sebuah gua kecil. Tiada api yang bisa dirinya buat. Dan dengan terpaksa harus bertahan sebisa mungkin.
Siang hari, matahari bersinar secara samar. Musim dingin masih berlangsung. Lica merasa kelaparan karena ia hanya makan di hari awal perjalanannya.
Pandangan mata mulai kabur. Dan langkah kakinya sudah tak beraturan. Salju tebal yang selalu menghambat langkahnya itu, kini berhasil menahan geraknya. Lica berdiam diri menatap ke atas langit.
"Apakah ini tempat peristirahatan terakhirku? Sangat dingin dan sunyi."
Dalam sekejap, Lica pun tumbang diatas tebalnya salju.
-----
Terasa dingin dan menggigil.
Perlahan mata terbuka dan melihat kobaran api.
Lica bangun dan menjauh dari api tersebut.
Ia begitu terkejut dan akhirnya bisa bernafas lega. Sebab itu hanyalah sebuah api unggun.
Lalu siapa yang membuatnya?
Lica bertanya-tanya dan coba menelusuri tempat ia berteduh itu.
Sebuah gua yang besar sedang di jelajah.
Sampai pada akhirnya langkah kedua kaki Lica berhenti di sebuah genangan air.
"Air?"
Lica tanpa pikir panjang langsung meminumnya dan rasa hausnya pun hilang seketika.
Air itu tidak terasa dingin. Dan dirasa pas oleh gadis tersebut. Kemudian Lica memilih berendam di air itu untuk menyegarkan diri. Setelah berendam, Lica kembali menjelajah gua besar tersebut.
Melangkah dan terus melangkah, hingga akhirnya gadis tersebut bertemu dengan seekor naga besar yang tengah tertidur. Lantas dirinya terkejut dan membuat Lica begitu panik setelah melihat sosok yang tidak pernah dilihat sebelumnya.
Berlari sampai terdengar gerak-geriknya oleh sang naga.
Lica berlari dan semakin panik setelah mengetahui bahwa sang naga sudah terbangun. Lalu naga tersebut mulai mengejar Lica.
Perjalanan jauh ke timur itu malah membuatnya merasa menyesal. Kini ia merasa sungguh menyesal dan ingin segera kembali ke tempat ia berasal.
Sekuat apapun ia berlari, sang naga berhasil mengejarnya. Pakaian tebal yang merupakan penghangat bagi tubuhnya itu malah dirusak oleh sang naga. Lica langsung merasa kedinginan di tengah hamparan tanah bersalju itu. Dan sebuah danau beku terlihat oleh kedua matanya. Lica pun nekat melewati danau tersebut dan tergelincir disana. Naga yang mengejarnya tadi langsung mengeluarkan api dari mulutnya. Hingga mampu mencairkan es yang ada pada danau. Lica lanjut berlari walau terasa sulit. Sampai ia menemukan celah air dari bekunya danau.
Lica langsung melompat dan masuk ke dalam.
Naga besar itu langsung berhenti mengejar sambil melihat celah air danau tersebut.
Sementara si gadis masih berusaha sembunyi di bawah es yang ada.
Dinginnya air, membuat Lica merasa kedinginan dibawah sana. Sampai ia tak mampu menahannya lagi.
"Aku tidak bisa menahannya lagi!"
Ia pun perlahan mulai tenggelam dan tidak berdaya.
Menatap keatas sembari mengenang kedua orangtuanya yang ada di kerajaan barat. Rasa sesal kembali muncul dan ia meminta maaf atas hal itu.
Setelah meminta maaf dalam hati, tiba-tiba terlihatlah semburan api yang melelahkan es diatas danau. Mata Lica terbelalak dan merasa terkejut.
Naga besar yang mengejarnya tadi malah datang menghampiri dirinya. Lica tak bisa bergerak dan merasa pasrah bila naga itu ingin memakannya.
-----
Pemikiran itu ternyata tidaklah benar. Naga besar itu menyelamatkannya dan membawanya ke gua besar sebelumnya. Di gua tersebut, Lica berbaring di dekat tubuh sang naga. Tubuhnya masih menggigil dan flu pun turut menyertai. Pakaian milik gadis tersebut sudah basah semua, sehingga sang naga menggantinya dengan sebuah selimut tebal untuk menghangatkannya.
Hari berikutnya, Lica bangun dan melihat bahwa ada naga yang sedang tertidur di dekatnya. Dirinya masih terkejut, dan ingin kabur rasanya. Namun, ia tidak sanggup. Sebab dirinya merasa lemas saat ini.
Menatap dan diam di posisi berbaringnya. Si gadis bernama panggilan Lica itu tidak ingin membangunkan sang naga besar. Jadi dia berusaha untuk tetap tenang tanpa adanya suara bising.
Tapi karena flu tengah menyerangnya, maka hal itu tidak bisa ditahannya lagi.
Lica bersin dan terdengar oleh si naga besar.
Mereka berdua saling menatap dan Lica berharap ia tidak dimakan olehnya.
Lagi-lagi apa yang dipikirnya itu salah. Sang naga memberikannya sebuah makanan. Melihat pemberian tersebut, membuat si gadis langsung tergoda dan mulai menyantapnya.
Rasa laparnya mampu mengalahkan rasa lemas sebelumnya. Setelah makan, Lica tidak melihat sabg naga yang tadi ada di dekatnya. Dan dirinya pun baru menyadari bahwa pakaiannya sudah hilang. Bermodal selimut tebal ia mencari si naga besar tadi. Alangkah terkejutnya Lica, bahwa naga tersebut sudah berubah menjadi sosok lain. Dengan kedua matanya sendiri, dia melihat perubahan yang terjadi pada si naga besar itu.
Dan momen itu menguntit itu berakhir setelah Lica bersin.
Kini Lica berhadapan langsung dengan sosok yang sebelumnya merupakan seekor naga besar.
Pertemuan mereka tadi berujung menjadi berbagi kisah di antara keduanya. Seorang lelaki jelmaan naga besar itu memberitahu kenapa dirinya bisa menjadi naga. Dan Lica pun juga bercerita mengenai pelariannya dari istana.
"Kutukan..." ucap Lica.
"Dipaksa nikah..." ucap sang lelaki.
Kemudian keduanya lanjut berbicara empat mata hingga memasuki malam hari.
Dan rasa penasaran muncul dari Lica. Yaitu mengenai nama si lelaki tersebut. Lalu laki-laki itu memberitahu namanya pada Lica. Akhirnya mereka bisa memanggil satu sama lain.
"Arta. Nama yang bagus."
puji Lica di selipi senyuman.
Arta hanya diam dan membalas dengan anggukan.
Keesokan harinya, Arta dan Lica berdiri di depan gua sambil menatap ke depan. Mereka berencana akan pergi bersama menuju barat. Yaitu tempat dimana Lica berasal. Sebelumnya Lica meminta agar Arta menemaninya pulang menuju kerajaan barat. Dan Arta pun mengiyakan permintaan tersebut. Kini perjalanan mereka berdua di mulai. Arta berubah menjadi naga besar, sementara Lica naik di atasnya.
Perjalanan terasa begitu cepat karena menunggangi seekor naga. Lica merasa senang dan memegang erat tubuh naga tersebut. Bergerak menuju barat dengan cukup cepat. Hingga akhirnya ketika hari mendekati malam, Lica dan Arta tiba di wilayah kerajaan barat. Lica turun dan Arta pun berubah wujud menjadi manusia kembali.
Dengan keberaniannya, Lica bergerak maju disusul oleh Arta dibelakangnya.
Tampak para prajurit tengah berjaga di gerbang masuk kota. Dan gadis itu pun menampakkan diri di depan prajurit. Semua tercengang dan mengabarkan bahwa sang putri raja sudah kembali.
Tak berapa lama berselang, Lica di hampiri oleh seseorang yang tidak asing baginya. Yaitu sang ayah yang merupakan raja kerajaan barat.
Melihat dari bawah ke atas. Lica tampil dengan pakaian yang tak layak serta rambut yang sudah acak-acakan. Cukup aneh bagi sang ayah melihat putrinya itu, dan setelah itu Lica dibawa oleh ayahnya masuk ke dalam istana. Sebelum ikut kedalam, Lica memperkenalkan Arta pada ayahnya. Dan meminta agar Arta diperbolehkan masuk.
Setelah berkenalan, Arta pun di izinkan masuk.
Ayahnya terus bercakap dan merasa senang bahwa anaknya sudah pulang. Setelah berbicara cukup panjang, akhirnya Raja, Lica dan Arta turun dari kereta kuda yang di naiki sebelumnya.
Di depan gerbang istana, sang raja berhenti melangkah, lalu memutar balik badan dan menghadap ke arah Lica dan Arta.
"Hari ini kerajaan tidak menerima tamu. Jadi selamat tinggal."
Ucap sang raja sekaligus di ikuti oleh pergerakan para prajurit yang mengelilingi Arta.
Lica ditarik dan ditahan oleh prajurit ayahnya.
Sementara Arta sudah dikepung oleh prajurit lainnya. Dengan senjata yang telah dibawa, mereka berharap bisa menangkap Arta.
"Kenapa ayah lakukan hal ini?! Lepaskan dia!"
bentak Lica.
"Aku tidak akan membiarkan orang terkutuk ini berulah lagi!"
Kata sang ayah dengan nada tinggi.
"Hah?! Apa maksudmu?" tanya Lica.
Lalu sang ayah memberitahu bahwa Arta ini dulunya merupakan seorang pemberontak. Dan telah menghancurkan sebagian kota saat Lica baru lahir.
Kini Arta menanggung perbuatannya di masa silam.
Lelaki itu kemudian berubah menjadi naga dan berusaha untuk kabur. Akan tetapi pergerakannya di tahan oleh para prajurit. Arta melawan dengan menyemburkan api dari dalam mulutnya. Beberapa prajurit terkena semburan itu dan membuat kelonggaran akan penahanan tersebut. Arta dengan sigap bergerak menjauh. Namun sayangnya, ia berhasil di tahan kembali dengan berbagai serangan yang dilancarkan oleh para prajurit melalui busur panah.
Arta terjatuh dan berubah wujud menjadi manusia kembali.
Lica melihat Arta sudah tidak berdaya. Ia pun melepaskan diri dari pegangan salah seorang prajurit, lalu menghampiri lekaki yang sempat membawanya ke kerajaan barat ini. Para prajurit sudah mengepungnya dan bersiap kembali menyerang. Arta sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Dan tergeletak di jalan sambil memandang ke arah Lica yang sedang belari menuju dirinya.
Lica memeluk Arta dan berharap lelaki itu tidak meninggalkannya. Dengan suara lemas dan terbata, Arta menyampaikan pesan yang dirasa terakhir baginya.
"Jagalah dirimu baik-baik. Aku senang bahwa kamu mau menjadi temanku walau hanya sesaat. Dan terimakasih sudah mengisi hariku yang terkesan singkat setelah sekianamanya menyendiri. Terakhir maaf, sebab aku tidak bisa membantu mengatasi masalahmu itu. dan inilah ganjaran yang harus aku terima atas kesalahan di masa lalu."
Tutupnya dengan senyum tipis.
Lica mendengar perkataan dari Arta dan meneteskan air mata. Kemudian Artha pun menutup matanya dan pergi meninggalkan Lica.
-----
Beberapa tahun setelahnya.
Lica di lantik menjadi ratu dan melanjutkan tugas ayahnya sebagai pemimpin. Kini ia hanya sendiri. Suaminya terdahulu sudah pergi meninggalkannya. Dan Lica kembali merasa sepi. Akan tetapi masih berbekas di hati dan pikirannya tentang satu hal. Yaitu seorang lelaki bernama Arta yang sulit hilang di dirinya.
"Naga dari timur jauh itu sudah lama pergi. Namun, dia masih tetap ada di hatiku ini."
Ucap sang putri yang kini sudah menjadi seorang ratu di kerajaan barat.
-----SELESAI-----