Di malam yang dingin, seperti biasa kegiatan seorang ibu yang sedang membacakan dongeng tidur untuk putri kecilnya yaitu Emira Elbarack. Sang ibu mengisahkan tentang seekor kancil cerdik yang berhasil mengelabuhi buaya, sehingga kancil kecil tidak jadi santapan sang buaya.
"Bu, kancil itu pandai sekali, sampai-sampai sang buaya tidak jadi menerkamnya" ucap gadis kecil dengan polosnya.
"Iya emira, kancil itu sangat cerdik, dengan menjanjikan buaya kalau berhasil membuat kancil menyeberang ke tepi sungai, kancil akan menyerahkan dirinya, tapi kancil tidak menyia-nyiakan kesempatan, dan dia berlari menjauh dari sang buaya" jelas ibunya dengan semangat.
"Kalau emira di posisi kancil, pasti emira udah nangis ketakutan. Hehe" ucap Emira sambil tertawa kecil.
"Yah, jangan nangis donk, nanti ibu ikut sedih kalau emira nangis. Makanya, emira di samping ibu terus ya, meskipun buaya, bakalan takut sama ibu"
"Ah, masa iya bu? "
"Iya donk, ibu ini pawang buaya"
"Buaya apa bu? "
"Buaya darat. Hahaha"
Merekapun tertawa dengan renyah, bahkan sangat renyah dan hangat.
"Ibu matikan lampunya ya emira, emira harus tidur biar besok bangun pagi, jangan Kesiangan, nanti telat sholat subuh lho" ucap ibu dengan sedikit mengancam hanya menakuti saja.
"Iya bu, emira bakal tidur kok" ucap emira dengan pasrah, padahal ia tidak mengantuk.
"Oh iya bu, emira mau bilang sesuatu ke ibu! " ucap emira dengan serius.
"Emang mau tanya apa ra? " jawab ibu tak kalah serius.
Suasana pun hening dan tegang, karna jarang sekali emira bicara dengan raut wajah se serius itu. Karna emira terkenal sebagai gadis periang dan suka bercanda, bahkan tidak pernah serius.
"Emira minta maaf ya bu, emira bandel dan sering buat ibu nangis, diam-diam emira ngintip ibu di balik pintu kamar. Emira liat ibu nangis tersedu-sedu karna emira ngelawan ibu pas ibu nasehatin emira. Emira minta maaf banget ya bu, emira cuman bisa nyusahin ibu dan buat sakit hati ibu. Hiks hiks hiks" emira berbicara sambil menangis sesenggukan tanpa aba-aba.
Ibupun memeluk emira yang sedang menangis.
"Emira, sebelum kamu minta maaf ibu sudah terlebih dahulu memaafkan kamu. Bagi ibu, kamu adalah anugerah terindah yang tuhan titipkan, ibu selalu menyayangi emira walaupun emira pernah menyakiti hati ibu, tidak apa-apa emira. Yang penting emira sudah tau letak kesalahannya dimana, jangan diulang ya sayang. " Ucap ibu sambil mengelus pucuk kepala emira.
Emira menatap ibunya dengan lembut.
"Bu, emira sayang banget sama ibu. Kalau nanti emira gak sengaja buat ibu sedih, ibu tetep sayang emira? " Ia menangis kembali dengan sesenggukan.
"Emira, ibu yakin sekali, kamu melakukannya tidak dengan unsur kesengajaan, ibu akan selalu sayang emira apapun keadaan emira, apapun yang akan emira lakukan pada ibu, ibu akan selalu sayang emira".
"Terimakasih bu, sudah menyayangi emira, emira janji, suatu saat nanti emira bakal buat ibu bahagia, lebih bahagia dari ibu manapun. " Ucap emira dengan memeluk erat ibunya.
"Iya sayang, sekarang pun ibu sudah bahagia memiliki emira, titipan tuhan paling indah di kehidupan ibu."
Mereka saling bertatapan dengan hangat dan mengalirkan butiran air mata dimata mereka. Dan kemudian berakhir dengan berpelukan.