Suatu hari, Azlen dan kakaknya bermain di sebuah rumah merah di dekat rumahnya.
Kakaknya meminta Azlen untuk tinggal di luar, dan dia masuk ke rumah merah sendirian.
Tiba-tiba, kakaknya berteriak, "ah!", dan kemudian tidak ada suara lagi. Azlen berteriak : "Kakak! Kakak!"
Azlen berlari secepatnya dan mencoba membuka pintu yang telah tertutup itu. Berulang kali Azlen berusaha membukanya, tetapi pintu itu tetap tertutup rapat.
Azlen mengelilingi rumah itu mencari celah untuk bisa melihat ke dalam rumah. Semua kaca jendela rumah itu seakan hanya memiliki satu sisi. Azlen hanya bisa melihat wajahnya sendiri dan tidak dapat melihat apa yang terjadi di dalam sana.
"Kak Azetta!"
Suara Azlen memecah keheningan malam yang terasa mencekam. Peluh telah membasahi kening Azlen, deru jantungnya pun mulai terasa terpacu dengan kencang.
Hanya keheningan yang tersisa. Tidak ada satu pun jawaban dari Azetta di dalam sana.
Azlen melihat ke sekeliling. Mencoba mencari seseorang yang dapat membantunya.
Azlen terus berjalan menembus sunyinya malam. Berharap ada seseorang yang dapat ia temukan untuk mengeluarkan kakaknya dari rumah itu.
Sebuah sosok tampak dari kejauhan. Azlen mempercepat langkah kakinya dan menghampiri sosok itu.
Seorang lelaki tua, dengan jubah hitam panjang menutupi tubuhnya. Pandangannya begitu dingin menatap ke arah Azlen. Dalam sekejab Azlen merasakan ketakutan merayap di dalam dirinya.
"Ma-- maaf, Tuan. Tolong bantu saya."
Azlen mengabaikan rasa takutnya. Yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana cara untuk menyelamatkan kakaknya.
Pria tua itu masih menatapnya, seakan siap untuk menerkamnya.
"Kakak saya, tolong kakak saya. Dia tadi masuk ke dalam rumah berwarna merah di sana. Sesuatu terjadi padanya." Azlen memohon. Azlen sudah tidak tahu harus berbuat apa.
"Rumah merah?"
Raut wajah pria tua itu berubah. Keningnya mengerut, pandangan matanya berubah seakan menjadi iba.
"Pulang lah. Tidak ada rumah merah di sekitar sini. Pasti kamu sedang bermimpi."
"Tidak!" tolak Azlen. "Aku tidak bermimpi. Aku dan kakakku benar-benar melihatnya. Tolong ikut aku, Tuan. Percayalah padaku, rumah itu benar-benar ada."
Pria tua itu menghela napas. " Baiklah. Tunjukkan padaku."
Sebuah senyuman lega mengembang di wajah Azlen. "Terima kasih, Tuan. Terima kasih."
Azlen dengan segera mengantarkan pria itu menuju rumah merah tempat kakaknya terjebak. Tidak ada perbincangan apa pun di antara mereka. Azlen merasa kalau pria itu sedikit aneh, tetapi Azlen berusaha mengenyahkan perasaannya itu.
Langkah Azlen terhenti ketika ia menyadari sesuatu yang aneh. Dari kejauhan, Azlen menemukan kalau rumah merah yang tadi ia lihat bersama kakaknya sudah menghilang.
Azlen berlari sekuat tenaga. Ia sampai di depan sebuah tanah kosong yang dipenuhi semak belukar tanpa ada sedikitpun tanda-tanda rumah merah itu pernah ada di sana.
Jantung Azlen berdegup begitu kencang. Ia menjadi semakin sulit bernapas. Tiba-tiba ia merasa kakinya begitu lemah dan tidak sanggup menopang tubuhnya lagi. Dan seketika itu kegelapan melingkupinya.
"Azlen ... Azlen ..."
Terdengar suara sayup-sayup di telinga Azlen. Ia mengenal suara ini. Ia ingin terjaga tetapi rasanya begitu berat.
Beberapa saat setelah mengumpulkan kesadarannya, Azlen akhirnya berhasil membuka matanya.
"Mama?" Sapaan pertama keluar daru mulut Azlen.
"Ah, akhirnya kamu sadar, Nak."
Ibunya langsung membawa Azlen ke dalam pelukannya. Kehangatan yang selalu menenangkannya.
"Mama! Kak Azetta! Kak Azetta terkurung di dalam rumah itu, Ma!"
Tiba-tiba Azlen teringat peristiwa itu. Ia tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di rumah, tetapi ia ingat terakhir kali ia berdiri di sebuah tanah kosong yang seharunya berdiri sebuah rumah merah tempat kakaknya terjebak.
"Apa yang kamu bicarakan, Azlen? Kakakmu terkurung?" Nadia, ibu Azlen melepaskan pelukannya. Menatap bingung ke arah Azlen.
"Iya, Ma! Kakak masih terperangkap di sana. Aku tidak bisa mengeluarkannya, dan rumah itu sekarang menghilan!" Azlen bercerita dengan menggebu.
Nadia meletakkan telapak tangan di kening Azlen. "Apakah kamu sakit?"
Azlen menurunkan tangan Nadia dari keningnya. "Tidak, Ma! Dengarkan aku ..."
"Azlen! Kamu sudah sadar?"
Sebuah suara yang datang dari arah pintu kamar mengejutkannya. Azetta berdiri di sana dan langsung menghampirinya, memeluknya.
Azlen terpaku. Bingung. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Kak Zetta? Bagaimana bisa?"
Azetta melepaskan pelukannya. "Bagaimana bisa apa?"
"Kakak kan tadi masuk ke dalam rumah merah itu." Menatap Azetta dengan pandangan yang aneh.
"Rumah merah? Apa yang kamu bicarakan, Azlen? Sepertinya kepalamu terantuk batu, ya?"
Azlen terdiam terus menatap kakaknya.
"Mama ke bawah sebentar, ya? Papa kalian tampaknya sudah pulang."
Nadia melangkah keluar dari kamar meninggalkan Azetta dan Azlen berdua.
"Ada apa Azlen? Kenapa kamu memandang Kakak seperti itu?" Azetta mengerutkan keningnya.
"Kamu bukan kakakku!"
Perkataan itu membuat Azetta terdiam sesaat. Ia melangkah ke arah pintu kamar dan berdiri di sana.
"Kakakku tidak pernah mau mengepang rambutnya. Ia juga tidak pernah memanjangkan kuku jarinya. Dan satu lagi kakakku tidak pernah memanggilku dengan nama asliku."
Sosok itu sudah berdiri di dekat pintu kamar menoleh dan memberikan sebuah senyuman ke arah Azlen. Sebuah senyuman mengerikan yang membuat Azlen merasakan hawa dingin masuk ke dalam pori-pori tubuhnya. Dan menutup pintu kamar itu secara perlahan.
Sementara di sebuah rumah yang terlihat tidak berpenghuni, seorang gadis remaja menatap ke arah luar jendela, berusaha memanggil orang-orang yang berlalu di hadapannya.
"Tidak ada gunanya, mereka tidak akan mendengarkanmu."
Sebuah suara berat yang mengerikan menyapa pendengaran Azetta. Ia tidak berani berbalik. Sosok mengerikan itu terus mendekat dan menyentuh bahunya.
"Aku akan mencari seseorang untuk menemanimu di sini. Lihatlah, anak kecil itu tampak tertarik untuk memasuki rumah kita ..."
Sebuah senyum mengerikan hadir di sudut bibir wanita tua itu. "Aku akan menyambutnya, dan menjadikannya salah satu santapanku nanti."
Tangan wanita itu mencengkram bahu Azetta dengan begitu kuat. Mendekatkan wajahnya di sisi telinga Azetta. "Setelah aku menyantapmu, tentu saja ..."
- The end -
🌟🌟🌟🌟🌟
Jangan lupa komen, like, dan vote ya kalau suka dengan karyaku.
Terima kasih sudah setia membaca ceritaku.🙏🙏
🌟🌟🌟🌟🌟