Selalu ada kesan tersendiri saat aku mendengar nama park jimin, laki-laki kelahiran busan tahun 1995 itu. laki-laki yang membuat para mata terbelangak saat melihat senyum manisnya. Suara merdunya yang begitu memikat, tak aneh jika ribuan bahkan jutaan wanita tergila-gila padanya. Aku mungkin salah satu diantaranya. Namun bukan diriku saja yang memiliki ketertarikan pada park jimin laki-laki berusia 27 tahun itu.
Aku mengenalkan BTS pada salah satu sahabat dekatkku, awalnya dia biasa saja, sampai satu ketika ia melihat park jimin yang berpenampilan begitu sederhana, bisa dibilang boyfriend material banget, seperti itu lah bahasa gaulnya.
Awalnya aku bersikap biasa saja saat dia mengatakan, aku gak butuh pacar aku hanya butuh park jimin, hanya dia. Benar saja saat seseorang menanyakan jika dia punya pacar atau laki-laki itu berusaha mendekatinya, ia selalu menjawab jika sekarang ia sedang pacaran dan tanpa ragu menunjukan foto jimin pada setiap laki-laki yang mendekatinya itu. Aku tak tahu kenapa dia melakukan itu dan apa motifnya.
Sikap jimin memang terlihat begitu lembut, bahkan saat salah satu army pernah berkata padanya karena menonton mereka dengan ilegal karena alasan tertentu, jimin bersikap sangat baik. Dengan jawaban yang membuatku semakin terkagum dengannya.
Namun aku menyadari jika itu bukanlah sedikit berlebihan. Bukankah rasa sukanya itu sekarang lebih ke obsesi. Aku tak masalah hanya saja ada ketakutan tersendiri untukku, aku takut jika suatu saat sahabatku itu jatuh sejatuh-jatuhnya saat tahu jika park jimin laki-laki yang begitu penting dihidupnya sudah memiliki pujaan hatinya sendiri. Aku takut jika mental sahabatkku itu akan jatuh. meski itu hanya ketakutanku semata.
Meski dia sepenuhnya menyadari jika seorang park jimin tak bisa dimiliki, dia masih saja memimpikannya, sejujurnya aku tak masalah namun dia terkadang sering lupa jika ada laki-laki yang tertarik padanya di sekitarnya.
Aku tak menyalahkan park jimin atau sahabatkku itu saat ini, namun bukankah mencintai sampai menjadi obsesi bukanlah hal yang baik. Itu bukan lagi cinta yang sehat. Ini hanya opiniku saja mengenai sahabatku itu. Aku juga tak munafik bahwa aku menyukai sosok seorang park jimin.
Park jimin memang orang yang luar biasa, dia laki-laki yang tampan meski memiliki jari-jari yang mungil. namun itu unik. Tariannya luar biasa, memancarkan aura bintang yang sesungguhnya. Tingkah lakunya begitu unik apalagi saat dia tertawa matanya selalu terpejam namun itu sangat manis, ia juga yang tak bersahabat dengan kursi. Ia laki-laki pekerja keras, peraih sabuk hitam taekwondo. Bagaimana sahabatkku tidak mengaguminnya, sampai menganggapnya dunianya.
Park jimin andai saja kau tahu jika sahabatku itu begitu terobsesi padamu, seandainya saja kita kawan dekat mungkin aku sudah memakimu untuk berhenti menebar pesona mu meski itu hanya sekedar candaan. Namun aku sadar, aku saja sudah terpikat olehmu saat ini, semakin ku merangkai kata tentangmu,semakin ku tak bisa berkata. Apa yang ingin ku sampaikan berbeda dengan yang ku gambarkan. Andai saja didunia ini menciptakanmu lebih dari satu, mungkin semua orang bisa memiliki yang seperti dirimu. Namun aku tahu, kau hanya diciptakan satu dengan keunikanmu.