Suatu hari, Azlen dan kakaknya bermain di sebuah rumah merah di dekat rumahnya.
Kakaknya minta Azlen untuk tinggal di luar dan dia masuk ke rumah merah sendirian.
Tiba-tiba kakaknya berteriak "Ah", dan kemudian tidak ada suara lagi. Azlen berteriak: "Kakak! Kakak!"
Kakak Azlen bernama Aretha, yang kini berusia empat belas tahun, dan Azlen sendiri berusia enam tahun. Mereka baru saja selesai bermain bola voli di lapangan bersama dengan teman-teman Aretha. Aretha harus masuk ke rumah itu, karena dia tadi menumpang untuk men-charge baterai ponselnya yang sudah habis.
Karena penasaran akan hal yang terjadi pada kakaknya, Azlen pun mencoba untuk masuk dan mencari tau. Pelan-pelan, di buka nya pintu rumah itu. Dia berjalan perlahan di ruangan tamu yang lumayan gelap karena tirai nya tidak di buka. Untuk berjaga-jaga, dia sengaja tidak memanggil - manggil.
Di ruang tamu tidak ada siapa-siapa. Kemudian, dia lanjut berjalan menuju ruang tengah. Ruangan itu tadinya lebih gelap, tapi sekarang sedikit terang karena pintu depannya terbuka.
GLUK! GLUK! GLUK! GLUK!
Terdengar suara orang sedang meminum sesuatu. Suara itu terdengar dengan jelas. Azlen mencoba untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Azlen terkejut dan membelalakkan matanya, ketika melihat kakak nya sedang terbaring di lantai yang agak kotor. Di atas tubuh Aretha, ada seorang laki-laki yang menggigit leher Aretha. Laki-laki itu seperti menindihnya, yang membuat Aretha tidak bisa bergerak sedikitpun.
Berusaha sekuat tenaga, Aretha mencoba untuk tetap tersadar, meskipun darahnya terus di hisap oleh laki-laki itu. Dia memberi kode dengan tangan kirinya, supaya Azlen tidak mendekat dan segera pergi dari tempat itu.
Azlen sedang berada dalam dilema. Apakah dia harus merelakan kakaknya, atau mati bersama kakaknya?
Dengan berat hati, dia pergi keluar dari tempat itu dan mencari bantuan kepada warga sekitar. Tak lupa pula, dia juga memberi tau kedua orang tuanya.
Di dalam rumah merah, Aretha sudah tidak bisa apa-apa lagi. Dirinya sudah pasrah sambil merasakan rasa yang semakin sakit di lehernya. Dia sedang bersama dengan seorang vampir sekarang ini.
"Hehe.. darahmu enak sekali. Memang darah seorang gadis kecil itu enak dan manis. Apalagi dirimu." ucap si vampir sambil mengelap sudut bibirnya setelah melepaskan gigitannya di leher Aretha.
"Le.. lepas.. lepaskan.. aku.." ucap Aretha dengan suara nya yang terdengar lemah. Vampir itu menyeringai.
"Tidak, sekarang kamu adalah milikku. Sekarang kamu adalah vampir."
"Aaahhhhhh!" Aretha berteriak kesakitan setelah merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya.
"Haha! Ayo lanjutkan!" bukannya merasa kasihan, vampir itu malah merasa senang melihat Aretha yang perlahan berubah menjadi vampir.
Kemudian, si vampir menggores pergelangan tangan kirinya dengan taring nya, kemudian meletakkan nya di depan wajah Aretha. Aretha langsung memegang tangan berdarah itu dan kemudian menghisapnya.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Sesampainya di rumah, Azlen langsung berlari menemui ayah dan ibunya.
"Ayah! Ibu!" Azlen memanggil ayah dan ibunya disertai isak tangisnya.
"Ada apa Azlen?" tanya ibunya.
"Kakak.. hiks.. kakak ibu.." ucap Azlen.
"Kakak iseng lagi ya?" tanya ayahnya.
"Nggak ayah. Kakak.. dimakan vampir! Hiks.."
"APA?!"
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Pada akhirnya, Azlen dan orang tuanya memutuskan untuk pergi ke rumah merah itu secepatnya. Sesampainya di sana, tidak ada yang aneh. Aretha sedang duduk di tangga teras sambil memainkan ponselnya.
"Kakak!" teriak Azlen setelah melihat kakaknya yang baik-baik saja.
"Azlen?"
"Kakak ngga apa-apa?" tanya ibunya dengan khawatir.
"Nggak apa-apa maksudnya?" tanya Aretha tidak mengerti.
"Kata Azlen kamu di makan sama vampir." balas ayahnya.
"Vampir? Nggak ada vampir tuh. Ini rumah teman aku." balas Aretha tanpa ada yang aneh.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=
Skip malam harinya, adalah malam yang cerah dengan bulan yang tampak utuh, bulan purnama. Tubuh Aretha bergerak sendiri ke luar rumah, tepatnya halaman rumahnya untuk mendapat cahaya sinar bulan.
Perlahan-lahan, gigi taringnya semakin runcing dan juga tajam. Mata nya berubah warna menjadi warna kuning terang, seperti vampir yang menggigit nya tadi siang. Aretha menutup matanya sambil menghadapkan wajahnya ke arah sinar bulan.
"Eh, itu bukannya Aretha?" gumam seseorang yang mengenakan hoodie berwarna coklat muda. Dia adalah Avri, teman sekelas Aretha.
"Aretha, lagi apa?" sapa Avri sambil menghampiri Aretha.
Setelah itu, Aretha membuka matanya, menatap tajam ke arah Avri.
"Aretha, kamu kenapa?!" tanya Avri setelah melihat perubahan pada warna mata Aretha. Yang tadinya berwarna coklat, kini menjadi warna kuning.
"Kamu tidak perlu tau." ucap Aretha. Kemudian, dia menggigit pergelangan tangan Avri. Avri pun menjerit supaya Aretha melepaskan nya.
"Aaaaaaa! ARETHA! Sakiit! Lepasin, tolooong!" Avri berteriak minta tolong saat Aretha menggigit dan menghisap sebagian darahnya.
"Aretha!" panggil ayah Aretha setelah mendengar teriakan Avri tadi.
"Om, tolongin saya.." kata Avri meminta tolong.
"Aretha, kamu ngapain?" tanya ayahnya sambil berusaha untuk memisahkan Aretha dan Avri. Pada akhirnya, Aretha pun melepaskan Avri.
"Aretha, kamu kenapa nak?" tanya ayahnya khawatir setelah melihat perubahan pada putrinya.
Bukannya menjawab, Aretha malah berlari ke jalan, dan perlahan tubuhnya lenyap bagai di telan bumi.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Tanpa sepengetahuan mereka, Aretha kembali ke rumah merah yang tadi dia kunjungi.
"Selamat datang!" ucap si vampir menyambut Aretha. Aretha tidak menjawab.
"Bagus sekali, kamu berhasil menyelesaikan misi pertama. Aku memang tidak salah memilihmu." ucap vampir itu sambil memegang kedua bahu Aretha. Aretha hanya tersenyum tipis.
"Mulai sekarang, kau akan tinggal bersamaku untuk selamanya. Karena you are mine!"
Mulai dari malam itu, Aretha tinggal bersama si vampir. Mereka hidup dengan normal seperti manusia pada umumnya. Mereka juga bersama melakukan ritual di saat bulan purnama.
= Tamat =
- Hanya fiksi
- Original by me
- Jangan lupa like dan komen ya!