(Sebelumnya, Miku mau ngasih tau nih. Yang mau gabung ngobrol ke GC Miku, pencet aja profilku. Disana ada GC, masuk aja ehe :> Butuh banyak member). Arigatou ~
---
Suatu hari, Azlen dan kakaknya bermain di sebuah rumah merah di dekat rumahnya.
Kakaknya minta Azlen untuk tinggal di luar, dan dia masuk ke rumah merah sendirian.
Tiba-tiba, kakaknya berteriak "Ah", dan kemudian tidak ada suara lagi. Azlen berteriak: "Kakak! Kakak!"
Namun, tak peduli berapa kali Azlen berteriak, tetap sama saja. Tidak ada tanggapan dari kakaknya.
Karena khawatir, Azlen berniat untuk berlari masuk ke dalam rumah merah agar ia bisa mengetahui apa yang terjadi pada kakaknya.
Baru saja dia melangkah, entah kenapa tiba-tiba Azlen langsung diselimuti rasa takut. Bulu kuduknya berdiri, kulitnya merinding, tubuhnya gemetar. Hawa dingin dan suasana yang sunyi semakin membuat keberanian Azlen runtuh.
Di satu sisi dia ingin tahu apa kakaknya baik-baik saja di dalam sana, tapi di sisi lain, dia takut.
"Kakak ... bagaimana ini ...? Aku ... aku takut ...," ucap Azlen lirih seraya menyatukan kedua tangan di depan dada.
Untuk beberapa saat, dia terdiam. Tetapi, akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam. Tak peduli seberapa takut dia saat ini, dia harus melihat kakaknya.
"Baiklah. Azlen kau pasti bisa! Hemh!" Setelah menyemangati dirinya sendiri, Azlen kembali ke permasalah sebelumnya. Ia menatap rumah merah itu lagi.
Hah ...
Sembari menghela napas Azlen mengumpulkan keberanian sedikit demi sedikit. Ia lalu berjalan langkah demi langkah menuju pintu masuk "Rumah misterius" yang konon katanya, terdapat semacam makhluk astral yang menunggu rumah ini.
Ketika ia sampai di pintu depan, tangannya baru saja memegang gagang pintu, tetapi secara tiba-tiba pintunya terbuka sendiri. "AAKHH!!" Tentu saja, hal tersebut membuat Azlen terkejut. Karena, dia merasa bahwa dia belum mendorong pintunya.
Reflek, Azlen meneguk ludahnya. "Tenang, Azlen. Tenang. Semua akan baik-baik saja." Lagi-lagi, dia menenangkan dirinya sendiri agar tidak takut.
Tak peduli dengan kejadian aneh yang dialaminya barusan, Azlen masih melanjutkan jalannya dan masuk ke dalam rumah gelap tanpa secercah cahaya itu.
Krieet ...
Pintunya terbuka, setidaknya sekarang rumah tua itu telah mendapat sedikit cahaya dari sinar bulan. Karena ini adalah malam hari. "Cahaya yang datang untuk menerangi kegelapan".
Samar-samar Azlen melihat sepasang kaki manusia yang terpisah. Awalnya, ia berpikir bahwa mungkin kaki itu hanyalah kaki boneka. Namun, ketika pintu telah terbuka penuh dan cahaya bulan masuk ke dalam pintu, barulah ia mengetahui kebenarannya.
"Ka ... kak ... hahh ... ARGHHHHHHH HAAAARGHH!!" Tubuhnya seketika terasa kehilangan tenaga. Lemas, tubuhnya lemas ketika melihat kondisi tubuh kakaknya saat ini. Kepalanya, kaki dan badannya terpisah di tempat yang berbeda-beda. Terutama badannya, Azlen melihat banyak sekali organ tubuh kakaknya berceceran keluar dari dalam perut. Disertai bercak cairan berwarna merah di sekelilingnya. "Kakak, a-apa yang terjadi padamu? Kakak ... ARGHHHHH!!" Dia terduduk tak berdaya di lantai rumah seraya menangis di atas jasad kakaknya. Air mata kesedihan yang bercampur dengan darah penderitaan.
"Kak ... kenapa ...?" Dia masih tidak percaya bahwa semua ini terjadi kepada kakaknya. Azlen mengesampingkan rasa takutnya sekarang.
"Grhhhh ...." Di waktu yang bersamaan, ia mendengar suara raungan dari balik kegelapan. "Grhhh ...." Suaranya terdengar jelas, jelas, dan semakin jelas.
"Hiks ...." Perhatian Azlen langsung tertuju kepada sumber suara.
Deg deg ...
Jantungnya mendadak berdetak kencang, seolah ingin memberi tahu Azlen bahwa sebuah hal buruk akan terjadi.
"Grawwrr ...." Suara raungannya terdengar sangat kencang. Menandakan bahwa "makhluk" ini sudah mendekat.
Dari balik kegelapan, muncul sebuah makhluk aneh. Makhluk dengan perawakan layaknya singa tetapi tubuhnya hijau. Matanya juga merah. Kuku-kukunya tampak sangat tajam.
"GRWAARR!!" Tanpa menunggu lama, makhluk itu langsung melompat ke arah Azlen. Beruntung, ia bereaksi dengan cepat, sehingga mampu menghindari serangannya.
Reflek, ia berlari sekencang-kencangnya. Meninggalkan jasad kakaknya di sana. Sementara makhluk aneh tersebut mengikutinya dari belakang. Terjadi aksi kejar-kejaran di antara mereka. Yang ada di pikiran Azlen saat ini hanyalah lari dan lari.
Bruk!
Namun, sepertinya keburuntungan tak berpihak kepadanya dua kali. Azlen tersandung sebuah benda hingga membuatnya terjatuh. "Awhh ... sakittt ...." Azlen tak bisa bergerak lagi, sedangkan makhluk tadi mendekat ke arahnya. Ia berpikir, mungkin semuanya sudah berakhir. Dia akan mati dan bernasib sama seperti kakaknya. Tapi ...
"Azlen cepat kesini!" panggil seseorang di balik pintu kayu. Azlen kaget tatkala melihat orang yang memanggilnya itu adalah kakaknya.
"Ta-tapi ...."
"Cepaatt!!"
"Eh ba-baik. Ughhh ...." Azlen berlari masuk ke dalam ruangan di tempat kakanya berada.
Brak!
Secepat kilat, kakaknya membanting pintu. Akhirnya, Azlen bisa selamat dari makhluk mengerikan tersebut. Ini semua berkat kakaknya.
"Umm ... Kak, bukankah kakak tadi sudah–"
"Azlen, dengar! Makhluk itu adalah makhluk singa. Dia tadi berlari mengejar kakak. Tapi untung saja kakak berhasil sembunyi," ucap kakaknya. "Oh ya, kau mau bilang apa tadi?"
"Eh? Ngg ... ti-tidak. Tidak jadi."
Kakaknya Azlen mengangkat kedua alisnya. "Okey. Untuk beberapa saat kita akan selamat di sini. Sepertinya."
"Kak ... apa kita bisa keluar dari sini? Aku takut ...." Azlen mendekati kakaknya dan kemudian mendekap tangannya.
Namun, ketika memegang tangan kakaknya, Azlen merasakan sebuah hal yang janggal. Tangannya dingin, sedingin es. "Eh Kak, kenapa tanganmu dingin begi–ARGHHH!!"
Spontan, Azlen mendorong tubuh kakaknya saat dia melihat wajahnya. Ya, wajah 'Kakak' Azlen itu berubah, menjadi terlihat sangat aneh. Matanya tiga, lalu lidahnya panjang seperti ular. Benar-benar menakutkan.
"Hihihi ... naif sekali kau ini. Sekarang, kau juga akan bernasib sama seperti kakakmu, Azlen hihihi." Tubuh kakaknya berubah menjadi sebuah makhluk hijau mengerikan. Makhluk itu mendekat dan mendekat. Azlen pun bergerak mundur, tapi dia kalah cepat.
"ARGHHHHH!!" Teriakan itu, menjadi teriakan terakhirnya. Sejak saat itu, Azlen dan kakaknya tidak terlihat lagi. Miris, mereka tertipu oleh "Makhluk Rumah Merah".
-Tamat-