Suatu hari, Azlen dan kakaknya bermain di sebuah rumah merah di dekat rumahnya.
Kakaknya meminta Azlen untuk tinggal di luar, dan dia masuk ke rumah merah sendirian.
Tiba-tiba, kakaknya berteriak"Ah", dan kemudian tidak ada suara lagi. Azlen berteriak,"Kakak! Kakak!"
Azlen kebingungan dia ingin masuk ke dalam rumah merah tersebut, akan tetapi sang kakak memintanya untuk diam diluar. Pikiran Azlen kacau, dia langsung menerobos masuk ke rumah merah yang ada di depannya.
Mencari disegala arah, ruangan yang gelap membuat Azlen kebingungan untuk mencari kakaknya. Dia terus saja berteriak memanggil kakaknya, "Kakak!! Kakak!!". Dia terus berteriak sambil berlari tanpa tujuan.
Siang, diluar terang benderang, tapi rumah ini seperti kegelapan yang abadi. Ingin Azlen keluar dari rumah yang gelap tanpa setitikpun cahaya, namun dia mengkhawatirkan kakaknya.
Rumah merah itu tampak kecil dari luar, akan tetapi ntah kenapa Azlen yang sedang berlari itu tak menemukan akhir dari bangunan itu. Tak ada satupun pintu yang ia lihat, hanya ada kegelapan, kegelapan yang tidak memberikan bayangan, kegelapan bagaikan kematian.
Brak!!!
Sesuatu terjatuh tak jauh dibelakangnya, membuat Azlen menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya dengan cepat.
"A... Azlen..." Sesuatu yang terjatuh itu memanggil nama Azlen dengan lirih.
Azlen tersenyum lebar, ketika mendengar suara sang kakak yang memanggil namanya. Dia kemudian berlari menuju orang yang jatuh itu yang diduga sang "kakak" dengan lega. Sambil berkata,"Kakak?!!, Apa kau baik-baik saja?".
"Aku baik-baik saja, jika aku membunuhmu!!!" Ucap orang itu sambil memperlihatkan mata merah menyalanya yang bersinar seperti api.
Azlen terkejut melihat sang kakak yang tubuhnya dipenuhi darah yang mengalir dari tubuhnya. Azlen tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat, dia ingin semua yang ia lihat sekarang hanyalah ilusinya, hanya mimpi buruk semata. Namun takdir tak bisa diubah, takdir memang kejam.
"Kakak?" Azlen membelalakkan matanya.
Azlen yang kebingungan dan ketakutan setengah mati, berlari tanpa henti mencari pintu keluar. Makhluk tadi, mengejar Azlen dengan gergaji ditangannya.
Azlen terus berlari dan berlari. Hingga sebuah daun pintu membuatnya benfikir untuk masuk ke dalamnya dan bersembunyi disana.
Brakk
Makhluk itu mendobrak pintu masuk ruangan tersebut dengan keras, Azlen yang kelelahan menahan pintu itu dengan sebuah lemari pakaian.
Nafas tak beraturan, jantung berdetak cepat, air mata mengalir. Jiwa seperti terkoyak, melihat makhluk yang ia kira Kakak tersayangnya ternyata merupakan makhluk pembunuh.
Tes tes
Tetesan cairan merah mengenai hidung Azlen yang sedang mengatur nafasnya. Bau amis tercium dengan jelas dihidungnya.
Azlen menengadah kan kepalanya menatap asal tetesan cairan berbau amis itu. Dia membelalakkan matanya kemudian berteriak ketakutan "Ahh!!!". Cairan merah yang jatuh dihidungnya adalah darah, darah dari sang kakak yang digantung di langit-langit ruangan itu, dengan tubuh terpotong dua. Bersama mayat yang lain.
"Apa kau suka karya seni ku?" Ucap makhluk itu yang tiba-tiba saja sudah ada di depan Azlen, sambil menyeringai kearahnya.
Crass....
"Kau yang selanjutnya!!"
~THE END
Piww...
Hallo para pencinta horor!!!
Jangan lupa like ya, karena mengetik cerita tak semudah menyentuh tombol like:)
Sehat selalu
Arigato🙏
Sayonara.....