Suatu hari, Azlen dan Kakaknya bermain di sebuah rumah merah di dekat rumahnya. Kakaknya meminta Azlen untuk tinggal di luar, dan dia masuk ke rumah merah itu sendirian.
Tiba - tiba, Kakaknya berteriak, “Ahh!” dan kemudian tidak ada suara kembali. Azlen berteriak, “Kakak! Kakak!”
Azlen berlari kemudian segera membuka pintu rumah merah yang tiba - tiba tertutup terkena angin kencang. Pintu sudah ia dobrak paksa namun seperti dikunci rapat dari dalam. Azlen tidak menyerah, ia terus mendobrak dan mengetuk pintu itu sekeras - kerasnya.
Tidak ada warga yang menampakkan diri melihat Azlen ataupun membantu Azlen. Seolah - olah tidak ada penghuni satupun di pemukiman rumah Azlen kecuali mereka berdua.
“Kakak! Kumohon jangan bercanda!” teriak Azlen sambil mendekatkan kupingnya ke pintu.
Tidak ada balasan dari Kakak Azlen. Kakak Azlen seperti ditelan bulat - bulat di rumah merah itu. Azlen menyesal meminta untuk bermain di rumah merah milik Neneknya yang sudah lama meninggal. Tapi, seandainya bola mereka tidak masuk ke dalam rumah itu, mungkin hal ini juga tidak akan terjadi.
Orang Tua Azlen sudah memperingati Azlen dan Kakaknya. Namun karena Azlen memaksa, Kakaknya memperbolehkan bermain namun di luarnya saja.
Sekarang nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang bisa dilakukan Azlen jika Kakaknya tak kunjung keluar. Entah akan seberapa besar Orang Tuanya murka terhadap dirinya. Dia tahu betul kalau ia dan Kakaknya sangat dilarang bermain di sana.
Orang Tua mereka memang sering tidak pulang ke rumah karena pekerjaan. Tentunya Orang Tua tidak bisa mengawasi anak mereka seutuhnya. Sehingga hanya melarang, melarang dan melarang.
“Kakak! Kakak! Tolong jawab, aku!” teriak ulang Azlen sambil mendekatkan telinganya kembali ke pintu.
“Pergi, Azlen! Di sini, berbahaya!” akhirnya suara Kakak Azlen terdengar.
“Lalu bagaimana dengan Kakak?!” teriak Azlen.
Puk--
Ada tangan yang menepuk pundak Azlen dari belakang. Tangan yang dingin ....
Azlen langsung merinding, bergidik ngeri namun ingin sekali menoleh.
Azlen menoleh pelan, belum menoleh sepenuhnya, muncul suara yang amat datar, “Azlen, kamu ngapain?”
Azlen langsung jongkok disertai teriak, “Aaaaaaaa!”
“Azlen! Kamu ngapain main di sini?! Kan Kakak sudah melarang keras kamu!” Kakaknya langsung berbicara setelah melihat Azlen yang ketakutan.
“Eh?” Azlen mulai mendongak ke atas. Benar, itu Kakaknya. Lalu siapa yang di dalam tadi? Azlen hanya bisa menelan ludah. Dia memendam cerita horor itu dalam - dalam.
“Ayo! Balik, bentar lagi Papa dan Mama mau pulang. Kamu ini, untung tidak ada apa - apa, Kakak khawatir tahu!” jawab Kakak Azlen menarik tangan Azlen.
Azlen hanya mantuk - mantuk. Dia berdiri dan mengikuti langkah kaki Kakaknya. Dia berjanji tidak akan main lagi ke sana.
Sebenarnya dalam hati Kakak Azlen, dia juga mengerti apa yang Azlen alami. Dia melihat pintu rumah merah milik mendiang Nenek mereka terbuka. Sementara Azlen berada di pelukan seorang Nenek - nenek yang bermuka seram.
Kakak Azlen tidak takut, ia sudah sering melihat hantu. Lagipun, ia tahu kalau Neneknya mungkin rindu dengan cucu tercintanya. Karena dia sendiri pernah mengalami kejadian itu. Dan juga sebab itulah, Orang Tua mereka selalu melarang keras bermain di rumah merah itu.
--- Tamat ---
Pesan moral:
-Taati perintah larangan Orang Tua, jangan sampai melanggar. Karena mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi kepada kalian jika melanggar.
-Jangan meminta yang aneh - aneh, apalagi sudah tahu dilarang.
Salam Horor.
Semoga kalian suka. Jangan lupa likenya, ya!
🏚️🦉👻👻👻🦉🏚️