Di suatu malam yang kering dan berdebu, harus ku akui bahwa aku merasa agak muak dengan kota penghasil batu bara ini. Setelah hampir 2 tahun menghabiskan waktu hidupku menuntut ilmu (entah si-ilmu salah apa sampai harus aku tuntut 🤭) di sebuah sekolah kedinasan di Jatinangor yang tenang dan adem, kepulanganku ke kota ini terasa membosankan.
Setelah bertegursapa sekilas dengan penjaga gerbang depan komplek dan mengetahui kalau saat ini semua anggota keluarga sudah beristirahat di tempatnya masing-masing, aku pun melangkahkan kaki menuju tempatku. (Sekedar informasi, keluargaku hidup sangat berkecukupan bahkan relatif berlebih, sehingga setiap anak yang sudah lulus SMA dibuatkan 1 paviliun sendiri, yang konon dimaksudkan untuk mengajarkan kemandirian. Paviliun milikku adalah yang paling dekat dengan gerbang komplek rumah kami, karena aku adalah anak bungsu, sehingga tempat milikku ini dibangun paling akhir).
Tetapi ketika aku hampir sampai di paviliunku, entah mengapa aku membayangkan akan mengalami petualangan menakjubkan yang terbentang di hadapanku.
Baru saja kuputar anak kunci, aku merasakan keharuman lembut sekelebat dan merasakan sosok perempuan langsing berdiri di belakangku, entah dari mana asalnya, namun dengan cepat mendorongku masuk lalu menutup pintu di belakangnya.
"Hei.. apa-apa ini?" sergahku sambil menstabilkan posisi berdiri dan berusaha menenangkan diri.
"Maafkan atas gangguan ini tuan Dhany" bisik perempuan asing itu dengan suara lembut sambil bergerak ke arah jendela, untuk menutup kerai-nya rapat setelah mengintip sesaat.
"Bagaimana kau tau namaku?" tanyaku lagi penasaran namun tidak lagi sewaspada sebelumnya dan berusaha mencari saklar lampu terdekat di dinding.
"Oh, aku tahu banyak hal tentangmu." jawabnya kembali mengintip keluar dari sela-sela kerai jendela. "Terutama bahwa kau adalah orang yang bisa dipercaya tuan Dhany Sugiro."
Aku tau seharusnya aku segera menghubungi bagian keamanan depan dan mengusir perempuan asing ini, tapi rasa penasaran mengalahkan pertimbangan logika itu.
"Namaku Nathasya Flavia, kamu bisa memanggilku Sasya" dia memperkenalkan diri, lalu kembali berujar setelah terdiam sesaat "Aku butuh bantuanmu tuan Dhany".
"Aku akan mendengarkan," jawabku sambil menyalakan lampu, "Tapi hanya itu yang bisa kujanjikan" tambahku sambil duduk dan secara intens memperhatikan parasnya yang ternyata sangat cantik, dalam balutan gaun sederhana tempo dulu yang menunjukkan kelangsingan tubuhnya.
Gadis itu masih berdiri membelakangi jendela dan dengan perlahan, sama sekali tidak tampak terintimidasi dengan tatapanku yang biasanya membuat para gadis salah tingkah, berkata: "Tuan Dhany, di kota ini, tepatnya dua minggu lagi, akan terjadi tragedi yang akan menguncang banyak orang, terutama jiwamu. Kalau aku bisa bersembunyi dengan bantuan anda, hingga saatnya tiba, anda dan aku mungkin bisa mencegah malapetaka tersebut terjadi".
Aku menjadi semakin tertarik, "Tragedi seperti apa?" tanyaku penasaran.
"Banyak orang yang mencariku dan kalau sampai aku tertangkap, banyak jiwa yang akan melayang. Kamu harus bisa menyembunyikan keberadaanku, tolong bantu aku tuan Dhany!" jawabnya dengan raut wajah yang menyiratkan banyak hal, terutama kecemasan dan ketakutan.
Ceritanya itu kedengaran berlebihan, namun jika gadis ini ingin membuatku bingung, maka dia adalah aktris yang baik.
Aku terdiam dan berpikir sejenak. Aku memang menginginkan hal yang menghebohkan. Nah, hal itu kini ada di sini, tepat di hadapanku, berwujud gadis cantik langsing dengan keharuman yang sedikit memabukkan.
"Baiklah, aku percaya padamu," akhirnya aku berkata. "Aku bisa menyembunyikanmu di paviliunku ini. Aku percaya kau jujur, tetapi kalau tidak, maka aku harus memperingatkanmu bahwa aku memiliki kemampuan bela diri dan terampil menggunakan senjata sejak kecil".
Dia mendekatiku dan mengulurkan tangannya yang putih dan mungil untuk menjabat tanganku yang hampir 2x ukuran tangannya, "Terima kasih tuan Dhany," katanya ramah dengan senyum terurai, sekilas menunjukkan deretan gigi putih yang tampak tajam, terutama di bagian gigi gingsul-nya. "Anda atau bahkan anggota keluarga anda yang lainnya, tidak akan menyadari keberadaanku di sini" janjinya.
Tangan dalam genggamanku ini terasa dingin, entah bagaimana, ada rasa ingin melindungi dalam diri ini. Gadis ini unik dan sangat menarik, terlalu jauh berbeda dengan kebanyakan gadis yang ku kenal centil dan suka menarik perhatian lawan jenisnya. 'Mungkin liburan kali ini tidak akan semembosankan liburan-liburan sebelumnya' batinku lirih.
***
Hari-hari berlalu sangat cepat dan Sasya menepati janjinya. Dia menghabiskan waktu dengan mengurung diri di ruang belajarku, dengan membaca buku-buku misteri yang ku koleksi semenjak kecil dan sesekali terlihat menuliskan sesuatu di buku catatan kecilnya.
Kami hanya berpapasan beberapa kali dan sepertinya tidak ada satupun anggota keluargaku ataupun pengurus rumah kami, yang pernah melihat sosoknya.
Dalam beberapa kesempatan, aku dan Sasya sempat bertukar-pikiran, biasanya pada malam hari sepulang aku kumpul-kumpul dengan teman-teman SMA ataupun setelah makan malam dengan keluargaku. Walaupun kalimat yang keluar dari mulut Sasya sangat irit dan seperlunya saja, tapi seperti sudah jadi candu bagiku.
Semakin hari, semakin ada rasa ingin lebih lama bersamanya. Maka setiap hari, semakin lama waktu yang aku sempatkan untuk sekedar bersama dengannya.
Ketika kami sama-sama berkonsentrasi pada buku bacaan kami masing-masing, seringkali aku mencuri pandang ke arahnya dan mengamati perubahan raut wajahnya yang semakin penuh aura misterius, seakan menarik segenap perhatianku.
***
Pernah sekali waktu aku menatap wajahnya yang sedang konsentrasi membaca buku di pangkuannya. Aku menyadari kalau aku belum pernah melihat perempuan secantik dia.
Namun tiba-tiba Sasya menoleh kepadaku dan berjalan mendekat dengan perlahan, lalu membungkuk untuk berbisik di telingaku: "Berhati-hatilah dengan rasa penasaran dan harapan akan keingintahuan tuan Dhany, kucing yang punya 9 nyawa saja banyak yang tidak tertolong, apalagi manusia yang hanya punya 1 nyawa.." helaan nafasnya dingin menggelitik sesaat, lalu dia menegakkan tubuhnya dan kembali berkata: "Selamat beristirahat tuan Dhany.." lalu dia keluar dari ruang belajar dan meninggalkanku dengan wajah memerah.
***
Teman-teman dan keluargaku pun mulai merasa aneh dan sedikit curiga dengan kebiasaan baruku.
Biasanya dalam masa cuti liburan seperti ini, aku akan berlarut-larut menghabiskan waktu bersenang-senang dengan teman ataupun para sepupu seumuran (pulang ke rumah hanya untuk tidur saja), baik itu di tempat-tempat hiburan ataupun sesekali menyelenggarakan party di paviliunku. Namun, liburan kali ini berbeda, di mata mereka, aku lebih sering menghabiskan waktu di paviliun sendirian dalam keheningan.
Mungkin karena sejak kecil, aku memang dikenal pendiam dan suka menyendiri dalam keramaian, mereka akhirnya berpikiran kalau perubahanku ini semata hanyalah satu fase peralihan saja dan bukanlah hal yang perlu serius dipertanyakan.
***
Malam ini seharusnya adalah malam terakhir Sasya bersembunyi di paviliunku. Tepat 2 minggu yang lalu adalah awal perjumpaan kami.
Malam ini aku sudah bertekad akan menyampaikan perasaanku kepadanya, rasa tertarik yang sudah tidak terbendung lagi ini.. dan kalau dia berkenan akan ku ajak dia ke Jatinangor (sekitar seminggu yang akan datang, yaitu ketika masa cuti liburan akhir tahun ini usai), rencananya dia bisa tinggal di kamar kos yang sudah ku sewa sejak akhir semester 2 perkuliahanku dulu, sekitar setahun yang lalu, sekedar untuk istirahat pada waktu pesiar/izin bermalam di luar Ksatrian.
Tragedi yang mungkin akan terjadi sudah tidak pernah lagi terlintas dalam pikiranku. Yang ada hanya bayangan kebersamaan kami di masa depan yang cerah. 'Aku akan melindungi dan menyayanginya sepanjang hidupku' tekadku dalam batin.
Aku membuka pintu ruang belajar dan menyalakan lampu. Pemandangan mengerikan terlihat di hadapanku, hingga membuat bulu kudukku berdiri.
Di lantai, tubuh Sasya yang mungil tergeletak. Sebuah pisau perak tertancap tepat di bagian jantungnya. Darah segar tampak menggenang di sekitar tubuhnya yang sebagian sudah terserap pada pakaiannya dan karpet ruang belajarku.
Aku terdiam, syok dan tidak tahu harus melakukan apa dan bagaimana sebaiknya bertindak.
Tiba-tiba semua semakin menghitam dan gelap berkepanjangan. Tubuhku rubuh tak bertenaga.
***
Pagi harinya, pengurus rumah yang biasanya beberes di pagi hari, menemukanku yang masih tergeletak tak sadarkan diri dekat pintu ruang belajar. Ia pun segera menghubungi orang tuaku di rumah utama yang membawaku ke Rumah Sakit untuk memeriksakan diri.
Hampir seminggu waktu yang ku habiskan di ruang perawatan RS itu. Banyak test dan pemeriksaan yang telah ku lakukan, namun para dokter dan ahli kesehatan itu masih juga tidak bisa mendiagnosa penyakit yang ku derita.
Ketika akhirnya aku memberanikan diri menanyakan kondisi paviliunku (sebenarnya untuk mengecek apakah ada keanehan dan menanyakan keberadaan Sasya juga), jawaban yang ku terima sungguh mengagetkan, katanya kondisi paviliunku baik-baik saja tanpa sedikitpun keanehan.
Pada waktu itu, aku pun hanya terdiam dan tidak pernah membahas ataupun menceritakan keanehan ini kepada siapapun.
Pun ketika akhirnya aku kembali melanjutkan perkuliahan di Ksatrian. Kisah ini kusembunyikan rapat-rapat. Tak ingin berbagi dengan siapapun, khawatir dianggap sakit jiwa apalagi gila.
***
Inilah pertama kalinya kisah ini ku ungkapkan..
Apakah ini kisah cinta pertamaku?
Apakah yang sempat ku rasakan itu masuk kategori cinta?
Apakah Sasya benar-benar seorang vampire?
Entahlah, aku pun masih bertanya-tanya sendiri, apakah kehadirannya dan kebersamaan kami itu nyata atau hanya sebatas peristiwa yang terjadi di imagiku semata?
#basedontrueevent
#jatuhcintadenganvampire