"Nak!, bangun..." sayup aku mendengar suara ibu membangunkan ku sambil menepuk pipi.
"Jam berapa bu?" tanyaku dengan suara ala-ala orang bangun tidur. Aku menggeliat di atas kasur sambil berusaha mengumpulkan nyawa yang masih berterbangan. Samar, indra perasa ku merasakan dingin saat menggeliat.
"Jam setengah tujuh".
Mataku yang kata orang-orang termasuk keluarga dan teman-teman itu bulat, membola sempurna bersamaan dengan berhenti nya pergerakanku menggeliat di atas kasur.
"Bangun!" ucap ibu lagi. Kali ini aku menurut.
"Kok ibu nggak bangunin Vera sih?" tanyaku kesal sembari mengesot turun dari kasur dan bergegas mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kayu kamar ku.
"Nggak bangunin kamu bilang? Ibu itu sudah bangunin kamu sebanyak tiga kali lhoh pagi ini, pertama jam setengah lima, kedua jam setengah enam dan ketiga jam setengah tujuh, sekarang! Saat pertama dan kedua ibu bangunin kamu, kamu cuma jawab iya tapi nggak kunjung keluar kamar. Akhirnya, saat ibu bangunin kamu tadi, ibu siram wajah sama tubuh kamu pake air bak" jelas ibu panjang lebar.
"Pantes aja tadi rasanya dingin, ibu jahat amat si... bangunin anak semata wayang pake disiram segala. Dikira aku tumbuhan apa perlu di siram pagi-pagi gini" gerutuku kesal.
"Mata sapi sekalian! Udah buru sana mandi, hari ini hari senin, saat nya upacara" ibu lantas pergi setelah menarik sprei kasurku dan membawa nya keluar.
Aku pun bergegas mandi supaya tidak telat sampai sekolah. Walaupun itu tak mungkin, sekolah tempatku menimba ilmu. Pukul setengah tujuh pintu gerbang sudah di tutup dan jika ada acara upacara sebagainya, murid-murid sudah diharuskan berkumpul di lapangan. Sial! Ini gara-gara Alvin ngajak mabar gw sampe jam dua dini hari. Umpatku kesal sambil mengguyurkan segayung air mulai dari kaki hingga leher. Aku jepit tinggi-tinggi rambut panjang gelombang ku supaya tidak terkena air. Aku sedang malas keramas pagi ini.
Selesai mandi, aku segera memakai seragam lengkap hari senin. Rambut gelombang ku, aku biarkan tergerai setelah di sisir. Tas sekolah ku yang berwarna navy, aku kaitkan ke pundak. Setelah dirasa semuanya siap, aku pergi ke ruang makan. Rumahku berlantai satu minimalis. Kamarku terletak di sisi ruang keluarga. Sedangkan kamar ayah dan ibu terletak di sisi kanan ruang tamu. Agak lebih ke dalam tepatnya, jika ada tamu, ayah dan ibu bisa langsung mendengar suaranya dengan jelas, berbeda denganku. Tapi aku bersyukur tentang itu.
Rumahku hanya memiliki tiga kamar tidur, satu kamar tidur lainnya digunakan jika ada tamu yang menginap. Satu kamar mandi umum untuk tamu yang ingin bab atau bak, karena kamar mandi langsung ada didalam kamar masing-masing, jika tamu ingin bab atau bak harus pergi ke kamar tidur tamu lalu menuntaskan hajat di dalam kamar mandi yang tersedia diruangan tersebut kan terlalu ribet, jadi ayah dan ibu menyediakan kamar mandi lagi. Satu ruang tamu. Satu ruang keluarga. Satu dapur plus ruang makan dan satu gudang. Rumah ku juga ada halaman luas di depan dan di belakang rumah serta satu garasi untuk menaruh mobil keluarga.
"Mana sarapan Vera pagi ini?" tanyaku gugup karena waktu sudah menunjukan enam seperempat.
"Nih!" ibu muncul dari dapur lalu menyodorkan sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi diatasnya.
"Makasih bu" aku segera mengambil sendok dan menyuapkan sendok demi sendok nasi goreng plus telur mata sapi hingga habis. Di samping piring, segelas air bening sudah ibu siapkan. Aku segera menengguknya hingga habis.
"Anterin yah" pintaku memelas. Jujur saja, ayah tidak pernah mengantarkan ku pergi sekolah karena aku yang biasanya berangkat sebelum ayah selesai mandi. Menaiki mobil keluarga yang baru di beli tiga tahun yang lalu saat aku lulus smp saja belum pernah. Aku lebih suka naik ojek atau taksi yang aku pesan.
"Ya udah buru, udah jam segini. Kamu si, kalau mau nge-game jangan sampai lebih dari jam sebelas. Gini kan akhirnya, gugup apa-apa nya" ucap ayah mulai memberi wejangan setelah menilik jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kiri nya. Terkadang, ayah lebih cerewet daripada ibu saat memberi wejangan jika aku melakukan kesalahan.
Aku tidak menjawab. Aku mengaku, aku salah. Sampai sekolah nanti, aku hajar si Alvin. Awas lo vin!!.
Aku mengikuti langkah ayah menuju garasi. Menjadi ekornya di pagi hari ini.
"Kamu jangan ngikutin ayah, kamu diem aja tunggu di depan. Kalo kamu ngikutin ayah terus, ada-ada kamu ke injek sama ayah" ucap ayah yang membuatku langsung keluar dari garasi untuk menunggu ayah mengeluarkan mobilnya.
Setelah ayah mengeluarkan mobilnya, aku berjalan memutari mobil. Tapi langkahku terhenti karena suara cempreng ibu.
"Apa bu?" ibu menyodorkan punggung tangannya. Aku tersenyum malu karena lupa belum salim pada wanita yang sudah berjuang antara hidup dan mati saat melahirkanku. Aku menghampiri ibu lalu menyalami nya, aku juga mencium kedua pipi ibu dan kening ibu.
"Dah bu, Vera berangkat dulu" ibu mengangguk sambil tersenyum manis melambaikan tangannya di teras rumah. Aku masuk ke mobil dan duduk di samping ayah.
"Yang cepet dong yah, bawa mobil kok kaya siput" omelku saat ayah melajukan mobil yang kecepatannya, bagiku seperti siput berjalan.
"Iya" ayah mempercepat laju mobil nya hingga membuat ku hampir kejedot jika belum memakai sabuk pengaman.
Berangkat sekolah menaiki taksi biasanya memakan waktu sepuluh sampai lima belas menit. Kali ini, hanya sekitar tujuh menit lamanya mobil ini melaju. Aku sudah sampai di depan gerbang tinggi putih tulang SMA Anak Bangsa yang sudah di tutup.
"Dah, berangkat dulu yah" aku menyalami ayah lalu turun dari mobil. Setelah mobil ayah melaju pergi tak terlihat dari pandangan mata. Aku mulai berfikir bagaimana cara nya masuk. Memanjat gerbang ini bisa-bisa aku masuk rumah sakit apalagi pasti ada satpam yang berjaga di dalam sana. Ah! Sial! Alvin bener-bener bikin pagi gw sial banget. Umpatku lagi untuk yang kedua kalinya pada Alvin. Sebal sekali rasanya jika dipikirkan.
"Heh" aku terkesiap saat pundakku di tepuk dari belakang. Aku berbalik dan menatap lelaki tinggi, tampan, putih dan rambut lebat teratur nya.
"Ve-vero?" lelaki itu mengangguk. Ya, dia Vero. Lelaki tampan dambaan perempuan di sekolah Anak Bangsa, tubuh dan sifat nya benar-benar memenuhi kriteria suami idaman.
"Jangan kebanyakan mikir. Kita masuk lewat gerbang belakang yang lebih pendek, nanti gw bantu lo masuk" tanpa basa-basi lagi, Vero menarik tanganku dan membawa ku ke gerbang kedua SMA Anak Bangsa.
"Naik!" titah Vero sambil bersiap dengan kesepuluh jari tangannya yang sudah bergabung.
"Emang nggak papa? Nanti sakit lagi, gw berat lhoh Ver" tanyaku tak enak.
"Nggak papa. Udah buru naik, upacara nya udah di mulai" akhirnya aku menurut. Menaiki tangannya dan memanjat gerbang, setelah aku berhasil giliran Vero yang naik. Saat kami berdua sudah berada di gerbang dan tinggal melompat masuk, kami sempat tos dan tertawa senang. Tapi kesenangan itu tak bertahan lama, seorang satpam menegur kami berdua hingga kami terkesiap dan hampir terjatuh.
Apa yang terjadi selanjutnya?.
Kami di hukum!.
Wuaaaaa, sedih sekali rasanya. Kami berdua di suruh berdiri dengan satu kaki sedangkan satu kaki yang lain ditekuk kebelakang. Jari-jari tangan kami berdua, menjewer telinga kami masing-masing. Di samping bapak kepala sekolah yang sedang memberikan nasehat. Kami di cap sebagai murid bandel dan tidak disiplin, adik-adik kelasku di ingatkan untuk tidak menjadi seperti kami. Seperti itu lah kiranya nasehat yang bapak polisi ucapkan.
Setelah upacara selesai. Kami berdua di pindahkan untuk berdiri di tengah-tengah lapangan panas sampai istirahat kedua, setelah itu kami berdua di suruh untuk memutari sekolah yang besar nya entah berapa kali dari rumahku sebanyak lima kali, jika itu sudah selesai, kami berdua akan di suruh untuk membersihkan halaman depan, belakang sekolah dan setelah selesai. Nasihat dari wali kelas lah yang akan kami dengarkan. Aku dan Vero kebetulan sekelas.
Saat sedang berdiri di tengah-tengah lapangan panas. Saat istirahat pertama tiba, seluruh murid SMA Anak Bangsa, berkumpul di lantai dua. Menatap kami yang sedang di hukum, beberapa nya tertawa mengejek, selain itu. Mereka semua hanya menatap kami iri karena bisa berdampingan. Aku dan Vero termasuk dalam kategori pria dan wanita yang memiliki kecantikan dan ketampanan luar biasa. Tidak ada yang tidak tahu kami berdua. Bukan sombong nih, tapi hanya curhat sedikit. Kaum jantan menatapku iri, begitupun sebaliknya. Apalagi, saat Vero menangkupkan kedua tangannya untuk melindungiku dari sengatan sinar matahari.
"Nggak usah begitu, gw udah biasa panas-panasan. Nanti lo malah kena hukuman tambahan karena nggak nglakuin hukuman pertama dengan baik" ucapku tak enak. Namun dia menggeleng, dia tetap menangkupkan kedua tangannya dan melindungi kepalaku yang sudah mulai panas. Rambutku apalagi, saat disentuh rasanya sudah seperti berada di dekat bara api yang masih baru. Keringat juga sudah mulai membasahi pelipis, dan baju ku.
Hingga tiba akhirnya kami untuk berlari memutari sekolah. Aku sudah berputar tiga kali banyaknya, Vero akan berhenti saat aku berhenti. Ia akan mengusap keringat yang membanjiri wajahku dengan penuh perhatian.
Kami melanjutkan memutari sekolah dengan bergandengan tangan. Kata Vero, supaya aku semangat dalam berlari begitupun dirinya. Saling menyemangati dan menguatkan dalam gandengan mungkin maksudnya.
Selesai memutari sekolah lima kali banyaknya, aku dan Vero duduk sebentar untuk istirahat di bawah tiang bendera. Saat di hukum, kami berdua tidak boleh memasuki kelas dan ruangan sekolah yang lain, teras pun termasuk.
"Alvin!" teriakku saat melihat dirinya sedang berjalan menghampiri kami berdua. Di tangannya, menggenggam dua botol minuman kesukaanku.
"Nih, minum dulu" aku dan Vero menerima minuman dari nya lalu menengguknya hingga tersisa setengah.
"Makasih" ucapku dan Vero bersamaan yang membuat kami langsung saling tatap dan terkekeh kemudian.
"Sama-sama".
"Lo itu kurang ajar emang sama sahabat lo sendiri. Di paksa buat ngegame sampai jam dua dini hari" Alvin terkekeh mendengar kekesalanku.
"Kenapa gak lo tolak aja?" tanya Vero.
"Dia ngancem mau bawa gw kawin lari kalo nggak mau" kesalku. Vero tertawa mendengar ucapanku.
"Yuk, tinggal satu hukuman lagi" ajakku pada Vero. Ia mengangguk lalu berdiri. Sapu lidi dan pengki untuk masing-masing sudah di siapkan oleh petugas kebersihan sekolah.
Selesai membersihkan halaman depan, kami lanjut membersihkan halaman belakang.
"Bentar Ver, cape banget gw dah. Lama nggak nyapu, mana mbungkuk-mbungkuk tadi, rasanya pinggang udah encok ini" keluhku sambil mencari tempat untuk duduk.
Vero mengikuti apa yang aku lakukan. Sisa minuman pemberian Alvin masih cukup untuk menghilangkan rasa haus di kerongkongan.
Dari sudut netra, aku melihat Vero mendekati diriku. Tatapan matanya entah kemana, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menoleh padanya. Ia tidak berhenti karena pergerakanku, tubuhnya terus condong kearahku yang juga semakin akan rubuh. Sial!.
Vero mengangkat tangannya dan menggapai sesuatu yang ada di rambutku. Tangan kirinya memegang punggungku supaya tidak jatuh ke tanah. Waktu seolah berhenti disekitar kami berdua. Kenapa detik berjalan begitu lambat?. Nafasku tercekat saat menatap wajah tampan Vero dalam jarak sedekat ini.
Vero bergerak lebih maju dengan tangan kirinya yang masih memegang punggungku. Ia mengecup pipi kananku yang sekarang sudah memerah karena ulahnya.
"Ishh apa-apa an si lo?" kesalku malu-malu.
"Abis pipi lo itu mirip kaya bakpau, gw suka" ujarnya lalu mencubit pipiku yang tadi di ciumnya.
"Tanggung" ia kembali mencium pipi ku, tapi kini sebelah kiri. Ia agak menekankan bibirnya kemudian melepasnya sambil cekikikan.
"Vero!" geramku kesal.
Aku melanjutkan hukuman ini dengan rasa malu-malu kesal. Selesai menjalani hukuman terakhir, kami berdua berjalan beriringan menuju kelas. Di kelas sudah kosong, bukan jadwal sekolah sudah selesai. Tapi memang kelas akan di kosongkan jika ada siswa siswi yang di hukum.
"Kalian itu apa tidak bisa disiplin sedikit saja? Bapak cape kalau harus ngomongin kalian setiap hari, kalian kan sudah kelas tiga SMA, kalian adalah siswa siswi senior di SMA Anak Bangsa. Kalian itu harusnya memberikan contoh yang baik pada adik-adik kalian, tadi bapak denger dari satpam. Kalo kalian berusaha untuk memanjat gerbang kedua? Itu bahaya, kalau seandainya kalian jatuh. Kalian masuk rumah sakit, maka pihak sekolah yang akan disalahkan karena tidak bisa dengan benar mendidik murid-muridnya. Padahal itu karena kelakuan kalian sendiri" pak Nur (nama bapak wali kelasku) menjeda sebentar ucapannya.
"Jika kalian tidak bisa berhenti berangkat telat dan membuat keonaran yang lainnya. Maka hari itu juga, bapak akan mengeluarkan surat dikeluarkan dari sekolah" sambung pak Nur setelah menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Paham kalian?" aku dan Vero mengangguk tanpa bicara. Setelah itu, kami berdua disuruh untuk pergi ke kantin, mengisi perut sampai kenyang. Untuk masalah pembayaran, wali kelas yang akan mengurusnya. Itulah kenapa aku suka membuat onar di sekolah, walaupun hukumannya bikin pengin nangis. Tapi selesai di hukum dan di beri nasihat, wali kelas akan menyuruh murid didiknya pergi ke kantin untuk mengisi perut sampai kenyang. Makan... makan... makan!!!.
"Awww... tangan gw" rengekku menahan sakit sekaligus kesal..
"Kenapa?" tanya Vero panik. Jujur saja, setelah adegan dimana dia mencium kedua pipiku, aku menjadi rada kaku saat berbicara padanya.
"Te-terkilir" sahutku agak gagap sambil mengibas-ngibaskan pergelangan tangan kananku. Berharap bisa langsung sembuh dan makan. Sial banget gw!!. Tangan kananku sepertinya belum ingin sembuh, masa iya aku makan pake tangan kiri. Kan nggak mungkin.
"Coba sini" ujarnya meminta pergelangan tanganku yang terkilir.
"Aww.... pelan-pelan dong pe'ang" kesalku.
"Ini udah pelan banget by".
"Apa lo bilang?".
"By".
"Eh lo kira gw itu babi apa?" sarkasku.
"Pake y Ra bukan i" aku mendengus kesal.
"Geli gw, jangan panggil gw begitu. Kalo lo maksa, gw kirim lo ke neraka" ancamku penuh dusta. Mana mungkin aku mau kirim Vero ke neraka. Tiketnya terlalu mahal dan sulit untuk di bayar. Jika Vero sholeh, bukan ke neraka jadi nya tapi malah ke surga.
"Iya b-" aku mendelik saat Vero akan mengucapkan panggilan by lagi. Nggak nyangka aku, Vero yang terkenal cool ternyata bisa lebay juga.
"Gw suapin aja ya? Nanti keburu habis waktu makan kita di kantin" aku terkesiap. Baru ingat! Walaupun selesai di nasehati kami akan di suruh ke kantin makan sampai kenyang, tapi ternyata.... semua itu ada waktunya.
"Ya udah deh" sahutku pasrah. Setelah Vero memesan makananku dan juga makanannya, dengan di suapi oleh Vero aku menghabiskan makananku. Terkesan alay dan berlebihan memang, terkilir saja makan di suapi. Tapi sungguh, tadi pergelangan tanganku sampai menekuk kebelakang dan terdengar bunyi "krek". Terserah jika kalian mau percaya atau tidak.
Selesai makan. Aku dan Vero memutuskan untuk pergi ke taman. Pelajaran jam ke empat sebentar lagi usai. Saat bel pulang berbunyi. Kami akan ikut pulang.
"Bener-bener olahraga gw hari ini, entah dari segi fisik maupun mental" gumamku geleng-geleng kepala.
"Lu kira lu doang" sergah Vero.
"Iya Ver, gw juga tahu kok".
"Oh ya, nanti sepulang sekolah. Lo mau kemana?" tanya Vero menatapku sekilas.
"Nggak kemana-mana".
"Kenapa emang?" tanya penasaran.
"Gw mau ajak lo jalan-jalan, terus lihat sunset di pantai" aku tertegun.
"Serius?" Vero mengangguk.
"Mau nggak?".
"Mau" sahutku cepat.
"Ya udah, nanti sekitar jam tiga gw jemput elo" aku mengangguk senang. Impianku untuk bisa berduaan dengan lelaki berjuluk suami idaman tercapai juga.
'Ding. Dong. Bel pulang sekolah telah berbunyi, murid-murid SMA Anak Bangsa diperbolehkan pulang. Selamat siang'.
Bunyi bel pulang terdengar menggema di seluruh sudut sekolah. Sekolah ini benar-benar aneh menurutku, masa bel pulang sekolah nya begitu, persis dengan suara yang biasanya akan terdengar saat ada pengendara yang melanggar peraturan berkendara. Aku tidak tahu namanya.
"Pulang yuk! Gw anter" aku berfikir sebentar.
"Boleh" sahutku akhirnya. Aku dan Vero pergi keluar sekolah menuju tempat parkir. Vero sudah berumur tujuh belas tahun, maka dari itu ia diperbolehkan membawa kendaraan. Mobil sport merah yang tampang mencling dan mencolok di antara barisan kendaraan di sekitarnya benar-benar menyegarkan mata. Baru kali ini aku akan menaiki mobil sport.
"Alvin mana?" tanya Vero celingak-celinguk.
"Nggak tahu, udah yuk pergi aja. Buat apa ngurusin cowok macam dia" ucapku tak peduli pada lelaki yang sudah membuatku tidur jam dua dini hari. Entah kenapa aku masih mempermasalahkan hal itu.
"Ya udah" aku dan Vero menaiki mobil sport milik Vero yang melaju menuju rumahku.
Setelah sampai rumah, aku segera turun dari mobil dan berterima kasih pada Vero yang sudah merelakan sedikit waktunya untuk mengantarku pulang.
"Sama-sama, kalo gitu gw pulang dulu ya. Dandan yang cantik" aku mengangguk lalu masuk ke rumah setelah mobil sport Vero tak nampak di mataku.
"Vera pulang!" teriakku menggema di seluruh sudut rumah.
"Gimana sekolahnya?" tanya ibu yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Mampus bu, Vera di hukum berdiri di tengah-tengah lapangan sampai jam istirahat kedua, muterin sekolah lima kali banyaknya, dan bersihin halaman depan dan halaman belakang sekolah, terus dinasehati sama pak Nur di kelas. Abis itu disuruh makan di kantin bareng Vero" jelasku mengeluh berharap akan disayang-sayang oleh ibu.
"Makannya kalo tidur itu jangan kemaleman, kalo sekali lagi kamu begini. Ibu akan tarik semua fasilitas pemberian ibu dan ayah termasuk game-mu" mataku membola tak percaya. Ishhh... ibu mah kalau ngancem nggak kira-kira.
"Vero yang pernah main ke sini ya? Yang ganteng itu?" tanya ibu saat aku memikirkan nasib game ku jika aku sampai mengulangi hal ini lagi.
"Iya bu. Nanti jam tiga-an dia mau kesini, mau ngajak Vera jalan-jalan terus nikmatin sunset di pantai" ibuku tersenyum penuh arti.
"Apa bu senyum-senyum gitu?" tanyaku heran.
"Jangan-jangan dia suka sama kamu nak" terka ibu.
"Masa si bu?" aku tersenyum geli memikirkannya.
"Ya mungkin-mungkin aja, udah sana buruan mandi, makan. Siap-siap, dandan yang cantik biar Vero klepek-klepek sama kamu" ujar ibu.
"Udah makan bu".
Aku pergi ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap. Tapi karena waktu sampai jam tiga masih panjang, aku memutuskan untuk berendam di bath up sebentar.
Selesai berendam. Aku keluar dan memakai pakaian yang sudah aku pilih.
Rok tutu putih panjang dipadukan dengan T-Shirt pendek abu-abu bergambar kaca mata dan sepatu kets hitam adalah outfit ku sore ini untuk jalan-jalan dan menikmati sunset dengan Vero sesuai rencana semula. Di tambah jam tangan pemberian ibu, dan bandana merah polkadot yang nantinya akan menghiasi kepalaku. Rambut gelombang ku, aku biarkan tergerai sama seperti saat sekolah tadi. Setelah itu aku pergi menemui ibu, sambil menunggu Vero datang aku memakan camilan yang ada di atas meja.
"Assalamualaikum, Vera!!".
Aku berlari untuk membuka pintu. Nampak Vero dengan celana jeans dan hoodie hitam bergambar dinosaurus.
"Nih pake" ujarnya sembari menyodorkan sebuah hoodie berwarna hitam bergambar dinosaurus. Aku menerimanya lalu memakainya.
"Buat lo".
"Makasih".
"Eh..." gumamku terkejut sambil memperhatikan hoodie yang aku pakai dengan yang Vero pakai.
"Couple" ujar Vero sambil tersenyum manis dan menempelkan kedua jari tangannya yang membentuk huruf v.
"Ya udah yuk berangkat" ajaknya.
"Aku pamit dulu sama ibu" Vero mengangguk.
"Bu! Vera berangkat dulu ya!" ibu mengangguk sambil tersenyum aneh setelah aku menyalami tangannya.
"Hati-hati, pintu depan tutup ya" aku mengangguk kaku. Lalu keluar menemui Vero dan mengajaknya berangkat.
Vero mengajakku berkeliling daerah setempat sambil sesekali melemparkan candaan yang membuatku tertawa dan merasa nyaman di dekatnya. Vero menghentikan mobilnya saat melintas di depan sebuah resto. Ia mengajakku masuk setelah membukakan pintu.
Aku memesan makanan yang sama dengannya. Tanganku sudah lumayan membaik, jadi untuk makan kali ini. Aku tidak perlu disuapi oleh Vero.
Selesai makan, kami berdua menghabiskan waktu bersama dengan berjalan mengelilingi daerah setempat. Saat waktu sudah menunjukan pukul lima sore, Vero membawaku ke pantai. Kami berdua duduk di pinggiran pantai menikmati angin sore dan matahari yang mulai tenggelam.
"Ra!" aku menoleh ke samping kanan dimana Vero tadi duduk.
"Ve-vero" ucapku terbata saat melihat Vero berlutut di sampingku. Di tangannya menggenggam sebuah kotak berbentuk love yang sudah terbuka. Di dalamnya ada sebuah cincin permata.
"Lo mau nggak jadi pacar gw?" tanya Vero dengan sayang.
Kerongkonganku tercekat, mataku membola tak percaya. Aku tutup mulutku yang menganga dengan kedua telapak tanganku.
"Ra! Lo mau nggak jadi pacar gw?" tanya Vero lagi masih dengan posisi berlutut.
"G-gw mau, gw mau jadi pacar lo" jawabku. Vero langsung memasangkan cincin di dalam kotak yang di pegang nya ke jari manis tangan kiriku lalu memeluk tubuhku. Aku menangis antara senang dan tidak percaya. Lelaki yang sudah lama aku suka sampai rasa suka ini menjadi cinta, kini sudah menjadi kekasihku.
Vero melepas pelukannya dan mengusap air mata yang membasahi pipi yang katanya Vero chubby.
"Kamu serius sama aku Ver?" Vero mengangguk yakin.
"Gw serius sama hubungan ini dan juga cinta ini. Lulus SMA nanti, gw bakal ngelamar lo secara resmi di hadapan orang tua kita berdua" ucap Vero yang membuat rasa bahagia di hati ini kian bertambah. Tiba-tiba aku teringat akan penyakit yang selama ini menghantui hidupku, membuat perasaan tak pernah tenang.
"Gw... gw punya penyakit jantung Ver" ucapku menunduk lesu. Aku takut jika Vero berharap besar padaku.
"Hah? Penyakit jantung?" Vero terkejut bukan main, jelas sekali dari nada bicaranya.
"Udah di cek ke dokter?" aku mengangguk masih dengan menunduk.
"Aku takut... aku takut nggak bisa nemenin kamu" tangisku pecah.
"Hei... jangan nangis dong, kita berdo'a saja semoga masih ada kesempatan dari tuhan supaya lo bisa sehat kembali" ucap Vero bijak, memberikan sedikit rasa tenang di gelisahnya hati ini.
"Lo... lo terima gw apa adanya Ver?" tanyaku menatap nanar wajah tampan lelaki yang baru beberapa saat lalu menjadi kekasihku.
"Gw terima lo apa adanya Ra, lo percaya sama gw. Gw bakal berusaha untuk selalu ada di sisi lo" ujar Vero.
"Makasih" pelukan hangat dari Vero membuat perasaanku berangsur pulih. Aku dan Vero duduk bersisian menikmati sunset yang sudah mulai hilang. Kusenderkan kepala ini pada bahu Vero sembari menggenggam jari tangannya.
"Pulang yuk, udah mau malem" ajak Vero.
"Nanti dulu, gw masih pengen di sini" tolakku tanpa menatap Vero. Aku ingin memuaskan diri di pantai ini sambil menikmati sunset, entah kenapa aku merasa jika ini terakhir kalinya aku pergi ke pantai ini.
"Ya sudah kalau begitu".
Sunset sudah mulai hilang, digantikan dengan cahaya bulan yang sudah hampir bulat dan taburan bintang-bintang di atas sana.
"Yuk pulang, tapi gw ingin mampir sebentar ke warung pinggir jalan yang jualan pecel lele" Vero mengangguk patuh. Kami berdua berjalan bersama sambil terus berpegangan tangan.
"Lo ngidam?" tanya Vero saat ia mulai melajukan mobilnya mencari warung yang menjual pecel lele.
"Nggak".
Setelah sampai di warung tujuan, aku dan Vero menikmati hidangan yang disajikan dengan lahap. Es teh pesananku yang aku nikmati berdua bersama Vero, menambah nikmat malam ini. Kata Vero supaya makan malam ini terasa lebih romantis dan berbeda. Jika orang lain sepiring berdua, maka kami segelas berdua.
Selesai makan, aku mengajak Vero pergi ke mall yang masih buka. Aku membeli sebuah jam khusus untuk laki-laki yang niatnya ingin aku berikan kepada Vero. Aku juga membeli pakaian batik couple untuk ayah, ibu dan aku serta sebuah high heals untuk ibu dan sepatu pantofel untuk ayah. Setelah puas berbelanja. Aku mengajak Vero pulang, sedari tadi ia hanya mengikuti kemana aku pergi. Aku pergi ke kasir terlebih dahulu untuk membayar belanjaan, selesai membayar. Aku dan Vero masuk ke mobil untuk pulang.
"Ini buat lo, dari gw, pacar lo" ucapku sembari menyerahkan kotak persegi hitam pada Vero.
Vero menghentikan laju mobilnya, menerima pemnerianku dan membukanya.
"Jam? Makasih" ia mencium keningku.
"Sama-sama, pakai terus ya? Kalau rusak langsung bawa ke toko jam buat di benerin" ingatku yang segera Vero anggukan.
"Ya udah yuk pulang" Vero langsung mengenakan jam tersebut dengan sedikit bantuanku lalu melajukan lagi mobilnya menuju rumah.
"Mobil siapa yang?" tanya Vero.
"Nggak tahu, bentar ya. Eh... ikut aja yuk masuk" Vero turun dari mobil dan mengikuti langkahku dari belakang.
"Vera pulang yah, bu!" teriakku menggema di ruang tamu.
"Kak Vila sama.... kak... Ri eh salah... eum.... kak.... Ag... eh bukan juga... oh kak Nino ya?" terkaku pada dua orang tamu yang datang.
"Benar!" sahut kak Vila. Kak Vila dan kak Nino adalah salah satu siswa siswi senior SMA Anak Bangsa yang sangat dekat denganku dan juga Vero.
"Hai bro, gimana kabar lo?" tanya kak Nino memberi salam pada Vero yang tersenyum senang.
"Baik kak, kabar kakak gimana?".
"Baik".
"Ada apa nih kak? Duduk sini Ver" tanyaku pada kedua kakak senior lalu mengajak Vero duduk di sampingku.
"Kakak mau ngundang kamu ke acara pesta pernikahan kakak. Jadi kan kakak, tiga bulan yang lalu nikah sama kak Nino. Kami niatnya mau adain pesta malam ini, di hotel yang gak jauh dari sini. Kalian mau dateng?" jelas kak Vila sekaligus bertanya. Aku dan Vero saling pandang, suara ayah dan ibu yang menyapaku dan juga Vero terdengar di telingaku.
"Datang aja Ra, Ver" titah Ibu.
"Bu, ini tadi aku beli baju couple buat keluarga. Sepasang high heals dan sepatu pantofel buat ibu sama ayah. Tolong simpanin baju aku ya bu?" ibu menerima barang yang aku serahkan dan mengangguk senang. Ia memegangnya sambil duduk di samping Vero.
"Berangkat nggak yang?" tanya Vero.
"Yang?" tegas kak Vila, kak Nino, ayah dan ibu bersamaan.
"Oh iya, tante, om, kak Vila sama kak Nino. Jadi, sore tadi aku dan Vera sudah sah berpacaran, dia nerima saat aku nembak dia" jelas Vero.
"Wahhhhh selamat ya" ucap kak Vila diikuti kak Nino.
"Pa-pacaran?" gagap ibu.
"Iya bu" sahutku lumayan takut.
"Ahhh ibu seneng banget, ya kan yah? Akhirnya anak ibu punya gandengan juga. Selamat yah, cepet-cepet di bawa ke pelaminan Ver" ucap Ibu yang mendapat anggukan dari Ayah.
"Siap om, tante" sahut Vero senang.
"Jadi gimana? Kalian mau dateng? Jam delapan malam ini" tanya kak Vila lagi.
"Ok, kami akan berangkat" sahutku. Setelah bercakap-cakap sebentar, kak Vila, kak Nino dan Vero pamit pulang. Vero akan kembali ke menjemputku nanti pukul delapan.
"Makasih yah nak untuk semua ini" ucap ibu sambil mengangkat belanjaan dariku.
"Iya bu, ya udah kalo gitu. Vera pergi ke kamar dulu ya, mau istirahat sama mandi sebentar" ibu dan ayah mengangguk.
.
.
"Sayang... bangun!" sayup aku dengar suara Vero menyuruhku untuk bangun.
"Vero?" aku menggeliat di atas kasur yang sepreinya basah karena disiram ibu pagi tadi.
"Iya, bangun yuk. Kita berangkat" aku mengerjap berusaha mengumpulkan nyawa. Setelah nyawa terkumpul dan cuci muka serta berganti pakaian dan menyisiri rambut. Aku mengajak Vero keluar sambil menenteng tas slempang kecil.
Vero melajukan mobilnya sambil menggenggam tanganku menuju hotel tempat diadakannya pesta pernikahan kak Vila dan kak Nino sesuai petunjuk yang sudah diberikan oleh kak Vila.
Sesampainya di hotel, aku segera masuk bersama Vero setelah di sambut oleh satpam yang berjaga. Aku menyapa semuanya, bukan hanya aku saja senior tahun ini yang hadir, karena sahabatku Alvin juga hadir dan sedang minum sirup di pojokan. Suara alunan musik yang diputar terdengar mendebarkan hati. Aku dan Vero diajak masuk lebih dalam oleh kak Vila.
Pesta berjalan cukup lama. Jam di hpku menunjukan pukul satu dini hari. Pulang pulang aku pasti akan kena omel oleh ibu. Akhirnya aku mengajak Vero pulang setelah berpamitan pada kak Vila dan kak Nino.
"Hati-hati di jalan yah" aku mengangguk.
"Ehhh.... kalian kok pulang cepet banget sih?" cegat Alvin.
"Iya vin, sorry ya... udah malem soalnya".
"Minggir Vin, gw sama cewek gw mau lewat, ngalangin jalan aja lo" ucap Vero.
"Cewek gw? Kalian pacaran?" cecar Alvin.
"Iya vin, gw udah pacaran sama Vero".
"Wahhh... selamat ya, semoga bisa bertahan sampai naik ke pelaminan. Jangan lupa, kalo udah nikah bikinin keponakan buat gw. Hati-hati di jalan ya, jaga sahabat gw dengan baik" pesan Alvin.
"Makasih!" seruku dan Vero bersamaan.
Mobil sport merah Vero dia lajukan dengan kecepatan sedang menembus gelap dan sepi nya malam. Suara hewan malam sudah mulai terdengar. Bukan malam lebih tepatnya karena waktu sudah menunjukan pukul setengah dua dini hari.
"Akhhh..." erangku sambil memegang dada kiriku. Dadaku tiba-tiba terasa sakit dan sesak. Suara kepanikan Vero mulai terasa samar di dengar, mobil ini dia lajukan secepat mungkin menuju rumah sakit dua puluh empat jam. Tubuhku mulai kejang. Aku di baringkan di atas bed dan di bawa ke ruang UGD.
.
.
Terlambat sudah semuanya. Penyakit jantung yang di derita oleh Vera sudah merenggut nyawanya. Kematiannya menjadi kabar paling buruk yang tak pernah ingin sahabat, kerabat terutama keluarganya dengar. Tangis sedih pecah dari pelupuk mata orang-orang yang ditinggalkan. Tahlilah tujuh malam diadakan di rumah duka. Baju batik couple, high heals dan sepatu pantofel adalah hadiah terakhir dari almarhumah untuk ayah dan ibu nya. Sedangkan jam tangan itu, menjadi benda pertama dan terakhir yang almarhumah berikan pada Vero, kekasihnya.
Tepat setelah tujuh malam tahlilan dilaksanakan, Vero mengalami kecelakaan beruntun di sebuah tol. Ia meninggal saat di bawa ke rumah sakit, rumah sakit dua puluh empat jam yang dulu menjadi saksi bisu Vera meregang nyawa. Usaha para dokter untuk menyelamatkan Vera kala itu, hanya sia-sia belaka. Oh tidak! Tidak sia-sia, namun ketika tuhan sudah berkehendak untuk menjemput ajal seseorang. Maka orang tersebut tidak akan bisa lari walaupun sudah bersembunyi di ruangan tahan rusak, bom, peluru dan semacamnya. Kecanggihan jaman pun tak akan bisa mengalahkan kuasa sang tuhan.
Jenazah Vero di makamkan di samping kuburan Vera. Itu adalah pesan Vero pada kedua orang tua nya dan kedua orang tua Vera.
Alvin, lelaki itu berusaha untuk tetap normal dan berfikiran lurus. Ia hampir saja melakukan percobaan bunuh diri saat kedua temannya meninggal.
__________________TAMAT____________________
Terima kasih untuk kalian yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca cerpen pertama author dan memberi like serta komen positif.
Jika ada typo di mana-mana dan salah penetapan kata. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.