Malam berlalu dalam balutan waktu yang tak kukenali lagi, bersama dengan deras hujan membawa dingin merasuk namun masih saja asing dalam rasaku. Jika saja keadaan tak mampu menjadikanku lebih baik maka setidaknya Jangan berikan aku waktu lebih panjang untuk menuai dosa yang berlebihan.
"Kau tau bahwa hidup itu pilihan, bukan?" Kali ini kata-kata bijak yang sering terdengar seperti kertas yang hanya siap untuk disobek-sobek.
"Benarkah kau ingin meninggalkan semua ini?" Jangan bertanya tentang sesuatu yang sudah kau tau jawabannya, bahkan jika itu sekedar basa-basi.
Aku tak butuh lagi nasihat, ajaran, atau apapun itu. Aku membutuhkan warna yang membuatku lebih bisa mencintai kehidupan yang aku punya sekarang sebelum aku memutuskan untuk berlalu.
"Ingatlah bahwa masih banyak yang menyayangimu" Tak perlu bersembunyi dibalik kata-kata indah, kata-kata yang perlahan membunuhku padahal aku membutuhkan pijakan untuk bisa berdiri lagi.
"Semangatlah...jangan menyerah" Memang mudah untuk berkata-kata namun kau dan kalian semua hanya jadi penonton dari drama kehidupan yang kumainkan, kau dan kalian semua pasti tak tahu betapa hatiku sudah hancur penuh nanah karena luka yang terus bertambah dan tak terobati.
"Ingatlah akan hari akhir karena semua akan ada pertanggungjawaban" kalimat itu bagiku hanya sebuah dongeng yang akhirnya melenakan aku dalam sebuah ambisi yang aku kira indah namun justru membuatku semakin dalam terpuruk.
Disini di atas puncak gedung berlantai 15 aku putuskan untuk melompat, apa yang akan terjadi selanjutnya aku tak mau perduli lagi.
"Sungguh kau melakukan kesia-siaan".