Sang Jalanan.
Sedikit lelah kupandangi kendaraan yang berlalu lalang, tak tahu apa yang harus aku lakukan hari ini, perut yang belum terisi menambah suram hari-hariku, siapa yang harus kumaki?.Aku menghampiri sedan yang menunggu lampu merah, sedikit harap terbuka kacanya kunyanyikan lagu kemesraannya iwan fals, yang kudapat hanya lambaian tangan dan senyum, kubalas pula dengan senyuman, senyuman pasrah atau pemanis saja aku sendiri tak bisa menjelaskan.
Pengamen sepertiku memang tak banyak membutuhkan penjelasan dalam hidup, bagaimana bisa menjelaskan kehidupan, memikirkan beberapa menit setelah ini terjadi apa saja tak berani, semua serba tak pasti seperti halnya takdir dan keberuntungan, kedua hal yang kuyakini akan tertulis sesuai dengan perlakuan terhadap itu sendiri, banyak kebaikan akan berimbas keberuntungan semakin mendekati, dan prasangka baik kepada Tuhan akan diwujudkan dengan goresan takdir baik buat hidupku.
Jam di tugu tengah perempatan menunjukkan angka 3, perutku hanya dibohongi air putih punya Lik Dullah tukang becak, profesi yang hampir tak ada kepastian juga kisahnya, sama saja dengan jalanku.
Pikiranku kian kacau, sama kacaunya dengan perutku yang memang sudah tak normal setiap hari, mau kubawa kemana hidup ini? pikiran yang menerawang kosong di sela tangis dalam hati, tetap keyakinanku Tuhan itu baik, kalau memang ditakdirkan tidak dikasih makan, aku sudah di bunuh dari kemarin-kemarin sama Tuhan, dengan seribu cara sesuai kemauanNYA.
Mandor, asongan kopi dan juga sahabat yang kuanggap penyelamat hari ini, dia membawa kantong hitam yang mungkin berisi nasi, dan dugaanku benar, nasi dan tempe yang menurut kami lebih berharga daripada segenggam emas, akhirnya kecamuk dalam perutku bisa dituntaskan walau nantipun bingung lagi, setidaknya hari ini aku bisa menyambung hidup dan senyumku, ya.. begitulah hidup di jalanan, seperti burung yang hari ini mengusahakan makan, pulang ke sarang besok pergi mencari lagi, hidup hanya untuk hari ini, besok pikir nanti.
Aku menoleh sejenak ke arah rambu tanda dilarang berhenti, aku lupa hari ini adalah hari sabtu, yang berarti aku tak bisa melihatmu seperti hari biasa ketika kau berdiri bermain dengan angin, sampai jemputanmu datang.
Ada seraut wajah dan sebuah nama yang terbayang sore ini.
Wajah lonjong, mata belok, rambut hitam legam terurai sepinggang, kulitnya putih kecoklatan bagai kayu jati muda yang kena pelitur, bukan sore ini saja sebenarnya, sudah sejak beberapa bulan yang lalu menggelayut di ruang nurani entah sebelah mana, timbul tenggelam menghadirkan kegelisahan tersendiri di saat perut sudah berdamai dengan nasi, nama itu seperti menjadi capuk yang kadang kering kadang bernanah basah, menghadirkan kelembaban indah di relung hati, raut yang mungkin biasa saja bagi orang lain tapi sangat berkilauan di mataku, lebih silau dari setumpukan emas di bawah temaram rembulan purnama sidi, tapi aku belum berani menggapainya juga, walaupun sebenarnya sudah sangat dekat, wanginya, desahannya, jejak kakinya benar-benar ada di depan mataku selama beberapa minggu terakhir.
Keadaanku yang seperti daun kering terombang-ambing angin, membuat aku menjadi selemah itu untuk sekedar menggapai, sesuatu yang harusnya merupakan hal remeh bagi orang lain, mungkin juga karena masih ada gema suara obrolan bangsat dari teman-temanku itu, waktu beberapa minggu kemarin aku curhat santai sambil ngudud.
" Oalah... kamu mbok ngaca dulu, ndak usah bermimpi yang terlalu tinggi, takut ketabrak helikopter kan sakit, cinta itu mahal cuk, jer basuki mawa bea, Ingin bahagia itu perlu biaya, cinta itu hanya untuk orang mapan dan sukses, lha kamu kapan mau mapan?? kalau bisa mapan aku minum kencingmu, lha wong ngamen aja masih angin-anginan kadang masuk kadang alpa, hahaha " mandor berkata sambil menjambak rambutku, tawanya puas, ya puas mengejek.
“ Lho!!, siapa saja boleh bermimpi ndor, aku pernah baca buku, kata motivator semua hal besar berawal dari mimpi, siapa tahu memang dia itu rejekiku, jangan pesimis Ndor, hidup itu kan juga sama kaya matematika, siapa tahu aku yang minus ini ditambah dia yang plus jadinya rata-rata, bener ndak Lik Dul?”, aku menoleh ke arah Lik Dullah mencari dukungan.
“Embuh cuk, pikir aja sendiri kira-kira pantes ndak kalau atasannya pakai kemeja lengkap jas dan dasi tapi bawahannya pakai kolor” tukas Lik Dullah sambil tersenyum, lebih tepatnya menyerangai seperti orang yang melihat tukan becak bayar hutang rokok di warung Yu Misinah.
“ Iya kalau ditambah, kalau dikali plus sama minus itu jadinya minus, apa kamu ndak kasihan sama dia nantinya setelah dapat kamu malah blangsak berantakan, mending kamu deketin aja Karsini penjual jamu gendong itu, janda anak satu beli satu gratis satu, dan bisa diajak sengsara seperti kita sekarang ini hahaha... “ imbuh Mandor sambil menghembuskan asap rokok perlahan.
Kata-kata mereka itu terasa membuangku di dalam lubang kenistaan, apakah aku memang tak pantas untuk mendapat senyuman dan cinta dari oranglain? atau karena apa yang aku harapkan itu terlalu besar, sehingga aku terlihat terlalu naif untuk menyadari, bahwa yang aku inginkan itu terlalu jauh jaraknya, mungkin saja mereka benar, harusnya aku bersyukur bisa melihatmu berdiri di sebelah rambu itu setiap sore, dan menghilang masuk ke sebuah mobil yang menjemputmu, mungkin juga benar kata Obbie Mesakh dalam lirik Natalia “ Jangankan dalam percintaan, di dalam kehidupanpun aku kalah”.
Pengamen, asongan dan tukang becak, profesi jalanan merupakan orang-orang yang masih kalah dalam kehidupan, bagaimana bisa meraih kisah percintaan yang kastanya segaris di atas kehidupan?, bagaimanapun dan apapun setiap manusia punya hati yang harus dihangati oleh cinta, begitu juga denganku.
Nama itu yang selalu ada di kepalaku, saat terbaring di depan ruko yang berpapan DR. SUSILO ADIKARJO itu, hanya ada satu teman yang selalu membesarkan hatiku, Suryo berbisik serius kepadaku " wis to Thong, walaupun kita cuma makan nasi garam kalau memang dia melihatmu suatu saat pasti akan mendekati "
Blitar 1999
Di Istana
" You make my world so colorful i've never..had it so good ..my love i thank you for all the love.. you gave to me "suara Daniel Sahuleka yang memenuhi kamar mengingatkanku padamu yang sedang berjuang di jalanan, hatiku terusik resah ketika mendengar lagu yang sering kudengar, saat aku menunggu mobil yang menjemputku sepulang kuliah, lagu yang sering kamu nyanyikan dengan petikan gitar yang lembut, selembut suaramu yang syahdu di antara bising jalanan dan teriakan pedagang asongan.
Anganku terbang saat siang itu kulihat kau terduduk lemas di depan ruko yang tertutup di sudut perempatan, wajahmu tak bisa dibilang tampan, kulitmu coklat kusam, rambutmu sedikit gondrong menutupi kuping, tak ada bekas tindik, tak ada tato di kulitmu, kaosmu agak kumal tak bersetrika, bekas luka sayatan ada di sebelah pipi kirimu, sering kulihat mata keputusasaan yang sangat dalam, dalam bising jalanan samar kudengar kamu mengeluh dan menunduk " Duh Gusti kula nyuwun ngapura (Ya Tuhan aku meminta maaf) kucoba menerjemahkan sedikit kata-katamu dalam pemahamanku, akhirnya kuberanikan diri mendekatimu, ketertarikan diriku kepadamu karena kamu seperti tak pernah peduli pada sekelilingmu, asyik dengan gitar dan pandanganmu sendiri, tidak seperti teman-temanmu yang berusaha mengajak ngobrol atau sekedar cucuitan ketika setiap aku berdiri di sebelah rambu tanda dilarang berhenti, rambu yang juga berlaku untuk kehidupan bahwa kita harus terus berlari dalam setiap waktu, tak boleh sedikitpun berhenti kalau tidak mau terlindas oleh nasib.
“Panji, tapi teman-teman biasa memanggilku Monthong”, begitulah kamu mengenalkan namamu saat aku mencoba berbasa-basi, entahlah mengapa begitu kuat aku ingin menyapamu dan ingin memuaskan rasa penasaran atasmu, kucoba sedikit masuk kedalam duniamu dan menelisik kehidupanmu, seberapa menarik kehidupanmu di jalanan, sehingga aku sering mendengar kau bergumam sendiri atas dirimu yang tanpa sengaja kudengar sebagai puisi.
Tak perlu berlama-lama sampai aku bisa mengakrabkan diriku denganmu
Sejak itulah pelajaran hidup mulai kumengerti dan nafasmu mulai masuk ke dalam jiwaku, aku tak mengerti kenapa aku yang selalu berdekatan dengan kemewahan malah ingin turun ke duniamu dan membantumu menemukan jawaban hidup, aku selalu senang melihatmu bernyanyi di samping pintu mobil-mobil yang berhenti di lampu merah dengan gitar dan senyumanmu,aku selalu kecewa saat mobil jemputan membunyikan klakson dan memaksaku pulang, ada rasa yang tak bisa kuungkap uraikan dengan logika.
Ada bimbang saat ingat kata-kata sahabatku yang terkesan meremehkanmu " Apa kamu ndak sadar, ada yang lebih pantas dari dia yang hanya hidup di jalanan, apa yang bisa dia berikan untukmu?? makan aja susah,untung aja sekolahnya ngga ikut buyar di jalan, pilih salah satu dari mereka yang bisa memberimu lebih" kata-kata itu seperti hambar terdengar di telingaku, tapi yang ku butuh bukan sekedar senang-senang, aku sudah mendapatkan semua dari orang tuaku, aku membutuhkan semangat seperti yang kau punya, aku membutuhkan nafas seperti yang kau punya, kau selalu bisa menyatu dengan siapapun,dengan jalanan, para tukang becak, tukang koran, dan pedagang asongan yang lebih tua darimu, kau selalu bisa membuat mereka tertawa dengan kata-katamu, walau kulihat beban yang ada di matamu menggelayut,
Naluri remajaku mungkin bermain disini,aku tak mampu memaksamu untuk membawaku masuk kedalam duniamu lebih dalam, tapi aku juga tak yakin kamu berani membawaku masuk kedalam hatimu, tapi puasku terpenuhi dengan seperti ini, kamu selalu mau membantuku membuat tugas kuliah dan akupun bisa menemuimu di depan kampus, aku juga bisa membuatmu mau bersamaku kursus mengemudi dengan biayaku, aku juga menanggung biaya nembak SIM A dan SIM C-mu, agar aku bisa menculikmu untuk sekedar mengantarku jalan-jalan dengan mobil atau motorku, walau dengan sedikit paksaan akupun bisa bersamamu untuk datang ke kios sewaan emakmu yang tak jauh dari Makam Bung Karno, atau sesekali kupaksa kamu mengantarku sampai rumahku, dan aku melihat tak butuh waktu lama dan tak ada masalah kamu berkomunikasi dan membaur dengan keluargaku, Abahku sering ngobrol denganmu panjang lebar mengenai ayam aduan dan burung kicau, sesekali juga makan nasi rawon buatan ibuku, mengantar ke pasar atau sekedar ganti tabung gas elpiji.
Pernah sekali waktu aku membawakan makanan untukmu, atau sekedar buah-buahan, roti dan kue kering.
Bagiku ini adalah cara agar aku bisa tetap mengawasi dan berdekatan denganmu agar hatimu tetap terjaga untukku sampai kita cukup sadar dan punya keberanian melawan kenyataan, karena aku yakin kamu punya kekuatan untuk membawaku.
Begitulah hubungan kita terjadi dan mengalir saja, witing tresna jalaran saka kulina, pohon cinta akan tumbuh subur karena terbiasa, terbiasa disiram, dipupuk dan dirawat dengan baik, bukan karena rayuan angin atau belaian embun yang sesekali hadir, cinta kita tumbuh karena kamu selalu rutin hadir dalam hidupku, kamu selalu ada saat aku kesulitan, sedih atau bahagia.
Kamu tak pernah memintaku untuk menjadi pacarmu seperti teman kuliahku yang berpacaran, aku tak tahu kapan tanggal kita jadian, namun aku tetap bisa merasakan bahwa kamu memang benar-benar menginginkanku, dan entah sejak kapan kemudian kamu memanggilku adik dan aku memanggilmu mas.
Sepertinya hidupmu memang kamu siapkan untukku saja, setiap aku menginginkanmu ada, kamu benar-benar ada, bahkan teman kampusku bilang kamu adalah peliharaanku.
Dan aku juga tak hanya mengakrabimu saja, tanpa sadar aku mulai terbiasa mengobrol dengan Mandor, Suryo, Lik Dulah, manusia jalanan itu asyik tak sesangar apa yang banyak orang pikirkan, memang terkadang ada umpatan keluar dari mulut mereka, namun yang pasti itu adalah ekspresi keakraban, dan jalanan itu bebas dari kemarahan yang seperti orang gambarkan, yang ada hanya sebuah rasa persaudaraan yang kuat, tanpa kemunafikan, tanpa kepura-puraan dan tanpa basa-basi.
Serpihan jalanan
Pikiranku melayap ke berbagai sudut waktu saat aku bersamamu, sebelum aku pergi saat ku belai manjamu, saat kau paksa aku masuk keduniamu, tanpa aku sadari akhirnya kamu dapat kuraih, ya setelah kamu sering memaksaku melakukan apa yang kau minta, dan anehnya akupun tak mampu menolak, memang segala sesuatu telah dijalankan sesuai keinginan kita, berjalan perlahan menuju apa yang kita sugestikan, ketika kita menunjuk arah utara secara terus menerus, tanpa kita sadari kita sudah sampai pada suatu tempat di utara, tanpa kita sadari juga sepanjang apa jalan yang mengantar kita sampai pada tujuan, begitulah kekuatan sugesti bekerja, tak perlu banyak berdoa yang merepotkan Tuhan, sebab doa yang baik adalah konsisten mengerjakan sesuatu dengan baik sesuai apa yang kita cita-citakan, dan cukup bersyukur kepada Tuhan ketika kita menyadari banyaknya hal dalam kehidupan entah sukacita atau duka lara, ya semua harus disyukuri, sebab banyak meminta sama saja meremehkan nama Tuhan yang Maha Mengetahui.
Sampai saat kau harus pindah kampus ke kota malang, akupun memutuskan pindah kesana juga, meneruskan jualan es buah Paklik-ku yang menemukan lahan baru untuk berjualan es juga, di Malang kita pun semakin matang menjalani cerita kita, cintamu semakin meraja dan maukupun semakin menggila, kau selalu datang di siang hari saat selesai kuliah dan menemaniku di sebelah gerobak es ku, kamu tak malu membantuku melayani pembeli es atau sekedar mencuci mangkok bekas mereka, walaupun sore harinya akulah yang harus membantumu mengerjakan tugas kuliahmu, badanku capek tapi aku tak bisa menolak, di mataku kamu adalah sang lembut, setiap kata-katamu adalah motivasi bagiku, aku berpikir kamulah pertama dan terakhirku.
Surat panggilan itu datang dan aku harus pergi memenuhi panggilan itu demi mimpiku, mimpi untuk membawamu ke hubungan yang lebih direstui oleh orang tua kita berdua, karena aku mengingat pembicaraanku dengan Abahmu di suatu sore yang tak bisa kuingat tanggal dan harinya.
“ Nak, setiap hubungan harus ada ujungnya, orang pacaran harus berujung pada dua hal, dan kamu harus memilih salah satunya, menikah atau putus meninggalkannya, dan keduanya mendatangkan akibat masing-masing bagi hati dan hidupmu “ ujar Abahmu sambil menyemprot burung muray batu di dalam sangkar.
Aku menarik nafas panjang “ Iya pak, saya sudah memikirkan dan membicarakan dengan diri saya sendiri, saya pasti membawa anak bapak untuk mendampingi hidup saya bah “
Abahmu menoleh ke arahku dan tersenyum tipis “ Nah, untuk itu suatu keharusan kamu harus membahagiakan dia dengan layak, persiapkan segala sesuatunya mulai dari sekarang “
“ Contohnya seperti apa bah? kalau mental tentu saja saya sudah siap lahir dan batin, dan materi saya sedang mengumpulkan sebisa saya “
“ Benar Nak, masa depan harus dipersiapkan walaupun kita tak akan pernah bertemu masa depan, yang kita temui selalu hari ini, Dia satu tahun lagi lulus kuliah dan itu bukan waktu yang panjang, maaf menurut bapak kamu tak cukup hanya mengamen dan jualan es saja nak, Abah juga ndak akan melepas anak abah kalau tak yakin siapa yang akan menggendongnya, memang uang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang, mulailah memikirkan itu, saran abah pergunakan ijazahmu sebagaimana mestinya “
“ Insya Allah saya akan mengusahakan dengan keras lagi bah, mudah-mudahan ada jalan yang baik untuk saya”
“ Amiin, Abah juga ikut mendoakan “ Abahmu mengelus kepalaku dan beranjak ke kandang meninggalkan aku, termangu dengan kepala yang berkecamuk, sampai kamu keluar dari kamarmu dengan senyuman.
Sejak itu, aku mulai menulis beberapa surat lamaran kerja dan mengirimkannya melalui Pos kalau ada iklan lowongan yang aku tahu baik dari koran, radio atau teman, aku tak lagi mau terjebak di kehidupan hari ini makan besok pikir nanti, aku memimpikan sebuah kemapanan yang selama ini seolah menjauh dari hidupku.
Dan mimpi itu sepertinya sedang mulai mendekat, ya..sebuah pekerjaan di Jakarta menantiku dan aku harus penuhi itu, dan aku berangkat dengan iringan doa dari orang tuaku dan tentunya amanat darimu untuk cepat kembali.
" Hati-hatilah di sana mas,pulanglah membawa mimpi kita " katamu sambil memelukku di depan terminal bus Blitar
“Pasti dik, adik juga jaga diri ya, yang rajin kuliahnya, setelah ndak ada mas jangan nyari orang lain untuk bantuin tugas kuliahmu, nanti lama kelamaan jatuh cinta pas aku pulang melongo lihat kamu digandeng cowok lain”
Kamu memukul pelan pipiku “ Ngomong apa sih mas, pasti memang berat ndak ada mas seperti biasanya, tapi Insya Allah adik kuat-kuatin mas, ndak bakal ada yang bisa menggantikan pokoknya”
“ Pinter adik ini kalau nyenengin hati mas, jadi yakin pas mas pulang nanti kita langsung datang ke KUA hehehe...mulai sekarang naik kereta aja kalau bolak-balik ke Malang, ndak usah naik mobil atau motor lagi ya “
“ Iya mas, adik juga takut kalau harus nyetir sendiri apalagi jarak jauh “
“Dik, yakinkan kita saling menunggu dan setia ya, jangan bosan menunggu mas, mungkin mas ndak bisa memberi kabar terlalu sering, maklum mas juga belum tahu akan seperti apa nanti di sana, yang jelas aku akan pulang membawa mimpi dan keingingan kita berdua, mas pamit ya?”
“ Mas, adik sayang mas, dan adik akan selalu menunggu mas “ matanya mulai berair, lelehan air bening mengalir di wajahnya yang terasa melesap sampai ke hatiku yang tiba-tiba perih, yang membuat sesak dadaku.
“ Iya dik, mas juga sayang dan cinta sama adik, percayalah sama mas seperti mas mempercayai adik “ aku melepaskan pelukannya dan naik bus yang membawaku pergi dari Blitar menuju Jakarta.
Setiap kata-kata dan janji-janji yang kita ucapkan, selalu kuingat saat setahun yang lalu aku meninggalkan dirimu dan semua yang ada di Blitar, ya hari ini aku kembali dari Jakarta!!,
Pipit adik yang kusayang, kekasih hati yang kuperjuangkan di antara keras dan keloknya kehidupan ibu kota, Monthong datang membawa segala sesuatu yang sudah kita rencanakan, aku bawa mimpiku dan mimpimu, aku siapkan semua kekuatan dan batinku, ingin cepat ku temui kamu bunga hatiku, ingin ku kabarkan cerita tentang kehidupanku setahun kemarin padamu, ingin ku tumpahkan rinduku.
Tuhan punya segalanya untuk menentukan kehidupan manusia, yang baik akan selalu di berikan walau aku tak menginginkan, dan yang buruk akan selalu dijauhkan walau aku sudah sangat mengidamkan.
Sore ini lelehan air mata itu membuat bengkak kedua matamu yang tak lagi bening, isak tangismu pelan dan menusuk tepat di pusat jiwaku yang sedang buncah akan harapan
"Mas kita tak bisa meneruskan ini, ada orang lain pilihan abah dan aku harus menyerah di sini"
Ahai!! kata-katamu melayap ke dalam setiap ruang kenangan tentang kita merobek-robek mimpi yang lama tertunda, jika ini pertanda bahwa aku harus mematahkan mimpiku, akan siapkan kain kafan untuk membungkus degup hatiku, membungkus mauku yang menggila, membungkus sentuhanmu dan menguburnya di kedalaman jiwa tanpa tangis.
Pipit dan Panji, kamu dan aku yang sekian waktu berkhayal di dunia kita sendiri, yang sempat mengabaikan bahwa hal yang terlalu berjarak bisa disatukan, yang bermain-main dalam ketidak sadaran bahwa api dan air tak bisa disatukan, hanya bisa berdampingan dengan resiko saling mematikan dan mengotori.
Ya kitalah yang bergandengan tangan menyeberang garis perbedaan, kitalah yang berbimbingan memasuki alam kita sendiri nyatanya kita kalah oleh lengan kenyataan, kita sudah di peringatkan oleh banyak orang bahwa rasa kita seperti lumpur yang akan menenggelamkan kita, dan kata-kata mereka benar.
serpihan istana
Aku tak berani memberi tahumu ketika Abah mengajakku bicara dua bulan yang lalu,
“ Yakinlah Pit, Herik itu bisa membahagiakanmu, Abah sudah kenal baik siapa keluarganya, bukannya Abah tak setuju sama Panji, tapi Abah takut atas kebahagiaanmu nanti, sampai saat ini saja belum pulang dari Jakarta, kita ndak tahu seperti apa kehidupan dia di sana”
“ Pipit, yakin mas Panji lebih bisa membahagiakan pipit bah “
“Sudahlah nduk, ini untuk kebaikanmu juga, kamu itu harus yakin sama orang tua sendiri, Abah memilihkan semua yang ada di kehidupan kamu dari bayi sampai dewasa sekarang dan nyatanya semuanya tidak keliru, maka yakinlah sekali lagi sama Abah dan Ibu “ Nada Abah agak meninggi, aku terdiam menatap Ibu, dan beliau hanya tersenyum.
Mas, maafkan adik yang ternyata kekuatan orang tua selalu lebih besar karena mereka bisa menghadirkan rasa bersalah jika harus dilawan, mungkin karena hutang budi kehidupan kepada mereka, sehingga kadang dipaksa mengingkari janji secara terang-terangan, bahkan perasaan tak mempunyai kekuatan atas hidup diri sendiripun terasa lebih masuk akal, kematian sepertinya lebih menjanjikan sesuatu yang membahagiakan.
Semoga kamu masih sekuat dulu dalam menghadapi ketidak pastian kehidupan mas, aku sedang merasa bersalah padamu dan aku tak sekuat kamu.
Aku terduduk di pinggir ranjang sambil memegang dan menimang obat nyamuk cair.
=======================
================