Ia mengintip dari celah pintu. Sejauh batas pandangnya, ada tiga pengawal yang berjaga di sekitar paviliun. Jumlah yang masih bisa ia atasi, pikirnya. Ia mundur satu langkah, menghirup napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Butuh waktu beberapa detik untuk membulatkan tekad.
Sekali lagi ia mengintip ke depan. Jemari tangan kanannya menggenggam erat buku tua yang nyaris lepas di beberapa halaman, sementara telapak tangan kirinya berpegang pada gagang pintu. Tak sedetikpun ia lewatkan untuk memperhatikan gerak-gerik penjaga yang mengurungnya di kamarnya tanpa boleh seorangpun mengunjunginya. Mengingat terakhir kali ia berusaha keluar dari ruangan, dan malah mendapat pukulan di kedua kakinya. Bahkan sampai detik ini rasa nyeri masih menyelimuti pergelangan kakinya. Beruntung ia tak mendapat bekas luka yang berarti.
Ia mengangkat bagian bawah gaun putihnya, mengabaikan sobekan serta bercak kecokelatan di sepanjang tepiannya. Para penjaga lengah, membiarkannya menyusup di gelapnya malam. Langkahnya pasti walau tertatih. Tujuannya satu, aula leluhur yang sudah lama tak digunakan. Semangatnya membara, namun kecerobohannya membuat ranting yang tak sengaja ia injak bergejolak. Suara retakan yang bergema di sepinya suasana, menarik perhatian beberapa mata.
"Siapa di sana?!"
Panik, Ia bersembunyi di balik pepohonan. Beberapa langkah kaki mendekat. Ia menahan napas. Dadanya bergemuruh seolah jika tertangkap adalah akhir baginya. Tak lama deru pijak kaki itu semakin menjauh. Sepertinya, mereka tidak menemukan keanehan. Ia kembali melangkah, namun belum bisa sepenuhnya merasa lega. Mengingat banyaknya mata yang mengawasi seisi istana, membuatnya tidak berani menyalakan cahaya. Berkamuflase di kegelapan adalah kelebihannya.
Ia bergegas memasuki bangunan diselimuti lumut itu. Kendati pilar-pilarnya begitu besar, namun sekarang terlihat akan runtuh kapan saja. Sisi-sisinya terdapat banyak sarang laba-laba. Lantai aula yang tengah ia lukis sedikit tergenang air akibat hujan tempo hari. Siapa yang mempedulikan hal itu jika hidupnya saja sudah tidak ada harapan.
"Sekarang saatnya." Ia duduk bersimpuh setelah selesai menggambar lingkaran sihir yang ia pelajari dari buku. Ia mulai membalik halaman demi halaman. Tangan kanannya ia todongkan ke sebuah lingkaran hitam di depannya, sementara bibirnya merapal mantra terlarang.
Cahaya kemerahan mulai muncul ke permukaan. Semakin pekat seiring dengan irama yang ia gumamkan. Tawa jahat menggema. Sinar berubah membentuk gumpalan asap, lalu begitu ia selesai dengan tugasnya, sesosok bayangan burung hitam besar tercipta dari kumpulan asap yang memadat. Lalu perlahan menyusut perlahan menjadi seorang pria.
Ia tersungkur ke belakang karena terkejut. Tak disangka ia berhasil memanggil iblis ke dunia. Ia lega, namun juga ketakutan. Bagaimana jika sosok di hadapannya berbalik menyerangnya.
Iblis itu melangkah ke depan. Ia semakin mendekat, membuatnya terdiam mematung di tempat. Mata yang merah pekat, badan yang tegap terbungkus jubah hitam bergaris merah di setiap ujung kainnya, taring dan tanduk yang tajam, serta aura yang kuat membuatnya tak bisa berkata-kata.
"Kau kah itu yang memanggilku, sang Tarak?" Tanya iblis itu dengan suara berat. Wajah dan tubuhnya normal selayaknya manusia biasa.
"Benar. Akulah yang memanggilmu dengan satu tujuan, wahai iblis." Jawabnya jelas. Ia kembali membenarkan posisinya, lalu bangkit berdiri di hadapannya.
"Besar sekali nyalimu, manusia. Jelaskan tujuanmu."
"Aku Liu Shi. Jadilah penjagaku, bantu aku meratakan istana ini." Walaupun terdapat rasa sakit di dalam dadanya, Liu Shi tetap tegas mengutarakan tujuannya.
Dia tak pernah lupa akan perlakuan Permaisuri dan selir lainnya kepadanya. Kaisar yang membawanya ke istana pun tak mempedulikannya, menganggapnya seperti pelayan lainnya. Hari-harinya yang mengerikan, serta hatinya yang hancur menantarkannya sampai ke titik ini. Tak habis pikir dengan para penghuni istana yang berstatus tinggi, bahkan sesama selir pun sering kali memukulinya.
Liu Shi tak pernah menginginkannya. Sejak awal, ia dihadapkan dengan pilihan yang sulit, yang memaksanya untuk menjadi bagian dari istana. Walaupun sang Kaisar sendiri tak pernah menyentuhnya. Ia masih ingat saat pria yang dicintainya diadili di depan mata. Sampai sekarang, ia sadar bahwa menangisinya pun hanya sia-sia. Dirinya tak diberikan kesempatan untuk menyerang balik. Ditambah pengurungan yang dialaminya membuat amarahnya memuncak.
"Aku ingin para orang licik itu menerima balasannya." Liu Shi terisak. Membayangkan hal yang dilaluinya membuat dadanya sesak. Ia tak sekalipun menyesali langkah yang ia pilih. Karena semuanya akan mengarah ke titik akhir.
"Kau tahu apa bayarannya kan?" Iblis Tarak bertanya untuk sekedar memastikan.
Liu Shi mengangguk, Membuat Tarak tertawa. "Tunggu di sini, jangan melarikan diri."
Tarak melaju secepat kilat. Kini tubuhnya melayang di atas langit istana. Dengan sekali serang, semua bangunan terbakar. Api mengamuk, tak membiarkan apapun tersisa. Sementara Tarak Dan liu Shi yang mendengar keriuhan tertawa puas.
Tertawa bersama air mata, ia tak tahu mana apa yang ia rasakan. Perasaan lega dan sedih, serta kemarahan dan kasihan, berkumpul menjadi satu. Apakah hal ini sudah benar? Ia menepis dengan keyakinan.
"Baiklah, selesai sudah." Liu Shi, di hadapan Tasak sang Iblis, menyerahkan harga yang sangat Mahal.
.
“Dunia memang kejam, hati boleh panas, tetapi kepala harus tetap dingin. Memanggil Tarak adalah hal paling salah yang aku lakukan. Jika saja aku menyadarinya di awal, aku takkan berakhir begitu saja." -Liu Shi.