Kisah ini terjadi ketika aku duduk di bangku sekolah menengah keatas. Yang tidak pernah terbayang akan menjalani hidup seperti ini. Aku tinggal di pesantren setelah lulus sekolah menengah pertama, dan melanjutkan sekolah menengah keatas dengan tinggal di pesantren.
Bukan karena terpaksa, namun dalam hati kecilku juga berharap bisa menjadi manusia baik baik.
Hari hari ku jalanani dengan sabar, ikhlas, dan penuh bersyukur, ku lalui hari hari ku dengan membaca Bismillah.
Pagi sampai siang aku sekolah sedangkan pulang sekolah aku belajar ilmu agama, memang dalam hati terkadang tinggal di pesantren tidak enak karena kurang bebas dan banyak peraturan. Namun aku suka, karena kita bisa terhindar dari kenegatifan.
Hingga tiga bulan lebih aku belajar dan mengaji, sudah sedikit terbiasa dengan keadaan sekarang. Aku memang sedikit minder dan kurang aneh aneh juga sedikit bodoh hingga kebodohanku membuatku terjerumus ke lubang kegelapan.
"Sinta kayaknya kang Neymar suka sama kamu deh" Kata mbak Ana terang terangan "Mana ada mbak, kan kang Neymar sukanya sama mbak" Kataku.
Sejak awal Neymar memang menyukai Ana, hingga cinta Neymar kandas gara gara Ana ada yang melamar langsung ke abah. Terpaksa Neymar mundur dan menjauh meski rasa suka masih bertengger di hatinya.
Hingga kejadian tak terduka ku alami di pagi hari ketika aku pergi ke sekolah. Saat ku menaiki tangga seorang diri di gedung sekola tiba tiba kang Neymar melintas dibawah tangga dengan tersenyum kepadaku, membuatku kebingungan karena kita belum kenal satu sama lain. Hingga ketika jam istirahat terjadi hal mengejutkan. Temanku Doni menghampiriku dan memberikan secarik kertas berwarna putih. Ku terima dengan rasa penasaran. Ku buka dan kubaca tulisan di kertas tersebut yang bertuliskan "Sinta kamu cantik". Duar.....seakan petir menyambar di siang bolong, aku benar benar terkejut. Rasa takut mulai menyelimuti hatiku, mengingat sekarang aku tinggal dipesantren dan kata cinta sudah menjadi kartu merah.
Hingga hari hari berikutnya, dia mengirimi aku surat yang ia titipkan kepada Yani, santri baru yang di khususkan didapur melayani abah. Kuterima surat Yani dengan perasaan takut dan penasaran. Ku buka dan ku baca yang isinya " Entah sejak kapan cinta itu hadir di dalam hatiku, entah sejak kapan aku mulai melihatmu dalam cinta, Sinta....aku menyukaimu, tolong beri aku jawaban aku tunggu". Aku terpaku membacanya, apakah ia benar benar menyukaiku? mengingat Neymar kala itu menyukai Ana, dan aku bingung harus bagaimana. Ku datangi Ana untuk memberitahu surat dari Neymar.
"Mbak Ana...kang Neymar mengirimi aku surat dan ini suratnya" Dengan polosnya aku memberikan surat tersebut kepada Ana tentang ungkapan Neymar kepadaku "Neymar suka sama kamu?" Tanya mbak Ana, aku jawab entahlah.
Hingga entah sengaja atau tidak Ana menyuruhku membalas surat Neymar dan menyuruhku membalas perasaan Neymar. Disisi lain aku takut karena aku sekarang tinggal di pesantren, berkomikasi dengan santri putra itu sudah larangan sangat keras. Namun Ana mendesak ku hingga dengan polosnya aku membalas surat Neymar dan aku membalas perasaan Neymar.
Setiap malam rasa takut menghantui ku, aku takut jika keamanan pesantren melaporkan ku kepada pengurus karena aku melanggar aturan pondok. Kutitipkan surat itu kepada Yani dan ku suruh memberikan kepada Neymar dengan sembunyi sembunyi. Karena setiap habis Magrib Neymar selalu ke dapur mengambil makanan untuk para santri yang membantu abah bekerja.
Sering aku dan Neymar surat suratan tanpa di ketahui siapapun. Entah apa yang di fikirkan Neymar, mengingat ia adalah santri senior namun tidak merasa takut dengan hukuman pesantren.
Hingga suatu ketika aku merasa bimbang, ku cari Yani dan ku ajak bicara serius.
"Yani mulai sekarang jika kang Neymar titip surat lagi jangan kamu terima, aku takut Yan, kamu santri khusus dekat dengan keluarga abah, jika kamu melakukan masalah maka kamu akan mendapatkan hukuman berat" ku bicara serius "nanti aku ngomong sama kang Neymar, mbak Sinta jangan khawatir, tapi kang Neymar itu sangat menyukai mbak Sinta, buktinya sering ngirim surat dan bilang suratnya harus sampai ke mbak Sinta" ucapnya membuatku tambah takut.
Ku bimbang dengan semua ungkapan cinta dan rindu setiap tulisan pena Neymar. "Ya Allah...apa aku dosa jika menyukai dan membalas cinta makhluk ciptaan-Mu bernama Neymar? sungguh aku merasakan cinta setelah cintaku untuk nabi-Mu kepada Neymar, aku mencintainya Ya Robb....". Dalam sujud ku berdo'a kepada-Nya dan berkata jika aku menyukainya, setiap nafas ku berhembus selalu menyebut nama Neymar, akan tidur selalu membayangkan wajahnya ketika tersenyum manis kepadaku, dan ketika aku sholat wajahnya terngiang ngiang dalam fikiranku. Hingga suatu kejadian membuatku terkejut setengah mati. Ketika itu aku terkena pecahan kaca di belakang pondok ketika aku membuang sampah, dan kebetulan aku tidak memakai alas kaki membuat jempol kakiku bagian bawah sobek hingga dalam dan hampir satu minggu aku tidak bisa sholat berdiri dan bayak gerak karena darahnya akan keluar.
Entah apa yang terjadi tiba tiba Yani datang ke kamarku setelah satu hari aku terkena pecahan kaca. "Mbak Sin ini dari bang Neymar, katanya harus di pakai biar lukanya cepat kering" kulihat obat betadin yang di berikan Yani di telapak tanganku. Ku hanya diam, namun sedikit tersentuh karena dia perhatian.
Hingga hari hari berikutnya ia mengirim surat lagi yang isinya menanyakan kabarku. Aku tersenyum membacanya ada rasa bahagia di dalam hatiku, ku balas suratnya dengan perasaan bahagia. Malam harinya kuberikan kepada Yani seperti biasa akan di berikan kepada Neymar di dapur jika bertemu. Aku malam tidur dengan perasaan tak menentu sangking bahagianya. Esok harinya Yani menemuiku dengan raut wajah tak enak di lihat "Mbak Sin maaf suratnya tadi malam belum aku berikan dan suratnya hilang" aku syok bukan main mendengarnya "kenapa bisa" tanyaku "aku tidak bertemu dengan kang Neymar tadi malam, jadi kusimpan suratnya di saku bajuku dan pagi harinya sudah nggak ada mungkin jatuh dan di temukan oleh orang lain" jelasnya dengan rasa khawatir di raut wajahnya.
Hingga malam harinya aku di panggil oleh pengurus pondok yang mana beliau adalah putri abah "begini caramu membalas kebaikan orang tuamu dengan dosa yang kamu buat?" sebuah surat dilempar dengan kasar ke arah wajahku, ku terkejut bukan main, tiba tiba kaki ku lemas ingin rasanya terkulai saat itu juga namun aku langsung berlari ke kamar mandi dan menangis seorang diri setelah putri abah pergi.
"Maaf kan hambamu ya Allah, yang tanpa sadar telah membuat dosa untuk kedua orang tua hamba, yang telah berani mencintai makhluk-Mu yang bukan suami hamba, yang telah berani menyebut namanya ketika bersujud kepada-Mu...hukumlah hamba yang sudah melakukan dosa" ku menangis dalam sujudku ketika aku melakukan sholat malam.
Sehabis dzuhur aku diberi hukuman oleh putri abah yang menjadi pengurus pondok, aku di suruh mengaji Al-qur'an didepan kediaman buk nyai. Ku baca lafadz demi lafadz meski aku merasa tidak pantas membaca kitab suci atas dosa yang ku buat. Ku lihat Yani datang dengan membawa Al-qur'an dan masih mengenakan mukena sama sepertiku. Ku mendengar isakan tangis dari bibir Yani. Ku hentikan membaca lafadz dan ku lihat wajah Yani yang sembab, kedua matanya bengkak karena terlalu lama menangis, dan apa ini? ku lihat kedua pipi Yani bengkak "Yani pipi kamu kenapa?" Yani diam hingga beberapa saat "aku di tampar mbak Zizeh lima kali" jawabnya lirih.
Aku terkejut bukan main "maafkan aku Yani...." ku meneteskan air mata "ini bukan salah mbak Sinta ini juga salahku yang sudah berani menemui santri putra di luar pondok" ucapnya pelan "pacarmu?" kutanya "iya" aku diam mendengarnya, bisa bisanya Yani melakukan dua kesalahan fatal, yang pertama membantu aku dan Neymar saling bertukar surat, dan yang kedua berani beraninya ketemuan dengan pacarnya di luar pondok.
Ku jalani hukuman mulai habis dzuhur hingga pukul tiga subuh bersama Yani. Ku berdiri berjam jam sambil membaca Al-qur'an. Kami berhenti hanya saat melakukan sholat, sungguh sangat capek dan mengantuk namun aku malu untuk mengeluh atas apa yang sudah aku lakukan, malu kepada Tuhan dan diriku sendiri.