Hari ini adalah hari keseribu kau meninggalkanku. Rasanya seperti mimpi buruk disiang bolong. Seperti tidak nyata namun nyata. Tapi, sampai detik ini pun masih menganggapmu ada. Walau terkadang aku tersadar dan harus menerima kenyataan pahit ini, bahwa kau tidak lagi disini, bersamaku dan bersama kenangan kita.
Kau sangat jauh
Sangat jauh
Jauh hingga kau sulit untuk ku sentuh
Jangankan untuk menyentuhmu, bahkan menatapmu sedetik pun tak bisa. Lihatlah aku disini, aku masih bisa tersenyum. Seperti apa yang kau minta chagiya.
Tapi, bolehkah aku menangis untuk hari ini saja. Tepat dihari keseribu kau meninggalkanku.
Chagiya....
Ijinkan aku mengenangmu bersama tetesan air hujan yang turun sore hari ini. Biarkan aku menangis. Menumpahkan kesedihan yang sudah sekian lama aku tahan. Biarkan air mata ini tumpah. Biarkan aku melepas semua beban ini dengan cara menagisimu.
Bogoshipo chagiya....saranghaeo chagiya....one and only you hye kyo
Flashback on
Sepasang kekasih sedang bermesraan dibangku taman.
"Joong ki, mengapa kau tidak menyukai hujan?" Tanya hye kyo kepada sang kekasih.
Joong ki berpikir sejenak, "Ummbb, karna hujan membawa malapetaka padaku chagiya, misalnya beberapa tahun yang lalu aku mengalami kecelakaan hingga membuat tanganku patah, anjing kesayanganku mati karena kedinginan karna hujan, dan, ummbb apa lagi ya?" joong ki berpikir sejenak.
"Oh ya aku ingat. Saat itu aku sangat malu sekali karena terpeleset. Karena aku berlari untuk menghindari hujan, karna aku tidak melihat jalan, aku terpeleset, dan semua orang menertawakanku" ujar joong ki sambil menerawang sedih mengingat kejadian yang memalukan yang tak mungkin ia lupakan.
"Hahahaa. Itu kesalahanmu sendiri chagiya. Kau mengendarai motor ugal-ugalan, kau teledor meninggalkan anjing mu diluar saat hujan, lalu kau terpeleset karna kau juga tidak berhati-hati. Pabo kenapa kau menyalahkan hujan" dumel hye kyo kepada joongki sambil menjitak kepala joong ki.
Joong ki meringis, sambil memanyunkan bibirnya.
"Chagiya, kau selalu menjitak kepalaku. Apa kau tau? Ini rasanya sangat sakit! Kau sungguh menyebalkan sekali" ujar joong ki merasa kesal dengan tingkah kekasihnya.
Apakah hanya itu yang joong ki ingat tentang hujan?
Bukankah karena hujan mereka dipertemukan dikedai kopi beberapa tahun lalu?
Dan setelah mengenal beberapa minggu joong ki pun langsung menyatakan cinta pada hye kyo, saat itu bukankan hujan sedang berlangsung?
Dan saat hujan pula, ciuman pertama mereka tercipta?
Pria ini pura-pura lupa, atau pura-pura bodoh?
"Keterlaluan sekali!" dumel hye kyo sambil melipat kedua tangannya didada.
Joong ki mendengar gumaman kekasihnya,
"Keterlaluan? Maksudmu?" Tanya joong ki tak mengerti apa yang hye kyo maksud. Hye kyo memalingkan wajahnya. Joong ki mencoba meraih dagu sang kekasih. Namun dengan cepat hye kyo menepisnya.
"Ayolah chagiya. Kau kenapa?" Tanya joong ki merasa bingung ketika melihat hye kyo cemberut.
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu bukan, mengapa aku tidak menyukai hujan dan..."
"Hanya itukah?" Potong hye kyo cepat sambil menatap marah sang kekasih, detik berikutnya hye kyo kembali memalingkan wajahnya.
"Iya, hanya itu. Kau tau bukan, aku tidak menyukai hujan". Hye kyo mendengar pernyataan joong ki nampaknya marah. Ia bangkit sambil menatap tak percaya joong ki, detik berikutnya hye kyo meninggalkan joong ki.
"Chagiya. Kau mau kemana?" Teriak joong ki saat melihat hye kyo pergi.
"Hye kyo...hye kyo...hey chagiya" teriak joong ki frustasi saat panggilannya tak dihiraukan hye kyo. Joong ki menatap punggung sang kekasih yang semakin lama semakin menjauh.
"Arrggghhh. Kesalahan apa lagi yang ku perbuat" dengus joong ki kesal.
Padahal ia sudah menjawab pertanyaan hye kyo. Gadis itu selalu saja marah tidak jelas. Tingkahnya selalu kekanak-kanakan. Seperti gadis 13 tahun. Bukankah hye kyo sudah menginjak 25 tahun. Seharusnya dia berfikir lebih dewasa.
#
Bahkan hari ini dia tidak mengingat hari jadi mereka? Biasanya joong ki selalu memberikan kejutan yang spesial dihari jadi mereka. Apakah joong ki memiliki kekasih lain? Coba saja dia berani menghianati ku. Akan kuseret dia kejalanan sampai mati dan melempar jasatnya kekolam yang penuh dengan buaya yang kelaparan, batin hye kyo.
Hye kyo menghentikan langkahnya ketika ponselnya berdering.
Nomor yang sudah tak asing lagi bagi hye kyo, segeralah hye kyo menekan tombol hijau dan menempelkan ketelinganya.
"Yoboso..."
"...."
" Ne eomma. Aku akan segera kerumah sakit sekarang"
"...."
Hye kyo segera menutup teleponnya dan berjalan dengan hati cemas.
#
Hye kyo tidak kuat berlama-lama dirumah sakit. Hye kyo pun mutuskan untuk keluar, mencari udara segar untuk menenangkan pikiran yang kacau.
Hye kyo terduduk dibangku taman. Tempat yang merupakan tempat favoritnya, ketika ia sedang bersedih maupun bahagia. Meskipun takut hye kyo tak mempedulikannya. Membuang rasa takutnya ketika kesedihan sedang menyelimuti dirinya.
Apa yang harus aku lakukan saat ini?
Apakah ia harus mengorbankan hidupnya untuk orang yang berharga dalam hidupnya?
Ia ingin menghapaus kesalahannya dimasa lalu, kesalahan yang membuat orang-orang yang ia sayangi terpisah.
Tapi, bagaimana dengan joong ki?
Ia sangat mencintai joong ki. Ia takan rela meninggalkan joong ki secepat ini. Cepat atau lambat pasti ia akan pergi dan menghilang.
"Kau disini rupanya?"
Hye kyo langsung menghapus air matanya ketika mendengar suara yang tak asing lagi ditelinganya.
"Boleh aku duduk?" Tanya joong ki hati-hati.
Hye kyo mengangguk lemah. Joong ki pun segera duduk sejajar dengan hye kyo.
"Chagiya. Kenapa kau marah? Kau slalu saja membuatku cemas. Kemana saja seharian tidak memberiku kabar? Mengapa kau tidak mengaktifkan ponselmu?" Tanya joong ki bertubi-tubi karna merasa cemas. Joong ki berusaha meraih tangan hye kyo. Hye kyo hanya diam, membiarkan joong ki mengecup punggung tangannya.
"Kau marah karna aku melupakan hari jadi kita?" Tanya joong ki sambil menatap dalam hye kyo. Namun hye kyo tetap diam, tak menggubris pertanyaan joong ki. Malah justru gadis itu menumpahkan air matanya. Benar. Sejujurnya ia marah karena joong ki melupakan hari jadi mereka yang ke 3 tahun, ia marah karna joong ki juga membenci hujan. Padahal awal mula mereka bertemu saat hujan sedang berlangsung.
Tapi, sepulang dari rumah sakit. Amarah terhadap joong ki sirna begitu saja.
Tapi saat ini hatinya terasa teriris. Lebih menyakitkan dari pada desengat beribu lebah. Lebih memusingkan dari pada terkena bola basket.
Sakitnya hingga kehulu hati, jika ia mengingat kejadian dirumah sakit tadi.
Joong ki nampak kebingungan melihat gadisnya menangis. Apakah ada yang salah lagi?
Sikap hye kyo akhir-akhir ini berbeda, tak seperti biasanya. Akhir-akhir ini kadang hye kyo tersenyum dan kadang pula menangis tanpa sebab.
" Apakah ada yang salah lagi? Jika aku membuatmu bersedih tolong maafkan aku" ujar joong ki tulus.
"Sudah jangan menangis. Jangan membuatku khawatir" joong ki pun menghapus air mata hye kyo dengan jempolnya.
"Aku tidak menangis. Tadi mataku terkena debu. Rasanya sangat gatal sehingga membuat aku menangis tersendu-sendu..."
Joong ki memeluk hye kyo erat. Membiarkan hye kyo menangis dipelukannya. Joong ki mengecup pucuk kepala hye kyo, tangannya mengelus lembut punggung hye kyo, berusaha menenangkannya.
"Aku berjanji. Setiap hari jadi kita, aku akan mengucapkan kata-kata yang romantis, memberikan kejutan agar kau tak menangis lagi"
Joong ki pun menepuk-nepuk pundak hye kyo. Setelah merasa tenang, hye kyo melepaskan pelukannya.
"Kau sungguh tega. Kau melupakan hari jadi kita. Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Apa kau mempunyai kekasih baru? Aku sangat sedih saat kau ingat hujan hanya hal itu saja. Bahkan kau selalu bilang kau benci hujan. Apakah kau tak ingat pertama kali kita bertemu? Jadi, itu sama saja kau membenci ku" ucap hye kyo sedikit berteriak menumpahkan kekesalannya.
Hye kyo cemberut dan melipat kedua tangannya didada.
"Jadi bukan hanya itu saja. Aigoo hye kyo ku, kau sangat imut" joong ki mencubit pipi hye kyo karna merasa gemas.
"Mianhe" sesal joong ki
"Kau selalu saja meminta maaf. Sudah kesembilan puluh sembilan kali kau meminta maaf padaku"
"Hahahaa. Kau menghitungnya?" Ujar joong ki menggoda
"Jika seseorang meminta maaf itu berarti dia melakukan kesalahan" tambah joong ki
"Lalu untuk apa hukum dinegara ini? Kalau dengan maaf saja dapat menyelesaikan masalah" jawab hye kyo ketus
"Lantas apa yang harus aku lakukan jika aku salah? Apakah aku harus diam? Setidaknya dengan meminta maaf, aku bisa menghargai arti kesalahan dan tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi" ujar joong ki bijak.
"Aku mengkhawatirkanmu jika kau marah dan mendiamkan ku seperti ini" joong ki menghembuskan napas beratnya. Ia menyandarakn kepalanya dan menatap langit gelap tak berbintang.
"Sekarang aku ingin bertanya, mengapa kau sangat menyukai hujan?" Tanya joong ki tanpa melihat hye kyo
Hye kyo tetap diam. Kini raut wajahnya menjadi sedih.
"Kenapa diam? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?" Tanya joong ki mulai kesal.
"Kau tak akan pernah tau keindahan hujan seperti apa. Sebelum kau memaknai arti hujan yang sesungguhnya, yang membuatmu kadang tertawa senang, kadang pula sedih. Percayalah suatu hari nanti kau akan merindukan hujan. Kau pasti akan menunggu kehadiran hujan"
"Untuk apa aku merindukan hujan dan untuk apa juga aku menunggu datangnya hujan. Sudahlah lupakan" Joong ki kembali duduk tegap, dan melirik kelasihnya sejenak.
"Kau bilang kau tidak menyukai kegelapan? Mengapa saat ini kau duduk bergelap-gelapan?" Tanya joong ki kembali.
Hye kyo yang mendengar pertanyaan joong ki memutar bola matanya frustasi.
"Ketika kau sedang bersedih, kau tak akan mempedulikan sebesar apa rasa takutmu saat kesedihan datang menyelimuti dirimu" jelas hye kyo
"Baiklah" gumam joong ki berusaha menyudahi perdebatan kecil yang pastinya akan membuat mereka bertengkar kembali.
"Besok kau ada waktu?" Tanya joong ki. Hye kyo berpikir sejenak.
"Sepertinya besok aku sibuk" jawab hye kyo
" Hahahaa. Kau seperti seorang pejabat, sampai tak mempunyai waktu. Luangkanlah sedikit waktumu untuk kekasihmu yang manis ini chagiya, biasanya kau memiliki waktu untuk ku"
"Baiklah. Akan ku pertimbangkan besok. Aku akan menghubungimu" hye kyo pun bangkit dari duduknya berusaha hendak pergi karna malam semakin larut. Namun dengan cepat joong ki menahannya.
"Ada apa lagi? Sekarang sudah pukul dua belas malam. Aku harus pulang" hye kyo melepas jemari tangan joong ki yang melilit dipergelangan tangannya.
"Biar ku antar, aku takut kau kenapa-kenapa"
"Baiklah"
Keheningan tercipta saat mereka menuju rumah hye kyo
"Terima kasih" ucap hye kyo, kemudian masuk kegerbang rumahnya. Namun tangannya kembali diraih oleh joong ki
"Apa lagi?"
"Kau melupakan sesuatu!"
"Apa?" Tanya hye kyo bingung
"Ini...." Joong ki mendekat ke arah hye kyo dan
CHUP,
joong ki memberikan ciuman singkat kepada hye kyo. Hye kyo langsung melangkahkan kakinya masuk, setelah apa yang dilakukan joong ki karena merasa tersipu malu.
"Selamat malam dan mimpi indah chagiya" teriak joong ki saat hye kyo berlalu dari hadapannya dengan cepat.
#
Dear diary....
Hari ini, lagi- lagi aku bertengkar dengan joong ki karena masalah kecil. Tapi, meski aku sering bertengkar namun rasa cinta itu tak pernah berkurang sedikit pun. Sudah tiga tahun aku menjalani hubungan dengannya.
Duka bersama.
Tawa bersama.
Tapi kali ini aku tak ingin membagi kesedihanku kepadanya.
Sudah cukup kesedihan yang kubuat untuknya, oleh sikapku yang terlalu kekanak-kanakan. Aku ingin melihat orang yang ku cintai terus bahagia. Aku tak ingin menambah beban di pundaknya. Kurasa belum waktunya aku menceritakannya.
Terlebih lagi jika aku menceritakannya. Aku yakin dia tak akan menyetujuinya.
Tapi, aku fikir ini adalah cara yang terbaik. Aku takut jika aku menceritakannya, rencana yang sudah aku pertimbangkan masak-masak hancur berantakan. Keputusanku sudah bulat. Meskipun aku menghilang, setidaknya aku bisa melihat orang-orang yang aku sayangi tersenyum.
Diary ku....
Aku sedih ketika dia berkata mencemaskanku. Dia berkata akhir-akhir ini aku berbeda.
Dan dia bertanya mengapa aku tidak takut kegelapan, padahal ia tau bahwa aku sangat sangat takut akan kegelapan.
Ya. Memang aku sangat takut akan kegelapan, tapi ketika kesedihan sedang menyelimuti ku, rasa takut itu menghilang.
Air mata yang menemani
Rasa sesak yang mengusir rasa takut
Bahkan aku takut, ketika kebahagiaan menyelimutiku.
Aku takut kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Dan aku takut kebahagiaan diriku bersamannya tidak berlangsung lama
Dan rasa takut akan kehilangan semakin besar. Kebahagian ku dan dia tak akan berlangsung lama karna aku menghilang.
Menghilang bukan karena keinginanku. Melainkan karena sebuah alasan yang suatu saat nanti akan terjawab.
Dan dia juga bertanya mengapa aku begitu menyukai hujan?
Aku menjelaskannya tidak secara terperinci mengapa aku menyukai hujan.
Terkadang. Tak selamanya yang takut itu menakutkan. Pasti ada sisi keindahannya.
Sama halnya ketika hujan turun, karna aku dapat mengenang orang- orang yang aku cintai, orang-orang yang pernah ada dalam kehidupanku dan mereka satu per satu menghilang karena kesalahanku.
Ketika hujan turun aku seperti merasakan sosok mereka. Aku senang ketika mengenang sosok mereka.
Namun tak selamanya kesenangan itu menyenagkan pasti ada sisi menyedihkannya.
Aku juga sedih saat hujan turun. Karna saat aku larut dalam dunia khayalanku, saat aku sedang mengenang mereka, ketika aku tersadar rasanya terlalu menyesakkan ketika harus menerima kenyataan pahit ini. Bahwa mereka tak disini.
Diary ku....
Esok aku akan melakukan sesuatu yang berkaitan dengan hidup dan matiku.
Aku rasa aku akan menghilang. Tapi meski aku menghilang, setidaknya dunia pernah mengatakan bahwa aku pernah ada didunia ini dan merasakan cinta dan dicintai dari orang-orang yang membuatku mensyukuri atas anugerah yang telah Tuhan berikan.
Terutama joong ki.
Joong ki, aku mencintaimu
Maafkan aku jika suatu saat nanti aku akan menghilang dari pandanganmu.
Setelah berkeluh kesal kepada diary kesayangannya. Hye kyo pun tertidur.
#
Sebulan kemudian
Joong ki nampak terkejut dan juga sangat senang saat mengetahui hye kyo mengunjungi rumahnya. Sudah sebulan gadis itu tidak memberinya kabar. Gadis itu menghilang.
"Mianhe" untuk pertama kalinya, joong ki mendengar hye kyo meminta maaf.
" Ayo kita pergi. Menghabiskan waktu sampai malam tiba" hye kyo pun menarik tangan joong ki
"Chagiya, aku harus berganti pakaian dahulu" ucap joong ki melepas tangan hye kyo.
Hye kyo menggeleng "Aniyo. Kau sudah terlihat tampan dimataku, bagaimanapun penampilanmu"
Joong ki tertawa mendengar gombalan kekasihnya, ia pun baru mendengar hye kyo menggombalinya
"Aku ingin terlihat sempurna dimatamu" ujar joong ki sambil melempar tatapan cinta.
Bibir hye kyo yang bergetar tersenyum manis, " kesempurnaan tak selamanya indah. Jadi berhentilah untuk terlihat sempurna. Karna aku mencintaimu karna kesempurnaan hatimu yang tulus bukan karna kesempurnaan rupa atau pun karna penampilanmu yang modis" jelas hye kyo
"Tapi...."
"Sudah. Waktu kita tidak banyak. Jangan membuang waktu yang tidak penting. Karna waktu sangat berharga. Ketika tuhan memberimu waktu pergunakanlah dengan sebaik-baiknya. Ayo kita habiskan waktu sampai mata terpejam".
#
Joong ki merasa ada yang berbeda dengan kekasihnya. Gadis yang tiba-tiba menghilang sekarang kembali lagi.
Joong ki ingat saat terakhir kali hye kyo menelponnya agar dirinya tidak menghubungi hye kyo lagi.
Dan sekarang lihat, dia kembali dengan tingkahnya yang sangat menganehkan.
"Kau aneh. Ada apa sebenarnya? Kau berpikiran seolah-olah waktu kita tidak banyak. Kita masih bisa melakukan esok dan seterusnya. Kita akan selalu melewati waktu hari demi hari berdua. Hanya kita berdua"
Hye kyo tersenyum. Senyum yang membuat benak joong ki semakin bertanya-tanya dengan sikap hye kyo yang menganehkan. Mengapa hye kyo tidak melawan? Mengapa sikap kekanak-kanakannya menghilang?
"Baiklah. Gantilah pakaianmu. Aku akan menunggu, jadi waktu kita sudah terbuang lima menit. Lima menit yang sangat berharga bagiku"
"Hye kyo" joong ki meraih tangan hye kyo
"Ayo kita pergi" kini giliran joong ki yang menarik tangan hye kyo.
#
Setelah puas mencoba berbagai wahana permainan yang menantang.
Joong ki dan hye kyo memutuskan untuk pergi kesebuah danau buatan. Mereka duduk disana. Hanya ada satu buah lilin yang menerangi.
Hye kyo menyandarkan kepalanya dibahu joong ki dan memeluk lengan joong ki.
"Apakah kau tidak takut?" Tanya joong ki mencoba memecah kesunyian.
Hye kyo menggeleng lemah, "Kenapa harus takut?" Tanya hye kyo tanpa menggubris pertanyaan joong ki.
"Kau bilang, kau takut kegelapan" jawab joong ki.
"Sudah ku bilang. Tak semua kegelapan itu menakutkan. Kau dapat melihat keindahan dikegelapan" jelas hye kyo.
"Kau aneh" konentar joong ki
Hye kyo mengangguk dan tertawa renyah mendengar pernyataan joong ki bahwa dirinya aneh.
Ya. Dirinya memang aneh. Hye kyo mengakui itu.
"Hey lihat kunang-kunang itu begitu indah" seru joong ki saat melihat kunang-kunang melintas di hadapan mereka. Lalu joong ki menangkapnya.
"Kenapa dia tidak menyala saat aku menangkapnya" ucap joong merasa aneh saat kunang-kunang berada dalam genggaman tangannya yang sedikit terbuka.
"Mungkin karna ia ingin bebas. Lepaskan dia dan biarkan dia terbang dengan indah"
Joong ki pun melepaskan kunang-kunang itu dan membiarkannya terbang.
"Apakah kau rela melepaskanku. Jika aku seperti kunang-kunang yang kau tangkap?" Tanya hye kyo sambil menahan tangis.
"Kenapa kau berbicara seperti itu?" Tanya joong ki
"Aku ingin kau tersenyum. Sama halnya ketika kau melepas kunang-kunang itu. Aku berjanji akan bersinar seperti kunang-kunang. Bahkan aku akan bersinar terang seperti bintang yang terang diangkasa sana" joong ki hanya diam mendengar pernyataan hye kyo. Lalu ia meraih tangan hye kyo.
"Berhentilah berbicara seperti itu" tegas joong ki karena ia tak ingin mendengar pernyataan hye kyo yang menurutnya konyol.
"Jika nanti aku menghilang. Kau akan mengerti arti keindahan hujan. Di saat itu kau bisa mengenangku dan tentunya kau akan merindukan hujan. Sama halnya ketika aku mengingat appa ku"
Air mata hye kyo mengalir begitu saja.
"Chagiya" panggil hye kyo lembut
"Hmmm" jawab joong ki
"Maukah kau berjanji padaku?"
"Janji?" Tanya joong ki tak mengerti. Hye kyo mengangguk, "Berjanji akan tetap tersenyum ketika aku menghilang"
"Hye kyo" joong ki menegaskan kembali agar hye kyo berhenti berbicara seperti itu.
"Jangan bicara seperti itu. Kau tak akan menghilang, kau akan selalu bersamaku. Tunggulah aku mapan dan kita menikah. Aku berjanji akan selalu membuatmu tersenyum. Aku ingin menjalani hidup ini bersamamu. Selamanya" joong ki memeluk kekasihnya penuh cinta. Sedangkan hye kyo menangis di pelukan joong ki.
#
Keesokan harinya joong ki mengunjungi rumah hye kyo.
"Bendera kuning" joong ki nampak kebingungan ketika melihat bendera kuning tergantung digerbang rumah hye kyo dan banyak orang yang berdatangan.
Hati joong ki mulai cemas. Ia takut terjadi sesuatu kepada hye kyo, megingat pernyataan hye kyo tadi malam, bahwa dirinya akan menghilang.
Hati joong ki terasa sakit. Sekujur tubuhnya mulai terasa dingin. Lututnya bergetar karna tak kuasa menahan sedih. Cairan bening mendarat dengan mulus di pipi joong ki dari pelupuk matanya.
"Hye kyo" joong ki terpaku diambang pintu segera berlari mendekati tubuh yang diselimuti kain.
Joong ki memejamkan matanya. Ia berharap ini mimpi. Tangannya mencoba meraih kain putih transparan yang menutupi wajah itu.
"Hye kyo kenapa kau pergi!" Teriak joong ki histeris.
Seluruh mata tertuju pada joong ki. Joong ki menangis sambil memeluk tubuh hye kyo yang sudah tidak bernyawa.
"Nak" sebuah tangan menyentuh bahu joong ki. Joong ki segera menengok.
"Apakah kau joong ki?" Tanya wanita parubaya itu.
Joong ki mengangguk, ia pun menagis.
"Ada apa ini? Apakah ada sesuatu yang terjadi pada hye kyo? Bukankah hye kyo baik-baik saja? Semalam aku masih bersamanya" tanya joong ki gusar.
Wanita parubaya itu mengangguk. Ia pun ikut menangis.
"Benar nak. Sebelumnya hye kyo memang baik-baik saja"
"Tapi kenapa dia pergi dengan cara yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya. Jelaskan padaku kenapa hye kyo bisa sampai seperti ini?" Bentak joong ki meminta penjelasan.
"Ne, baiklah. Sebelumnya perkenalkan nama ku adalah Kim Youn Suk, eomma hye kyo" jelas nyonya kim memperkenalkan dirinya.
Joong ki merasa bersalah, karena sudah lancang membentak eomma hye kyo. Tapi itu semua dilakukan diluar kesadarannya. Saat ini dia benar-benar hancur.
"Aku sudah berusaha melarangnya untuk mendonorkan hatinya. Tapi dia bersikeras. Dia ingin berbakti kepada orang tuanya dengan cara mendonorkan hatinya untuk appa nya. Hye kyo merasa tersiksa ketika melihat appa nya menderita kanker. Sebulan yang lalu ia berusaha bunuh diri dengan cara meminum racun. Tapi untungnya aku datang tepat waktu dan berhasil mencegahnya" ujar nyonya kim menjelaskan. Nyonya kim menarik napasnya dalam berusaha menahan segala rasa sedihnya.
"Setelah aku memberi nasihat padanya. Aku pikir dia mengubah cara pandangnya. Tapi aku salah. Hye kyo mencoba melakukan berbagai cara agar bisa mendonorkan hatinya untuk appa nya. Appa nya tidak ingin mendapat donor hati dari hye kyo. Mungkin karna hye kyo ingin menebus kesalahannya dimasa lalu"
"Kesalahan?" Tanya joong ki penasaran sekaligus ingin mengetahui sebab kematian hye kyo.
Nyonya kim mengangguk, "Ne. Aku dan appa hye kyo bercerai sewaktu hye kyo masih kecil. Ia menganggap perceraian itu sepenuhya kesalahannya. Dia menuduh appa nya berselingkuh karna ia sering melihat appanya pergi dengan sekretarisnya. Appanya selalu sibuk dengan pekerjaannya, hye kyo merasa kehilangan sosok appa nya. Dan menuduh appa nya berselingkuh dengan perempuan lain karna saat itu hye kyo melihat appa nya tertawa dengan sekretarisnya padahal appa nya berjanji untuk pergi bermain di taman, karna merasa marah hye kyo pun menceritakannya kepada ku. Sempat aku tidak mempercayainya namun seiring berjalannya waktu aku pun akhirnya mempercayainya karna suami ku tidak mempunyai waktu dan malam itulah peristiwa yang mengejutkan itu terjadi"
Nyonya kim menjelaskan menjelaskan sumuanya. Penyesalan hye kyo yang telah memisahkan kedua orang tuanya yang membuat oenni nya meninggal akibat mengonsumsi narkoba karena frustasi melihat perceraian kedua orang tuanya ketika hye kyo beranjak dewasa.
Ia bertemu dengan sekretaris lamanya dan terkuaklah sebuah permasalahan yang sebenarnya. Bahwa benar appa nya tidak ada hubungan yang lebih selain rekan kerja. Sekretaris yang bernama Yoona itu menjelaskan bahwa malam itu ia mabuk karena kekasihnya berselingkuh. Saat itu kebetulan appa hye kyo lewat dan menemukan yoona terkapar ditengah jalan. Appa nya pun membawanya dan saat itu nyoya kim memergoki suaminya dengan yoona. Yoona yang mabuk terus bergumam tidak jelas.
Ia menganggap bahwa appa hye kyo adalah kekasih yang telah meninggalkannya setelah menodainya. Nyonya kim terkejut mendengar semua itu dan seminggu kemudian oemma dan appa hye kyo bercerai.
Dan saat itu juga terdengar kabar bahwa appa hye kyo mengidap kanker. Untuk menebus semua kesalahannya, ia berusaha mendonorkan hatinya. Bermaksud mengganti hati appanya yang telah dibuat hancur.
Joong ki hanya diam setelah mengetahui semuanya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa.
#
Malam harinya, joong ki tidak bisa tidur. Ia bangkit dari tidurnya dan duduk ditepi ranjang.
Hatinya semakin sakit setelah membaca diary milik hye kyo.
Tadi, setelah acara pemakaman hye kyo berakhir. Nyonya kim mrmberinya sebuah buku diary dan satu buah kaset.
Joong ki pun bangkit dari duduknya dan berjalan untuk mengambil kaset yang diberikan oleh nyonya kim. Setelah mengambilnya, ia pun memasukan kaset itu ke DVD. Semenit kemudian terlihat dan terdengar suara hye kyo dari monitor TV.
•••
"Wah hujan turun" seru hye kyo sambil memutar handycame kearah hujan.
Joong ki melihat rekaman video itu hanya tersenyum hambar.
"Joong ki. Chagiya. Jangan menangis" ujar hye kyo kembali.
Joong ki menggeleng, ia seperti bicara langsung dengan hye kyo.
"Aku tidak menangis hye kyo" cecar joong ki
"Ayo tersenyum seperti ini" hye kyo pun tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan tersusun rapi.
Joong ki memgangguk dan berusaha tersenyum.
"Apakah wajahku terlihat pucat? Tunggu sebentak aku akan memoleskan bedak dan lipstik"
Hye kyo pun mengambil bedak dan lipstik lalu memoleskannya.
"Bagaimana? Apa aku terlihat cantik?" Tanya hye kyo sambil memanyunkan bibirnya memperlihatkan warna lipstik merah yang sangat mencolok.
Joong ki kembali mengangguk, "kau terlihat cantik. Sangat cantik"
"Benarkah?"
Joong ki mengangguk kembali. Ini seperti nyata.
"Maukah kau mendengarkan sebuah lagu. Lagu yang kuciptakan untukmu. Tunggu sebentar" hye kyo beranjak dari tempat tidurnya.
Saat ini yang terlihat hanya kamar hye kyo. Foto-foto dirinya dan hye kyo terpasang jelas di dinding kamarnya.
"Nah ini dia" hye kyo kembali ke monitor dengan membawa sebuah gitar.
Detik berikutnya hye kyo memetik gitar. Terdengar sebuah lantunan nada gitar menghiasi ruangan. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan tersentuh. Sebuah nada yang menciptakan kehidupan cinta yang bahagia. Namun, terpisahkan karena suatu hal.
Hye kyo pun mulai menyanyikannya.
Aku bahagia saat tuhan menunjukku untuk berada dihatimu
Berawal dari pertemuan kita
Dibawah derasnya air hujan
Hujan menjadi saksi cinta kita
Disaat kau menyatakan cinta
Untuk ku
Saat itu aku seperti gila
Aku seperti melihat sebuah pelangi diatas langit
Ketika hujan deras turun
Dan langit berwarna abu pekat
Hooouuuwooo....hooo....
Aku dan kamu adalah impianku
Doa terbesar yang slalu ku pinta
Pada Tuhan
Jika memang Tuhan tak menakdirkan kita untuk hidup bersama didunia
Aku ingin kau slalu hidup dihatiku
Dan kau akan menjadikan aku
Slalu hidup dihati mu
Sampai kita menutup mata
Dan tiba waktunya aku berharap
Tuhan menakdirkan kita
Dikehidupan abadi
Aku mencintaimu
Meskipun aku pergi dan menghilang
Saranghaeo....Chagiya....
"Bagaimana? Apakah kau suka dengan lagunya? Ahh mengapa aku menagis?" Hye kyo menghapus air matanya setelah selesai melantunkan sebuah lagu yang ia ciptakan untuk joong ki.
"Tetaplah tersenyum meskipun menghilang. Kenanglah aku dan simpanlah aku disini" hye kyo menunjuk dadanya.
"Bersama kenangan indah kita. Bersama hujan. Bersama memory. Dan bersama mereka memory hujan" tambah hye kyo
"Ahhh. Debu ini sangat menyiksa sehingga membuat aku menangis. Aku sebenarnya tidak menangis, mataku pedih karena kelilipan" tambahnya lagi sambil berusaha tersenyum.
Detik berikutnya dia tertawa.
"Mian. Sudah hampir sebulan aku tidak memberimu kabar. Aku ingin melatih dirimu supaya kau terbiasa tanpa kehadiran diriku. Tapi aku merasakan rindu yang teramat dalam. Aku merindukan pertengkaran kita yang konyol" hye kyo menggigit bibirnya mencoba menahan tangis.
"Joong ki~yaa. Pabo. Knapa kau diam saja. Ayo tersenyum" pinta hye kyo.
Joong ki pun tersenyum seperti yang hye kyo minta. Seraya tangannya menyentuh monitor TV.
"Tetap tersenyum meskipun aku menghilang. Jangan menangis meskipun aku menghilang. Kau kan slalu ada di dalam hatiku. Selamanya. Tapi jika kau merindukanku. Lihatlah hujan. Aku akan datang bersama hujan dan bersama memory kita. Dan kau akan memaknai arti sesungguhnya"
Video rekaman itu telah berakhir.
•••
Semalaman joong ki terus memutar rekaman video itu. Tanpa terasa pagi telah tiba.
Terdengar suara gemuruh petir yang menyambar-nyambar diangkasa sana.
Bau khas tanah basah mulai tercium oleh indra penciuman joong ki.
Joong ki melangkahkan kakinya dan duduk ditepi jendela. Joong ki memejamkan mata dan mengulurkan tangannya agar merasakan setiap tetesan air hujan.
Tetesan itu mengenai tangannya. Ia seperti bisa merasakan kehadiran hyr kyo. Sudut bibirnya terangkat, ia bisa membayangkan hye kyo tersenyum manis kepadanya.
Tapi ketika mendengar suara petir yang menyambar-nyambar. Joong ki segera menarik tangannya. Khayalannya pecah. Rasanya begitu sakit menerima kenyataan pahit ini.
Flasback off
Untuk mengenang hari keseribu kematian hye kyo. Joong ki pergi ketempat-tempat yang pernah ia kunjungi bersama hye kyo.
Ia menghentikan langkahnya ketika melihat bangku taman yang tertutup oleh dedaunan dan bunga berwarna merah yang jatuh dari tangkainya.
Tiba-tiba gerimis datang. Tetesan-tetesan kecil itu kini berubah menjadi besar. Joong ki hanya diam, membiarkan dirinya diterpa oleh derasnya air hujan.
Bayangan tentang hye kyo kembali bermunculan dalam fikirannya.
Senyumnya, amarahnya, tingkahnya yang memyebalkan, sifat kekanakannya. Joong ki merasakan semua hal tentang hye kyo saat hujan turun.
"Kau tak akan tau keindahan hujan seperti apa. Sebelum kau memaknai arti hujan yang sesungguhnya. Yang kadang membuatmu tertawa sendiri, senang, kadang pula sedih. Percayalah suatu hari nanti, kau akan merindukan hujan. Kau pasti akan menunggu kehadiran hujan" joong ki bisa mendengar suara hye kyo.
Sekarang aku bisa memaknai arti hujan
Setelah kau pergi
Dalam pikiranku slalu terbayang dirimu
Ketika aku merindukanmu
Aku berharap hujan turun
Sekarang aku benar-benar merindukan hujan.
"Tersenyumlah meskipun aku menghilang" perkataan hye kyo kembali terngiang.
Joong ki memejamkan matanya dan membayangkan saat ia sedang berlari dibawah derasnya air hujan.
Suara gemuruh petir kembali terdengar, joong ki membuka matanya. Sudut bibirnya terangkat, air matanya menetes bersamaan dengan air hujan.
Mengapa dia bisa memaknai arti hujan setelah hye kyo pergi.
Hujan tanpa dia
Begitu menyakitkan
Namun aku akan tetap tersenyum seperti pelangi yang bersinar terang setelah hujan.
Hye kyo tenanglah disana.
Dunia kita telah berbeda. Namun cinta kita tidak akan pernah berbeda. Cinta kita satu. Dan tak akan pernah berubah.
Aku yakin kau akan selalu hadir dalam hidupku.
Bersama hujan
Bersama kenangan dan memory cinta
Bersatu dalam hujan dan semua kenangan yang ada didalamnya.
===END===