Satu keinginanmu terkabulkan, kemudian darahnya akan mengalir kembali. Dua keinginanmu terkabulkan, kemudian kulitnya akan kembali menghangat. Tiga keinginanmu terpenuhi, lalu dia akan terlahir kembali.
Laias mendapat mimpi aneh semalam, mimpi janggal yang terasa nyata jika hanya disebut sebagai mimpi belaka. Laias bangun dari tidurnya yang sama sekali tidak nyenyak semalaman, rambutnya acak-acakan, dan kantung matanya semakin menghitam.
Gadis itu berjalan dengan lunglai menuju kamar mandi, bersiap untuk menuju universitas yang dengan susah payah dia perjuangkan. Ini hari pertamanya kuliah sebagai mahasiswa baru setelah masa orientasi yang melelahkan.
Harus bangun lebih awal, Laias masih setengah tertidur dan memimpikan untuk tidur di ranjangnya sepanjang hari. Rumahnya sedikit terpencil dari kampusnya, dikelilingi pepohonan rimbun yang terlihat menyeramkan jika itu adalah malam hari tanpa bulan yang menerangi.
Baru keluar dari kamar mandinya, Laias tersandung kakinya sendiri. Laias kaget lantaran mendengar argumen dan teriakan kedua orang tuanya.
"Lagi?!" Resah Laias.
Setiap hari, tiada hari tanpa teriakan di rumahnya. Kedua orang tuanya yang selalu bertengkar membuat Laias muak dan ingin segera menceraikan mereka berdua. Tinggal di tempat terpencil seperti ini cukup menguntungkan, karena tiada seorang pun kecuali dirinya yang bisa mendengar perkelahian kedua orang tuanya.
Laias mengeratkan syalnya dan siap untuk berangkat ke kampus, lalu tidak lupa mengambil payung karena sepertinya salju akan segera turun dengan lebat.
Baru turun beberapa langkah, orangtua Laias melihatnya yang hendak keluar.
"Laias, kemari! Dad ingin bicara padamu!" Seru Ayah Laias.
Laias mengabaikannya, dengan telinga yang pura-pura tuli, dan mulut yang terkunci rapat, Laias hanya bisa berpura-pura tidak peduli.
"Laias, jangan mengabaikanku. Laias!" Bentak Ayahnya.
Laias berbalik menghadap Ayahnya, menarik napas dalam-dalam dan menampakkan wajah yang tak peduli.
"Dad, lebih baik selesaikan dulu urusanmu dengan Mom," ucap Laias. "Aku tidak mau mendengar apapun darimu, Dad!" Sambungnya, kemudian Laias berlalu pergi dengan hati yang membara dan emosi yang tertahan.
"Laias!" Mengabaikan teriakan Ayahnya, Laias segera masuk ke mobil bututnya dan bergegas ke kampus sebelum udara menjadi semakin dingin.
Suasana hati Laias sedang benar-benar buruk, semalam dia mimpi buruk hingga tidak bisa tidur nyenyak sampai kedua orangtuanya yang lagi-lagi bertengkar.
Sampainya di kampus, Laias kembali mengeratkan jaket bulunya yang sepertinya tidak efektif untuk melawan suhu dingin.
"Hey, Laias!" Seseorang tiba-tiba merangkulnya dari belakang.
Saat dia menoleh, ternyata dia adalah Johan, teman masa SMA Laias.
Laias melepaskan rangkulan Johan. "Kau mencekikku."
Johan tidak mendengarkan dan merangkul Laias makin erat. "Aku kedinginan."
Laias mendengkus.
"Hari ini kau dan aku ada di kelas yang sama, aku dengar kelas Mr. Peter membosankan," kata Johan.
Laias dan Johan berjalan beriringan, mencari kelas yang akan dipakai untuk kelas Mr. Peter. Universitasnya cukup besar, hingga mereka cukup sulit untuk mencapai kelas yang letaknya berada paling ujung.
"Ngomong- ngomong, Sarah masih kau pakai hingga sekarang?"
Laias mendengus kesal, menatap tajam Johan yang sejak tadi mengoceh tepat ditelinganya.
"Sudah kubilang, jangan beri nama mobil butut itu, Johan!" Tangan kanan Laias memukul belakang kepala Johan.
Johan terkejut dan menatap Laias. "Wow, Bung. Ada apa denganmu?"
Sambil berjalan, Laias mengeratkan jaket bulunya. Udara semakin dingin dan berangin, awan hitam menggulung tepat di atas kepala. Pertanda salju sebentar lagi akan turun.
"Diamlah, Johan. Suasana hatiku sedang tidak baik," ujar Laias.
Johan yang pengertian langsung menangguk, kemudian melepaskan syalnya dan dililitkan pada leher Laias yang terlihat sangat kedinginan. Johan memeluknya.
"Tidak apa- apa," ujar Johan sambil menepuk-nepuk punggung Laias dengan nyaman. Di tengah udara dingin, mereka berbagi kehangatan.
***
Kelas memusingkan Laias pada hari itu telah selesai. Sejak pagi tadi, salju masih turun walau tidak selebat tadi pagi.
Kemudian Laias membuka payungnya dan ingin menunggu Johan, karena sepertinya kelas mereka hampir bersamaan.
Baru beberapa langkah Laias berjalan, dia melihat Johan di belakang gedung yang sudah cukup lama dan lumayan sepi penghuni. Johan bersama dengan seorang gadis berambut blonde, terlihat dekat atau bisa dibilang terlihat mesum.
Johan dan gadis blonde— yang Laias tak tahu siapa namanya itu, sedang berciuman dengan mesranya. Mengabaikan cuaca dingin yang harusnya membuat bibir mereka kering.
Tanpa sadar, Laias merasa kecewa, dia menangis dan segera berlari ke mobil bututnya yang hampir tak bisa diperbaiki.
Berkendara dengan kecepatan biasa saja, karena mobil tua yang dibawanya itu tidak bisa dibawa ngebut, kecuali dia ingin semua rodanya lepas di jalanan.
Sampainya di rumah, bukannya masuk ke dalam dan menghangatkan diri. Laias justru makin kesal dibuatnya, orangtuanya masih bertengkar, kini bahkan makin heboh.
Air matanya tiada hentinya bercucuran sejak tadi, Laias berjalan ke belakang rumahnya yang dipenuhi pepohonan, salju tebal diabaikannya walaupun itu membuat kakinya makin kedinginan.
Di tengah-tengah itu, Laias melihat syal milik Johan yang masih melilit dilehernya, lalu dia melepaskannya karena kini dia benci pada pria itu.
Kakinya menapak pada permukaan salju yang dingin, semakin jauh dari rumahnya kini. Laias lelah dengan semuanya, dia lelah menjalani kehidupannya yang tidak begitu baik.
Laias terduduk di salju, bercucuran air mata. Dia benar-benar sudah lelah, Laias benar-benar ingin mati saja.
"Hey, apa kau mau aku mengabulkan keinginanmu?"
Laias tersentak, menoleh ke kanan dan ke kiri namun tiada satupun di sana selain dirinya.
"S-siapa!" teriak Laias.
Gadis itu dengan cepat berdiri, was-was kalau mungkin ada sesuatu.
"Aku ada di sini." Laias merasakan punggungnya disentuh sesuatu.
Dengan cepat Laias berbalik, dan menemukan seorang pria yang lebih tinggi sekepala darinya, dia bahkan lebih tinggi daripada Johan. Rambutnya hitam pekat, matanya biru kelam, dan kulitnya pucat.
Laias menelaah pria itu dari atas kebawah, dia hanya memakai baju kaos berwarna hitam, dan celana jeans yang senada dengan kaos hitamnya, tanpa menggunakan alas kaki atau jaket bulu, dia tidak kelihatan kedinginan sama sekali.
Laias mundur selangkah, lalu dua langkah. Pria itu tampan, tapi sayangnya dia aneh dan menakutkan. Laias takut.
"Jangan takut, aku hanya ingin mengabulkan keinginanmu saja," katanya.
Laias menegak ludahnya dengan susah payah, dia menatap bola mata biru kelam pria itu, dan seolah terhipnotis karenanya.
"A-apa yang bisa kau lakukan untukku?" kata Laias takut-takut.
Pria itu tersenyum. "Apa saja, sebutkan keinginanmu, dan aku akan mengabulkannya."
Laias sedikit ragu, tapi tetap mengatakan keinginannya. "Aku ingin, kedua orang tuaku segera bercerai."
Lantas, pria itu menjentikkan jarinya. "Sudah."
Laias mengernyitkan keningnya.
"Hanya begitu?!"
"Kau tidak percaya padaku? Cobalah pulang ke rumahmu!" katanya.
Laias cemas, dia ingin segera pulang ke rumahnya. Tapi kemudian dia berbalik lagi menghadap pria tadi.
"Siapa namamu?"
Pria itu tersenyum. "Kibera."
Kemudian Laias menangguk dan berlari menuju rumahnya. Saat sampai, tiada lagi teriakan kedua orangtuanya yang selama ini membuatnya muak.
"Laias, kemarilah, Nak." Ibu Laias memanggilnya. Menyuruhnya duduk di sampingnya.
"Ada apa, Mom?"
Ibu Laias menepuk-nepuk punggung Laias. "Mom dan Dad akan segera bercerai."
Laias melotot, apakah keinginannya benar-benar terpenuhi karena Kibera, atau ini hanya sebuah kebetulan semata.
Dalam hati Laias amat senang, itulah yang dia nantikan sejak lama.
"Aku akan ikut Mom, dan tetap tinggal di rumah ini," kata Laias.
Ibu Laias menangguk setuju, dan heran melihat putri satu-satunya itu tidak nampak sedih atau kecewa.
***
Malam sudah semakin larut, udara dingin masih menusuk. Laias harus memakai dua lapis selimut agar dia bisa merasa hangat.
Kemudian terdengar sesuatu mengetuk jendelanya. Laias terbangun, ini tengah malam dan kamarnya ada di lantai dua, bagaimana bisa ada orang yang mengetuk jendelanya.
Ketukannya semakin keras hingga membuat Laias mau tak mau harus pergi mengeceknya. Laias berjalan dengan takut-takut, kemudian membuka jendelanya dan dia dikejutkan dengan seorang pria.
"Kibera! Bagaimana bisa!" jerit Laias.
"Biarkan aku masuk dulu, aku kedinginan," kata Kibera.
Laias membiarkan Kibera masuk ke kamarnya. "Kenapa tiba-tiba kedinginan, tadi sepertinya tidak begitu?"
Kibera lagi-lagi hanya tersenyum.
"Jadi bagaimana, keinginanmu benar-benar terkabulkan, bukan?"
Laias kembali mengernyit.
"Kau masih ragu? Coba sebutkan lagi keinginanmu, misalnya kau ingin Johan dan pacar blondenya itu agar segera putus, atau kau ingin mobil bututmu itu diganti dengan yang baru. Sebutkan saja."
"Bagaimana kau bisa tahu!" seru Laias.
Kibera kembali tersenyum. "Aku tahu semuanya, tentang dirimu."
"Baiklah, aku tidak ingin Johan dan pacar blondenya putus," kata Laias. "Aku ingin, agar pacar blonde Johan mati!"
Kibera mengangkat kedua alisnya, lalu menjentikkan jarinya. "Sudah."
Walau masih belum yakin, Laias tetap tersenyum puas.
Keesokan harinya, di kampus, Johan bilang pada Laias bahwa Lia—pacar blonde Johan, meninggal akibat kecelakaan mobil.
Laias benar-benar tidak percaya, atau mulai saat itu dia harus benar percaya pada Kibera bahwa dia bisa mengabulkan permintaannya.
"Kau terlihat makin tampan, Kibera," puji Laias.
"Kau juga makin terlihat berseri, ada lagi yang kau inginkan?"
Laias menangguk, "Aku ingin mobil baru, yang lebih bagus daripada mobil tua itu!"
Lagi, Kibera menjentikkan jarinya. "Sudah"
Lalu, Ibu Laias memanggilnya ke bawah. Dan mengatakan pada Laias bahwa Ibunya akan membelikannya mobil baru, karena kini Ibu dan Ayahnya telah resmi bercerai dan Ibu Laias bebas memberikan apapun padanya.
Hari berganti hari, Laias punya segudang permintaan yang tiada hentinya. Laias ingin semua orang yang membenci mati, lalu mereka semua mati. Laias ingin baju bermerek yang mewah, kemudian Kibera mengabulkan semuanya itu.
Tanpa disangka, sebulan kemudian Laias jatuh sakit. Tubuhnya yang dulu padat berisi kini tinggal seonggok tulang yang diberi nyawa, kulitnya berkeriput padahal umurnya masuh muda.
Sementara Kibera, terlihat makin manusiawi, tampan, dan makin gagah.
"Apa ada lagi permintaanmu, Nona Laias? Permintaan terakhirmu." ucap Kibera.
Laias terbatuk-batuk, Kibera duduk di samping tempat tidurnya.
"Aku ingin, sehat kembali."
Kibera tersenyum dengan janggal, lalu menjentikkan jarinya.
"Sepertinya tidak bisa."
Laias melotot, kemudian berteriak. "Kenapa tidak bisa!!"
Kibera naik ke tempat tidur Laias, menatap gadis itu yang sementara terbaring dengan lemah.
"Nyawamu, sudah habis." Kemudian, Kibera mengecup bibir Laias sebentar.
"Apa maksudmu! Siapa kau sebenarnya, Kibera!" Laias berteriak.
Kibera mengelus rambut Laias, kemudian mengambil tangan gadis itu dan diletakkan di dada Kibera.
"Laias, tidakkah kau pernah berpikir bahwa bagaimana bisa semua keinginanmu terkabul?" Kata Kibera.
"Katakan apa yang mau kau katakan, Kibera!"
Kibera tersenyum. "Tidakkah kau pernah berpikir bahwa, semua keinginanmu yang terwujud itu ada harga yang harus dibayar?"
Napas Laias memburu, lantaran menatap Kibera yang semakin aneh.
"Tidakkah kau pernah berpikir bahwa, kau telah menjadi seorang Putri yang membangunkan iblis sepertiku?"
Napas Laias makin memburu, mendengar perkataan yang cukup rumit dan tidak masuk akal baginya.
"Aku bisa kembali hidup seperti ini, merasakan jantungku yang kembali berdetak, darahku yang kembali mengalir, semua karena keinginanmu."
Laias membuka mulutnya dengan susah payah. "Apa maksudmu!"
Kibera makin tersenyum. "Maksudku, semua keinginanmu yang terwujud itu tidaklah gratis, kau menukarnya dengan darahmu. Dan kini, darahmu sudah menjadi mengalir ditubuhku, dan aku bisa hidup kembali. Kau mengerti, 'kan?"
Laias memberontak. "Tidak mungkin! Ini tidak masuk akal!"
"Kau tidak menyangka, 'kan. Bisa membangunkan iblis yang butuh nyawa sepertiku untuk tetap hidup, hanya dengan keinginan fana seorang anak manusia."
Lalu, Kibera mengecup dahi Laias untuk yang terakhir kalinya.
"Aku berterima kasih padamu, Laias."
🎭 TAMAT🎭