"Majapahit telah kembali”
“Majapahit telah kembali ibu?
“Tenanglah, tenangkan dirimu” kata aku.
2013. Tahun penuh cobaan. Tahun di mana setiap orang berebut kekuasaan. Tahun di mana harga diri manusia dipandang sebelah mata hanya karena ingin mendapatkan sereceh uang. Aku adalah seorang aktivis kampus dan aku sangat menentang kebijakan menaikkan harga BBM. Semua usaha yang aku lakukan sia-sia, harga BBM tetap naik. Secara perlahan tetapi pasti barang-barang merangkak naik dan aku harus bersandar pada seseorang yang telah membantuku dan dia telah mencerminkan dirinya sebagai orang yang telah berjasa dalam diriku, namun ia juga telah membuang harga diriku ke ‘tempat sampah’ Orang itu adalah Lestari, ibuku sendiri. Pada saat aku berumur enam tahun ibu menjualku ke sebuah tempat di mana anak-anak kecil diasuh dan dibesarkan oleh seorang peri cantik bernama Ita Kurniasari. Dia adalah seorang wanita berumur tiga puluhan. Sebelum ibuku pergi, ibuku sempat menitikkan air mata, ini pertama kali dan terakhir kalinya aku melihat ibuku menangis. Entah hal apa yang aku rasakan saat itu.
***
Tahun berganti tahun, bulan berganti bulan, hari berganti hari. Terdengar suara angin berbisik dan melambangkan sebuah pertanda. Bisikannya terasa berbeda tatkala aku mencoba memaknainya dengan sebentuk perasaanku. Tiba-tiba Lestari memintaku untuk tinggal bersamanya dan itu merupakan angin segar bagiku. Memang ibuku, perempuan yang memang tidak punya harga diri, kata orang. Ibuku perempuan jalang. Ibuku perempuan yang sudah sakit jiwa, namun ibuku adalah ibu dari anak-anak kecil yang mengemis kehidupan dari orang lain. Mereka menyebutku sebagai ibu, namun pikirku ibuku tak pantas disebut sebagai ibu, karena ibuku sering memarahi dan meminta mereka untuk duduk, diam, karena mereka susah diatur. Mereka adalah anak-anak yang telah dititipkan Tuhan kepadaku. Salah satu dari anak itu bernama Hayati. Dia anak penurut, namun ia memiliki gangguan kejiwaan. Dia telah berubah akal.
“Majapahit telah kembali”
“Majapahit telah kembali ibu?
“Tenanglah, tenangkan dirimu” kata aku sambil memeluk dan memberikan selimut padanya. Jika ia telah berkata majapahit telah kembali maka aku harus memberikan selimut padanya, karena tubuhnya yang sangat menggigil kedinginan. Entah karena apa tubuhnya menggigil, padahal udara di sekitarnya tidak dingin. Aku pernah berpikir dia gila karena sebuah takdir. Setiap orang akan gila harga karena barang-barang yang terus naik.
Status sosial dan ekonomi begitu diperhatikan orang.banyak, namun ada hal terpenting yang diperhatikan oleh adikku, dan itu adalah sudut imajinya. Orang bilang sudut imajinya adalah masa depan. Sudut imaji yang tidak bisa dibayangkan oleh orang lain. Sudut imaji yang setiap orang tidak akan mengerti, ya termasuk aku. Aku hanya mengerti akan ketidakwarasannya itu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dengan keras.
“Hayati, keluar kamu”
Sambil mendobrak pintu ruang tamuku dan dengan suara keras bapak berumur setengah baya yang bernama Gunawan berteriak membuat telingaku terasa panas dan nyeri
“Pasti orang itu datang…”pikirku.
“Mana anak gila itu, dia telah menyebabkan bapak kepala negara sakit hati, akibat perkataannya, dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya” kata Gunawan sambil berkacak pinggang.
“Bagaimana bisa bapak menghukum orang yang sedang tidak waras akalnya, bukankah hukum tidak akan berlaku bila seseorang yang melakukannya itu tidak waras” kataku dengan mata melotot.
“Ah… aku tak mau tahu, pokoknya dia harus keluar sekarang” katanya sambil menarik tubuh adikku. Aku berusaha menghalangi adikku.
Atas dasar apa sebenarnya pak Bos menuntut kami, bukankah adikku hanya melakukan suatu kesalahan kecil. Tidakkah lelaki itu berpikir akan kondisi adikku. Akankah adil seorang yang berkata umpatan pada orang tertinggi di parlementer itu di penjara. Entah apa yang dipikirkan oleh Pak Bos saat ini aku hanya bisa berharap agar adikku dapat terbebas dari hukuman.
***
“Hei, pak Bos apa kamu gila, rakyat sudah menderita karena ulahmu yang korupsi, lalu kenapa sekarang kamu menaikkan semua harga? Apa kamu tidak berpikir, ha?” kata adikku sambil menarik kerah baju Pak Bos
“Sudah biarkan, jangan halangi dia…” kata Pak Bos
“Tidakkah kamu tahu betapa rakyat menjerit dan menangis akibat kebijakanmu itu ha...”kata adikku sambil menarik kerah bajunya.
Seketika itu adikku langsung diseret keluar oleh pengawal Pak Bos. Lalu Hayati pergi dengan tertawa. Sementara itu Pak Bos mencoba menghubungi seseorang dan seseorang itu adalah Gunawan. Pak Bos meminta kepada gunawan untuk menyeret Hayati ke penjara dan terjadilah sebuah kejadian yang tidak terduga. Ibuku datang dengan membawa foto-foto yang entah aku tak tahu itu apa dan ternyata itu adalah foto ibu dengan Pak Bos saat muda. Betapa terkejutnya aku ketika ibu menjelaskan kepadaku kalau ibu memiliki seorang anak dari Pak Bos.
Delapan tahun lalu saat Pak Bos berkunjung di desa kami. Pak Bos melihat wanita cantik yang tak lain adalah ibuku. Saat itu aku berumur sepuluh tahun. Pak Bos sangat ingin berkenalan dengan ibuku dan ibuku tak menolak berkenalan dengan Pak Bos, karena baginya yang terpenting saat itu adalah uang dan bisa didapatkan melalui Pak Bos. Benar saja saat itu ibuku sangat dibutakan oleh uang, demi uang ibuku rela menjual dirinya pada Pak Bos. Betapa bangganya Pak Bos yang telah berhasil menggagahi seorang wanita tercantik di desanya, sekalipun ibuku adalah seorang penjual harga diri.
Pukat hayat dalam kehidupanku mulai menapaki titik akhirnya dan itu karena pak Bos telah membuang harga diri ibuku ke tong sampah. Pukat hayat adalah sebuah konflik kehidupan yang hanya aku dan ibuku yang tahu jawabnya. Atas dasar apa hayati dilahirkan ke dunia hanyalah menjadi misteri ibu dan Pak Bos. Aku rasaa Pak Bos jugaa tahu kalau hayati itu adalah anaknya, namun Pak Bos mencoba menafikan itu semua. Pak Bos mencoba berlari dan menghindari kenyataan kalau hayati itu adalah anaknya. Di dalam sebuah ruangan kerjanya Pak Bos berpikir tentang hayati. Sepertinya dia telah mengenalnya sejak lama namun tak sekalipun ia bertemu dengan anak itu.
Beberapa saat kemudian datang seorang wanita setengah baya ke rumahnya. Wanita itu dihalangi oleh pengawalnya, namun Pak Bos membiarkan wanita itu masuk dan menyuruh semua pengawaalnya keluar. Wanita itu adalah Lestari Hayati, ibu dari Hayati. Betapa terkagetnya Pak Bos melihat wajah wanita itu. Wanita itu adalah perempuan yang telah mengisi hatinya dulu, yang membuatnya tertarik untuk pertama kalinya.
“Ku mohon maafkan anakku dia memang sudah berubah akal, bagaimanapun keadaaanya dia adalah anakmu” kata Lestari.
“Bukankah saat itu aku sudah bilang untuk menggugurkan kandunganmu?” tanya Pak Bos.
“Tidak aku tidak bisa, meskipun aku wanita jalang aku tidak mau menggugurkan kandunganku, lantas sekarang apa kamu tidak bisa memaafkannya, baiklah kalau kamu tetap tidak bisa membebaskannya aku kan berkata kepada semua orang bahwa seorang menteri busuk seperti kamu telah menghamili rakyat jelata yang hina seperti aku ini” kata Lestari sambil berlalu.
Setelah percakapan itu berakhir, Dia dan anak-anaknya menjauhi pukat hayat yang selama ini selalu menghantui kehidupannya. Mencoba melupakan kenangan pahitnya di mana ia harus menengadah mencari rizki di pinggir jalan. Mengemis kehidupan pada orang lain. Masa itu sudah berlalu, kini tinggallah ia bersama anak-anak kecilnya.