Pada masa di mana manusia hidup berdampingan dengan bangsa lelembut, ada sebuah hutan terlarang yang memang di keramatkan, walau sebenarnya tidak ada yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi pada hutan tersebut.
Sebut saja namanya Wira, perjaka yang tinggal seorang diri ini, sehari-hari nya hanya mencari kayu bakar untuk di jual ke pasar, karena hutan yang biasanya dia mencari kayu bakar kini telah habis.
Pantang untuknya menebang pohon yang masih hidup, suatu ketika, dia yang habis selesai menjual kayu bakar bertemu dengan Bagas, pencari kayu bakar lainnya, dia menyarankan untuk mencari kayu bakar di hutan mati.
Satu dan lain hal itu hanya alasan Bagas, dia merasa tersaingi, kayu bakar yang di jual Wira berkualitas sangat bagus sehingga banyak orang membeli kepada Wiradari pada Bagas.
"Carilah ke hutan mati, di sana banyak"
ujar Bagasyang meyarankan.
"Memangnya kamu pernah ke sana?"
tanya Wira yang memintal kembali tali terbuat dari rotan.
"Kau kan tidak menebang pohon yang masih bernafas"
seru Bagas sambil tertawa.
Sebagian orang berpikir wira yang melakukan tebang pilih terlihat aneh, namun dia tidak pernah menghiraukan pandagan orang lain.
Tertarik dengan perkataan Bagas, Wira mempersiapkan barang-barang yang akan di bawa, dia juga selalu membawa bekal yang di bungkus daun jati.
Ada perasaan ragu di hatinya, hutan mati adalah hutan terlarang, hampir 20 tahun terakhir jalan menuju hutan mati di tutup warga sekitar, konon ada seoarang puteri cantik yang mencari calon suami.
Namun semua di tepisnya, dia kesana dan akan membuktikan bahwa omongan orang-orang tidak benar, dia bisa mencari kayu bakar banyak disana.
Wira pun beristirahat mempersiapkan untuk benar-benar fit berangkat kesana.
.
.
.
Paginya Wira telah siap pergi ke hutan mati, tidak begitu pagi setidaknya dia bisa melihat sinar matahari yang terang, dia berjalan lumayan jauh dari rumah dan pasar, Wira terus berjalan menerjang rerumputanyang menjulang tinggi, karena tidak ada yang lewat jalan itu tentunya selama 20 tahun terakhir jalan tertutup rerumputan.
Sampai dimana pohon pinus berjejer membentang seperti lorong gerbang, penuh kabut dan dingin, Wira tetap nekat masuk tidak ada rasa takut, bila dia tidak mencari kayu bakar, tidak ada pemasukan untuk mendapatkan beras.
Dia terus berjalan tanpa rusa curiga, namun sebuah sepasang mata yang menyeramkan membuka matanya, merasa ada yang masuk ke hutannya, dia diam-diam memperhatikan, Wira mulai memasuki hutan mati,benar kata Bagas, banyak pohon yang tumbang karena mati.
Wira pun memulai aksinya, dia memotong dengan kapak, di potong menjadi potongan kayu bakar, memilih dan mengikat hingga tertumpuk lebih dari lima ikatan besar.
"Terimakasih aku akan kembali lagi"
ujar Wira yang menaruh ikatan besar kayu bakar di punggungnya.
Mendengar hal tersebut, sepasang mata menyeramkan yang mengawasinya, perlahan berubah menjadi mata manusia biasa, berubah di balik pepohonan, seorang puteri nan cantik, namun dia tidak memberi tahu keberadannya kepada Wira, dia hanya tersenyum,pertama kalinya ada pria yang berterimakasih kepada pohon.
Puter tersebut mengikuti Wira pulang, besok dia kan bersiap mengantar kayu bakar pesanan orang, sesampainya di rumah, Wira segera memasak untuk makan malam, Bagas heran melihat kayu bakar Wira yang sangat banyak, dia tidak percaya Wira pulang dengan tenang, tidak ada perasaan takut.
Muncul rasa ingin mencuri kayu bakar yang di bawa Wira, dia tidak akan tahu bila Bagas yang mengambil sedikit, belum juga dia menjalankan rencananya, sosok puteri itu muncuk di belakang Bagas, wajahnya terlihat menyeramkan, matanya melotot, benar saja Bagas yang menoleh ke belakang kaget dan berteriak kencang.
"Aaarrrrkkkkkkk"
jeritnya sambil berlari, namun tangan puteri yang kulitnya sangat putih pucat itu menutup rapat mulut dan hidung Bagas, kukunya yang panjang dan hitam masih tercium bau amis darah.
Wira yang mendengar merasa heran siapa yang berteriak di dekat rumahnya, dia pun keluar dan melihat sekitar namun tidak ada yang dilihatnya.
Sementara Bagas yang di culik puteri hutan, menjadi santapan sang puteri, dia paling suka jeroan manusia, kuku yang panjang mencabik dengan mudah perut Bagas, dengan lahap puteri tersebut makan, bahkan sampai pipinya penuh dengan darah segar Bagas.
.
.
.
Ke esokan paginya Wira pergi menuju pasar, dia menukarkan banyak barang dengan kayu bakarnya, mulai dari beras, daging hingga kebutuhan lainnya, di pasar tengah heboh berita penemuan mayat di bawah kaki gunung hutan mati.
Mayat yang diketahu sebagai Bagas ini di temukan dengan keadaan yang mengenaskan, meninggal dengan isi perut yang hampir semuanya hilang dan hancur,warga mengira dia dimakan beruang atau binatang buas lainnya.
"Nak Wira dengar tidak, pagi tadi pak Minto menemukan mayat"
ujar seorang pedagang.
"Mayat???"
"Itu mayatnya Bagas, biasa cari kayu bakar juga, dia mati mengenaskan, isi perutnya sobek dan bola mata nya hilang,semacam di makan hewan buas"
tambah pedagang yang menjadi langganan kayu baakar Wira.
"Binatang buas? memangnya di temukan di mana pak?"
"Kaki gunung hutan mati."
Mendengar hal tersebut Wira pun tidak berpikir apa-apa, dia kesana hanya untuk mencari kayu bakar,bahkan tidak ada yang aneh apalagi bertemu dengan hewan buas. Mungkin saja Bagas tengah apes.
Wira kembali kesana dan mencari kayu bakar yang banyak, sebagai ucapan terimakasih, Wira menanam bibit pohon agar hutan tersebut tidak di sebut hutan mati.
Karena sikap Wira puteri hutan menyukainya, dia selalu berubah menjadi puteri nan cantik dan berpakaian layaknya seperti puteri kerjaan pada umumnya. Bersembunyi di balik pepohonan dan hanya memperhatikan Wira.
Dia kembali pulang malam pun berlalu, cuacanya berubah menjadi dingin, warga kampung merasa ada yang aneh, tidak biasanya mereka yang keluar malam pada biasanya merasa merinding.
Ketika semua orang telah terlelap, puteri hutan itu kembali beraksi, dia menculik pedagang yang siang tadi berbicara kepada Wira, seperti biasa dia membekap mulut dan hidung dengan tangannya.
Tidak bisa teriak dan berontak, dengan cepat puteri hutan tersebut membawa badan bapak itu ke tempat warga menemukan badan Bagas, dia kembali memakan jeroan dari bapak itu. Semakin banyak dia makan semakin baik untuknya dan selalu mata para korbnannya di kumpulkan.
Kesesokan paginya warga kembali heboh, bahkan sampai beberapa hari warga tidak ada yang berani keluar malam, puteri hutan hanya mengincar orang-orang yang membeli kayu bakar dari Wira, sebagai ganti kayu yang mereka beli adalah bola matanya.
Bola mata yang di ambil akan tanam di tanah hutan mati, karena itu sebagai ganti yang memakai kayu bakar dari pohon yang di tanam adalah nyawa mereka.
Malam ini dia harus bisa mendapatkan sepasang bola mata lagi, agar lengkap semuanya 1000 pasang mata, mangsa terakhirnya adalah Wira.
Wira seperti biasa pergi ke hutan mati, tidak ada rasa curiga sampai dia bertemu dengan puteri hutan, kaget dan takut Wira merasa curiga, bagaimana ada gadis cantik di tengah hutan mati, belum juga berlari, sang puteri dengan mudah berpindah tempat, tepat di depan Wira, sang puteri menjulurkan tangan dan meniupkan sesuatu berupa debu berwarna coklat.
Perlahan Wira jatuh pingsan, terakhir yang dilihatnya adalah wajah sang puteri, tubuh Wira di tempatkan di sebuah hamparan batu besar, sang puteri mengangkat tangannya yang berubah dengan kuku yang panjang dan tajam, perlahan kukunya menembus mata Wira yang di biarkan terbuka, untuk di ambil bola matanya.
Mata Wira sendiri dapat melihat walau tubuhnya tidak dapat bergerak, kuku panjang sang puteri menembus dan menarik bola matanya hingga keluar, kini kedua bola mata Wira berada di tangannya,
Siputeri kembali menanam sepasang bola mata tersebut, tidak lama bola mata tersebut menyala, mengeluarkan cahaya merah terang.
Terjadilah gempa, bahkan semua penduduk warga yang tertidur malam itu bangun dan segera berlari keluar, mereka melihat cahaya terang berasal dari hutan mati.
Warga pun segera berlari meninggalkan tempat tersebut, hutan mati sebenarnya adalah tubuh seorang iblis raksasa,yang di bekukan oleh seorang raja yang kini telah wafat, raja pernah berpesan bila suatu saat hutan mati itu hidup kembali segera berlari jauh pergi.
Iblis raksasa memiliki seoarang anak dengan manusia, puteri hutan adalah anak nya berperawakan manusia, bahkan mata sang isteri di tanam utuk bisa menghidupkan sang ayah.
Kini iblis raksasa itu tinggal bersama sang puteri dan Wira yang masih hidup dijadikan suami oleh sang iblis, mereka terus menghantui dan memburu manusia sebagai santapan.
.
.
.
Terimakasih telah mampir di cerpen ku.