Bagi Usman kehidupan sudah mulai membosankan, dengan kekayaan yang ia miliki seakan hidup ini sudah tidak ada tantangan, serasa keinginan untuk bertarung dan berlomba untuk menjadi yang terbaik sirna.
Usman berusaha merubah berbagai hal yang menurutnya bisa membuat keinginan dan gairah hidupnya bisa berkobar kembali. Ia merubah dekorasi ruang kerjanya, ia juga memecat beberapa bawahannya yang menurutnya kurang bersemangat, bahkan ia menjual mobil dan handphone lalu membeli seri keluaran terbaru. Namun tetap saja ia merasakan kehampaan dalam dirinya.
"Apa lagi yang kurang dalam hidupku?, Semua sudah ada kurasa"
Usman terus mencari celah dalam hidupnya yang membuatnya sangat kosong. Ia tak menyadari justru jawaban yang ia cari ada didekatnya dan itu datang dari hal kecil yang sering kali ia abaikan.
Berawal dari perjumpaannya dengan seorang pedagang roti keliling bernama Sofyan di suatu sore, dari sinilah perlahan Usman menemukan jawaban yang ia cari.
Sofyan yang saat itu berhenti sejenak untuk istirahat setelah berkeliling menjajakan roti dan tubuhnya merasa letih bertemu dengan Usman yang duduk lesu sambil merokok di dekatnya. Sofyan melihat Usman dengan pandangan aneh, bagaimana tidak sosok Usman yang dilapisi pakaian bermerk dan berharga mahal berbanding terbalik dengan wajahnya yang seperti kehilangan senyum dan gairah dibalik kepulan asap rokok yang keluar dari bibirnya.
"Bapak sepertinya kurang bersemangat?"
Usman memandang sejenak Sofyan dengan pandangan meremehkan lalu kemudian mengalihkan kembali pandangannya.
"Maaf kalau mengganggu...cuma harusnya bapak terlihat senang dengan pakaian mahal yang bapak pakai bukan tenggelam dalam perasaan gulana???"
Kali ini Usman sedikit merespon Sofyan meskipun belum sepenuhnya mau akrab.
"Apa hubungannya pakaian dengan perasaan?"
"Memang tidak banyak berpengaruh pak, hanya saja agak aneh rasanya jika orang berpakaian mahal justru malah wajahnya tidak bahagia"
"Oh ya nama saya Sofyan pak..." Sofyan mengulurkan tangan tanda perkenalan ke Usman, lalu disambut dengan agak dingin oleh Usman sambil menyebutkan namanya.
"Pak Usman mungkin mencari sesuatu yang salah dalam hidup bapak, tapi ketika bapak mencari kesalahan yang terlihat malah keadaan yang baik-baik saja"
Kali ini Usman mulai mengubah posisi duduknya dan mulai mencoba mengakrabkan diri dengan Sofyan, ia merasa ada sesuatu yang baru ia temukan dibalik sosok sederhana dan lusuh si penjual roti keliling ini.
"Tolong lebih diperjelas kalimat yang tadi" pinta Usman.
"Begini pak, bukannya mau mengajari tapi terkadang kita mencari sesuatu yang sebenarnya akan kita temui ketika kita mau melihat ke dalam diri kita sendiri, mungkin karena ego kita sehingga yang jelas ada malah tidak terlihat ada"
Usman sedikit mengernyitkan kening mendengar kalimat yang keluar dari mulut Sofyan, namun perlahan ia meresapkan kata-kata itu dan mulai membuka ruang dalam hatinya yang selama ini mungkin belum pernah ia masuki.
"Saya sedikit-sedikit mulai memahami, jadi mengapa tidak kita lanjutkan pembicaraan ini lebih jauh lagi!?"
Sofyan tersenyum mendengar hal tersebut sembari melihat jam tangannnya sambil berkata
"Baiklah...masih ada sedikit waktu sebelum saya lanjut keliling berjualan"
"Jangan khawatir...saya akan mengganti waktu bapak sesuai harga roti yang bapak punya saat ini" jawab Usman dengan yakin.
"Tidak semua hal bisa dinilai dengan uang, mungkin kalimat itu terdengar usang pak tapi coba bapak pikirkan, bukankah bernafas tak perlu mengeluarkan uang? Bahkan bersedih dan tersenyum pun tak ada biaya yang dikenakan...itu berarti tidak semua hal bisa diganti dengan uang"
"Lalu apa yang bisa menggantikan uang??? Bukannya semua orang bekerja untuk uang? Bapak juga jualan roti untuk uang bukan?"
"Memang betul, tapi menjadikan uang sebagai kebutuhan satu-satunya hanya membuat kita merasa selalu kurang, bahkan ketika kita sudah punya banyak uang yang ada malah kita ingin terus menambah dan menambahnya lagi"
Sofyan memandangi Usman yang mulai mendapatkan secercah pemahaman baru meskipun belum sepenuhnya, sosok pria yang secara materi sukses namun kosong dan tidak bahagia dalam jiwanya.
"Kalau bukan uang lalu apa yang bisa membuat seseorang bisa cukup?" Tanya Usman.
"Cobalah bersyukur, dan manfaatkan kelebihan materi yang bapak punya untuk berbagi kebahagiaan dengan orang yang tidak seberuntung bapak"
Usman melihat kembali dirinya dan merasa selama ini tidak pernah bersyukur dan selalu merasa kurang, itulah yang membuat hidupnya semakin lama terasa membosankan.
"Baiklah pak...saya rasa sudah cukup ngobrolnya, saya masih harus keliling jualan" kata Sofyan sambil bersiap untuk pergi, sontak Usman kaget sambil tergagap ia kemudian menyadari sesuatu.
"Eh...tunggu dulu pak...aduh kok saya lupa...jadi saya harus bayar berapa?.
Sofyan hanya tersenyum dan sebelum berbalik pergi ia berkata
"Cukup perbaiki kehidupan bapak, itu sudah lebih dari membayar saya".
Sejak itu Usman tahu apa yang harus ia lakukan untuk membangkitkan kembali semangat hidupnya.