Naina berdiri di pinggir jalan. Bukan sedang menikmati bunga bugenvil yang sedang mekar cantik-cantiknya. Tapi menatap layar handphone yang menampilkan ramalan zodiak hari ini dari sebuah situs internet.
Aquarius
Anda memiliki banyak peluang sosial yang menarik, tetapi selektiflah terhadapnya.
Kata kunci hari ini: Waspada
Angka keberuntungan: 72
Warna keberuntungan: Kuning
Waktu keberuntungan: 16:00
Mata Naina bertemu dengan Bapak ojek online yang sedang mencarinya dekat titik aplikasi. Buru-buru Naina berlari mendekat.
"Udah nunggu lama ya Kak? Maaf ya di perempatan tadi macet."
"Enggak apa-apa Pak..." sahut Naina sambil memakai helm yang diberikan Bapak ojek online. "Oh iya, nanti bawa motornya hati-hati ya Pak! Jalanannya lagi nggak enak, banyak yang direnovasi."
"Siap Kak! Jalan ya..."
Motor Bapak ojek online justru melesat bak anak panah. Naina dibelakangnya hanya bisa komat-kamit berdzikir. Seorang wanita tua tiba-tiba menyeberang dan memotong jalan di depan mereka. Motor Bapak ojek online itu hampir membunuhnya jika saja telat menarik rem. Wanita tua itu jatuh terduduk saking kagetnya.
Naina turun dan menghampirinya dengan cemas. "Nenek gak apa-apa? Ada yang sakit? Nenek kuat bangun nggak? Apa kita ke klinik aja?"
"Ndak apa-apa kok Nduk..."
"Nenek yakin? Bisa jalan Nek? Saya beliin minum dulu ya..."
Wanita tua yang disapa nenek itu meraih tangan Naina, "Nenek enggak minta apa-apa. Kamu dengarkan Nenek baik-baik, menikahlah sebelum usia 30 tahun, jika tidak kamu akan mati di hari itu."
Wanita tua itu melanjutkan perjalanannya seolah tak pernah terjadi apa-apa. Meninggalkan Naina dengan perasaan penuh tanda tanya.
Setibanya di rumah Naina masih belum bisa melupakan ucapan wanita tua yang aneh itu. Sambil menyantap makanannya Naina berpikir bagaimana caranya dia menikah sedang calon atau pacar aja nggak punya. Dan lagi ulang tahun ke-30 nya itu sebulan lagi. Apa iya bisa mencari calon suami dalam waktu sebulan.
"Assalamu'alaikum..."
Pandangan Naina kembali fokus dari lamunannya dan tertumbuk pada sosok Lala yang datang mengantarkan pesanannya. Satu pot janda bolong di tangan kiri dan satu pot lidah mertua di tangan kanan.
"Janji aku tuntas ya! Tanaman mehong-mehong gini tuh dirawat jangan nanti ditumpuk di gudang. Hobi amat bakar-bakar duit jaman corona gini."
Naina sudah cukup malas membalas serentetan kalimat yang begitu cepat keluar dari mulut Lala dan hanya mengiyakannya dengan pasrah.
"Yaa Allah... namanya hidup ya, ada perempuan mandiri, masih lajang, nggak ada tanggungan, belum pernah ngerasain yang namanya tajamnya lidah mertua. Beda potongannya sama akika yang cerai hidup gini, disana dirasani, mau kemana dirasani, wes pokoknya dimana-mana kemana-mana dirasani rak uwis-wis."
"Emang yang lajang bisa bebas dari lambe nyinyir orang?!" tutur Naina mencoba mengakhiri curhat colongan Lala.
"Oh iya... Itu lambe teteup aja turah-turah ya... Makanya nikah gih sana mumpung corona biaya murah enggak pakai resepsi tetap dimaklumi."
Kenapa nikah yang hukumnya sunnah bisa jadi kayak wajib ain ya di masyarakat, pikir Naina. Tapi kalau ramalan wanita tua tadi benar, kalau enggak nikah bakal mati, gimana dong?!
Kebingungan dan keraguan Naina tak pernah ada jawabannya di ramalan zodiak, shio atau bahkan primbon sekalipun. Dengan menghela nafas gusar Naina menengadahkan kepalanya.
"Kalau malam ini hujan, aku akan mulai misi pencarian suami. Tapi kalau enggak, aku akan hidup seperti biasa. Seperti hari ini, kemarin, dan sebelumnya. Seolah tak pernah terjadi apa-apa." ikrar Naina dalam hati.
Esoknya Naina membuka jendela dan mengamati tanamannya di halaman tak ada yang kekurangan air satupun. Hujan semalam memberi mereka asupan yang cukup. Naina masih terdiam di tempatnya. Siapa sangka dia akan termakan janji asal-asalan yang dibuatnya.
Karena tak tahu harus mulai dari mana Naina memutuskan mengunjungi kediaman Pak Haji. Barangkali beliau punya kenalan santri yang bisa dijodohkan dengannya atau paling tidak bisa minta jimat pengasihan atau laku tirakat apalah.
Berbicara empat mata dengan Naina membuat Pak Haji hanya tertawa terpingkal-pingkal. Baru kali ini ada orang datang padanya ingin nikah gara-gara ramalan.
Seorang santri datang membawakan minuman untuk mereka. "Udah, kalau enggak kamu nikah sama dia aja!" tukas Pak Haji. "Dia yang bantuin saya ngajar ngaji di sini. Dia juga belum nikah loh!"
"Ah, Pak Haji bisa aja!" Naina mencoba memotong sesi promosi calon suami yang ditawarkan Pak Haji.
Ketika santri itu sudah keluar agak jauh Pak Haji melanjutkan pembicaraannya, "Kamu itu kalau mau cepat nikah jangan pilih-pilih. Standartnya diturunin."
Mendengar itu Naina hanya bisa ngedumel dalam pikirannya, gimana nggak pilih-pilih kan yang mau nikah dia bukan Pak Haji. Kalau pas ngelihat naksir aja enggak gimana mau nikah.
Setibanya di rumah Naina yang cemas karena ikhtiar nya ke Pak Haji gagal segera memasang aplikasi pencari jodoh di gawainya. Melihat-lihat daftar lelaki yang kalau menggunakan istilah acara televisi zaman dulu termasuk high quality jomblo. Naina membuat kesepakatan bertemu dengan beberapa lelaki. Naina berharap salah satu dari mereka akan menjadi pembawa kabar bahagia untuknya yang dikirim oleh Tuhan.
Rasa kecewa datang bertubi-tubi menghampiri Naina. Banyak dari para lelaki yang ditemuinya berbohong menggunakan foto profil palsu. Naina sedih namun belum sempat beranjak dari duduknya karena masih ada seorang lagi yang mesti ditemuinya di cafe itu.
Kedua tangan Naina menutupi wajahnya. Mencoba menghalau perasaan tak menentu yang menggelayuti hatinya. Hingga tangan yang lain memegang pundak Naina pelan.
"Aku nggak bikin kamu kaget kan?" tanya lelaki yang ada di hadapan Naina.
"Oh enggak! Dilan ya?!" tebak Naina yang sesaat merasa hilang akal.
"Iya, aku duduk ya."
Sesaat mereka sudah saling bercerita tentang satu sama lain. Naina merasa terhibur dengan guyonan Dilan yang receh. Mereka memutuskan untuk kembali bertemu. Namun pertemuan kedua nanti Naina minta Dilan menemaninya memancing.
"Hobi kamu unik juga ya... Jarang loh ada cewek suka mancing."
Naina hanya merespon dengan senyuman. Tentu saja Naina sedang bohong demi ingin tahu seberapa sabar Dilan mampu menghadapinya.
Perlahan tapi pasti Naina menerima kehadiran Dilan di hatinya. Dilan yang pantang menyerah mengimbanginya sekalipun jarak usia mereka terpaut jauh. Dilan yang usianya jauh lebih muda juga lebih pandai mengekspresikan rasa sayangnya pada Naina.
Seperti saat Dilan mengajak Naina ke toko sepatu dan membelikannya sepasang sneakers berwarna biru.
"Kenapa nggak sekalian aja beliin aku pantofel biar bisa dipakai buat kerja?!" kelakar Naina.
"Kalau aku beliin pantofel nanti kamu lupain aku gara-gara sibuk kerja, kalau sneakers ini kan bisa kamu pakai berlari ke arah aku." timpal Dilan mencoba menggombal. "Besok dinner di rumahku yuk! Silaturahmi sama bapak ibu aku."
Badan Naina lemas mendengar ajakan Dilan. Kepalanya mengangguk perlahan sambil terus menahan senyum yang membuat wajahnya panas dan bersemu merah.
Di hari yang ditentukan Naina datang mengenakan setelan sutra yang cantik. Memberikan buah tangan yang dibawanya dan memperkenalkan dirinya pada orang tua Dilan.
Naina menikmati spaghetti mushroom yang dimasak Ibu Dilan. Beruntung banget bapaknya Dilan bisa dapat istri yang pinter masak makanan seenak ini, pikir Naina.
"Dihabisin ya Naina... Nanti penutupnya Ibu bikin dimsum."
Mendengar menu yang akan dikeluarkan itu saja sudah membuat Naina menelan air liurnya sendiri.
"Oh iya Naina... Kamu wetonnya apa?" interogasi calon mertua rupanya sudah dimulai.
"Selasa Wage," sahut Naina.
Seketika kedua orang tua Dilan berubah ekspresi wajahnya menjadi datar. Tak disangka itu menjadi pertanyaan terakhir hingga Naina pamit pulang.
Esoknya Naina memberanikan diri memastikan segalanya pada Dilan melalui sambungan telepon. Suara Dilan terdengar mengering dan hampir terbenam saat bercerita bahwa kedua orang tuanya memerintahnya memutuskan hubungan dengan Naina. Jika diteruskan akan ada salah satu dari keluarga mereka yang meninggal.
Naina ingin protes dengan alasan yang tak masuk akal itu. Namun tak kuasa saat teringat dirinya pun memulai kisah mereka dari sebuah ramalan yang juga sama tak masuk akal nya. Naina tahu hati Dilan pun kini sedang meratap. Dia mencoba mengelak membahasnya saat itu juga dan memutuskan sambungan telepon mereka.
Sepulang kerja Naina terjebak hujan yang tiba-tiba turun sangat deras nya. Naina masuk ke sebuah kafe tak jauh dari tempat kerjanya. Berteduh hingga hujan reda. Memanfaatkan waktu menyeruput segelas coklat panas untuk menghangatkan badannya yang sempat terkena air hujan. Namun kehangatan yang dirasakannya justru membawanya merindukan pelukan Dilan.
Sesaat Naina seperti merasakan keberadaan Dilan di dekatnya. Awalnya dia mengira sedang berhalusinasi mendengar suaranya. Namun akhirnya Naina sadar, lelaki yang duduk dimeja belakangnya adalah Dilan. Mereka terpisah partisi yang terbuat dari aluminium berwarna hitam, merah dan putih dengan motif sulur.
"Aku setuju berjumpa denganmu karena menuruti permohonan orang tuaku. Aku sendiri sebenarnya sudah berjanji untuk menikahi orang lain Heya... Aku sendiri tak tahu apa di sepanjang perjalanan kita nanti aku mampu terus menggandeng tangan kamu sebagai istri aku. Jadi, jika kamu ingin menyelamatkan diri dari perjodohan ini, larilah sekarang Heya..." suara Dilan terbata-bata dan terdengar sedih.
"Sementara kamu menuntaskan perasaan kamu ke perempuan itu, aku nggak akan pergi kemanapun. Aku bahkan nggak bisa mikir melarikan diri dari kamu Lan... Maaf!"
Naina mengerti keberadaannya terjepit. Mungkin memang perempuan bernama Heya yang hanya dia tahu suaranya itu yang pantas untuk Dilan. Naina mengamati sneakers yang selalu nyaman dipakainya untuk pulang dan pergi ngantor. Sneakers yang dibeliin Dilan agar dia bisa berlari ke arahnya. Naina memutuskan mencopot sneakers itu dari kakinya. Membawanya menghampiri meja Dilan.
Dilan kaget, panik, kehabisan akal mau berbuat apa. Seperti seorang yang ketahuan selingkuh. Naina masih terdiam. Terlebih lagi dia mati-matian menahan cemburu pada perempuan di depannya yang lebih muda dan lebih cantik darinya itu. Naina memberikan sneakers di genggaman nya pada Dilan. Tak ada kata. Keduanya saling sadar semuanya telah berakhir.
Naina langsung pergi diiringi hujan yang tak kunjung reda. Dia terus melangkah meski hanya mengenakan kaos kaki sebagai alas. Tak digubrisnya lagi ramalan kematian jika dia tak menikah di usia 30 tahun. Karena bagi Naina perpisahan ini sudah serupa kematian.
Naina terbangun di atas kasurnya. Melihat tanggal di layar gawainya. Lalu meraba dada kirinya. Masih berdetak. Hari ini Naina berulang tahun ke-30 dan dia mengkonfirmasi bahwa dirinya masih hidup.
Naina memiringkan badannya. Dia pun masih sendiri. Tak ada seorang suami disisinya saat dia membuka mata di pagi hari. Tanpa sadar Naina menangis. Terkadang perasaan manusia membuat yang fana seperti perpisahan lebih menyakitkan dibanding kematian yang pasti datangnya. (NVL)