🌻
Cit cit cuit ... Cit cit cuit ...
Suara burung Pipit kecil mulai mengusik tidur lelap gadis mungil yang bernama Sill.
Walau mentari masih belum muncul, tapi lagit cerah sudah terlihat. Dengan mata yang masih bengkak, Sill bangun dari ranjang kayunya.
Di loteng rumah kayu dua lantai itu, disana lah Sill tidur untuk beristirahat. Walau berdebu dan sempit, Sill tetap bersyukur karna masih ada tempat untuk ditinggalinya.
Sill segera turun ke lantai dasar untuk memasak dan membersihkan rumah. Sebentar lagi paman dan kedua kakak sepupu nya akan segera bangun.
Walau memiliki tubuh yang kecil, Sill kini sudah berumur sebelas tahun. Dia sudah sangat lihai dalam mengurus rumah dan memasak.
Hari ini, Sill menggoreng telur, roti panggang, dan sup untuk sarapan pagi. Setelah selesai, Sill langsung memakan jatahnya dan segera berlari ke halaman rumah untuk bekerja.
~~~
Paman Sill yang bernama Rowen dan kedua anak kembarnya Bily dan Jily sudah bangun dari tidurnya. Mereka segera ke meja makan dan memakan makanan mereka dengan rakus dan tidak sopan.
"La ... La ... La ..."
Sill terlihat semangat seperti biasa hari ini. Dia suka sekali bersenandung jika dia sedang bersemangat. Dengan bersih dan rapi, Sill membersihkan halaman rumah milik pamannya itu.
PLUK!
Sebuah telur mentah pecah mengenai kepala Sill.
"Hahaha ...! Sepertinya kau tidur nyenyak tadi malam ya, gadis bau!" Seru Si kembar Bily dengan perut besarnya yang bergetar karna tertawa.
Sill sudah menduga hal jahat seperti ini hanya bisa dilakukan oleh si kembar jahat dan gendut itu. Sill hanya membersihkan cangkang telur yang menempel di rambut dan bajunya tanpa memerdulikan mereka.
Wajah Bily terlihat kesal mendapati Sill tidak merespon kenakalannya.
"Hei kau! Gadis bau! Berani sekali kau mengacuhkan ku!" Bily dan Jily berjalan mendekati Sill.
BHAM!
Sapu di tangan Sill di tendang oleh Bily hingga terlepas. Seketika Sill melihat kearah mereka berdua.
"Apa yang kalian lakukan?!" Ucap Sill mulai merasa kesal.
"Oohhh ... Bau sekali!! Apa kau belum mandi, hah?!" Gerutu Bily sembari menutup hidungnya erat-erat.
"Aku sudah mandi!" Bantah Sill tak terima dengan tuduhan Bily.
"Hei Kak! Apa kau lupa, gadis ini memang sudah bau sejak lahir. Jadi percuma menanyakan hal itu padanya." Tambah Jily sembari mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir bau.
"Ah! Aku hampir lupa. Sudahlah! Ayo kita pergi! Aku tidak ingin membuat hidungku berdarah karna baunya!" Ucap Bily yang diikuti anggukan dari Jily.
Akhirnya kedua pengganggu itu pergi dan meninggalkan Sill sendiri. si kembar itu hanya tua setahun dari Sill. Hal itulah yang membuat Sill malas berdebat. Lagipula mereka adalah anak paman yang sudah mau menampung Sill.
~~~~
Hari ini cuaca begitu bersahabat, tidak panas ataupun dingin. Sill mengambil tas belanjanya dan berjalan menuju pasar.
Sill masih dalam keadaan bersemangat. Di sekeliling jalan, banyak buah-buahan musiman mulai matang. Sungguh pemandangan yang indah dan lezat. Sill berjalan sambil sedikit meloncat-loncat. Dia mengayunkan tas belanjaan nya sambil bersenandung.
Setelah setengah jam berjalan, pasar rakyat kini sudah terlihat. Di sanalah para penduduk ibu kota melakukan transaksi jual-beli. Namun, pasar ini khusus dikunjungi oleh rakyat biasa. Sedangkan para kaum bangsawan, mereka lebih memilih ke pertokoan elit. Padahal, kualitas barang di toko dan di pasar rakyat sama saja. Itu hanyalah prioritas bagi mereka yang kelewatan gengsi, begitu pikir Sill.
Pasar sudah tinggal beberapa langkah lagi. Sill segera mengambil jubah untuk membalut tubuhnya. Bukan tidak ada alasan. Seperti kata Jily, tubuh Sill mengeluarkan bau yang menyengat dan sangat menggangu. Bukan karna kotoran, tapi sejak dia lahir Sill sudah memiliki bau itu. Sill selalu memakai jubah itu saat dia ingin berinteraksi dalam keramaian agar baunya tak mengganggu orang lain. Sill cukup sadar dengan penyakitnya itu.
~~~~
Dengan cakap dan cekatan, Sill memenuhi tas belanjanya dengan satu persatu barang yang ia beli.
Tiba-tiba mata Sill terbelalak melihat gorengan kue ikan yang baru diangkat dari dalam minyak panas, sungguh menggugah selera.
Sill mulai merogoh saku bajunya, matanya berbinar saat dia melihat dua koin tembaga di sakunya. Sill segera bergegas ke tempat kue ikan itu.
"Emh ... Paman! Berikan aku satu kuenya!" Pinta Sill dengan suka ria.
"Oh! Si Jubah Blonde. Kau mau beli satu?" kata si penjual kue ikan.
"Iya, Paman! Satu saja." Jawab Sill dengan cepat.
"Nah ini, Ambilah! Hati-hati masih panas." Ucap si penjual.
"Terimakasih, Paman!" Sill segera berlalu dari sana.
Ya, Sill sering dipanggil si Jubah Blonde jika dia ke pasar. Arti dari kata itu adalah anak yang memakai jubah dengan rambut pirang atau Blonde.
Sill sudah terbiasa, bahkan tidak sedikit orang yang memberikan makanan gratis karna namanya itu.
~~~~
Saat dalam perjalan pulang, Sill berjalan dengan pelan sambil memakan Kue ikan miliknya.
"Emmhh ... ini sangat enak!" Seru Sill saat mengunyah kue ikan tersebut.
SREK! SREKK!
Sill berhenti melangkah saat mendengar bunyi gemerisik dari semak-semak di sebelah kirinya. Sill tak memerdulikan apa itu. Dia kembali melanjutkan jalannya. Namun, Ada suara lain yang terdengar. Sill menghentikan langkahnya kembali.
Meung .... Oengg ...
Suara kucing yang terdengar samar ada dibalik semak-semak itu. Sill memasukkan kue ikan di tangannya ke kantong. Dia mulai menelisik semak-semak itu dengan hati-hati.
Sill terkejut saat melihat seekor kucing kecil berwarna merah dengan tubuh yang sangat kurus. Sill berjongkok mendekati kucing itu.
"Hei ... Teman kecil, Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Sill tidak berharap kucing itu menjawab.
Kucing merah itu terlihat kesakitan dan terus saja meringkuk.
"Kau lapar?" Tanya Sill kembali.
"Meungg ..."
"Oh! Sebentar, aku punya kue ikan, kau mau?" Sill mengambil kue ikan miliknya di kantong.
"Ini, ini untuk mu! Makanlah ... Ini sangat enak lo!" Ucap Sill dengan senyuman kecilnya.
Kucing itu mengendus kue ikan yang diberikan Sill dan segera memakannya. Kucing itu memakannya dengan lahap.
"Ah! Aku tidak punya air! Kau pasti haus kan? Ayo kita cari air dulu! Di depan sana ada sungai, ayo!" Sill mengangkat kucing merah itu dalam rangkulannya.
Beberapa meter kemudian, Sill sampai di sungai dan segera meletakkan kucing itu di sebelahnya.
"Ini! Minumlah!" Sill menyodorkan kedua tangannya yang berisi air dekat dengan mulut si kucing.
"Bagus! Kau pasti sudah kuat sekarang. Apa kau punya rumah? Ini hampir sore, pulanglah ke rumahmu ya! Aku juga harus segera pulang untuk memasak makan malam. Jaga dirimu baik-baik ya, kucing kecil!" Sill segera berlari dari sana meninggalkan kucing merah itu sendiri.
~~~~
Matahari kini mulai menjingga di langit. Para kawanan burung pun mulai terbang kembali ke sarangnya.
Sill sampai di rumah dengan selamat. Dia segera ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Rebusan daging, roti kukus, dan tumis sayur sudah siap dihidangkan. Sill segera memasukkan jatah makannya ke piring dan naik ke loteng, tempatnya beristirahat.
Saat sedang menyantap makan malamnya, Sill seperti mendengar sebuah suara samar dari luar. Sill mendekatkan wajahnya ke jendela bulat kecil untuk melihat asal suara.
"Eh?! Kenapa kucing itu disini?!" Sill terkejut melihat si kucing merah mengikutinya hingga ke rumah.
Sill segera turun dari kamarnya. Dia takut jika pamannya mendengar suara kucing itu, pasti pamannya akan marah karna berisik.
"Meyong ... Oengg ..."
Kucing itu terus bersuara, "Shiihhh! Jangan berisik, kenapa kau mengikuti ku ke sini? Sana pergi, kembali ke rumahmu! Kalau tidak pamanku akan marah nanti, sana!" Pinta Sill dengan suara yang pelan.
Namun, kucing itu tidak mau pergi. Dia malah mengeluskan kepalanya ke kaki Sill dengan manja.
"Apa yang kau lakukan?! Sana pergi ...! Ayo cepat!" Pinta Sill kembali.
"Sil?! Apa yang kau lakukan di sana?! Cepat masuk!" Seru paman Rowen yang membuat Sill terkejut.
"I ... Iya Paman!" Sahut Sill cepat.
Tidak ada pilihan lain, Sill terpaksa harus membawa kucing itu bersamanya.
"Ingat! Kau tidak boleh berisik, jika kau berisik ... Aku akan membawamu ke penampungan besok! Kau mengerti?!" Pinta Sill pada kucing merah itu.
~~~~~
Setelah malam itu, kini Sill dan kucing merah yang ia beri nama Ru, menjadi teman yang baik. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama.
Namun, Ada kalanya si kembar Bily dan Jily melakukan hal jahat kepada Ru, tapi malah mereka sendiri yang kena.
Seperti saat Jily ingin melempar Ru ke dalam air, tapi malah dia sendiri yang jatuh. Kucing itu sungguh memiliki keberuntungan yang besar.
Namun, suatu kejadian mengagetkan terdengar hingga ke telinga Sill. Saat dia di pasar, Sill melihat poster wajah kucing yang sangat mirip dengan Ru ada di mana-mana. Dan siapapun yang bisa menemukannya, akan diberikan hadiah besar oleh raja sendiri.
Bahkan, ada kabar bahwa kerajaan tengah mencari kucing itu. Rakyat pernah bergosip bahwa, Kucing yang tengah dicari oleh pihak kerajaan adalah keturunan raja iblis yang menyebabkan peperangan besar 50 tahun silam. Namun, iblis itu berhasil disegel ke dalam bentuk kucing. Sungguh rumor yang aneh menurut Sill.
Namun anehnya, Sill merasa khawatir dengan rumor itu. Sill segera mempercepat langkahnya kembali ke rumah. Jika sampai pamannya tau tentang berita ini, maka entah apa yang akan terjadi dengan Ru.
~~~~
DEG!
Tubuh Sill mematung di pagar depan rumah saat melihat tubuh Ru yang di kurung di dalam sangkar burung oleh pamannya.
Sill segera berlari menghampiri paman dan si kembar yang berdiri di depan rumah.
"Pa ... Paman ...! Apa yang paman lakukan?! Kenapa Paman mengurung Ru di sana?!" Seru Sill dengan panik.
"Tentu saja untuk menyerahkan kepada pengawal kerajaan. Dan sebentar lagi mereka akan sampai." Jelas paman Rowen dengan ketus.
Sill tercegat mendengar perkataan sang paman.
"Ti ... Tidak Paman! Jangan lakukan itu! Lepaskan Paman! Lepaskan!" Sill mencoba merebut paksa Ru dari tangan pamannya.
Namun, Sill malah terhempas ke tanah karna di dorong keras oleh Bily.
"Hei kau! Dasar gadis bau! Menjauh sana! Jangan ikut campur! Kita akan segera menjadi bangsawan setelah ini! Dan kau! Pasti akan bangga menjadi pelayan bangsawan nantinya, jadi diam lah!" Ketus Bily dengan wajah sinis.
Sill sangat marah dengan sikap pamannya itu, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Namun, Sill tidak akan membiarkan Ru dibawa pergi.
"RU ...!!! BANGUNLAH RU ...!" Seru Sill yang membuat paman Rowen menyuruh Bily dan Jily membungkam Sill.
Namun, tak sia-sia teriakan Sill, Ru bangun dari tidurnya. Seketika saat melihat Sill dipegang oleh si kembar, Ru memberontak di dalam sangkar hingga sangkarnya terjatuh ke tanah dan terbuka.
Sill juga tak tinggal diam, dia langsung menghentakkan tubuhnya agar terlepas dari pegangan Bily dan Jily.
"Ru ...!! Kemari cepat ...!!!" Teriak Sill menyuruh Ru untuk lari ke pelukannya dengan cepat.
Segera setelah Ru berada di pelukan Sill, gadis itu langsung berlari dari sana menuju ke hutan.
"Kurang ajar! Cepat kejar gadis itu!!! Cepat!" Teriak Paman Rowen dengan keras.
~~~~
Tanpa menoleh ke belakang, Sill terus berlari ke dalam hutan dengan cepat. Dia tidak akan membiarkan Ru diambil oleh mereka. Tidak sedikit kenangan yang ia miliki bersama Ru. Tak akan mudah bagi Sill untuk berpisah dari Ru.
'Ru ... Jangan khawatir ... Aku akan selalu melindungi mu ... Apapun yang terjadi, selamanya!' Ucap Sill dalam hati dan jiwanya.
Sill terus berlari dan terus berlari hingga nafasnya sudah tak beraturan. Dia mulai pusing dan kakinya mulai mati rasa.
BHUK!
"AHKK!" Sill terjatuh ke tanah dan sepertinya kaki kanan Sill juga terkilir.
"Ahh ... Gawat! Ka ... Kakiku tidak bisa bergerak!" Gerutu Sill sembari memukul-mukul kakinya.
"WOI ...!!! GADIS BAU!!! BERHENTI ...! DIMANA KAU?!!" Suara teriakan Bily dan Jily yang mulai mendekati tempat Sill terjatuh.
Sill mulai panik, dia benar-benar tidak bisa berlari sekarang. Tidak, Sill tidak bisa membiarkan Ru dibawa oleh mereka.
"Ru ...! Pergilah! Lari sejauh mungkin! Dan kalau bisa bersembunyi lah! Ayo! Cepat Ru! Kumohon!" Pinta Sill kepada Ru yang terus saja menggigit lengan baju Sill memintanya untuk berdiri.
"Meung ... Oengg ....!"
"Tidak Ru! Aku tidak bisa berlari sekarang! Pergilah! Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja, mereka tidak akan melukaiku jika kau tidak bersama ku. Pergilah Ru! Kumohon! Demi aku!" Pinta Sill dengan sangat.
Akhirnya Ru berlari menjauh dari sana.
"Bagus Ru, teruslah berlari, jangan sampai kau tertangkap. Aku tidak ingin melihatmu terluka, temanku!" Ucap Sill degan lirih dan air mata.
~~~~~
"Ah!! Itu dia! Cepat tangkap dia Jily!! Cepat!" Seru Bily yang sudah tinggal beberapa langkah dari Sill yang mulai merangkak pelan.
"Hei! Berhenti disana!!!" Pekik Jily yang mulai mendekat.
Sill terus bergerak dan bergerak, dia akan mengecoh si kembar itu kearah lain dari Ru.
"Hahaha ...!!!! Hufh! Akhirnya kau tidak bisa kemana-mana lagi!" Ucap Jily.
"Tunggu! Dimana Kucing itu?! Dia tidak bersama gadis bau itu! Hei kau! Dimana Kucing itu! Ayo katakan!!!" Teriak Bily dengan kesal.
"Aku tidak tau, dia kabur saat aku lari." Ucap Sill dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Apa?! Ahhkk! Aku kesal sekali sekarang! Tidak ... Aku tidak ingin dipukuli oleh ayah." Seru Bily dengan frustasi.
Bily tiba-tiba berhenti mengoceh dan bergerak. Dia mulai melangkah mendekati Sill yang berdiri dengan Linglung.
Sill terus melangkah mundur tanpa melihat jurang terjal di belakangnya. Bily terus melangkah mendekati Sill.
"Kak! Hati-hati! Itu jurang!" Seru Jily panik saat melihat jurang di belakang Sill.
"Berhenti Bil! Apa kau ingin aku mati?!" Ucap Sill saat melihat langkahnya sudah mendekati lereng.
"Berkorban lah, gadis bau. Atau katakan dimana kucing bodoh itu?!" Bily terus melangkah.
"Bi ... Bily ... berhenti!!!" Pinta Sill dengan tubuh yang mulai gemetar.
"KATAKAN ...!!!"
"AAAAAAAAAAAAAAAAA ....!!!" Tubuh Sill terhempas ke dalam jurang.
Namun ...
Tiba-tiba langit menjadi merah. Angin bertiup amat kencang. Dan tiba-tiba, burung yang terbang di langit jatuh ke tanah dengan keadaan hangus terbakar. Bily dan Jily mendadak berubah menjadi patung tanpa nafas dan gerak.
Bahkan seluruh urat saraf dan nadi berhenti berdenyut. Jantung berhenti berdetak. Dunia tiba-tiba diam sunyi tanpa suara. Hanya sebuah cahaya hitam yang berputar-putar di langit.
"SILL ... MAAFKAN AKU ... AKU TIDAK BISA MELINDUNGI MU ... AKU PENGECUT MENINGGALKAN MU ... SILL MAAFKANLAH KEBODOHAN KU ... AKU TAK BISA MENGATAKAN INI SEBELUMNYA PADAMU ... AKU SANGAT BERTERIMA KASIH PADAMU SILL ... KAU MEMBERIKAN HARAPAN DALAM HIDUPKU YANG TAK BERMAKNA ... AKU SANGAT SUKA MELIHAT TAWA MU ITU ... AKU BAHAGIA SILL ... MAKA DARI ITU ... BIARKANLAH AKU YANG MEMBANTU MU KALI INI ... DAN SEMOGA KAU BAHAGIA SETELAH WAKTU KEMBALI, AKU BERJANJI TIDAK AKAN MASUK DALAM KEHIDUPAN MU LAGI. BAHAGIA LAH ... KEKASIHKU."
Suara menggema itu hilang seketika.
~~~~~
"Ahhh .... Hari yang cerah ...!" Ucap Sill dan segera turun dari ranjang kayunya.
"Aneh ... Aku seperti melupakan sesuatu?" Gerutu Sill memiringkan kepalanya.
Akankah takdir mempertemukan Sill kembali dengan Ru? Mungkin saja tidak, karna Ru sudah lenyap dari dunia ini. Segel pengulang waktu itulah yang dicari oleh kerajaan Masko.
Namun, Itu juga takdir kematian bagi Ru yang ingin hidup bahagia bersama dengan Sill.
🌻
Tak ada kata selamat tinggal dan terimakasih, hanya masa yang bisa berubah dan mengubah.
TAMAT ~
💋❤️💋
TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGANNYA 👍 JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA🤧 GRATIS KOK!
NOTE: Maap agak panjang🤧 biasalah dongeng💋