Hal indah yang sengaja diciptakan untuk kita adalah pertemuan. Ku tahu pertemuan bukanlah hal yang sengaja kau ciptakan, melainkan ini adalah campur tangan Tuhan Ada hati yang coba ingin berlari dari semua ini. Ku tahu ada perasaan yang coba menghindar dari kenyataan ini. Kenyataan bahwa yang ku temui dirimu bukanlah dirimu sesungguhnya. Ku tahu dirimu saat ini hanya menjadi sebuah gambaran palsu yang tak akan pernah jadi kenyataan. Kau hanyalah dapat menjadi sebuah bayangan saja. Nampaklah kita seperti tiga dunia saja. Tiga dunia yang hanya ada kamu, aku, dan dia. Lantas siapa dirimu? Satu pertanyaan itu ku yakini hanyalah kamu yang dapat menjawabnya.
***
Kala sang langit tak dapat bergeming dan hanya kamulah yang dapat menjadi tempat bersandarku. Terkadang hidup memang tak pernah masuk akal. Bersama desiran angin itu, aku merasakan hawa yang sama denganmu. Hawa mesra yang terasa hingga merasuki hingga membuat jantung ini remuk begitu saja. Ku tahu bahwa satu jeda dalam hidupku tak akan berarti tanpa kehadiranmu dan hariku masih sama. Tak terasa aku tenggelam dalam alunan yang tak pernah ku sadari. Pagiku seakan hilang tatkala sang waktu ditelan oleh bumi Aku tak akan sanggup melihatmu seperti ini, dengan tubuh seperti ini.
Seperti memori yang coba kau putar ulang, ku melihat adanya lukisan abstrak. Tidakkah ingatkah kau pada memori saat kita melihat rembulan yang meninggalkan sapuan mesranya untukmu. Cukup sudah rasanya hati ini menerka-nerka semua ini. Aku akan menanyakan padamu saat itu juga atas apa yang telah terjadi padamu. Dalam perasaan kalut ku berjalan melewati sebuah lorong rumahmuyang gelap, nampak cat putih rumahmu sudah memudar. Hawa panas matahari nan menyengat coba menghampiriku, namun nampaknya tak ku hiraukan semua itu. Tak sengaja ku cium bau menyengat dari sudut kamar itu. Sudut kamar yang memang tak asing lagi bagiku. Pemilik kamar itu adalah lelaki yang ku cari saat itu.
Tepat di depan kamar itu aku berdiri. Ku coba menghela napas dan mengetuk pintu itu, namun tak ada jawaban. Ku coba panggil namamu berulang kali, tetap saja tak ada jawaban. Perasaanku berkata bahwa kau sengaja menghindar dari semua ini. Kamu tak akan pernah menjelaskannya padaku atas apa yang telah terjadi padamu selama ini. Keadaan itu membuatku pulang ke rumah tanpa penjelasan apapun darimu.
Senja telah berganti malam, kau tetap sama mencoba meninggalkanku dengan berjuta pertanyaan berkecamuk. Saat ini, aku berada dalam kamar yang pernah kita tinggali. Kamu dan aku berpelukan mesra memandangi rembulan dengan sapuan mesranya. Memori itu masih lekat dalam ingatanku. Kenangan itu hadir bersama tatapan mesramu. Kamu pernah berata ada waktu di mana dia berhenti dan tak bisa memahami langit. Ada kala langit mengeluh dan awan membentuk sebuah sapuan. Sapuan tersebut membuat langit dan awan nampak serasi satu sama lain. Perkataan itulah yang membuatku takluk di hadapanmu. Ku tahu kita inni ibarat langit dan awan yang akan berjalan beriringan.
Ada saat kita bersama dan ada saat di mana kau menghilang tak ada kabar begitu saja. Di saat itulah ku coba mencari keberadaanmu melalui kerabat dan teman-temanmu. Mereka berkata kamu pergi hanya untuk sementara. Ada yang mengabarkan bahwa kau sakit parah hingga harus berobat jauh. Kau nampak baik-baik saja saat bersama denganku. Bahkan ada kabar bahwa kau harus berobat ke sebuah rumah sakit di kota besar. Sebenarnya sakit apa kau?
Hari berganti hari tahun berganti tahun tiba-tiba kau datang dengan membawa sebuah kabar. Kabar bahwa kau sudah pulang, dan tak akan ku siakan-siakan semua ini. Akan ku tanyakan padamu saat ini juga. Ku berlari menuju rumahmu dengan napas yang tak beraturan dan sampailah diriku tepat di depan rumah. Sampai di rumah itu dengan rasa yang tak karuan ada jeda dari semua ini dan ku yakini semua ini. Wajahmu ada di depan mataku, kita saling bertatapan saat itu, tiba-tiba aku merasakan ada suatu yang berbeda. Kamu, kamu telah berbeda. Kamu tak mengenalku. Ku rasakan bahwa tatapan itu tak lagi sama.
“Dan, ini aku Ann kekasihmu” kataku sambil memegang wajahmu.
“Aku tak mengenalmu, kau siapa?” katamu.
Aku seolah tak percaya dengan semua ini. Perkataanmu membuat hatiku hancur. Secepat itukah kamu melupakan kenangan inindah kita. Tidak, aku tidak percaya hal ini akan terjadi padaku. Tidak mungkin kau melupakan kenangan indah kita begitu saja. Akan ada suatu jeda dari semua ini. Jeda di mana kau akan mengingat memori kita berdua. Memori yang tidak sengaja kau lupakan atau bahkan kau memang sengaja melupakannya karena itu. Nampaknya hal itulah yang membuat semua ini terjadi. Hal itu yang sengaja kau katakan pada malam perpisahan kita. Sungguh ku masih mengingatnya dengan jelas. Sangat jelas bahkan.
Malam itu, kau mengajakku ke sebuah tempat yang tak ku ketahui. Agaknya ini akan menjadi sebuah kejutan padaku. Kau mengajakku ke sebuah galeri sudut rumahmu. Aku pun tak tahu jika selama ini ada sebuah galeri mungil dekat rumahmu. Pikirku mungkin ini akan menjadi tempat spesial kita berdua. Di dalamnya terdapat beberapa lukisan dan ada satu benda yang menarik hatiku. Apa itu? Kau menjelaskannya padaku bahwa semua yang ada di galeri ini adalah gambaran diriku dan benda itu merupakan cerminan dirimu.
“Ada suatu masa kita harus dipertemukan dan ada suatu saat kita harus dipisahkan karena sebuah kondisi, namun percayalah padaku perasaanku akan tetap sama padamu apapun itu” katamu.
“Apa maksudmu, coba jelaskan arti dari lukisan dalam sangkar ini, mungkinkah ini gambaran dirimu?” tanyaku.
“Kamu lihat bayangan wajahku dalam lukisan itu, lukisan itu memang diriku namun bayangannya bukan diriku” jawabmu.
“Ada apa sebenarnya, Dan? tanyaku tetap penasaran.
“Sekarang aku seperti lukisan dalam sangkar, lukisan dalam sangkar itu diriku. Diriku seolah terjebak ke dalam tubuh ini, kau tahu awan itu akan menjadi jawaban dari semua ini. Semua sempurna namun tidak dengan diriku. Ada hal yang tidak dapat ku jelaskan dengan kata-kata, namun aku akan memberikan sebuah diary. Kau harus berjanji padaku, saat aku menghilang kemudian kembali dan saat itulah kau boleh membukanya. Semua jawaban ada di di dalamnya”.
Memori itu tidak akan hilang begitu saja tatkala dirimu tak mengenalku. Ku coba mencari jawabannya melalui buku harian berwarna coklat keabu-abuan. Ku baca lembar per lembar. Ada keganjilan memang di setiap tulisanmu itu. Tulisan itu nampak sama, namun bahasa dari penulis nampak berbeda. Mungkinkah? Lalu satu bagian dari diary itu bertuliskan bias lukisan dalam sangkar.
Dirimu menuliskan secara santai bahwa bias lukisan dalam lukisan itu adalah jiwamu dan sangkar itu adalah tubuhmu. Percayalah ini adalah sisi lain dari dirimu. Sisi lain yang membuatmu menjadi tak wajar. Ada hak dari tubuh dan jiwa ini kembali ke dalam tempat yang sama. Andaikan ada orang lain dalam tubuh ini, maka aku akan membiarkannya tetap hidup. Sesungguhnya diriku tak ada maksud untuk mematikan siapapun bahkan jiwa lain yang ada dalam tubuh ini. Hidup dalam imajinasi tak lantas membuatku akan terus berada pada luka. Ku tahu bahwa luka itu akan terus menyakiti dan menciptakan dunia baru bagiku, namun seperti yang sudah ku katakan. Aku tidak akan mematikan siapapun, tetaplah hidup dalam tubuh ini. Nichole, kembaran jiwaku. Percayalah, aku tak akan pernah menyakitimu.
Indah rasanya jika dua hati dapat hidup dengan damai di satu tubuh. Aku tak akan menyalahkan orang lain atas rasa sakit yang sengaja ku torehkan sendiri. Sejatinya, menyalahkan orang lain takakan pernah menyembuhkan semua luka itu. Luka akibat hati yang telah tersakiti. Terimakasih kepada Ann yang telah memberikan sebuah ruang. Ruang hati yang membuat Dann dan Nichole bernapas. Hidup dalam satu napas, memang tidak mudah. Percayalah Ann aku Dann mencintaimu sepenuh hati dan sekarang ku serahkan semua ini padamu. Bias lukisan dalam sangkar itu adalah gambaran dari jiwa Nichole dan Dann. Dann tak pernah menyalahkan mengapa Nichole muncul. Nichole adalah lukisan jiwa Dann yang tercipta sendirinya.
Tulisan itu membuat Ann tahu betapa tersiksanya Dann menghadapi semua ini. Ada hari di mana kita bertemu dan ada hari di mana kita berpisah. Sampailah Ann di lembar terakhir diary, ada beberapa kalimat yang kau tuliskan untukku. Kalimat itu bertuliskan percayalah Ann, Bersama denganmu setiap hari seperti keajaiban yang tak pernah ku duga. Aku akan menyerah pada nasib yang kita jalani tetapi akan ada hari-hari untuk torehan cinta kita dan hari-hari itu membuatku tetap di sini bersamamu Ann, kita mungkin tidak akan pernah lagi dipertemukan di dunia, namun ku tetap percaya bahwa akan ada dimensi lain yang dapat mempersatukan hati dan jiwa kita. Di dimensi itu, aku akan berkata pancaran wajahmu akan melindungi cinta kita, dan aku tak akan pernah berlari dari sisimu. Tak terasa air mata ini menetes tatkala aku menutup diarymu.