Buku Kembali Bijak Mengembalikan Keyakinan Kita Kepada Diri Kita Sendiri Karya Daniel Gottlieb, begitulah judul dari sebuah buku kusam pada beberapa tumpukan rak di Perpustakaan. Berjajar rapi dengan beberapa buku kusam disana. Terlihat jelas dari banyaknya debu yang menempel, berapa usia buku itu. Jika ditiup, barulah tampak jelas cover buku.
Menarik! Kata pertama yang diucapkan oleh seorang gadis berumur 15 tahun. 10 menit lalu, dia masih baru sampai di depan bangunan khas Eropa dengan bertulis “PERPUSTAKAAN” dibagian depan bangunan itu. Bangunan bekas perkantoran pada masa era kolonial Belanda. Masih terlihat gagah dan megah. Walaupun, pada bagian dinding sudah terkelupas catnya dan terdapat retakan pada masing-masing sudut bangunan tersebut.
Seperti hari sebelumnya, perpustakaan ini sangat minim pengunjung. Meskipun pada hari Minggu sekalipun yang seharusnya lebih cenderung ramai seperti swalayan di depan bangunan ini. Sangat bertolak belakang. Hanya hitungan jari saja pengunjung di Perpustakaan. Miris! Ya kata tepat yang menggambarkan kondisi saat ini.
Pada saat memasuki bangunan ini, disuguhkan beberapa pemandangan buku yang berjajar rapi. Walaupun tidak luput dari debu. Mulai dari buku sejarah hingga dongeng anak. Buku khusus orang dewasa sampai anak kecil. Buku pelajaran sekolah sampai buku resep masakan. Sangat rapi pada tempat yang disesuaikan kategori masing-masing buku.
Kali ini Daniya membaca buku yang sedari tadi menarik pikirannya. Buku berisi 252 halaman. Sangat tebal bagi anak seusianya. Buku Kembali Bijak Mengembalikan Keyakinan Kita Kepada Diri Kita Sendiri, pikirnya saat membaca cover buku yang berada ditangannya, apakah akan bahagia jika bisa mengenali dan meyakini diri sendiri?
Pada halaman pertama tertulis, “ Langkah pertama menuju masa depan yang menakutkan.” 10 menit dia menyelesaikan bagian tersebut, bagian itu menjelaskan tentang suatu tindakan awal untuk melenyapkan ketakutan demi meraih masa depan.” Dia berpikir, masa depan bagaimana yang dimaksud?
Setelah membaca bagian pertama buku itu, dia dikejutkan oleh salah satu penjaga perpustakaan. Dia mengintruksikan bahwa perpustakaan akan segera di tutup. Karena sudah menginjak pukul 5 sore.
“ Adek kecil, sudah waktunya pulang. Tempat ini mau tutup.” Ucapnya ramah
“ Nggak mau, aku masih mau membaca disini!”
“ 5 menit lagi tutup.” Sambil menarik lengan gadis kecil itu.
“ Sudah kubilang, aku enggak mau pulang!”
“ Mengapa enggak mau pulang?”
“ Aku masih ingin membaca buku ini!” Sambil mengarahkan cover buku ke arah penjaga
“ Loh, kamu masih bisa meminjam buku ini buat dibaca di rumah.”
“ Tapi aku enggak mau pulang!” Tanpa menjawab perkataan gadis itu, penjaga perpustakaan langsung menarik keluar gadis itu.
Dia keluar dari perpustakaan dengan perasaan marah. Namun, setidaknya dia masih memegang buku itu. Dia berjalan menelusuri tepi jalan dengan masih setia melanjutkan buku yang tadi dibacanya. Langkahnya terhenti ketika berada di halte bus. Banyak orang disekelilingnya. Mulai dari para pekerja kantoran yang baru pulang. Remaja yang lengkap dengan seragam sekolah, ya sepertinya habis pulang dari bimbel. Dia sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Bola matanya terhenti ketika mendengar suara yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Terdapat seorang wanita yang mendapatkan perlakuan kasar dari seorang lelaki. Tubuh wanita itu menggigil karena ketakutan. Meskipun banyak mata yang melihat, namun tidak ada satupun yang mencoba membantu atau bahkan melerai pertengkaran itu.
Miris memang, tapi inilah kehidupan!
Setelah kepergian pria itu, Daniya berinisiatif menghampiri wanita tersebut. Dia memberikan selembar kertas yang tadi dia tulis ketika melihat pertengkaran dihadapannya. Selembar kertas itu berisi, “Semangat” yang diakhiri tanda emotichon smile. Kemudian dia melanjutkan menaiki bus tujuannya yang sudah berada dihadapannya. Sekilas dia melihat wanita itu menangis sambil tersenyum ke arahnya.
Ketika berada dibus, dia melanjutkan membaca buku yang tadi dipegangnya. “ Tentang Bermimpi”, judul bacaan bagian selanjutnya buku yang dibaca oleh Daniya. Cukup 5 menit, dia sudah kandaskan bagian itu. Setelah membacanya dia berpikir, apa mimpiku? Mengapa setiap orang harus memiliki mimpi? Karena masih kalut dengan pikirannya, dia tidak menyadari keberadaan seorang gadis seusianya duduk disampingnya.
“ Hei, kamu sedang membaca buku apa?” Tanya gadis itu dengan antusias meskipun dengan orang asing.
“Kembali Bijak Mengembalikan Keyakinan Kita Kepada Diri Kita Sendiri Karya Daniel Gottlieb.” Jawabnya singkat
“Oh, sepertinya menarik.” Sambil tersenyum ke arah Daniya.
“ Kamu punya mimpi?”
“Punya, mimpiku ingin menjadi seorang dokter.”
“Mengapa mesti dokter?” Tanyanya lagi
“Aku ingin menyembuhkan orang sakit.”
“Apa mimpimu?” Gadis itu kembali bertanya
“Aku tidak punya mimpi.” Jawab Daniya singkat
“ Kenapa!”
“ Kenapa tidak punya mimpi!” Sanggahnya lagi
“ Entahlah, memang harus bermimpi!”
“ Ya harus! bagaimana menjalani hidup kalau tidak pernah bermimpi.”
Setelah obrolan singkat dengan gadis asing yang baru dikenalnya, kali ini Daniya sudah berada di bangunan besar berwarna putih. Bau obat-obat sudah menyengat dihidungnya. Banyak orang yang lalu-lalang memasuki bangunan itu dengan berbagai ekspresi. Namun, kebanyakan yang ditunjukkan ekspresi khawatir sekaligus menyedihkan. Ada pula beberapa orang dewasa berlarian memakai jas putih lengkap dengan stetoskop ditangannya. Sekarang dia sudah berada diruang pribadinya. Kamar besar yang dimodifikasi dengan nuansa serba pink dan boneka Hello kitty. Dia sudah terbiasa dengan ruangan ini selama 5 tahun belakangan ini. Sesekali dia akan keluar untuk membaca di perpustakaan ataupun jalan-jalan sebentar untuk menghilangkan kebosanan. Orang tuanya menyetujui karena bujuk rayu Daniya.
“Anak mama sudah pulang.” Sambil merentangkan tangan ke arah Daniya yang kemudian disambut hangat olehnya.
“ Sini Mama bantuin melepas rambut palsunya.”
“ Ma.”
“ Iya?”
“ Tuhan sayang aku kan?”
“ Pa-pasti dong.” Sambil berusaha menahan air matanya.
“ Bila nanti Daniya bertemu dengan Tuhan. Hidup Mama harus tetap berjalan ya.”
“ Sekarang aku ingin menikmati sisa hidupku bersama Mama dan Papa. Seperti dalam peribahasa menurut Alcoholic Anonymous, “Kalau sebelah kakimu ada di masa lalu, dan sebelah kaki yang lain di masa depan, kau akan berakhir mengencingi hari ini.” Sanggahnya lagi
“ Aku tidak menyesali masa laluku dan tidak takut mengenai masa depan, jadi Mama juga harus semangat.” Ucapnya lagi yang dianggukin oleh Mamanya.
TAMAT