Setiap manusia pasti memiliki kotak pandora. Yaitu sebuah rahasia yang harus di simpan rapat-rapat.
***
Selene adalah seorang gadis pendiam. Dia tinggal sendirian di sebuah apertemen. Meskipun sering bersikap tertutup terhadap orang lain, tetapi Selene sangatlah mandiri.
Selene hanya memiliki seorang ibu dalam keluarganya. Ayahnya sendiri telah lama meninggal beberapa tahun yang lalu. Ibunya yang bernama Helen tersebut sekarang tinggal bersamanya.
"Ibu, aku mau pergi kerja dulu ya!" ujar Selene. Namun sang ibu hanya diam dan masih setia berada di atas kasurnya. Selene berusaha memahaminya, dia tersenyum tipis, lalu segera beranjak pergi.
Selene bekerja di sebuah perusahaan real estate. Dia pergi setiap hari. Dan sesering itu juga ia menggunakan elevator.
Suatu hari jantung Selene berdebar kala melihat seorang lelaki tampan yang akhir-akhir ini kebetulan ditemuinya di elevator. Lelaki tersebut berperawakan tinggi, berhidung mancung, serta memiliki sorot mata tajam bak tatapan elang. Akan menggetarkan setiap gadis yang ditatapnya, meski dengan tidak sengaja.
Sama halnya dengan Selene. Akibat sering bertemu dengan lelaki rupawan itu, dia semakin bersemangat ketika masuk ke dalam elevator.
***
Di suatu waktu, ketika Selene baru pulang bekerja pada larut malam. Dia kebetulan sedang sendirian di dalam elevator. Tanpa diduga lelaki tampan yang telah berhasil merebut hatinya masuk, tepat saat elevator hendak menutup pintu. Tangan lelaki itu dengan sigap menahan pintunya. Sepertinya dia ingin lekas-lekas pulang ke apertemennya. Keheningan menyelimuti suasana di antara mereka berdua.
'Aku berharap bisa terjebak berduaan di sini bersamanya!' batin Selene penuh harap dalam hatinya.
Siapa yang menduga, harapan Selene langsung terkabul. Elevator mendadak tersentak, bahkan listrik juga ikut padam.
"Apa yang terjadi?" ujar Selene berusaha bersikap setenang mungkin. Padahal ia mengharapkan dapat berbicara dengan lelaki di sampingnya. Selene memang pendiam, tetapi dia akan melakukan apapun, jika memiliki kesempatan untuk bisa mendapatkan yang di inginkannya.
"Sepertinya ada pemadaman listrik!" jawab sang lelaki beperawakan tinggi tersebut. "Mungkin sebentar lagi akan menyala!" tambahnya mencoba menenangkan. Selene pun menganggukkan kepala.
Setelah sekian lama menunggu, listrik tak kunjung menyala. Selene dan lelaki yang bersamanya berusaha sabar terlebih dahulu dengan cara duduk di lantai.
"Apa ponselmu ada sinyalnya?" tanya lelaki di sebelah Selene seraya membuka ponsel ditangannya.
"Tentu tidak. Kau tahu kan, sinyal akan terganggu jika listrik padam!" sahut Selene sambil mengusap tengkuknya akibat salah tingkah.
"Kau benar." Sang lelaki rupawan tersenyum. Meski gelap, Selene bisa menyaksikan rekahan tulus dari mulutnya. Karena cahaya dari layar ponsel lelaki tersebut mengarah ke wajahnya.
"Apa perlu kita dobrak saja pintunya?!" Selene memberikan usul.
"Sia-sia! jam segini tidak akan ada yang mendengar!" balas lelaki yang masih duduk di samping Selene. "Oh iya, perkenalkan namaku Anthony!" sambungnya memperkenalkan diri.
"Selene!" balas Selene.
"Well, kita sering bertemu. Tetapi baru kali ini bisa saling menyapa," ungkap Anthony pelan. Dia menatap lekat ke arah gadis di sampingnya.
Selene tersenyum. "Aku ingin menyapamu, tetapi sering tidak mendapatkan kesempatan yang baik. Sebab aku terlalu malu saat berada di hadapan orang banyak," jelasnya.
"Sama! jangan bilang kau juga introvert?"
"Aku tidak tahu. Tetapi semua orang mengatakan aku begitu."
"Sepertinya kita berjodoh, karena aku juga orang yang pendiam sepertimu. Aku bahkan tidak memiliki satu teman pun di tempat kerja." Anthony berterus terang.
Selene dan Anthony malah terlalu asyik bicara. Sehingga melupakan keadaan darurat mereka. Setelah beberapa saat kemudian, listrik kembali menyala. Elevator otomatis berjalan kembali.
"Fiuh... syukurlah!" Selene merasa lega setelah keluar dari elevator.
"Sepertinya listrik hanya menyuruh kita untuk saling bicara!" ucap Anthony, yang juga ikut keluar dari elevator. Padahal apertemennya berada di lantai 27, dua tingkat di atas apertemen Selene.
"Kau kenapa ikut keluar?" tanya Selene terheran.
"Aku ingin mengenalmu lebih jauh, bolehkan aku ikut ke rumahmu?" Anthony menatap dengan mata elangnya. Membuat Selene tak kuasa untuk menolak. Apalagi dengan rekahan senyum yang berhasil menggugah hatinya. Alhasil Selene pun mengangguk dan bersedia mengajak Anthony ke rumahnya.
Selene menyuguhi Anthony dengan secangkir kopi. Mereka sekarang tengah duduk berhadapan di sofa yang ada di apertemen Selene.
"Maaf berantakan, aku tidak sempat membereskannya karena sibuk bekerja..." ujar Selene sembari menatap malu-malu ke arah Anthony.
"Ah! keadaan tempatku lebih buruk dari ini!" balas Anthony santai.
Hari demi hari berlalu, Selene dan Anthony semakin dekat. Namun anehnya Anthony selalu menjaga jarak dari Selene. Seolah ia tidak ingin bersentuhan dengan gadis tersebut. Bagi Selene, Anthony melakukannya karena masih tidak terdapat kejelasan dalam hubungan mereka.
Karena Anthony tak kunjung menyatakan cintanya. Selene akhirnya lebih dahulu mengungkapkan. Keduanya sekarang berada di apertemen Selene. Tempat tersebut memang adalah lokasi mereka sering menghabiskan waktu bersama.
Selene menenggak saliva-nya terlebih dahulu dan berucap, "Anthony?"
"Hmmm?" Anthony menoleh ke arah Selene.
"Aku mencintaimu!" ungkap Selene dengan binar penuh harap di sorot matanya. Anthony yang tadinya bersender di sofa segera menegakkan badannya. Wajahnya tampak sendu saat mendengar pernyataan Selene.
"Selene, aku juga mencintaimu. Tetapi ada satu hal yang tidak kau tahu tentang diriku!" raut wajah Anthony terlihat serius.
"Apa? kenapa masalahnya? yang penting kita saling mencintai!" Selene menangkup wajah Anthony. Ia menatap bibir indah Anthony.
"Tidak Selene!" Anthony melepaskan tangan Selene jauh-jauh.
"Lalu apa maksudmu selama ini mendekatiku? bukankah kau bilang kita berjodoh? kau bahkan tadi bilang kalau kau juga mencintaiku!" Selene mengerutkan dahi kesal.
"Ada sesuatu dalam diriku yang akan terbangun, jika..." Anthony tak kuasa melanjutkan kalimatnya.
"Aku juga punya rahasia!" ujar Selene sembari bangkit dari tempat duduknya. Dia segera menarik tangan Anthony untuk ikut bersamanya.
Selene membawa Anthony ke sebuah ruangan yang ditutupi dengan kain. Setelah pintu ruangan misterius itu terbuka, tampaklah jasad seorang wanita tua, yang tidak lain adalah ibunya Selene sendiri.
"Aku tidak sengaja membunuhnya. Jadi aku awetkan mayatnya karena masih tidak rela dia pergi meninggalkanku!" Selene mengatakan yang sebenarnya, demi bisa mendapatkan cinta seorang Anthony.
"Tetapi rahasiaku lebih mengerikan daripada rahasia milikmu Selene. Aku sarankan kau jangan menyentuhku!" Anthony sedikit melangkah mundur.
"Mana ada dua orang yang mencintai dapat hidup tanpa saling bersentuhan!" kata Selene, kemudian segera membawa Anthony masuk ke dalam pelukannya. Dia mendekap sangat erat sambil memejamkan mata. Seakan telah menemukan tempat ternyamannya.
Anthony membulatkan mata saat Selene memeluknya begitu erat. Sekarang ia dapat mendengar suara detak jantung gadis tersebut. Bahkan bau darah dan daging Selene menguar jelas dihidungnya. Begitu menggoda Anthony.
Pupil mata Anthony mulai berubah-ubah menjadi kemerahan. Dia sebenarnya berusaha menahan. Akan tetapi naluri dalam dirinya tak bisa berhenti. Dia sekarang mengangakan mulutnya.
Pupil mata Anthony seketika berubah menjadi merah. Sekarang ia dapat melihat dengan jelas darah yang mengalir dalam urat nadi Selene. Giginya otomatis segera mengoyak leher Selene.
"Aaaarkh!!!" Selene hanya mampu memekik lantang tatkala rasa sakit di lehernya terasa menusuk. Dia berusaha menjauhkan Anthony, tetapi tak mampu. Karena kekuatan lelaki yang sekarang dipeluknya sangatlah kuat.
Selene hanya bisa pasrah dengan air mata bercucuran. Sedangkan Anthony melahap lehernya sedikit demi sedikit, dengan hanya bermodalkan mulutnya. Cairan merah kental memenuhi area bibirnya. Anthony mengunyahnya bagaikan menyantap hidangan yang lezat.
Selene perlahan melemah dan pingsan. Anthony sekarang membiarkannya telentang di lantai. Kemudian kembali melanjutkan santapannya. Dia sekarang merobek area perut Selene dan mengobrak-abrik habis semua organnya.
"Terima kasih Anthony, sudah mau kembali mendekati seorang gadis lagi. Sehingga aku dapat menyantap daging dan darah segar kembali..." Anthony berseringai. Dia seolah bicara dengan dirinya sendiri. Tetapi memang benar, karena Anthony yang sekarang memiliki mata merah bukanlah Anthony. Melainkan iblis yang sudah lama bersemayam dalam tubuhnya.
~TAMAT~