Aku hanya seorang gadis biasa yang tinggal disebuah desa terpencil bersama dengan ayahku. Namaku Arumi, usiaku dua puluh tahun. Ayahku hanyalah seorang petani didesa, dan aku hanyalah seorang guru yang mengajar di sekolah SD.
"Arumi" panggil ayah. Aku yang lagi sibuk di dapur Kemudian mendekati ayahku yang ada di depan.
"Ada apa ayah" tanya aku dengan ayah.
"Ayah, mau pergi ke kota Arumi untuk tiga hari. Jadi jangan sekali-kali kamu masuk kedalam hutan" ucap ayah sambil merapikan semua barang yang dibawanya.
Setelah selesai semuanya, ayah Kemudian berangkat ke kota. Aku menatap kepergian ayah karena ayah pasti lama di kota.
Hutan yang di maksud ayah, adalah hutan yang terdapat di ujung jalan desa. Konon katanya di sana tinggal iblis yang setiap bulan purnama, iblis itu akan memakan anak-anak kecil.
Arumi lama memperhatikan hutan itu, Arumi tidak menyadari bahwa dari tadi ada yang memperhatikan dirinya dengan dua mata yang menyala merah.
Keesokan paginya, Arumi mengajar seperti biasanya.
"Ibu, malam ini kita tidak boleh keluar rumah" celetuk salah satu anak di kelas Arumi.
"Memangnya ada apa kita tidak boleh keluar" tanya Arumi.
"Karena malam ini malam bulan purnama dan iblis di hutan akan bangun dan mengambil kami bu" ucap salah satu anak lagi.
Dengan menarik napas, Arumi sadar bahwa malam ini adalah malam bulan purnama penuh. Arumi sebenarnya juga takut mendengar semua cerita penduduk didesa, tentang iblis yang memakan anak kecil.
"Jangan takut anak-anak, karena ada sang pencipta yang akan melindungi kita semua" ucap Arumi pada semua muridnya.
Malam itu suasana di desa Arumi sangat mencekam, sehabis magrib tidak ada satu pun penduduk yang berani keluar rumah. Semuanya pada berdiam diri di dalam rumah, terutama anak-anak.
Setelah habis shalat isya, Arumi tidak langsung tidur. Dia keluar dan berjalan menuju kearah hutan, Arumi ingin membuktikan kebenaran cerita tentang iblis pemakan anak kecil.
Dengan berbekal senter dan keberanian, Arumi masuk lebih dalam lagi ke arah hutan. Disana Arumi melihat sebuah kastil yang sepertinya tidak ada penghuninya.
Arumi membuka pintu kastil, tapi disaat Arumi masuk kedalamnya yang Arumi rasa hanya hawa yang dingin.
"Assalamualaikum, apakah ada orang" teriak Arumi, tapi tidak ada jawaban dari dalam rumah.
Arumi pun masuk lebih dalam lagi, tapi tetap tidak ada tanda- tanda kehidupan.
"Apakah kastil ini memang tidak ada penghuninya?, sudah jauh aku masuk kedalam tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan dan yang aku rasakan hanya hawa dingin yang menusuk kulitku" gumam Arumi.
Selagi Arumi ingin naik tangga, ada suara yang membuat dia kaget.
"Kamu siapa?" tanya suara itu.
Arumi mencari sumber suara yang bertanya dengan dirinya.
"Aku Arumi, penduduk didesa Athena. Kamu siapa" tanya Arumi balik.
"Aku adalah penguasa kegelapan, namaku adalah Demon" jawabnya dengan suara yang mendengarnya pasti merinding.
"Tuan Demon, aku perlu bicara dengan anda" kata Arumi.
"Bicara apa" ucapnya ketus.
"Tuan Demon aku mohon jangan sekali-kali kamu mengambil anak-anak untuk kamu jadikan tumbal" kata Arumi memohon.
"Tumbal?" Demon pun tertawa mendengar perkataan Arumi soal tumbal dan anak-anak.
"Wahai dengarkan aku manusia, aku memang iblis. Tapi aku tidak pernah menjadikan anak-anak tumbal" ucap Demon.
"Jadi maksudnya" tanya Arumi tidak mengerti.
"Dulu ratusan tahun yang lalu, aku memang seorang iblis perang dan makanan aku bukan hanya anak-anak tapi kamu juga bisa aku makan. Tapi aku sangat merindukan surga, jadi aku kebumi dan menetap di kastil tua ini untuk bertobat dari semua dosa yang aku lakukan" Demon menjelaskan semuanya dan kemudian dia menghilang di kegelapan malam.
Arumi tersenyum mendengar penjelasan Demon, jadi semua ini hanya kisah bohong dari mulut ke mulut.