2006.
Sangat kuingat sekali masa itu. Bila seseorang mengucapkannya, kejadian itu teringat lagi. Sangat melekat di pikiranku. Aku akan berdiri di tempat seraya menatap pergelangan tanganku yang mulai merinding. Masih terasa sentuhan hangat di sela-sela jariku. Mengikatku erat dan perasaan ini tak teratikan. Padahal kuingat, waktu itu tangannya sangat dingin saat menyentuhku.
Kejadian itu disaat Bibi ku lahiran. Keponakan baru akan hadir di keluarga besar kami, pikirku senang. Tapi sayang suami Bibiku lagi dinas di luar negeri. Jadilah aku yang menggantikan Paman menjaga Bibi di rumah sakit. Semua anggota keluarga yang lain juga sedang dalam perjalanan. Mau tidak mau aku seoranglah yang menjaga Bibi sampai keluarga lain tiba.
Aku tidak pernah ke rumah sakit sebelumnya, aku tidak tau suasananya begini. Bau obat merebak dimana-mana dengan kursi roda sejauh aku memandang. Perasaan ku sendiri juga tidak enak semenjak aku pertama kali menginjakkan kaki di rumah sakit ini. Bukan karena takut. Aku, pria berusia 20 tahunan bakal malu mengakui kalau aku takut sama yang gituan.
Padahal rasa takut itu lumrah.
Rumah Sakit ini paling besar dan tertua di kotaku. Di tengah-tengahnya ada air mancur yang airnya tak pernah berhenti mengucur. Disanalah aku pertama kali melihatnya. Gadis cantik dengan juntain rambut yang tergerai di punggungnya. Manik matanya berwarna cokelat, memantul pada air mancur yang berwarna biru.
Bibirnya kemerah-merahan. Kulitnya putih nan bening. Jangan tanyakan rupanya bagaimana, secantik model yang kulihat di tv. Bahkan aku hampir menabrak tiang karena kepincut sama wajahnya. Dia duduk di tepian air mancur. Memasukkan tangannya disana lalu memainkannya gemulai.
Dan lebih wah nya lagi... gadis itu membalas menatapku dengan seulas senyum manisnya.
…
Kamar 33
Kamar paling ujung, paling sudut, dan paling gelap. Tidak ada satupun lampu yang menerangi kamar itu. Untuk melewatinya perlu menyimak seratus kali tulisan yang ada di tanda pembatas yang bertuliskan ‘DILARANG MASUK’ dengan huruf balok dan cat berwarna merah terang.
Si perawat juga menjelaskan, jangan pedulikan suara-suara di tengah malam atau pura-pura tidak lihat saja jika melihat seseorang di kamar 33. Aku tidak terlalu mengerti apa maksud dari perkataannya. Tapi kutahu, Bibiku bakalan takut kalau dengar ini. Makanya Cuma aku yang diberitau. Karena.. kamar kami hanya beberapa jarak dari kamar 33 itu.
Ingin rasanya aku bilang ini ke Bibi, tapi sudah malam. Kondisi Bibi juga tidak mendukung, dia butuh istirahat lebih karena besok mau lahiran. Ingin rasanya berpindah kamar karena jujur berdekatan dengan kamar 33 itu membuatku sedikit merinding. Tapi semua kamar full. Jadi, yasudahlah.
Malam beranjak. Matahari tenggelam berganti dengan gelapnya malam. Suara jangkrik terdengar sampai ke telingaku, padahal telingaku lagi di sumpal earphone. Aku membuka mataku kembali, rupanya ponselku baterai nya habis. Aku juga lupa bawa charger. Bibi udah tidur jadi aku putuskan ikut tidur di lantai.
Niatnya memang begitu, tapi suara jendela yang bergesek mengintrupsiku. Aku beralih ke jendela, memperbaiki gordennya yang agak melorot. Aku termenung. Sekilas ujung mataku menangkap bayangan aneh.
Alis ku mengerut, wajahku mendekat mengintip lebih dekat dari kaca jendela. Suasana luar tampak temaram. Sepi. Jam dinding berdentang di tengah sayup malam, menandakan sudah jam 12 malam. Dari halaman depan pandanganku mengedar hingga ke,
Kamar 33.
“Aku nyakin kayak ada yang lewat tadi ke arah sana. Tapi apa.. disana ngak ada apa,”
BRUAK!!!
Aku terkinjat kaget. Kututup mulutku dengan satu tangan. Binar mata ku bergetar. “Suara apa itu tadi?” Batinku resah. Dengan degup jantung yang masih berdebar kencang kuberanikan diri untuk melihat lagi.
Aku terbeliak, seorang pria tengah tertidur di lantai dengan kursi rodanya yang ikut tumbang tak jauh dari kamar 33 itu. Tanpa berpikir lagi, aku langsung berlari ke arahnya. Kudirikan kursi rodanya lalu ku bopong tubuhnya dan kuangkat naik kekursi roda. Pria tua itu tampak pucat. Saat bibirku ingin berucap, jemarinya menunjuk.
“Di, disana?” pria tua ini menyengut lemah. Aku gelagapan. Pandanganku langsung beredar cepat, mencari keberadaaan perawat. Tapi nihil. Tidak ada satupun perawat yang lewat! Pria tua itu terus menunjuk, aku semakin bingung. “Tapi.. kamar 33 itu ‘kan ngak boleh di tempatin, Bapak salah ingat dimana kamar Bapak..”
Pria tua itu menggeleng. Jarinya terus menunjuk-nunjuk ke kamar 33. Tanganku sontak bergetar. Kutatap kamar 33 itu lamat. Mataku terpejam, otakku langsung menyerang semua pikiran negatifku.
“Pak.. jangan bercanda, kamar itu, eh.” Aku tercengang. Mulutku menganga lebar. Seperti sihir, kamar 33 langsung berubah. Tidak lagi suram. Lantainya bersih dan seterang kamarku. Ku tatap Pak tua itu lagi. Dia hanya diam. Meski otakku bergemuruh keheranan, tapi aku akhirnya menurut apa katanya.
Kudorong perlahan kursi roda si Pak tua ke kamar 33. Melanggar semua peringatan si perawat bahkan tanda pembatas pun ku acuhkan.
“Mungkin aja kamarnya baru dibersihkan dan Bapak ini pasien baru disini.” Gumamku menduga.
Aku mengetuk pintu kamarnya, tak ada jawaban. Aku menelan ludah, si Pak tua juga ikutan diam. Meski berulang kali ragu, tanganku tetap menjulur menyentuh kenop pintu lalu membukanya. KRREEKKK…
Suara decitan pintu tua menjadi backsound di malam yang hening itu. Aku menelan salivaku berkali-kali. Pintunya terbuka, kurodong lagi si Pak tua masuk kedalam. Kakiku terus melangkah mengabaikan semua peringatan di otakku. Glek. Aku terpengap keheranan, kenapa hanya ada brankar disini? Tidak ada perobatan yang lain.
“Oh mungkin aja karena barusan di bersihkan jadi peralatannya belum lengkap.” Batinku lagi masih bersikap positif. Langsung kubaringkan si Pak tua ke atas brankar. Pak tua itu tetap diam. Tatapannya kosong.
“Kalau begitu.. sa, saya permisi dulu.” Pamitku pada si Pak tua. Si Pak tua tetap membisu. Daripada aku semakin belibet disini, cepat-cepat aku berbalik pergi.
“To, tolong..” kakiku berhenti melangkah. Aku berpaling perlahan.
“A, ada masalah Pak?”
“Tolong..” suaranya lirih namun terus berulang.
Aku semakin gemetar. Ingin rasanya berlari kekamar Bibi dan sembunyi disana tapi bagaimana dengan si Bapak? “Pak.. ada, ada masalah kah? Ada yang sakit? Ada apa Bapak? Bapak minta tolong apa?!”
BRAK!!
Pintu mendadak tertutup cepat. Aku terlonjak kaget, kakiku langsung menyerbu pintu. Ku putar-putar kenop pintu dengan wajah yang sudah berubah pucat pasi. Tapi sial, pintunya terkunci dari luar!! “Woi!! Jangan main-main! Siapapun di luar sana buka pintunya sekarang! Ada pasien yang kritis disini!” teriakku lantang.
Si Pak tua masih mengucapkan kata yang sama. “Aduh Pak.. sabar dulu! Ini gimana! Aduh..” kataku kebingungan. Tak lama lampu kamar mati lalu hidup lalu mati lagi. Terus begitu hingga membuatku semakin panik. Aku kehilangan akal. Dengan tangan yang masih gemetar, ku gedor-gedor pintu sialan ini bahkan sampai menendangnya. “Woi!! Ini ngak lucu!! Buka pintunya sekarang!!” teriakku histeris.
Sssssssttttttt…
Binar mataku bergetar. Keringat dingin menetes-netes dari pelipisku. Tubuhku mendadak membeku. Terpaku. Kepalaku perlahan menoleh ke asal suara. Di.. ujung.. kamar..
Sssssstttttt..
“Si, si, si, siapa! Siapa kau!!! Ke, keluar.. keluar sekarang!!” di ujung kegelapan itu, dua mata merah melotot. Bibirnya tersenyum sangat lebar, semakin lebar hinggga kedua ujung bibirnya sobek. Mengucurkan darah berbau amis dimana-mana. Giginya runcing-runcing. Aku mendekap mulutku dengan satu tangan. Baunya membuatku hampir muntah, kepalaku menggeleng cepat. Punggungku menabrak dinding. Aku terpojok! Sebelah tanganku masih belum berhenti membuka-buka kenop pintu.
Sial!!! Kenapa pintunya tak mau terbukaaa…
“TOLOOONGG.. TOLOONGG.. TOLONGGGG..”
Mataku mencelang. Suara rintihan makhluk itu memekakkan telingaku. “Pergi.. pergi!!! Jangan ganggu aku!!!” keringatku semakin menetes deras bak es krim yang meleleh. Kakiku sudah seperti jeli, tak ada tenaga lagi untuk berdiri tegap.
“TOLONG! TOLONG! TOLONG! TOLOOOOONNG!!” si Pak tua ikut berteriak kencang. Mereka saling bersahutan seperti kodok di belakang rumahku! Tapi ini versi seramnya!! “AHHHHHHH!!!” Aku berteriak histeris saat suara kombo mereka semakin melengking keras. Urat-urat nadi mereka menengang dan BYUR!! Pecah hingga semburan darah bercecer dimana-dimana.
Aku langsung terduduk lemas.
Aku terisak dengan bahu yang bergetar. Surah pendek, surah panjang, ayat kursi, ayat pengusir setan sudah semuanya! Capek mulutku komat-kamit membacanya! Bahkan aku sempat membaca doa makan!
Aku kira pertunjukaannya sudah usai. Tapi rupanya tidak, jadi aku menyesali mengapa aku tidak menuruti kata perawat tadi. “Huaaaahhh..” kursi rodanya mulai bergerak-gerak. Aku semakin mundur ke belakang meski punggungku sudah nemplok ke dinding. Kursi rodanya mundur perlahan dan.. tanpa aba-aba dia langsung melaju cepat!
Aku terperanjat! Dengan sekuat tenaga kudobrak pintu sialan ini! Aku beteriak sejadinya tapi tak ada satupun yang menyahut teriakanku. Nyatanya sama saja! Tidak ada gunanya!! Aku mulai melemas saat kursi roda itu mulai bergerak cepat ke arahku dan..
BRAK!!!
Aku terplanting ke lantai. Aku tremor parah. Kupikir ajalku akan tiba, tapi.. aku keheranan karena tubuhku tidak serasa sakit sama sekali. Mataku perlahan terbuka. Dan lebih mengejutkan kulihat diriku sudah ada di luar dengan pintu kamar 33 yang sudah tertutup. Aku tercenung, “Apa yang barusan terjadi..?!”
Jes.. jes.. jess..
Di sela-sela air mataku, bola mataku masih bisa berkeliling. Mencari asal suara dan terpaku di jendela kamar 33. Sepercik api mulai menguar disana. Mulai terbakar lalu merebet ke ruangan didalamnya. Aku terperangah sejadi-jadinya. Ingin rasanya aku berteriak memanggil orang, tapi bibirku tercekat.
“Mari..” sepasang tangan melentang di depanku, aku sontak mundur ke belakang. Tapi gadis cantik yang kutemui tadi pagi malah menarik tanganku hingga aku bangkit berdiri. Di tariknya kembali tanganku. Aku menegang, tangannya sedingin es.
“Kau bukan manusia.” Tuduhku padanya. Gadis itu tersenyum. Sangat manis hingga aku terpana dan akhirnya mengikuti langkah kakinya ke cahaya putih di depan yang semakin lama semakin terang cahayanya.
…
“Mas.. mas bangun mas… bangun mas..” aku mendesah berat, Cahaya pagi menyinari separuh wajahku. Badanku terasa letih dengan kepala yang sangat pusing seakan ada dentuman keras yang memukul kepalaku. Bahkan embun dari rumput basah sampai masuk ke hidungku.
Eh..
“Rumput?!” aku langsung terduduk hingga tak sengaja kepalaku membentur sesuatu dibelakang. Aku mengerang. Apa yang kutabrak.. “Eh… air mancur? Tunggu… jangan bilang.. aku tidur disini semalaman?!”
“Eh.. dia udah bangun tuh.” Kata perawat wanita di depanku.
Perawat prianya ikut menyahut, “Langsung sadar kek nya tuh.”
Menghela napas, “Mas.. ‘kan saya udah bilang semalam, jangan macam-macam di kamar 33. Itu angker. Kejadian ‘kan sekarang.”
“A, apa..?”
“Haduh.. bingung nih pasti. Mas tadi malam ke kamar 33 itu ‘kan?!”
Aku terkesiap. Wajahku langsung berubah pasi. Kamar itu.. aku mengerutkan dahi, di ujung.. kamar itu.. sudah berubah kembali suram. Kuucek mataku sekali lagi, memastikan penglihatan agar tak salah. Tapi tetap saja kamar itu… masih sama seperti yang kulihat kemarin. Tidak ada api! Tidak ada api sama sekali!!
“Hadeh.. karena udah kejadian juga saya jelaskan aja ya mas. Jadi gini ya mas, dulu kamar itu kebakaran. Suster sama pasiennya terperangkap disitu. Saat itu udah larut malam, ngak ada yang dengar mereka teriak. Pintu kamarnya juga mendadak rusak. Mereka ngak selamat. Karena itu, kamar itu jadi angker sekarang.”
“Siapapun yang kesana bakal di gangguin apalagi pas malam hari. Tapi biasanya.. orang yang di gangguin bakal luka-luka pas paginya. Aneh, mas kok keknya baik-baik aja.?”
“Hem.. mungkin hantunya dah tobat kali..”
“Hem.. bisa jadi bisa jadi.” jawab si perawat wanita menimpali. Kedua perawat itu akhirnya saling berceloteh. Menjelaskan kesaksian mereka terhadap korban-korban yang sama seperti diri ku. Seakan kejadian seperti ini sudah biasa mereka alami.
Aku menatap seduh jemariku, terasa aneh. Serasa.. ada yang sesuatu yang hangat mengenggam jemariku.
….
2021.
Jika 2006 adalah kebingunganku maka 2021 adalah jawabannya. Aku kembali lagi ke Rumah Sakit ini saat keponakanku yang sudah berusia 16 tahun jatuh sakit dan dibawa disini.
Kenangan lama mulai berputar di otakku, padahal aku udah mati-matian buat lupain semua pengalaman mengerikan itu.
Hingga..
Untuk kedua kalinya aku hampir menabrak tiang lagi. Tapi kali ini bukan terkesima karena kecantikannya. Melainkan.. merinding. Karena gadis cantik itu.. masih ada di air mancur itu. Wajah yang sama. Pakaian yang sama.. bahkan senyum yang sama seperti tahun 2006 lalu saat pertama kali kulihat dia.
Sial.
…