"Kau cantik sekali, sayang kau buta." Lelaki itu duduk di sisi ranjang, dia adalah suamiku.
"Katanya, cintamu tak berbatas, hingga kekuranganku tidak akan membuatmu berpaling."
"Aku tidak berpaling, aku selalu berada di sisimu."
"Bukankah kau sudah menggoda wanita itu untuk bermalam di sini?" aku mendekatinya.
"Bagaimana kau tahu? pasti ada yang mengadu yang tidak-tidak padamu. Kau lebih percaya mereka dibanding aku?" Suamiku mendekatiku yang berdiri di depannya.
"Aku melihatmu, sayang. Kau tidak melihatku ketika kita berpapasan pagi tadi? saat ... kau menggandeng tangannya dan berjalan pelan-pelan ketika tepat berjalan di sampingku, karena kau fikir aku buta."
Aku melihat ekspresinya berubah, dia mungkin kaget dengan kata 'aku melihatmu', karena selama ini yang dia yakini, aku adalah wanita buta, mataku selalu aku tutup dengan kain putih berlapis-lapis, aku melilitnya di sepanjang kepalaku.
Bahkan saat ini aku bisa melihat ekspresi itu dengan jelas, walau tiga lapis kain putih ini menutup sempurna kedua mataku.
"Kau ... bisa melihatku?" Dia melambaikan tangannya di depan wajahku.
"Kenapa kau melakukan itu? aku bisa melihatmu dengan jelas, sayang. Hari ini kau tidak memakai baju yang kupilihkan, entah baju dari mana itu, aku tidak pernah merasa membelinya untukmu, apa dari wanita itu?"
Dia terperanjat dan jatuh karena terkejut, mungkin karena aku bisa mengatakan dengan tepat baju yang dia kenakan saat ini.
Aku membungkuk, karena saat ini posisinya terduduk, masih tidak bangun saat terjatuh tadi, lalu berkata, "Kain ini menutup mataku, bukan karena aku buta, sayang. Tapi, untuk melindungimu."
"Apa maksudmu?" Tanyanya gugup.
Kubuka helaian demi helaian kain putih yang menutup kedua mataku, ketika akhirnya mataku sudah terbebas dari lilitan kain putih itu, aku menatap ke sembarang arah.
"Jadi, kau tidak buta?" Suamiku masih tidak percaya.
"Ya." Aku masih menatap ke sembarang arah.
"Kau cantik sekali sayang, seharusnya dari dulu saja kau buku kain penutup itu." Perlahan dia mendekatiku, ingin mencumbuku sepertinya.
Tanpa ragu, kutatap matanya, mata kami bertemu.
Dan ....
Lagi-lagi aku harus menggotong patung batu manusia ini, aku meletakkan mereka semua di studio pahatku, murid-muridku fikir semua patung batuku adalah hasil pahatan, padahal semua patung batu manusia itu, suami-suamiku.
Kata murid-muridku hasil pahatanku sempurna untuk sekelas wanita buta sepertiku, setidaknya itu yang mereka dan suami-suamiku percaya tentang mataku, sampai mereka kuberi kesempatan menatap langsung mata ini tanpa penutup kain, mereka baru percaya, aku tidak buta, tapi begitu menatapnya, kau akan menjadi salah satu koleksi patung batu manusiaku.
Namaku Sudema, orang memanggilku Ema. Kalau kalian mengacak namaku, kalian akan tahu, siapa sebenarnya aku.
________________________
Catatan Penulis :
Ada yang tahu siapa si Ema ini? coment di bawah ya.