Di hutan larangan terdapatlah sebuah sungai yang di huni oleh siluman buaya putih. Di dalam kerajaan bawah air, Ratu buaya putih mengumpulkan semua penghuni sungai untuk menyaksikan sidang .
"Maaf kan hamba nyai Ratu," ucap Arimbi. seorang wanita cantik yang tengah di adili di persidangan.
"Aku sudah memaafkanmu, tetapi hukuman atas kelakuanmu harus tetap di adili," sahut Ratu buaya putih yang duduk di singgasananya.
"Hamba bener-benar khilaf dan menyesal. Tolong beri keringanan hukuman," pinta Arimbi
"Kesalahanmu sangat fatal, kamu tahukan bahwa bangsa siluman tidak boleh menjalin cinta dengan bangsa manusia, dan kamu juga sudah tahu apa hukuman jika melanggarnya," ucap Ratu siluman buaya putih.
"Nyai Ratu sudah saatnya kita tentukan hukuman apa yang pantas," ucap senopati
"Hukuman pancung yang pantas untuknya," sahut penasehat kerajaan.
"Bagai mana Nyai Ratu?" tanya senopati.
"Jika semua rakyat setuju maka lakukan," jawab Ratu.
"setuju!" rakyat menjawab dengan kompak.
Tiba-tiba datang mata-mata kerajaan siluman buaya putih dan berkata.
"Tunggu! Dia tidak pantas mendapatkan hukuman!" teriak mata-mata kerajaan.
"Apa maksudmu?" tanya Ratu.
"Maafkan hamba Nyai Ratu, hamba membawa kabar bahwa pacar Arimbi si Jiron ternyata punya istri dua dan tiga pacar simpanan," jawab mata-mata kerajaan.
"Lalu apa hubungannya dengan hukuman Arimbi?" tanya Ratu.
"Arimbi dihukum kerena menjalin cinta dengan bangsa manusia ya, 'kan? Dan ternyata si pacar Arimbi bukan manusia biasa, tetapi buaya darat," jawab mata-mata.
"Benar juga ya? Hmm. Aku putuskan, Arimbi bebas hukuman," ucap Ratu buaya putih.
Untung saja Arimbi menjalin cinta dengan manusia buaya darat, karena masih sama-sama buaya jadi tidak melanggar peraturan siluman buaya, dan akhirnya terbebas dari hukuman pancung.
Tamat.