10 Januari 2019
Ketika itu dimana saat saat yang tak pernah ku duga datang, memberikan sebuah percikan pada diriku yang saat itu tengah mengalami kesendirian. Dirimu yang tak ku kenal menghampiri, seolah memberikan ku peluang untuk masuk lebih dalam.
Tepat 1 tahun lebih 1 hari yang lalu di saat aku sudah muak dengan para laki laki, kau datang seolah menepis prinsip ku itu. Dengan dalih kau meminjam uang untuk mendapatkan nomer ponsel ku, aku tau saat itu kau sedang berbohong karena sudah jelas aku melihat dompet di saku mu.
Sungguh, ku kira saat itu adalah pertemuan kita yang terakhir. namun, siapa sangka aku mulai percaya yang namanya takdir.
Dan ini lah cerita kita yang tak seharusnya ada...
———
2 Februari 2018
Kau bilang saat itu, kau sudah lama sekolah di kampus ku. Tapi baru kali ini aku melihat mu, atau mungkin memang karena aku yang kurang memperhatikan sekeliling ku. Tapi lupakan hal itu, karena yang terjadi selanjutnya adalah kamu yang selalu memperhatikan ku, entah itu di kelas,kantin, bahkan saat aku jalan di koridor. Ini aneh tentu saja, aku sempat berfikir bahwa mungkin saja kamu itu mata mata yang di utus oleh seseorang untuk mengawasi gerak gerik ku hahahaha.
14 Februari 2018
Dan benar saja tak jauh dari itu, kau mengungkapkan perasaan mu padaku. Kamu bilang ini mungkin memang terlalu cepat, dan aku setuju untuk itu. Ini terlalu cepat, dan aku ragu.
Teman ku selalu bercerita tentang mu, menyuruhku untuk mempertimbangkan apa yang kau ajukan, karena ku mendengar bahwa kita itu berbeda, yang Se-amin tapi tidak seiman.
"Raina! Lo mending ga usah deh terima Aldo. Eh tapi terserah lo sih, kan baru mau pacaran, bukan mau nikah"
Aku makin Ragu, tapi aku juga tidak bisa menutupi bahwa aku juga merasakan hal yang sama padamu. Karena yaaaa seiring berjalannya waktu, sejak saat kau mendapatkan nomer ku dan kita selalu chatingan aku akui aku mencintaimu.
----
14 Mei 2018
Bulan pun berlalu. Ragu ku saat itu sudah ku lupakan jauh jauh, karena setelah hari itu aku semakin nyaman pada hubungan kita, ya kita menjalani hubungan dan kau memberikan arti cinta dan setia yang sesungguhnya dan aku sangat beruntung bisa memiliki mu.
Terkadang memang sulit bagi kita untuk bisa saling percaya dan memahami karena ada tembok besar yang menghalangi. Tapi aku percaya bahwa ada cerita dari setiap pertemuan, terutama pada pertemuan kita berdua.
Kau selalu saja bilang padaku "Jika ini berlanjut maka biarkan aku yang egois untuk tetap memilihmu". Tapi Al, berulang kali juga aku bilang pada mu bahwa "aku tidak ingin merebut mu dari Tuhan mu".
20 Mei 2018
Karena perdebatan itu pula, aku meminta untuk menyelesaikan apa yang sudah kita mulai bersama. Aku tau aku mungkin tak bisa begitu saja melupakan mu yang sangat berarti di hidup ku, tapi sekali lagi aku ingin kamu tidak egois untuk mengambil keputusan terlebih itu semua hanya untuk ku.
Memang benar, aku menginginkan mu sepenuhnya begitu juga kamu, aku tau. Tapi perbedaan kita tidak bisa di salahkan, dan aku memilih ikhlas untuk itu.
Beberapa bulan terlewat, setelah tidak dengan mu aku masih menjadi diriku yang seorang diri. Bukan berarti aku tidak bisa melupakan mu, meski pun itu sedikit benar. Aku kembali muak dengan suatu hubungan, karena jika tidak beda keyakinan ya pasti beda perasaan, dan aku sudah tidak ingin lagi bergabung dengan semua itu.
————
20 September 2018
Aku masih mengingatnya, hari itu awan menjatuhkan air dengan begitu kejamnya, tentu karena awan tidak memikirkan bagaimana ia menjadi rintik hujan yang jatuh ribuan kaki karenanya.
"Padahal hari ini adalah bulan September tapi mengapa hujan turun dengan begitu sering?" -ujar ku seiring berjalan membawa payung selepas kelas terakhir tadi.
Karena melihat halte penuh dengan orang berteduh, aku mencoba menunggu bus datang di bawah sebuah pohon dekat halte.
"Arhhh, dingin" ujar ku lirih
"Mengapa aku sangat bodoh sih memakai baju lengan pendek di saat begini"
"Hufttt, kau sungguh menyedihkan Raina!"
Dan tak lama dari itu bus pun datang, aku mengantri dengan pasti untuk bisa segera masuk. Benar saja di dalam bus pun aku tidak bisa duduk karena selain hujan, jam sekarang pun adalah jam pulang kantor jadi masuk akal bahwa aku harus berdiri di antara banyak orang seperti ini.
Salah seorang pria bertopi yang duduk di depan ku bangkit dan menarik ku untuk menempati tempat nya tadi. Aku terkejut mendapati perlakuan nya itu, dan aku masih tidak tau siapa pria itu karena tertutupi oleh topi nya tetapi seketika aku merasa dunia ini berhenti ketika dia menatapku dengan mata nya yang sangat menisaratkan kerinduan.
"Aku menemukan mu"
Ucap mu saat itu, yang membuatku bingung
______
Kemudian aku turun dan kau pun mengikuti ku. Kita berjalan di malam yang dingin selepas hujan tadi. Kau memberikan ku jaket yang kau kenakan, masih membisu satu sama lain.
Sampai ketika, dirimu berucap "kamu apa kabar?"
Aku berbohong jika aku bilang aku baik baik saja selepas bertemu kembali dengan mu bukan?, Tapi aku melakukan kebohongan itu.
"Aku baik, bagaimana dengan mu?"
Hanya untuk basa basi niatku menanyakan itu, tapi setelah kau menjawab, debaran itu datang kembali kepadaku.
"Kalau boleh jujur aku tidak baik baik saja, terlebih saat kehilangan mu dulu"
Mendengar hal itu aku tidak sama sekali berharap lebih terhadap mu, tapi kemudian ketika saat sudah sampai di depan rumah ku kau kembali bertanya sesuatu yang membuat ku bisu.
"Raina aku tau ini terlalu cepat lagi untuk kita mulai kembali. Tapi aku yakin dengan mu, jadi... mau kah kau menikah dengan ku?"
Aku tak dapat bicara sedikit pun saat itu, kau benar-benar membuat ku bisu dihadapan mu. aku tidak pernah membayangkan hal ini terjadi sangat cepat.
"Rain, bilang padaku bahwa kau masih mencintai ku kan?" dia menggenggam tangan ku dengan tangan hangatnya meski sangat amat dingin cuaca di luar sini.
"Al, aku rasa aku sudah bilang padamu soal ini kan?"
"Apa? kenapa? kamu ingin menolak ku lagi? setelah aku sudah sama seperti mu?"
Jujur aku saat itu sangat amat bingung dengan maksud mu,
"maksud mu?"
"Raina...Kita sudah sama, kita seiman sekarang. Saat aku memulai nya aku berfikir kembali apa alasan utama ku melakukan ini, dan aku berfikir aku melakukan nya bukan untuk kamu ataupun kita, aku melakukan nya untuk diriku dan untuk tuhan kita. Jadi Sudi kah kamu?"
Dan saat itu aku berkata "iya" karena jujur saja aku pun masih sangat mencintainya. Itulah Aldo, seorang pria yang amat sangat senang membuat sebuah kejutan berupa pertanyaan yang bisa membuat ku berdebar.
—————
9 Januari 2019
Tebak hari ini hari apa? Hari ini adalah hari pernikahan ku dengan nya, ya kami sepakat untuk mengadakan pernikahan pada tanggal ini, karena pada tanggal ini juga kami pertama kali bertemu saat di mini market itu.
pagi ini ku dengar kabar, ia mungkin agak sedikit terlambat untuk bisa sampai di lokasi untuk bersiap, karena memang dia sejak kemarin sedang pergi untuk melakukan perjalanan bisnis. Dan ya kita sudah lulus beberapa bulan yang lalu, dan aku sangat bersyukur karena kita sudah akan menikah
aku tidak mempersalahkan dia akan terlambat atau tidak tapi entah mengapa sejak pagi perasaan ku tidak enak, ah mungkin ini hanya perasaan seorang gadis yang pertama kali ingin menikah bukan?
kringgg....(suara telephone ku berbunyi)
ah, rupanya itu panggilan darinya.
"Hai rain, bagaimana disana?"
"hai, disini? Ramai. kapan kau akan tiba? keluarga mu saja sudah sampai sejak tadi"
aku mendengar dia menarik nafas panjang
"Rain aku minta maaf ya"
"kenapa kau minta maaf? kau tidak sedang berjalan dengan cewek lain kan?"
"Tentu tidak! mana mungkin. kalau aku melakukan hal itu sungguh aku sangat bodoh telah melepas wanita secantik mu"
"hahahha aku bercanda, tentu saja! kau akan rugi tau. untuk itu datang lah cepat"
"iya aku akan pulang..... terimakasih rain"
"apa lagi itu?"
"terimakasih karena kau mau menjadi pengantin wanita tercantik untuk ku"
"sungguh Al gombalan mu itu, benar benar buaya"
"hei, hahaha aku bersikap buaya hanya untuk mu seorang"
"mana ada"
"Rain aku tutup dulu ya.. "
"oke hati hati, aku mencintaimu.. "
"aku lebih mencintaimu"
—————
10 menit lagi acara sudah mau dimulai, dan aku masih belum tau kabar mu sudah sampai mana. berkali kali ku hubungi tapi kau tidak mengangkat sama sekali, 1 ruangan itu pun cemas karena beberapa tamu sudah datang, dan aku semakin gelisah.
"Al, kamu kemana?" lirih ku sambil terus berusaha menghubungi nya.
"Breaking news, siang ini kami mendapatkan informasi bahwa terjadi sebuah kecelakaan di jalur tol ******. Di kabarkan terdapat 2 orang yang meninggal di tempat dan 1 orang terluka parah. untuk ke 2 mayat akan di identifikasi lebih lanjut..."
terdengar suara televisi yang menyala menyiarkan sebuah berita, tapi kami semua tidak menghiraukan suara televisi itu.... sampai saat dimana salah seorang keluarga Aldo memberitahu kan bahwa mobil di dalam berita itu adalah mobil Aldo.
Tidak... ini tidak mungkin, aku tidak menerima ini semua saat itu. Tentu ini belum tentu itu Aldo kan? iya belum tentu....
kringgg....
telephone ayah Aldo berbunyi, dan saat itu juga aku mengetahui kenyataan nya bahwa memang benar mobil itu miliknya.
dengan perasaan yang amat sangat kacau, aku bersikap gegabah dan mengambil kunci mobil ku. Aku akan memastikan itu secara langsung.
sama sekali tidak terlintas apapun saat itu, yang aku pikirkan hanya Aldo. bahkan ketika aku sampai di tempat kejadian yang jauh untuk ku tempuh aku masih mengabaikan tatapan orang orang yang melihatku dengan gaun pengantin ini.
aku melihat sebuah tangan yang tubuh nya tertutup kain sedang di angkat oleh tandu dan memasuki Ambulance. Aku pasti sudah gila mengira tangan penuh darah itu adalah tangan hangat yang selalu menggenggam ku kan? tapi itu benar, itu dia.
Aku mendekatinya, memaksa dan menerobos begitu saja polisi yang sedang bertugas di situ. Aku kehabisan kata kata, lagi. aku bisu di hadapannya. dan yang kulakukan sekarang adalah aku menurunkan hujan di mataku, amat sangat lebat hujan itu.
aku memasuki Ambulance, duduk di sebelahnya yang tertidur. mencoba membuka kain putih yang sudah berubah warna itu.
"ALLLLL!!!"
Tangis ku pecah, Aku memeluk erat seolah tidak ingin kehilangannya yang nyatanya aku sudah kehilangannya.
untuk pertama kali nya dalam hidupku, aku mendapatkan kejutan yang benar-benar membuat ku terkejut dari nya. bukan lagi prihal ia menyatakan perasaannya, bukan juga prihal ia yang mengajakku menikah tapi tentang bagaimana ia meninggal kan ku sendiri dengan begitu banyak pertanyaan yang ada.
————
10 Januari 2019
aku menaruh bunga di atas gundukan tanah yang baru itu. Dan aku masih belum bisa menerima kenyataan ini.
kenyataan dimana takdir sangat amat sayang pada kita berdua.
dimulai dari aku yang patah hati, lalu dia datang memberikan sebuah jawaban yang dari dulu aku inginkan tapi itu semua tidaklah mudah saat kita menyadari bahwa ada tembok besar yang menghalangi kita, dan disaat ia rela untuk merobohkan tembok besar itu mengapa ini semua terjadi?!
aku bisa saja mentolerir jika beda perasaan, atau beda keyakinan tapi aku kalah telak jika harus di hadapkan begini, yaitu beda alam.
"Al, aku tau ini semua memang terlalu cepat tetapi apa pergi mu juga secepat ini?. Terimakasih Al untuk segalanya, aku tidak habis pikir bahwa saat dimana kita bertemu saat itu akan menjadi saat berpisah untuk kita sekarang. Jangan khawatirkan aku, aku baik baik saja disini. aku harap kau bahagia di sana"
Dan begitulah cerita cinta tragis ku dengan Aldo, dia masih menjadi sosok yang tidak bisa tergantikan karena selalu memberikan ku kejutan di luar dugaan. Aku beruntung bisa mengenal nya, benar bukan? seseorang yang tidak akan pernah melepaskan apa yang ia genggam dan seseorang yang tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang ia mau.
"Sampai jumpa lagi Aldo, aku akan sering mengunjungi mu disini. Aku mencintaimu"
Dan itu adalah langkah awal ku untuk berusaha hidup tanpa ada dirinya lagi Di sisiku.
TAMAT....
Akhir yang tak indah untuk kita tapi yang terbaik dari Tuhan.
••••••••••
Cerita di atas hanyalah sebuah fiksi tidak berdasarkan cerita nyata dari penulis. Dan bila ada kata atau kesalahan author mohon maaf atas itu. Terimakasih yang sudah membaca, dan jika minat boleh mampir di cerpen saya yang lain nya. Sampai jumpa lagi...