Apa yang akan kamu lakukan jika memiliki sebuah sihir? menjadi Pahlawan? atau ingin menjadi Petualang?entahlah,yang pasti memiliki sebuah sihir adalah sesuatu yang hebat, mungkin.
Di panasnya terik sinar matahari siang ini,seorang anak laki-laki berusia 10th berambut putih dan mata ungu yang mulai memejam,ya itu aku yang sedang memilih tiduran dibawah sebuah pohon yang tumbuh di hamparan padang rumput yang luas, tidak terlalu jauh dari kota.
Dengan tanganku yang aku jadikan sebuah bantal untuk alas tiduran, sambil menikmati hembusan angin yang menerpa tubuku.
Suasana ini hampir bisa membuatku untuk menjelajahi dunia mimpi, sampai sebuah suara yang begitu ku kenal, membangunkan diriku.
"Renard.... oi.... Renard.... bangun.... " Sebuah suara tiba-tiba saja muncul dan mengagalkan rencana tidur siangku.
"..."
Meski aku mendengarnya, aku memilih berpura-pura tidak mendengarnya dan tetap akan melanjutkan rencana tidur siangku.
"Renard!!!..... Renard Visneta!!!.... " Kali ini suara itu benar-benar, membuatku terkejut apalagi suara itu begitu dekat dan diteriakan di telingaku.
"Apasih... ganggu saja... " Ucapku bangun dari rencana tiduranku, aku mulai kesal dengan sumber suara yang berisik tersebut.
"Makanya... kalau aku panggil bangun!! " Ucap sumber suara yang amat mengganggu yang berasal dari seorang gadis berusia lebih muda satu tahun dariku, yaitu 9th.Memiliki rambut berwarna emas dan warna mata hijau.
"Iya.. iya... bawel... ada apa kau kemarin? Netas Civilza. " Ucapku memanggilnya dengan nama lengkapnya.
"Hmpd, sudah aku bilang jangan memanggilku dengan nama lenganku... tapi akan kumaafkan dirimu,karena aku sedang senang hari ini... " Ucap Netas dengan bahagia dapat dilihat dari ekspresinya.
"Ouh, selamat... baiklah dah... " Ucapku mencoba mengakhiri pembicaraan dan melanjutkan rencana tidur siangku yang sempat tertunda.
Duk....
Tapi belum sempat, tubuhku menyentuh tanah. Sebuah benda tumpul mendarat di kepalaku, meski itu tidak terlalu keras tapi tetap saja sakit...
"Apa yang kau lakukan... sakit tau... " Ucapku mengelus bagian yang terkena benda tumpul tadi.
"Hihihi, makanya dengerin dulu kalau aku ngomong... " Ucap Netas dengan sesuatu yang ia pegang ditangannya yang ia gunakan untuk memukulku.
"Iya.. iya apa yang ingin kamu katakan... " Ucapku mengambil posisi duduk menatapnya.
"Tada... lihatlah pedang yang baru saja aku miliki... " Ucap Netas menujukan sebuah pedang berwarna putih dan corak berwarna biru di pegangannya.
"Ouh... " Ucapku biasa saja, pasalnya memiliki sebuah pedang untuk seorang bangsawan berusia 6th adalah hal yang wajar. Kecuali aku yang tidak biaa mengunakan sihir dan seperti dibuang oleh keluargaku sendiri.
"Kenapa responmu hanya'Ouh' saja.Bisakah memberikan reaksi yang luar biasa gitu... " Ucap Netas kesal melihatku mengeluarkan reaksi yang biasa saja.
"Waawww, hebat sekali.Selamat ya... " Ucapku dengan reaksi yang aku buat dengan luarbiasa tapi dengan ekpresi datar.
"Hmpd, bukan begitu juga... apalagi apa apan dengan ekpresi datarmu tersebut.Bahkan kau mirip sebuah patung yang sedang berbicara."Ucap Netas dengan ekpresi kesalnya, yang malahan terlihat lucu kalau dilihat sekarang.
" Baiklah, baiklah tuan putri selamat ya, saya yang tidak berguna ini sungguh senang atas keberhasilan tuan putri untuk mendapatkannya dan selamat tuan putri adalah orang yang berhasil berbicara dengan patung didunia. "Ucapku memberikan selamat berulang kali, meski ekspresi ku masih datar setiap mengucapkan ucapan selamat.
" Dasar kau.Masih saja begitu, tidak berubah sama sekali... "Ucap Netas menggelengkan kepalanya.
Ya, apa yang kau harapan dengan seseorang yang baru 19 jam yang lalu baru kau temui, berubah? berubah menjadi monster begitu maksudmu?
"Apa begitu saja?, kalau iya. Silakan tuan putri untuk pergi dari sini karena pangeran yang terbuang ini akan melanjutkan rencana tidur siangnya. " Ucapku mengusirnya dengan halus. Dan merebahkan tubuhku kembali di bawah pohon.
"Dasar pemalas. " Ucap Netas dengan kesal dan pergi menjauh kurasa.
"Hufft... akhirnya dia pergi... " Ucapku saat membuka salah satu mataku, untuk melihat memastikan kalau dia benar benar pergi.
"Ternyata, aku masih bisa iri pada seorang... Tidak, bahkan sejak aku lahir, aku selalu iri dengan mereka yang dapat hidup bahagia. " Ucapku dengan mata terpejam.
***
Tanpa sadar aku sudah tertidur dan terbangun ketika sore hari.
"Houammm, sial ternyata sudah sore... lebih baik aku segera kembali ke kota. " Ucapku berdiri dan membersihkan bajuku yang sedikit kotor.
Tunggu, kalau aku tidak kembali juga tidak apa apasih, tapi aku juga masih memerlukan makanan.
Perjalanan kembali menuju kota, begitu sunyi di sepanjang jalan. Ya, itu wajar sih apalagi ini sudah sore dan jalan yang aku lewati adalah jalan menembus hutan.
"Huft... sungguh melelahkan." Gumanku sambil terus berjalan menyusuri jalan yang menebus hutan ini.
20 menit, akhirnya aku sampai berdiri di depan pintu gerbang kota Herc tapi ada yang aneh-
Keadaan gerbang kota begitu rusak parah dan asap hitam mengepul dari dalam kota. Teriakan teriakan meminta tolong dan keputusan terdengar begitu jelas oleh ku.
"A-apa... a.. apa yang terjadi? k-kenpa ini terjadi? Ah, bagaimana dengan keadaan Netas! " Ucapku mulai berlari masuk kedalam kota begitu saja.
Sepanjang jalan yang aku lihat hanya, mahluk mahluk aneh yang menyerang dan menghancurkan bagunan yang disekitarnya. Ada juga beberapa penjaga yang sedang bertarung dengan mahluk mahluk aneh terus.
Tanpa memperdulikan mereka, aku terus berlari meski tenagaku sangat terbatas menuju ke kediaman keluarga Civilza.
Dimana? dimana? dimana? dimana? dimana? dimana?, kata tersebut terus aku ulang saat mencari keberadaan Netas.
Sampai, aku menemukan keberadaan Netas yang sedang melawan dua monster aneh yang menyerang kota dengan pedangnya.
"Netas!!... " Teriakku dengan bodohnya memanggilnya.
Mendengar aku, memanggilnya membuatnya mengalihkan pandangannya ke arahku dengan ekpresi terkejut.
"Renard!!*Akhgg*" Karena mengalihkan pandangan ke arahku, membuat fokusnya terbagi dan salah satu monster yang menyerang Netas, berhasil mendaratkan serangan ke bahu Netas.
"Netas!!... " Ucapku dari tadi hanya berteriak seperti orang bodoh.
"Rasakan ini!! " Teriak Netas, menyerang langsung ke arah dua monster tersebut dan membuat mereka terpengal begitu saja.
Melihat kondisi sekitar yang lumayan aman, aku segera berlari menghampiri Netas yang tengah berdiri dengan pedangnya sebagai tumpuan agar tubuhnya tidak jatuh.
"*Hah**hah*A-apa yang kau lakukan disini... disini berbahaya pergilah!" Ucapnya dengan napas terputus-putus.
"Tidak, akan. Aku tidak akan pergi tampa mu! " Ucapku membantunya untuk tetap berdiri dengan merangkul kan tangannya ke pergelangan leherku.
"B-bodo... keadaan kota sudah kacau, dan para petingi keluarga sedang melawan monster tersebut di barat daya asal semua monster tersebut... " Ucapnya menjelaskan keadaan kota saat ini.
"Kalau begitu, aku akan membawamu keluar dari sini! " Ucapku membantu Netas berjalan karena lemas kehabisan energi mananya.
"Kalau begitu ters-*Akgh*"Ucapan Netas terpotong karena sebuah serang berwarna hitam menebus tubuhnya.
Kejadian itu berlangsung begitu cepat, bahkan aku tidak sempat bereaksi akan serangan tersebut.
Seketika, tubuh Netas terjatuh- tapi sebelum tubuhnya benar-benar jatuh aku sudah berada didepannya untuk menahan tubuhnya.
Saat menahan tubuhnya yang mulai mendingin, aku bisa melihat tubuh monster yang sudah dikalahkan Netas tadi tiba-tiba saja berubah menjadi tombak, melesat menebus tubuh Netas tadi.
Tapi setelah menebus tubuh Netas tadi, tubuh yang menjadi tombak berubah menjadi asap yang menguap diudara.
"Bertahanlah, a-ku akan mencari bantuan. " Ucapku pelan, sebenarnya aku juga bingung harus mencari bantuan dimana lagi, apalagi ditambah keadaan kota yang semakin kacau.
"Tidak, perlu*Uhuk*a-ku sudah tidak akan bertahan lama*uhuk*lagi." Ucap Netas terbatah batah.
"Tidak... tidak kau pasti akan selamat... pasti. " Ucapku memeluknya dan tanpa sadar air mataku sudah keluar begitu banyak.
"J-angan cengeng, *Uhuk*.Aku akan men-gatakan pe-san tera-khiku jadi dengarkan baik baik.. " Ucap Netas dengan napas mulai tidak beraturan.
"Tidak... tidak... kumohon jangan berbicara seperti itu... kumohon... " Ucapku semakin erat memeluk tubuh yang mulai dinginnya.
"*Uhukk*Ha-ha-ha, *Huff*Aku M-enyukai m-u*Fuuut*" Dengan tarikan napas terakhirnya, Netas mengucapkan kata-kata terakhirnya yang membuat aku terkejut.
Perlahan, tubuhnya mulai lemas dan jatuh ke tanah. Aku sudah tidak bisa lagi memeganginya lagi.
Perasaan sedih begitu kuat menyelimuti diriku." Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? harus saat saat terakhirnya... Kenapa?!!! "Teriak ku begitu kencang sampai hampir terdengar sampai ke penjuru kota.
" Kenapa? Kenapa? harus sekarang... *Hiks*... kenapa... *Hiks*.... sialan!!! "Teriakku lagi.
Dengan perasaan masih sedih akan kehilangannya, aku menggendong tubuh Netas yang sudah dingin dan kaku seperti tuan putri.
Tidak lupa, aku juga mengambil pedang yang Netas tujukan padaku pada siang tadi dengan raut wajah bahagianya.
Mengingat wajahnya yang terseyum bahagia, membuat Perasaanku bertambah sedih.
Berberapa saat, aku memandangi bilah pedangnya yang membuat aku semakin berasa kehilangannya.
Rouuuuurr....
Sebuah suara yang berasal dari beberapa monster-tidak kurasa mereka semua datang kesini karena teriakku tadi...
Dengan bentuk beraneka ragam bentuk, tapi mereka semua memiliki kesamaan yaitu tubuh mereka diselimuti aura hitam pekat dan mata mereka berwarna merah bersinar.
"Hahahaha, tidak akan aku biarkan kalian selamat atas kalian perbuat! " Teriak ku menyerang maju ke arah gelombang monster tersebut...
***
7th berlalu sejak kejadian itu, kini aku berada di Kerajaan Musim Suci. Jika kalian penasaran kenapa aku bisa selamat? singkatnya saat berhasil mengurangi jumat monster tersebut bala bantuan dari Kerajaan akhirnya datang dan membereskan semuanya.
"Walau sudah 7th berlalu tapi tetap saja... " Ucapku sambil berjalan memimpin beberapa orang yang berpakaian lengkap full armor dan satu orang gadis berusia 16th yang berambut merah panjang dan warna mata yang sama seperti rambutnya, sedang terikat dan dibawa oleh beberapa orang yang aku pimpin.
Kami terus berjalan menyusuri istana kerajaan Musim Suci, akhirnya aku dan beberapa orang yang aku pimpin telah sampai di sebuah taman.
Dan ditaman tersebut, terdapat seorang gadis berusia 15th sedang meminum teh di depan mejanya.
"Yang mulia kami sudah berhasil menjalankan misi yang Anda berikan. " Ucapku berlutut padanya dan diiringi oleh semua orang yang aku pimpin tadi.
"Hmm, bagus... bagus... bagus Kesatria Suci Renard..." Ucap gadis yang sedang meminum teh nya.
"Yang lainnya, kalian tinggalkan tempat ini, kecuali Kesatria Suci Renard. "Ucap lanjut gadis tersebut.
" Baik... "Ucap mereka langsung pergi meninggalkan Gadis yang terikat dan dengan ku bersama yang mulia.