Jamais Vu adalah kebalikan dari Deja vu. Berbeda dengan Deja vu, Jamais vu adalah istilah yang jarang diketahui. Dalam psikologi, jamais vu, adalah kosakata dari bahasa Prancis yang berarti "tak pernah terlihat", adalah fenomena mengalami sebuah kejadian yang seseorang pernah alami, namun terasa baru dan asing. (Wikipedia)
_______________________________________
18 Oktober xxxx
Ayah, maaf karena aku langsung pergi tanpa menemuimu dulu. Lagi-lagi karena panggilan tugas. Kali ini aku ditugaskan ke sebuah daerah perbatasan di California. Kurasa hanya itu yang bisa kuberitahu padamu. Aku pasti baik-baik saja, jadi jangan khawatirkan aku. (✓Read)
"Seharusnya dari awal kau tidak perlu mengirim kalimat'jadi, jangan khawatirkan aku', itu jadi terasa menggelikan karena sepertinya ayahmu tidak peduli sama sekali." Ledek pria si wajah tampan itu sambil mengintip layar handphone sang Kapten Alfa.
"Ayolah V, aku sedang mencoba jadi anak yang baik sekarang. Kau mungkin tidak tahu, berdamai dengan masa laluku itu sangat sulit, just respect it bro." Balas sang kapten dengan tangan yang masih sibuk mengeluarkan barang-barang dari ransel miliknya.
Mendengar ucapan sahabatnya itu, V kemudian mengangkat alisnya sambil mengangguk berulang kali. Memang tak ada yang salah dari ucapan si kapten barusan.
"Jungkook-nim, kukembalikan milikmu ..." V berkata demikian sambil melemparkan alat cukur di tangannya pada sang Kapten Alfa.
Beruntung lemparan tanpa aba-aba itu berhasil ditangkap dengan cekatan, namun perbuatan V itu malah membuat wajah sang kapten meninggalkan jejak kekesalan yang tampak menakutkan. Sebenarnya V terbiasa dengan ekspresi menakutkan Jungkook, jadi tanpa merasa bersalah ia memperlihatkan senyum kotaknya yang khas itu. Saat sudah tersenyum begitu, Jungkook pun hanya bisa menghela napasnya dalam-dalam, mencoba mentolerir perbuatan sahabatnya itu.
"Perbuatanmu ini akan dibayar oleh pasukanmu, lihat saja." Ancam Jungkook yang sebenarnya hanya sekedar memberi peringatan belaka.
Ya, karena V tau ucapan Jungkook barusan hanya peringatan belaka, ia tersenyum lagi karena baginya ekspresi jungkook saat ini sangat menggelikan. Hal itu berbeda dengan apa yang dirasakan oleh setiap orang, baik dalam pasukan, maupun orang yang baru bertemu dengan Jungkook. Image Jungkook di luar circle pergaulannya, dikenal sebagai pria dingin, kaku, dan kejam. Image itu tentu sangat mendukung, mengingat ia adalah kepala pasukan khusus yang terkuat di Angkatan Militer yang dimiliki Korea Selatan saat ini.
Sementara V, ia dikenal sebagai Kepala pasukan Delta yang dijuluki "Prince Charming". Kedua sosok penting ini memperoleh image mereka berdasarkan apa yang mereka perlihatkan di depan orang banyak. Oleh sebab itu tunjukkanlah apa yang baik jika ingin dikenal sebagai seorang yang baik. Karena apapun yang dilihat oleh mata disebut sebagai kenyataan, sementara yang hanya terdengar oleh telinga akan sulit menjadi kenyataan. Karena memang begitulah dunia ini bekerja.
Tiba-tiba Signal Corps Radio yang terdapat di ruangan itu berbunyi, sebuah tanda bahwa sepertinya seseorang mencoba untuk memberi pesan penting.
Menyadari tanda itu, Jungkook dan V tampak sangat serius bersiap untuk mendengarkan pesan penting apa yang akan disampaikan. Jungkook dan V kemudian mendengar sambil perlahan mendekati Radio komunikasi itu.
"... Kapten Jeon Jungkook, sepertinya ada masalah yang harus kau tangani, ini penting. Jawab aku jika kau mendengar, Ganti ..." Ucap seseorang itu.
"Kapten Jeon Jungkook di sini Pak, ganti ..." Balas Jungkook dengan sikap menghormat ala Tentara.
"Aku tidak tahu informasi jelasnya, seorang warga sipil dilaporkan masuk perbatasan Camp San Luis Obispo. Jemput dia, lalu interogasi. Ingat, lakukan dengan cara damai, ganti ... "
"Siap Pak." Balas Jungkook diikuti dengan tangannya yang perlahan turun dari yang awalnya sikap menghormat. Setelah pesan singkat itu tersampaikan, V kemudian memutar salah satu tombol pada radio, untuk mensenyapkannya.
"Itu artinya ... warga sipil itu orang Korea?" Tanya V memastikan.
"Ya, seperti yang kau dengar barusan dari Letnan Namjoon." Balas Jungkook yang kemudian buru-buru menyiapkan peralatan untuk segera berangkat ke perbatasan Camp San Luis Obispo.
"Kurasa kau tidak perlu bantuan kan?" Tanya V dengan tangan kanan memegang bahu kekar milik Jungkook.
"Tidak." Balas Jungkook singkat, lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu bersama V yang ada di dalamnya.
Jungkook tidak membawa siapapun bersamanya, karena ia harus menyelesaikan tugas ini dengan cara damai. Namun meskipun begitu, tentu tidak ada salahnya mempersiapkan senjata untuk berjaga-jaga. Dengan lihainya, mobil GAZ Tigr yang dikendarai Jungkook tampak melesat dengan sangat cepat. Perjalanan yang cukup panjang itu berakhir hanya dalam waktu 20 menit. Tidak ada yang berani melakukan itu, kecuali seorang Jeon Jungkook.
Dengan gagah dan percaya diri Jungkook berjalan memasuki tenda utama Angkatan Militer San Luis Obispo . Ia mengetahui posisi tenda utama bahkan dari kejauhan, karena melihat hanya ada satu tenda yang dijaga oleh beberapa tentara. Aura kepemimpinan seorang Jeon Jungkook terpancar begitu kuat, sehingga setiap mata melihatnya dengan tatapan kagum. Tetapi tidak semua, beberapa juga memberikan tatapan sinis padanya.
"Woah... Good morning Captain Jeon." Ucap seorang pria yang tampak mengenakan seragam militer khas Amerika Serikat itu.
Dari pangkat yang terlihat jelas di seragamnya, jelas bahwa ia adalah seorang kapten juga. Kapten itu tampak menghormat ala tentara sambil tersenyum ramah saat menyambut Jungkook. Dan Jungkook juga membalasnya dengan hormat. Jungkook dipersilahkan untuk duduk, lalu mereka berdua tampak berbincang-bincang sedikit sebelum membahas inti pertemuan mereka.
"So where is he, Captain Frederick?" Tanya Jungkook yang baru mengetahui nama Kapten AS di hadapannya itu setelah melihat name tag-nya.
"You mean She, right?" Tanya Kapten Frederick sambil tersenyum mencoba membenarkan ucapan Jungkook.
"Absolutely." Balas Jungkook dengan ekspresi datarnya.
Kapten Frederick tersenyum kecil, kemudian memerintahkan bawahannya yang berjaga di tenda itu untuk membawa masuk warga sipil berkebangsaan Korea Selatan, yang entah bagaimana bisa sampai ke Camp Militer pasukan khusus Amerika Serikat. Entah dia mata-mata atau bukan, itulah yang harus diketahui Jeon Jungkook. Ia harus menginterogasinya dengan benar, lalu melaporkannya pada atasan tentara militer yang berjaga di perbatasan Camp itu untuk menghilangkan segala kecurigaan dan kesalahpahaman yang mungkin tercipta di antara kedua pasukan.
"There She is."
Mendengar ucapan Kapten Frederick barusan, Jungkook spontan memutar badannya sedikit hingga matanya dapat melihat sosok yang sudah cukup merepotkannya itu. Melihat wanita berkulit putih, berambut panjang sedikit bergelombang, dan dengan bulu mata lentik menghiasi mata belo indah itu, Jungkook sedikit terhanyut. Sosoknya benar-benar memanjakan mata siapa pun yang melihatnya. Namun semakin lama meneliti dirinya, Jungkook merasa semakin tidak asing dengan wanita di hadapannya saat manik matanya berhasil melihat satu bekas goresan pisau di leher bagian kanannya. Goresan itu semakin mengingatkan Jungkook pada seseorang yang pernah ingin dilupakannya untuk selamanya.
'Apa mungkin ini benar-benar dirimu? Pantas saja aku merasa seperti pernah melihat wajah itu. ... Apa dia jauh-jauh ke sini hanya untuk menemuiku? Bagaimana bisa? ... Tapi melihat responnya yang seperti itu saat melihatku, aku rasa aku salah orang.' Batin Jungkook.
"She's so beautiful, right Captain Jeon?" Bisik Kapten Frederick yang memecah lamunan Jungkook hingga membuatnya sedikit salah tingkah.
Sementara wanita yang berdiri di hadapan Kapten Alfa itu tampak sangat tenang, ia bahkan tidak menunjukkan jejak kepanikan sedikit pun di wajah mulusnya itu. Sedikit basa-basi salam perpisahan, akhirnya Jungkook dipersilahkan untuk kembali ke Camp pasukan khusus milik Korea Selatan, untuk kemudian melakukan tugasnya di sana. Jungkook sedikit cepat berjalan menuju pintu keluar tenda.
"Ikut aku." Ucap Jungkook sambil berjalan melewati wanita cantik yang tampak berdiri masih dengan posisi yang sama. Spontan mata wanita itu sedikit terbelalak saat mendengar ucapan pria tampan dan berkharisma itu ketika berlalu melewatinya. Ia terkejut sekaligus senang karena akhirnya ada seseorang yang bisa diajaknya untuk berbicara. Saat sudah di dalam mobil, Jungkook membantu mengenakan seat belt wanita yang duduk di sampingnya itu. Kini wajah mereka sangat dekat, hingga membuat jantung kapten dingin itu berdegup kencang tidak karuan.
"Terimakasih." Ucap wanita itu dengan ramahnya sambil menunjukkan senyum manis yang khas sekali bagi Jungkook. Senyum yang pernah dilihatnya.
'Sialan, apa ini benar-benar kau Iseul? Apa kau mencoba bermain-main denganku, huh? Kalau begitu akan kuikuti alurmu, Dew.' Batin Jungkook sambil mengemudikan mobil dan sesekali mencuri pandang melihat wanita di sebelahnya.
"Jadi kau orang Korea juga ya? Siapa namamu tuan tentara? " Tanya wanita itu dengan ekspresi anak kecil polos yang sangat ramah.
'Wanita ini sudah gila ... Apa aku sebegitu mudahnya kau lupakan? Apa hanya aku yang bahkan sampai kemarin berusaha keras hanya untuk melupakanmu?' Batin Jungkook yang semakin merasa jengkel.
Melihat pria di sampingnya ternyata adalah seorang yang dingin, wanita itu mengurungkan niatnya lagi untuk bertanya. Ia hanya bisa percaya dan pasrah akan dibawa kemana oleh pria di sampingnya itu.
Hari sudah semakin gelap, dan sebentar lagi mereka akan sampai di Camp milik pasukan khusus Korea Selatan. Sesampainya di tempat itu, Jungkook melepas seat belt-nya dengan cepat, raut wajahnya seolah mengatakan jika dia tidak ingin berlama-lama berada satu tempat dengan wanita di sampingnya itu. Sementara wanita yang belum diketahui identitasnya itu menatap Jungkook heran, namun ia memilih untuk tetap diam karena ia tahu pria itu bukanlah orang yang ramah. Melihat semua prajurit yang berpapasan dengan pria itu selalu memberi hormat dan bersikap sangat sopan, wanita itu jadi tahu kalau Jungkook adalah orang penting yang sangat dihormati, atau mungkin sangat ditakuti. Wanita itu melihat Jungkook menuju satu ruangan, karena merasa penasaran dan tertarik dengannya, wanita itu memutuskan untuk mengikutinya ke ruangan itu.
Banyak manik mata memandangi wanita itu mulai saat ia turun dari mobil sang kapten, sampai masuk ke ruangan sang kapten. Mereka bukan terkejut melihat kehadiran seorang warga sipil di tempat itu, akan tetapi mereka terkejut mengetahui kenyataan bahwa wanita dalam laporan ternyata adalah seorang "bidadari".
Sesampainya di depan ruangan si kapten, wanita itu sedikit ragu namun perlahan ia melangkahkan kakinya untuk masuk. Ruangan itu benar-benar bersih dan tertata rapi, peralatan di dalamnya tidak terlalu lengkap, dan sederhana. Kedua mata indah milik wanita itu terus menjelajahi ruangan itu sambil sesekali memuaskan rasa keingintahuannya dengan menyentuh beberapa barang.
"Duduklah. Tunggu sampai aku kembali." Wanita itu terkejut dan spontan menarik tangannya yang sedari tadi sibuk mengelus benda di depannya, saat Jungkook yang entah dari mana tiba-tiba mengatakan hal itu. Lalu pria itu langsung meninggalkan ruangan dengan pintu yang ditutupnya rapat.
'Cih, aku heran kenapa ada pria seperti dia.' Gerutu wanita itu dalam hatinya. Masih asik melihat-lihat sambil menunggu sosok pria es datang kembali ke ruangan itu, tiba-tiba saja lampu di ruangan itu padam. Semuanya tampak hitam dan gelap. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba wanita itu bernapas dengan tersengal-sengal, ia berkeringat dingin, dan air matanya tampak sangat lancar meluncur di pipinya itu.
"T-tolong! ... A-aku mohon ... siapapun tolong aku!!" Teriak wanita itu sambil berusaha mengatur napasnya dengan tangan yang menjelajah kemana-mana mencoba meraba sekelilingnya dan mencari jalan keluar dari ruangan yang begitu gelap itu. Wanita itu berjalan dengan arah tak tentu, dan sesekali terjatuh karena menabrak beberapa barang di ruangan itu. Tubuhnya terasa semakin memberat sehingga kedua kakinya tak lagi mampu untuk menopangnya berdiri dan berlari untuk mencari pertolongan, selain itu napasnya seperti kian menipis dan sulit untuk dikendalikan.
"Selamat tinggal Iseul. Jangan pernah mencariku lagi, atau kau akan kubunuh."
'Tidak ... jangan lagi! Kenapa aku mendengar suara itu lagi?! Rasa sakit ini ... kenapa sakit sekali? ... Kenapa, kenapa kau sampai ngin membunuhku?!' Keluh wanita itu dalam dirinya. Kini ia merasa napasnya benar-benar menipis bersamaan dengan matanya yang kian memberat.
"Hei! Kau tidak apa-apa?!" Tiba-tiba Jungkook datang dengan sebuah senter di tangan kanannya. Ia benar-benar sangat panik saat melihat wanita cantik itu sudah terbaring tidak berdaya di lantai. Jungkook berusaha agar membuat wanita itu terus membuka matanya agar tidak kehilangan kesadarannya. Sesekali pria itu menyeka keringat dan air mata wanita itu yang mengalir begitu derasnya.
Melihat reaksi wanita itu, Jungkook tahu bahwa mungkin ia mengalami serangan panik atau semacam trauma yang kembali karena dipicu oleh sesuatu. Jadi ia berusaha untuk menenangkan wanita itu. Dibawanya wanita itu dalam pelukannya, sambil mengelus lembut rambut panjangnya yang indah.
"Tenanglah, aku di sini. Aku tidak akan pergi kemanapun." Ucap Jungkook dengan tone suara yang sangat dalam. Merasakan kehangatan dan kenyamanan kian merasuk dalam hatinya, perlahan napas wanita itu kembali stabil. Matanya masih terpejam, ia masih mencoba merasakan kehangatan dan rasa nyaman yang baginya sangat langka itu.
Beberapa menit telah berlalu, Jungkook dan wanita itu masih dengan posisi yang sama. Kepanikan pria itu kian berkurang ketika merasakan bahwa wanita dalam dekapannya itu sudah kembali normal dan tidak separah sebelumnya. Beberapa pertanyaan terlintas di kepalanya, tentang bagaimana wanita yang mungkin dikenalnya itu bisa mendapat efek traumatik yang terlihat sangat menyiksa.
Selang beberapa waktu, wanita cantik itu kembali membuka matanya perlahan. Setelah matanya sudah benar-benar membuka sempurna, lampu di ruangan itu tiba-tiba hidup. Cahaya terang yang tiba-tiba menyerang itu, membuat Jungkook dan si wanita kembali menutup mata mereka karena kesilauan. Mereka berdua beberapa kali mengedip-ngedipkan kelopak mata mereka, mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke pupil mata mereka. Setelah dirasa nyaman untuk melihat, Jungkook mengendurkan pelukannya. Sementara wanita itu sedikit terkejut lalu menjauh sedikit dari Jungkook.
"Apa kau sudah jauh lebih baik sekarang?" Tanya Jungkook dengan suaranya yang dalam. Wanita itu tidak bersuara untuk menjawab, dia hanya menggangguk pelan.
"Terimakasih."
"Tidak perlu, ini sudah bagian dari kewajibanku. Tapi kalau kau sudah tahu akan bepergian ke tempat jauh dan terpencil seperti ini, seharusnya kau tidak lupa membawa obatmu kan?" Ucap Jungkook yang masih memandangi wanita di hadapannya yang sekarang tampak murung.
"Obat? Aku bahkan baru tahu aku bisa kembali tenang secepat ini. Bahkan dokter yang pernah kujumpai bilang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan efek trauma ini, selama aku tidak terbuka pada mereka. Mereka terus memaksaku mencari tahu penyebabnya. Tetapi seberapa keras pun aku mencoba, aku tidak bisa mengingat apa pun. Aku juga tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi setelah aku tumbuh dewasa, aku tidak ingat pernah mengalaminya sejak kecil. Yang kutahu setiap efek trauma ini kembali, aku mendengar suara seorang pria, lalu muncul penglihatan seorang pria yang berdiri di kegelapan membelakangi cahaya. Pria itu bilang akan membunuhku jika aku terus mengikutinya, tapi rasanya aku tidak takut dengan ancaman itu. Yang membuatku sesak dan merasa sakit adalah saat bayangan itu tiba-tiba lenyap. Aku tidak tahu dia siapa, tapi rasanya aku mengenalnya." Jelas wanita itu yang tanpa sadar menceritakan semuanya dan terbuka pada Jungkook karena ia merasa nyaman. Tatapan wanita itu murung, dan tangannya sibuk memegangi dadanya yang kembali terasa sesak mengingat semua hal yang dialaminya. Tetapi lain halnya dengan Jungkook, mendengar cerita Iseul barusan, wajah Jungkook tiba-tiba memucat.
"Si-siapa namamu?" Tanya Jungkook berusaha menyembunyikan kegugupannya. Ia bertanya hanya untuk memastikan apakah wanita itu adalah orang yang ia kenal atau tidak. Walau hati kecilnya sebenarnya yakin wanita itu adalah wanita yang pernah dikenalnya.
"Iseul. Namaku Park Iseul."
Deg...
Jawaban itu seolah menampar keras jantung Jungkook hingga membuat napasnya sempat terhenti untuk beberapa saat. Ia tidak percaya perbuatannya di masa lalu telah merusak kehidupan seseorang. Ia tak percaya bahwa yang ia pikir perbuatannya adalah perbuatan seorang pahlawan, justru lebih pantas disebut sebagai penjahat, bahkan efeknya lebih menyakitkan dari pada kematian.
'Apa yang sudah aku lakukan?' Batin Jungkook sangat menyesal akan perbuatannya.
"Kenapa kau terlihat merasa bersalah begitu? ... Kau tahu, sejujurnya aku sudah terbiasa. Aku sudah terbiasa dengan rasa sakitnya, meski bertahun-tahun tapi rasanya masih tetap sama seperti saat pertama kali. Yang kutahu tidak ada apa pun di dunia ini yang bisa mengurangi sakitnya 1 persen pun. Obat tidur adalah penyelamatku satu-satunya. Sekarang aku terkejut bisa mengatasinya, aku yakin itu karena kau. Jadi, itulah sebabnya aku harus berterimakasih padamu. Mungkin bagimu bukan apa-apa, tapi bagiku ini perbuatan yang besar" Ucap wanita itu dengan senyumannya yang tampak sangat tulus.
'Cih, aku menjijikkan. Aku tidak pantas menerima perasaan tulusmu itu.' Jungkook meggeram sambil mengucapkan itu dalam hatinya. Tangannya mengepal bersama rahangnya yang mengeras. Ia mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh di hadapan wanita yang masih ia cintai itu. Ia mencoba menghela napasnya dalam untuk menstabilkan emosinya.
"Apa sejak traumamu itu muncul, kau jadi sangat cepat melupakan sesuatu? Lalu apa itu alasanmu kenapa bisa sampai ke sini, karena tidak tahu jalan pulang?" Tanya Jungkook yang tetap tenang.
"Iya. Orang-orang di sekitarku mengatakan itu. Aku bahkan dibilang lebih parah dari pada keadaan pikun sekali pun. Jadi sejak saat itu aku dirawat intensif, tetapi semua sia-sia. Justru rasanya semakin memperparah traumaku. Aku ... tidak memedulikan apa pun lagi. Aku sudah pasrah. Coba kau pikir, bagaimana aku hidup dengan ingatan yang sangat buruk ini? Aku tidak mengingat siapa pun. Jika hari ini aku menyayangi satu orang , maka aku akan melupakannya keesokan harinya. Itu yang dikatakan orang-orang selama ini padaku. Kau mungkin bingung, kalau begitu bagaimana aku bisa mengingat setiap perkataan orang lain? Iya, aku tidak melupakan apa yang kudengar, tapi melupakan apa yang kulihat ... Karena ingin mencoba keluar dari 'penjara' itu, aku bertekad untuk kabur dan ingin liburan ke California. Tapi dengan bekal ingatan minim seperti ini, apa yang aku bisa? Tersesat ke sini pun aku sudah pasrah. Bertemu denganmu hanya sebuah keberuntunganku." Jelas wanita itu sambil memandang lembut wajah Jungkook.
"Apa, apa kau ingat siapa nama pria dalam potongan ingatanmu itu? Lalu ... apa kau membencinya?" Tanya Jungkook yang mengalihkan pandangannya dari Iseul, ia lebih memilih menatap lantai keramik yang sebenarnya sama sekali tidak menarik untuk dilihat.
"Namanya ... Jeon Jungkook. Tentang membencinya, aku tidak tahu. Mungkin kau berpikir kalau seharusnya aku membencinya kan? Aku juga mencoba membencinya, tapi ada perasaan yang tidak bisa kujelaskan." Jawab Iseul dengan tatapan sendu. Jungkook tersenyum kecut mendengar semua yang terucap dari mulut wanita itu.
'Benar, kau harus membenci nama itu.' Batin kapten yang sedang dalam keadaan kalut itu.
"Ngomong-ngomong sejak bertemu, aku belum menanyakan namamu. Jadi, siapa namamu tuan tentara?" Tanya Iseul dengan mata yang tampak cemerlang dan senyuman tipisnya yang manis. Jungkook yang mendengarkan ucapan wanita itu, termenung sejenak. Ia sedang merencanakan sesuatu di dalam kepalanya.
'Baiklah,kali ini aku akan memperbaikinya. Biarkan aku menghapus dosaku padamu Iseul, biarkan aku jadi obat untukmu. Tapi kali ini bukan sebagai Jeon Jungkook, melainkan...'
"Kim Taehyung. Kau bisa memanggilku V." Jawab Jungkook dengan percaya diri, namun hatinya tengah merasakan rasa perih yang menyengat.
"Namamu sangat bagus, senang bisa bertemu denganmu. Kalau begini kan lebih baik. Jadi, jika aku melupakan wajahmu besok, setidaknya aku bisa mengingat namamu." Iseul mengatakannya sambil tersenyum bahagia.
Setelah pembicaraan yang cukup panjang itu, Jungkook menuntun Iseul ke tempat yang akan menjadi ruangannya untuk satu bulan ke depan sebelum diberi izin kembali ke Korea Selatan.
Setelah meninggalkan Iseul di ruangannya, Jungkook membersihkan diri, dan di tempat tertutup itu ia meluapkan segala beban dan kesedihan dalam hatinya. Ia benar-benar merasa frustasi dan menyesal atas perbuatannya. Namun, ia tetap mencoba kuat dan tegar seperti biasanya.
Setelah beberapa menit membersihkan diri, Jungkook mengadakan pertemuan resmi pada pimpinannya Letnan Namjoon dan Letnan pasukan Amerika Serikat untuk melaporkan tentang Iseul. Setelah dipastikan dengan benar bahwa keberadaan Iseul bukanlah sebuah ancaman, Iseul dipersilahkan untuk tinggal bersama pasukan Korea Selatan selama satu bulan kedepan. Jeon Jungkook melakukan perannya dengan baik selama sisa waktu yang ada, yaitu untuk mengobati wanita yang bernama Iseul itu.
Rasa cinta Jungkook tidak berkurang sedikit pun untuk wanita itu, bahkan setelah perpisahan menyakitkan mereka dahulu.
Namun Kapten Alfa itu bukanlah orang yang tidak tahu diri, yang kembali mengharapkan cinta dari seseorang yang telah dibuatnya menderita selama bertahun-tahun. Daripada mencintai untuk memiliki, Jungkook lebih memilih membungkam perasaannya dan bertindak sebagai pahlawan sesungguhnya kali ini.
Kapten Jungkook yang dikenal begitu dingin, kaku, dan kejam, menjadi sangat lembut, lunak, dan begitu menyenangkan di hadapan Iseul. Semua rencana Jungkook yang menggunakan nama V berhasil dengan sempurna, karena V sedang ditempatkan untuk menjaga Camp yang tidak begitu jauh dari tempat mereka. Perlahan usaha Jungkook tampak membuahkan hasil. Trauma Iseul tidak lagi terpicu ketika ia berada di ruangan gelap. Dan perlahan sudah mulai bisa mengingat tempat dan beberapa kejadian, meskipun belum terlalu baik. Iseul dan Jungkook jadi semakin sering tertawa lepas saat sedang menghabiskan waktu berduaan. Jungkook merasa ia telah berhasil menjadi obat untuk wanitanya itu, tetapi ia tak sadar bahwa Iseul juga adalah obat dari kekerasan hatinya yang sudah lama membeku.
Belum genap 1 bulan, Jungkook mendapat kabar mengejutkan. Ia dipindah-tugaskan ke daerah lain yang sangat jauh dari tempat bertugasnya saat ini. Sedih adalah perasaan yang pasti, namun memang ini yang harus dilakukannya, yaitu pergi meninggalkan Iseul untuk selamanya. Semuanya sesuai dengan apa yang diperkirakan Kapten Alfa itu, jadi ada sedikit perasaan lega di hati kecilnya. Beruntung kepergiannya pas sekali dengan kabar kembalinya Kim Taehyung, sang Kapten Delta, ke Camp milik pasukan Korea Selatan. Itu artinya, Jeon Jungkook yang sedang berada di luar Camp saat ini harus segera memberitahukan segala skenario karangannya pada V.
"Selamat sore V, kau sedang apa kaptenku?" Ucap Iseul dengan sangat ramah pada orang yang tengah membelakanginya itu. Iseul tidak tahu kalau V yang ia kenal selama ini, bukanlah V yang sama dengan yang berdiri di hadapannya. Karena ada yang memanggilnya, V pun kemudian melihat ke arah sumber suara. Karena tidak pernah bertemu wanita yang dirasa kini sangat sok akrab padanya itu, V mengernyit keheranan.
"Kenapa kau menatapku begitu? Ah, apa aku salah orang? Tapi mereka bilang kalau Kim Taehyung ada di sini ... Atau jangan-jangan kau sedang meledekku ya? Mentang-mentang aku punya gangguan ingatan, huh ..." Ucap wanita itu yang tampak imut karena sedang kesal.
'Gangguan ingatan? Apa ada orang yang akrab dengannya yang sedang memakai namaku? Tapi untuk apa?'
"Iya, aku memang Kim Taehyung. Tapi ..." Ucapan kapten tampan itu terhenti saat pandangannya teralihkan pada sosok Jungkook di luar jendela yang sedang berusaha keras memberi isyarat untuk menghentikan ucapannya.
"Tapi apa?" Tanya Iseul lagi dengan polosnya.
"Bukan, bukan apa-apa. Aku baru ingat ada urusan penting yang terlupakan. Aku pergi dulu ya." Ucap V sambil berlalu meninggalkan Iseul di ruangan itu sendirian. Sebenarnyai V ingin menemui dan meminta kejelasan dari orang yang tahu tentang segala pertanyaan di kepalanya saat ini. Setelah berjalan beberapa meter, V dan orang itu sampai di suatu ruangan yang tidak ada siapa pun di dalamnya selain mereka. Orang itu tak lain adalah Jeon Jungkook.
"Aku akan menjelaskan semuanya." Ucap Jungkook dengan tone suaranya yang memberat bersama dengan wajah serius yang mulai diperlihatkannya. Jungkook pun menceritakan segalanya tentang Iseul. Ia juga menjelaskan tentang apa yang sudah ia rencanakan setelah kejadian trauma Iseul ia ketahui untuk pertama kalinya.
"Jadi dia mantan pacarmu dulu ... Sampai bisa mengakibatkan trauma separah itu, apa yang pernah kau lakukan padanya? ... Apa ada hubungannya dengan pertengkaran antara kau dan ayahmu?" Tanya V penasaran.
"Iya, ada hubungannya. Saat itu ayahku mengetahui tentang hubungan kami. Tapi karena ia merasa Iseul akan jadi penghalang karirku selama menjadi pasukan khusus, dia membuat pertunangan antara Iseul dan adikku yang sudah lama hilang. Itu juga alasan kenapa aku tidak pernah sepenuh hati menjadi pasukan khusus, karena ini pekerjaan yang diinginkan ayahku, bukan aku ... Mengetahui itu, aku tentu merasa sangat sakit hati. Iseul juga merasakan hal yang sama dan tidak terima sama sekali. Keadaan semakin buruk ketika aku tahu adikku juga mencintai Iseul, jadi dia bertekad untuk melakukan apa saja agar aku mau merelakan Iseul padanya. Aku berada di antara pilihan yang sangat sulit saat itu, antara wanita yang sangat kucintai atau adik satu-satunya yang paling aku sayangi. Belum lagi adanya ancaman dari ayahku. Aku berhari-hari memikirkan jalan keluar yang terbaik, sampai aku menemukan satu cara mengerikan yang menyebabkan Iseul mendapat trauma itu. Aku memutuskan untuk meninggalkan semuanya, dan pergi sangat jauh dari mereka. Iseul mengetahui rencanaku itu, jadi dia berontak dan memaksa ingin ikut. Aku tidak ingin melukai siapa pun lebih dalam lagi, jadi aku melakukan apa saja untuk melancarkannya. Aku ingin Iseul membenciku saat itu agar ia berhenti mencintaiku, dengan cara mengancam akan membunuhnya. Tapi dia bahkan berani memberikan hidupnya dengan melukai lehernya, aku tidak serius menginginkan itu, semuanya pun menjadi kacau.
Jadi aku membuatnya pingsan malam itu lalu segera pergi menghilangkan jejak. Tidak lama setelah itu, aku mendapat kabar kalau adikku kabur dan pergi entah kemana. Sampai saat ini kita bahkan sama-sama tidak tahu dia entah ada di mana ... Setelah itu ayahku menerorku seperti seorang penjahat, ia menyalahkanku untuk segalanya. Dan kau tahu kan, perjalanan untuk mencapai keadaan yang sekarang bukanlah sesuatu yang mudah ... Aku sudah melakukan kesalahan yang sangat besar pada Iseul dulu, jadi aku ingin memperbaikinya. Sekarang traumanya sudah semakin membaik dengan kehadiran diriku. Tetapi aku tidak mau membuka lukanya semakin dalam dengan mengakui bahwa aku adalah Jeon Jungkook yang ia tahu." Jelas Jungkook dengan matanya yang sendu dan aura kekalutan yang begitu jelas.
V menatap wajah Jungkook lekat-lekat, ia belum pernah melihat wajah sahabatnya yang semenyedihkan ini sebelumnya.
"Sekarang kita berdua sudah ada di sini, apa kau sudah memperkirakan akan seperti apa nanti?" Tanya V.
"Jangan khawatir, semuanya sesuai apa yang telah kuperkirakan. Besok aku akan pergi karena dipindah-tugaskan ke daerah yang sangat jauh dari sini. Itu artinya, ini adalah kesempatanku untuk benar-benar pergi dari Iseul untuk selamanya, sebelum ingatannya sembuh total. Dia akan selalu mengira Kim Taehyung adalah diriku yang menyembuhkan traumanya, dan saat ingatannya sudah sembuh total ia hanya akan tetap mengingatmu sebagai 'obatnya'. Jadi aku menyerahkan Iseul padamu, Kim Taehyung. Aku ingin kau menjaganya, terserah sebagai apa. Kau boleh menjadi kekasihnya, kakak, sahabatnya, atau mungkin ketiganya sekaligus. Aku hanya bisa mempercayakannya padamu, V." Ucap Jungkook yang tanpa sadar air matanya sudah mengalir deras. Namun ia memalingkan wajahnya berusaha menutupi kesedihannya yang sangat dalam itu.
'Jadi seperti inilah cinta sesungguhnya . Aku tidak mungkin bisa mencintai Iseul sedalam kau Jungkook, tapi aku akan berusaha menjaganya dengan cinta yang kubisa. Kau prajurit tangguh Jeon Jungkook, baik dari luar maupun dalam.' Batin V memuji sosok pria tegar di hadapannya.
Malam yang terasa sangat singkat itu berlalu begitu saja. Dengan perasaan sedih dan kekalutan yang begitu dalam, Jungkook tidak dapat beristirahat dengan baik. Ia menghabiskan malam itu dengan rokok yang menemaninya. Ini pertama kalinya pria itu merokok lagi semenjak beberapa tahun terakhir.
Lalu keesokan harinya, sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat itu, Jungkook menyempatkan diri untuk menemui dan berpamitan pada sahabatnya. Tidak disangka, dari balik jendela Jungkook melihat Iseul ternyata sudah lebih dulu menemui V di ruangan itu.
"Kim Taehyung, sebenarnya semalam ada hal yang ingin aku katakan ... Itu, sebenarnya aku ... aku mencintaimu." Ucap Iseul malu-malu dengan wajah yang kini tampak merah merona. V yang melihat tingkah imut itu, hanya tersenyum kecil karena ingatan akan Jungkook sahabatnya terlintas sejenak.
"Jadilah pacarku ..." Sambung Iseul lagi sambil menutup mata memeluk tubuh kekar di hadapannya.
Dia masih Iseul yang dulu. Batin Jungkook. Jungkook yang melihat itu tersenyum puas, namun hatinya saat ini tengah menangis kesakitan. Jungkook yang merasa segalanya sudah beres dan berjalan sesuai rencananya, memilih segera pergi dari tempat itu sebelum perasaannya berubah. Di perjalanan, Jungkook memberhentikan mobilnya sejenak, menatap mentari yang bersinar sangat terang, seolah tersenyum dan menyemangatinya.
'Aku tidak menyesal. Terimakasih telah mempertemukanku lagi dengannya, sehingga aku punya kesempatan untuk menebus kesalahanku padanya. Aku berharap dia bahagia setelah ini.' Ucap Jungkook dalam hatinya sambil perlahan menutup matanya menikmati hembusan angin yang seolah membawa pergi beban di hatinya.
-End