Kala itu Arlogy menandakan pukul 16.00 WIB, terlihat asap hitam menyelimuti angkasa yang menjatuhkan serangan armada dari Kholiq. Banyak orang yang lalu lalang bergegas menepi di sudut jalan untuk berlindung, dan banyak pula yang bersikap acuh pada serangan armada dari kholiq. Namun, ada yang tampak berbeda dengan pemandangan sore itu. Terlihat seorang perempuan berkulit sawo matang yang sedang mengendarai motor dengan memakai baju pelindung agar terhindar dari serangan armada, dari raut bibirnya seperti bersenandu dengan menikmati susana yang sendu. Entah apa yang dipikirkannya pada saat itu yang dapat menarik setiap mata untuk melihatnya.
Tanpa sepengetahuan gadis itu, terdapat mata yang sangat lancang mengintip dari balik jendela swalayan, tampaklah sosok pemuda berusia 22 tahun yang memiliki tinggi badan kira-kira 170 cm, berkulit sawo matang dengan memakai kemeja batik dan celana jins yang setengah basah. Dari penampilannya, pemuda tersebut sedang berteduh dari hujan. Pemuda tersebut bernama Rizal Ahmad yang sering di sapa “Zal” oleh temannya, dia berasal dari keluarga broken home dan tinggal dengan ibu beserta neneknya. Sedangkan ayahnya sudah memiliki keluarga baru. Kehidupan masa lalu yang kelam, membuat Rizal trauma untuk memiliki pasangan hidup. Alasan tersebut tidak lain karena faktor keluarga yang berakhir dengan perceraian.
Sore itu, Rizal tanpa sengaja melihat perempuan yang mengendarai motor yang menuju ke arah swalayan Rizal berada. Badannya mematung dengan mata yang masih fokus melihat gadis tersebut, tanpa disadari bibirnya bersuara “Subhannallah, manis”, dengan masih melihat gadis itu yang berjalan melintasinya. Lamunan itu seketika sirna ketika, sahabat rizal yang bernama isna menegurnya.
“Zal, loe ngapain? Nglamun mulu.. kerasukan baru tahu rasa” Sambil ketawa.
“Hiii…. Ora popo aku”, Jawabannya dengan sedikit kesal.
“Yakin? Bener? Serius?”, Jawaban Isna dengan penasaran dengan kelakuan sahabatnya itu.
“Loe cerewet banget ngalah-ngalahin penjual pentol yang sering lewat di depan rumah”, Jawabnya dengan kesal.
“Lah tingkah loe aneh sih, kayak orang kerasukan setan patung, hahhahahha” Jawaban Isna sedikit sahabatnya itu.
Ketika berbincang dengan Isna, pandangan Rizal kembali ke gadis yang sedari tadi menarik perhatiannya. Gadis tersebut berjalan menuju ke arah kasir dan bergegas meninggalkan Swalayan dan pertemuan tersebut. Mata Rizal yang sedari tadi masih fokus dengan gadis tanpa nama itu, hanya bisa menunduk jika gadis tersebut melihat ke arah Rizal.
“Loh kan, mulai aneh lagi. Loe kenapa sih Zal?”, Kali ini pertanyaan Isna begitu menyudutkan Rizal.
“Dibilangin aku gak kenapa-kenapa.”, Ucapan Rizal.
“Eh hujan sudah reda, ayo pulang sebelum loe tambah aneh, kan gak lucu tiba-tiba loe kerasukan. Bisa-bisa gue malu jadi teman loe, hahhahahhahah.”, Jawab Isna sambil berlari menuju parkiran yang meninggalkan Rizal yang sedari tadi mulai kesal.
Pertemuannya dengan gadis tanpa nama itu belum bisa diartikan cinta. Namun, hanya perasaan tertarik dengan paras manis gadis tersebut. Rizal bukan orang yang mudah menaruh hati kepada orang lain. Alasan teraumanya itu yang membuat Rizal enggan melirik gadis-gadis. Pertemuan Rizal dan gadis misterius itu, perlahan senyap seperti angin yang berlalu. Entah, apa skenario Sang Kholiq, pertemuan itu terjadi lagi. Namun, ditempat berbeda dan waktu yang berbeda.
Tiga bulan kemudian lebih tepatnya pada bulan Desember, Rizal masih melakukan salah satu kegiatan kampus. Sebagai mahasiswa tugas tersebut merupakan persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana. Rizal mengenyam pendidikan disalah satu kampus favorit di kota Surabaya dengan jurusan Pendidikan Matematika. KKN atau Kuliah Kerja Nyambat (Eiiitttss…. Huruf “N” jangan diartikan lain loh ya, apalagi yang absurd, hehhehe) yang sering di ucapakan anak zaman sekarang. Yah, tepat sekali, tugas dari kampus yang WAJIB dilaksanakan oleh setiap mahasiswa AKHIR (Sengaja kata akhir menggunakan huruf capital, tujuannya biar jelas sudah Senior.. hehehhehe).
Rizal KKN ditempatkan di Jombang, jadi selama sebulan penuh dia harus hidup mandiri, jauh dari hingar binger kota yang selama ini Rizal dapatkan. Di sela-sela kegiatan KKN, Rizal sering menyelinap keluar pergi ke Café yang berada sangat jauh dari basecamp KKN. Café tersebut bernuansa Classic, sangat cocok dengan segelas Lemon Tea yang masih dingin. Tatapan Rizal mulai teralihkan ketika sekumpulan anak SD yang asyik bercanda saat pulang sekolah, melihat kejadian itu Rizal mulai teringat dengan masa kecilnya yang sangat menyenangkan sebelum masalah dikeluarganya datang.
“Mas, ini pesanannya (Sambil memberikan Steak daging yang masih hangat)”, Ucapan pelayan tersebut membuyarkan lamunan Rizal tentang masa kecilnya itu.
“Oh iya, makasih mas”, Jawabnya sambil tersenyum.
Ketika Rizal sedang asyik menyantap makanan di depan mejanya, suara pintu Café terbuka dan seseorang melangkah masuk ke dalam Cafe. Rizal tampak dibuat kaget karena seseorang yang datang tersebut adalah gadis yang dilihatnya kala itu.
“Itu kan…” , Gumamnya dalam hati.
Ternyata gadis itu tidak datang sendirian, dia datang bersama seorang anak kecil yang merengek dibelikan Milk Tea. Gadis tersebut duduk tepat didepan meja Rizal. Pelayan akhirnya datang dengan memberikan buku menu pada gadis tersebut.
“Silahkan mbak, mau pesan apa?”, Ucapan pelayan tersebut
“Saya pesan Milk Tea 1, Green Tea hangat 1, dan Steak daging 1. Sudah itu saja”, Jawab gadis tersebut
“Baik mbak.“, Jawab pelayan tersebut
Anak kecil tersebut merengek kehausan karena cuaca hari itu sangat panas, terasa kulit seperti terbakar. Ternyata sang surya hari ini menampakkan dirinya dengan sinar yang tidak ingin di ganggu. Tanpa disadari, ternyata anak kecil sudah berada di meja Rizal yang sekejap melihat ke arah luar jendela.
“Kak, boleh minta minumannya? Aku sangat haus banget.” Ucapnya dengan muka memelas dan menggemaskan.
“Boleh ini (Sambil menyodorkan minumannya)” Rizal dibuat gemas ketika melihat pipi tembem anak kecil tersebut.
“Loh, kakak kamu tadi mana? Kok sekarang sendirian?” Pertanyaan Rizal ke anak kecil itu tentang gadis tersebut tidak ada di depan mejanya.
“Kakak Christal masih kekamar mandi, tadi aku disuruh nunggu dimeja.” Jawabnya sambil menyeruput gelas yang berisi Lemon Tea.
“Oh jadi namanya Christal.” Gumamnya dalam hati.
“Kak, boleh minta Steak nya nggk? Hehhehehe, cacing diperutku sudah teriak minta jatah makan” Ucapan anak kecil itu sambil memegangi perutnya.
(Sontak Rizal ketawa melihat tingkah anak kecil itu)
“Boleh.. ini silahkan.” Sambil menyodorkan Steak yang tadi sempat 3 suap dilahapnya.
“Adik namanya siapa?” Tanya Rizal.
“Nadin. Kak, kata mamaku kalau ada orang makan jangan di ajak bicara itu tandanya tidak sopan.” Jawab anak kecil itu dengan polos.
(Sontak Rizal ketawa dibuatnya ketika mendengar ucapan anak kecil itu)
“Iya.. iya kakak minta maaf.” Jawab Rizal.
Ketika rizal masih asyilk berbincang-bincang dengan anak kecil itu, Christal melihat kalau adiknya duduk di meja Rizal kemudian berjalan menuju ke arah meja Rizal.
“Loh, Din. Kok malah duduk disini? Kakak tadi kan menyuruh kamu duduk disitu, kok malah makan makanan kakaknya. Kasihan kakaknya jadi nggak makan gara-gara makanannya kamu makan.” Ucapan Christal
“Lah perut Adek gk bisa nahan laper kak, melihat makanan kakak ini jadinya adek minta minta makanannya kakak ini, hehhehe” Jawabnya dengan polos.
“Iya tidak apa-apa kok mbak, lagian aku sudah kenyang. Kasihan Nadin tadi mukanya sudah pucat.” Jawab Rizal sambil tersenyum.
“Tuh kan nggak masalah, kakaknya baik kok. Weeekkk…(Menjulurkan lidah). Oh iya nama kakak siapa?” Tanya Nadin kepada Rizal
“Rizal” Jawabnya.
Perbincangan mereka sempat terjeda ketika pelayan Café mengantarkan pesanan Nadin dan Christal.
“Mas, disebelah sini saja” ucapan Nadin yang meminta pelayan Café mengantarkan pesanannya ke arah meja Rizal.
“Dek, kita makan di meja sebelah sana saja. Biar kak Rizal tidak terganggu.” Ucapan Christal yang mengharapkan Nadin menuruti pintanya.
“Nggak mau Adek mau sama kak Rizal” Jawaban Nadin dengan sedikit memaksa.
“Iya, aku tidak masalah” Jawaban Rizal dengan sambil tersenyum.
(Christal hanya bisa tersenyum mendengar jawaban dari Rizal)
Pembincangan Rizal dan Christal berjalan dengan lancar hingga mereka saling tukar nomor Via WhattsApp, tidak sampai situ saja merekapun menjadi dekat sebagai teman dan keluarga mereka pun mengetahuinya. Rizal baru mengerti bahwa Christal berasal dari keluarga Broken Home yang sama dialaminya, kehidupan Christal yang getir menuntutnya untuk bersikap mandiri dan menjadi tulang punggung keluarganya, dikarenakan kondisi ibunya yang sedang sakit-sakitan dan ayahnya melantarkan Christal beserta adiknya. Namun, permasalahan yang dihadapinya tidak membuat Christal mengakhiri hidupnya, justru dia sering melakukan kegiatan positif yang dapat membuat orang disekitarnya bahagia. Christal merupakan mahasiswa di salah satu Universitas ternama di Jombang berkat kecerdasannya. Jurusan yang ditempuhnya adalah Management. Hal tersebut, membuat Rizal bersyukur tentang kehidupan yang dimilikinya saat ini.
Kedekatan Rizal dan Christal hanya sebatas pertemanan. Walaupun sebenarnya Rizal telah menaruh hati kepada gadis tersebut. Diam-diam Rizal menjadi penggemar misterius Christal. Hingga tanpa di sadari terpaan badai pun datang. Lebih tepatnya setelah 1 tahun Rizal mengenal Christal, datangnya orang ketiga yaitu seorang pria lain di kehiupan mereka. Pria lain tersebut bernama Dimas Abraham yang sering di panggil Christal dengan sebutan “Dimas”. Dimas merupakan teman SMP Christal yang menaruh hati kepada Christal, dan begitu sebaliknya. Pada intinya Rizal berada di tengah-tengah hubungan mereka.
Ketika pada tahun yang sama lebih tepatnya bulan Juni, akhirnya Dimas menyatakan perasaanya kepada Christal disebuah Taman Keplak Sari yang berada di Kediri. Rizal menyaksikan pemandangan romantis tersebut hingga tak kuasa melihatnya.
“Christal, sudah sejak lama aku memendam perasaan ini. Aku paham separuh hidupku tak berarti jika tanpa dirimu. Maukah kamu menjadi pacarku?” Ucapan Dimas ketika mengungkapkan perasaanya kepada Christal.
(Semua orang bersepakat menyorakinya untuk Christal bertama “Mau”)
“Iya, aku mau“ Jawaban Christal.
Sontak semua orang ikut berbahagia dengan jawaban dari Christal. Namun, tidak dengan Rizal. Dia melangkah menjauh dan pergi begitu saja dari taman tersebut. Bahkan, dari kehidupan mereka berdua.
Setelah Lulus kuliah, Rizal berencana pergi ke Jepang lebih tepatnya kota Hokaydo dan meninggalkan setiap kenangan bersama Christal. Dia mendapatkan panggilan pekerjaan untuk mengajar disalah satu sekolah ternama di Hokkaido. Selama mengajar disana, kehidupan Rizal masih tetap sama yaitu memikirkan perasaanya kepada Christal perempuan yang membuatnya percaya tentang hubungan. Meskipun, terauma yang dialami Rizal sempat lenyap dengan berkat kehadiran Christal. Namun, sekarang terauma itu justru kian membesar. Hingga Rizal mendapatkan E-mail dari Christal. Pesan E-mail tersebut berisi meminta Rizal pulang ke tanah air dikarenakan dirinya sedang sakit parah. Awalnya Rizal tak percaya dengan E-mail Christal yang berisi dirinya sedang sakit parah. Dalam benak Rizal, Christal hanya mencari alasan untuk bertemu dengannya.
Hingga 3 hari kemudian lebih tepatnya pada tanggal 18 Oktober 2020, Rizal memutuskan membeli tiket dengan penerbangan Indonesia (Surabaya) dikarenakan setelah membaca E-mail dari Christal selalu teringat dipikirnya. Setelah sampai di bandara bertulisan “ JUANDA SURABAYA”, Rizal membalas pesan E-mail dari Christal.
“Aku sudah dibandara Juanda Surabaya, sekarang kamu berada dimana?” Isi pesan dari Rizal untuk Christal
10 menit kemudian pesan tersebut di balas oleh Christal.
“Aku sekarang di rawat di RS.CITRA MEDIKA didaerah Mojokerto” Balasnya.
Setelah membaca pesan dari Christal, akhirnya Rizal memesan Taxi Online untuk mengantarkannya ke arah yang diberitakukan oleh Christal. Sepanjang perjalanan Rizal tampak gelisah dan berdoa agar gadis idamannya tersebut penyakitnya tidak terlalu parah. Setelah sampai parkiran RS. CITRA MEDIKA, Rizal segera membayar ongkos Taxi Online tersebut dan bergegas menuju Lobby rumah sakit. Ketika bertanya ke Resepsionis tentang keberadaan kamar Christal, Resepsionis mengarahkan kamar UGD Ynag berada dilantai 1 rumah sakit. Sesampainya di depan kamar UGD, Rizal disambut dengan Nadin dan Ibu Christal.
“Kak Rizal.” Teriak Nadin dengan keras sampai orang disekitarnya melihat ke arah Nadin.
Mendengar teriakan Nadin, Rizal langsung menoleh ke arah gadis kecil tersebut. Dan segela berlari untuk memeluknya.
“Kak Christal disana kak diruangan yang adek gak boleh masuk.” Ujar Nadin dengan menangis.
Rizal hanya bisa memeluk gadis kecil itu dan tanpa disadari Ibu Christal berada di samping mereka.
“Zal, Ibu yang E-mail kamu untuk datang ke Indonesia, Christal membutuhkanmu, Zal” Ucap Ibu Christal.
“Christal kenapa, Tante? Dia sakit apa? Tanyanya sambil melepaskan pelukannya dari Nadin.
“Christal sakit Kanker Stadium 4, Zal” Jawabnya sambil menangis.
Seketika tubuh Rizal lemas dan terjatuh dilantai.
“Christal menyembunyikan penyakitnya dari kita semua, Tante baru tahu setelah seminggu lalu Christal mimisan darah dan jatuh pingsan. Makanya tante langsung bawa ke Dokter. Kata dokter Christal kena Kanker stadium 4. Tante jadi ingat, 2 tahun lalu, Christal sempat minta izin untuk ke Surabaya. Ternyata itu untuk periksa di RS DR.SOETOMO.
Mendengar cerita dari Ibu Christal, Rizal kemudian mengingat kali pertama dia bertemu dengan Christal di Swalayan. Tanpa disangka gadis manis tersebut mengidap penyakit yang mematikan.
Rizal mencoba membangunkan diri untuk melihat Christal dari balik cendela pintu UGD. Gadis yang dicintainya terlihat sangat pucat dan kurus. Badannya terdapat alat berbentuk dua lingkaran kecil yang menopang hidupnya kini. Tanpa menyadari air mata Rizal mulai jatuh dan bibirnya memanggil nama Christal.
“Christal, aku sudah datang. Maafkan aku yang sudah menghilang selama ini” Ucapnya dengan suara lirih.
(Seketika Rizal teringat dengan Dimas, karena terakhir yang diketahui Rizal bahwa mereka sudah menjadi sepasang kekasih).
“Dimas kemana, Tante? Kok aku gak melihat Dimas disini?” Tanya Rizal kepada ibu Christal.
“Dimas sudah mengkhianati Christal, Zal. Dimas sudah menikah dengan orang lain dan meninggalkan Christal” Jawab Ibu Christal dengan tatapan penuh amarah jika mendengar nama Dimas.
Sontak Rizal terkejut dan matanya penuh amarah melihat gadis yang dicintainya dicampakan oleh seorang laki-laki yang tidak memiliki prinsip. Kemarahan Rizal kepada Dimas baginya tidak terlalu penting saat ini, bagi Rizal kesembuhan Cristal lah yang terpenting.
Hari pun berganti, Minggu pun berganti Bulan, dan Bulan berganti menjadi Tahun, kondisi Christal masih tetap sama. Hanya yang membedakan tubuhnya semakin lama semakin kurus dan terlihat menua. Keluarga Christal pun selalu mendoakan kesembuhan Christal. Rizal lah yang mengurus biaya perawatan Christal, karena dia paham dengan kondisi ekonomi keluarga Christal yang melemah.
Hingga hari itu pun tiba, hari dimana tidak seorang pun menginginkannya. Christal menghembuskan nafas terakhir untuk menghadap Sang Kholiq. Adik dan Ibu Christal menangis mendengar informasi yang disampaikan Dokter bahwa Christal telah tiada. Mendengar itu, Rizal yang sangat terpukul. Gadis manis yang ditemuinya kala itu saat hujan, gadis yang segenap hatinya dicurahkan untuknya. Kini telah tiada meninggalkannya sendirian.
“Christal……bangunlah, ayo bangun. Kamu gadis kuat yang pernah kutemui. Aku mencintaimu Christal. Ayo bangunlah. Apa yang harus kulakukan dengan perasaan ini? BANGULAH CHRISTAL!! AKU SANGAT MENCINTAIMU” Ucapan Rizal dengan menangis sambil memluk badan Christal
Setelah pemakaman Chrital, Rizal berencana kembali ke Jepang dan membawa Nadin dan Ibu Chirtal. Sesampainya di Jepang, suasana begitu sunyi dan menyiksa batin. Hari mulai berganti, sesekali adek dan Ibu Christal menangis jika merindukan Christal. Namun, mereka tetap tegar dan menjalankan hidupnya dengan kebahagiaan, seperti yang dilakukan Christal semasa hidupnya.
Justru berbeda dengan kondisi Rizal, dia menjadi murung setelah kepergian Christal. Setiap hari disela waktu, Rizal menangis ketika melihat foto Christal. Dan hampir setiap hari, Rizal menyibukkan diri untuk bekerja hingga kondisi badannya kian mengurus. Rizal juga sempat bermimpi di datangiChristal, dalam mimpinya Christal meminta Rizal untuk melanjutkan hidupnya dan berbahagia, karena aka nada sosok pengganti Christal.
Pada tanggal 22 November 2022, hari dimana awal dari kebahagiaan Rizal dimulai kembali. Seperti biasa Rizal berangkat mengajar dengan pakaian batik dan celana kain yang senada. Hari itu, sangat terik hingga terasa matahari berada di atas kepala. Ya, benar kali ini musim panas datang di Jepang. Karena merasa kegerahan, akhirnya Rizal memutuskan pergi ke Swalayan untuk membeli minuman dingin favoritnya. Setelah membayarkan dikasir, Rizal berbegas meminum minuman yang dibelinya. Tanpa sengaja matanya melihat seorang gadis berkulit putih dengan mata sipit mengandarai motor metik dengan ekspresinya tersenyum lepas. Seketika Rizal teringat dengan kali pertama melihat Christal.
“Christal…” Tanpa sengaja bibirnya mengucap nama itu dengan senyum di pipinya.
Gadis itu mengarah ke swalayan yang Rizal berada, setelah gadis tersebut memakirkan motornya. Rizal pun berinisiatif mengajaknya berkenalan. Ternyata nama gadis itu adalah HONO OCKA. Rizal tidak mau mengulang kesalahan di masa lalunya yang tidak berani mengajaknya kenalan yang berujung penyesalan. Akhirnya Rizal menemukan pengganti Christal yaitu HONO OCKA.
TAMAT