Kata Ibu aku tidak boleh keluar rumah aku harus homeschooling. Dan aku benci sama semua hal ini. Seandainya saja aku bisa menikmati hidup normal seperti mereka.
Aku mau menikmati hidup dengan bahagia. Sampai aku mengendap keluar baru pertama kali aku bisa melihat novel Wattpad di toko buku. Memakai jaket hoodie dan menikmati segala hal. Aku duduk memesan Ice Coffe Americano. Tidak lama seseroang duduk di dekatku.
“Eh ngapain pake kacamata terus hoodienya juga bahannya panas?”
“Kamu bicara sama aku?”
“Tuh buku Indigo Girl yang adek gue baca, dia suka banget sama cerita itu.” Kemudian ia mengangguk.
Namanya Ryu. Aku tidak tahu apa maksudnya? Mengajakku berbicara. Kemudian aku bercerita tentang impianku menjadi seorang penulis horror. Ia baik mau mendengarkan ceritaku. Sampai di mana aku harus pulang sebelum ketahuan Ibu.
Di pagi hari petang guru Les aku Bu Lia datang mengajar aku bosan sekali, caranya mengajar terlalu serius. Saking bosannya aku sampai mengantuk. Hingga malam tiba aku kabur lagi dan pergi ke toko buku terdekat. Di sana aku bertemu Ryu. Aku tidak kenal sama dia kami baru kemarin bertemu.
“Ih ngomong sama siapa tuh gila kali.” Bisik salah satu anak remaja yang lewat.
“Udah guys, jan di sini gue ngeri lihatnya.” Mereka berbisik jahat padaku. Aku tidak terima langsung saja botol soda mengenai kepala mereka. Tapi tidak membalas saking takutnya.
“Lo punya ilmu yang hebat juga, gue salut nih sama lo.” Aku diam saja malas membalas.
Ternyata aku punya kesamaan dengan Ryu dia juga suka horror terlebih senang sekali sama Jepang. Di tengah obrolan aku kaget menemukan tukang koran menghampiri aku. Dan aku menjatuhkan koran ke lantai. Sampai Ryu menghilang. Dugaan dari anak remaja itu benar, aku telah berkenalan dengan sosok tak kasat mata. Aku berlari pulang.
Semakin larut aku takut ketahuan Ibu dan benar saja Ibu duduk di sofa kemudian menyalakan lampu. “Kemana saja putri Ibu apa kamu pacaran?”
“Tidak Bu aku cuma ke toko Buku.” ujar aku menunjukkan buku yang aku pegang.
“Terus? Ketemuan sama cowok mana dia?”
“Gak Bu, ini bukunya aku beli pakai tabungan aku sendiri.”
“Lain kali jangan keluar rumah bahaya.” Ibu terdiam cukup lama setelah itu aku masuk ke kamar.
Priska sebenarnya tidak ingin melakukan ini. Priska terus saja menangis. Suatu keadaan membuatnya terpaksa mengurung anak demi kesalamatan sang anak tercinta. Perlahan menghapus tangisan di pipi. Kemudian berjalan ke kamar di hari Minggu di mana harusnya weekend namun aku mengurung diri di kamar. Kemunculan wajah tampan namun pucat. Aku kaget menjatuhkan minumanku jendela itu tampak sosok itu memanggil aku.
“Briana… Briana… keluarlah.” Aku panik sekali keringat mengucur Ibu belum pulang akibat kerja lembur di pabrik. Sedangkan Ayah sudah meninggal beberapa tahun silam.
Mencoba tetap tenang aku baru buka pintu aku melihatnya menarikku.
“Ikut mati bersama gue yuk, gue ingin ajak lo ke suatu tempat paling indah.”
“Gak mau, pokoknya gue nolak bye!” Aku menutupi pintu. Ada apa ini? Benar kata Ibu dunia luar sangat berbahaya. Aku lebih baik di rumah saja hingga kabar buruk bahwa nyokap aku meninggal tertimpa tangga.
Sendiri di dunia tidak asyik. Kenapa aku harus mengalami kesiallan di dunia ini. Seluruh napasku tercekat saat mayat Ibu dikebumikan dan aku belum ke pemakaman kupatuhi nasehat Ibu untuk tetap berada di rumah. Malam mencekam mati lampu aku menyalahkan senter bayangan wajah aku lumayan buruk.
Ryu datang di balik cermin mengangetkan saja. “Liat anggota keluarga kamu mati? Tinggal kamu untuk apa hidup sayang?” Apa pas cowok itu jadi manusia ia seorang psikopat. Aku merasa yakin ada sesuatu di dirinya kucoba ketik sosial medianya ternyata ada juga. Walaupun berasal dari keluarga sederhana rumah aku ada WiFi jika ada uang aku bisa pakai tapi sekarang aku beli kuota dari uang hasil santunan aku pakai untuk keperluan sekolah.
Ryu anak skeatboard dan juga populer suka gambar anime, gaul dan paling penting rajin sholat, cuma ia pendiam dan ada satu dia suka kasih qoutes baper sampai aku temukan foto mantannya. “Ini siapa?”
“Dia Pipit dan dia selingkuh sama Jhonny gue benci dia.” Jadi ini alasannya.
“Terus gue bunuh Jhonny, temannya malah bikin gue kecelakaan.” Astagafirullah penyebab kematian bersumber dari balas demdam. Mengerikan sekali.
Ryu bukan psikopat cuma karena cinta ia tega berbuat seperti ini. Aku paham sekarang. Dan aku segera mengambil kesimpulan mencoba tidak takut padanya, beradaptasi sedikit itu bagus. Semakin hari aku selalu bertemu beraneka hantu kuntilanak, jin, dan tuyul, pocong semua seram. Tapi aku menormalkan diri seperti menatap sosok manusia biasa.
Hujan deras di rumah aku lapar aku sendirian persedian makanan habis pergi membeli makanan aku dikejutkan hantu anak kecil ia menatapku senyum perlahan menghilang. Lalu aku berjalan kemudian mobil menabrakku. Aku tersadar dan menemukan tubuhku penuh lumuran darah.
Aku berteriak semua orang berkerumun. Dinyatakan koma sama Dokter berhari-hari menjadi arwah penasaran. Aku masih ingin hidup. Ryu membantuku untuk bisa normal. Masuk ke dalam tubuhku aku terbangun dan amesia seluruh ingatan kosong tentang kejadian di mana aku bertemu Ryu. Cuma Ibu yang aku ingat sekarang.
“Kamu sudah sadar rupanya semoga kamu bisa pulih dan pulang ke rumah.”
“Aku rindu Ibu,” jawabku lirih.
“Memang Ibu ke mana?” Dokter Syifa bertanya padaku sembari mengecek daya tahan tubuhku.
“Ibu udah meninggal hiks…” Terkenang akan meninggalnya Ibu airmata jatuh membasahi seluruh pipi.
“Semoga Ibu kamu tenang di sana, Dokter cuma bisa bantu dengan doa.” Seorang paman membantu biaya rumah sakitku setelah mendengar dari tetangga bahwa aku kecelakaan.
Nenek juga menangis. Ini pertama kali aku bisa bertemu keluarga jauh. Mereka memeluk aku erat dengan kalimat menyentuh hati. “Maafkan Nenek, Nenek menyesal sudah berbicara itu, Nenek gak tau gimana cara memperbaiki semuanya.” Mengangguk saja sepanjang Nenek berbicara.
Setelah pulang di kamar aku menemukan bahwa aku mendapatkan kutukan dari Nenek yang tidak merestui hubungan Ayah dulu katanya akan lahir anak dengan kehebatan Indigo kamu akan mendapatkan kesialan jika anakkku dibiarkan keluar rumah. Inilah jawaban kenapa aku home-schooling selama ini.
Di sana ada tawa Kunti dan seseorang menarik Nenek. Aku bergerak mendekati jendela dan keluar rumah. Bahuku ditepuk. “Nenek…” Astaga jantungku hampir copot ternyata Nenek masih hidup dan berada di dekatku.
Dia ada dan menjaga aku setiap saat. Peristiwa mengejutkan hadir Nenek ditemukan tewas bersimbah darah di belakang ketika mencuci baju. Aku syok dan sejak hari itu aku putuskan untuk menjual rumah. Dibeli seseroang.
“Nana jangan lupa kamu taruh barang-barang ini di kamar kamu,”
“Mama Nana takut, Nana ngeliat Nenek-Nenek manggil Nana keluar.” Nana memeluk Cintya tanpa menatap ke arah jendela. Keheranan terus terjadi di muka Cintya guratan di wajah menandakan kalau dirinya sedang merinding.
Kisah pengalaman hidup aku menjadi novel Wattpad yang laris di pasar berjudul Kutukan: Jangan Keluar Rumah. Dibaca sekitar 35 juta kali di plaform wattpad. Aku bangga dengan prestasi tapi selalu bersyukur ada dia suami mendampingiku mau menerima segala kekurangan dariku, dia Ammar.
Selesai