Apakah Dia Jodohku?
#Asyifah wanita bercadar Hitam
Part : 2
* Kembalinya Asyifah ke ibu kota
Selama Asyifah di kota Madinah, ia bertemu dengan seorang pria yang keturunan dari Arab. Sehingga akhirnya, Asyifah menikah di kota madinah bersama pria itu. Dan Asyifah pun telah menetap tinggal di kota Madinah, hingga 7 tahun. Tak disangka, Asyifah telah dikarunia seorang anak, perempuan. Dan Asyifah berniat untuk kembali pulang ke ibu kota D.K.I JAKARTA.
7 Tahun kemudian,
Jakarta Barat, kebon jeruk.
7 tahun kemudian. Asfiyah yang masih berada di kota Madinah pun kembali pulang untuk mengunjungi kedua orang tua, juga sanak keluarga lainnya. Ke ibu kota D.K.I Jakarta Barat, kebon jeruk, bersama suami dan satu orang anak. Ternyata Asyifah telah menikah di kota madinah bersama warga kenegaraan Arab dan telah menjadi warga Arab disana. Mereka pun dikaruniai seorang anak perempuan yang amat cantik bahkan blasteran Arab. Mereka memberi nama anak perempuan, AR'risyiah yang berusia 6 tahun.
Pesawat Batik pun melandas turun di bandara Soekarno Hatta.
Kedatangan Asyifah pun ditunggu oleh sanak keluarganya di lobi bandara Soekarno Hatta. Kedatangan Asyifah pun disambut dengan meriah oleh keluarga besarnya, bahkan penuh dengan kegembiraan yang Fantastic. Asyifah adalah termasuk keluarga besar yang Cendikiawan, baik bahkan suka menolong, Cendana.
Pagi 10:00 wib, Asyifah yang menuju perjalanan pulang. Asyifah yang satu mobil bersama sang suami dan anak. Mereka begitu gembira bisa menghirup udara di ibu kota D.K.I jakarta kembali, bisa melihat kemacetan yang memadatkan perjalanan di setiap jalur jalan. Banyak anak-anak pengamen yang berkeliaran di lampu merah, penjual koran, pengemis, bahkan masih banyak lagi yang mereka lihat. Gedung-gedung tinggi yang bertingkat, dan terdengar suara klakson mobil begitu juga suara klakson motor yang saling berebut, membising.
Lampu merah menyalah, bahkan mobil yang Asyifah tumpangi bersama Suami anak juga berhenti.
" Kenapa begitu beda ya, dengan di kota Arab, di kota Jakarta begitu berisik suara motor, mobil begitu juga macet."
Kata suami Asyifah yang bernama Syekh Abdul Ghofur. Di sahut oleh Sang Anak,
" iya Ummi. Disini banyak sekali mobil juga kendaraan lainnya." Kata ARrisyiah, sembari melihat diluar kaca dengan wajah menempel di kaca mobil.
" Ya, beginilah sayang kalau di kota jakarta, ditempat ummi tinggal ".
Jawab Asyifah pada sang anak.
Beberapa jam kemudian,
Asyifah, bersama suami anak bahkan keluarga lainnya. Tibalah mereka di rumah besar orang tuanya. Rumah di mana Asyifah dilahirkan, orang tua Asyifah tergolong orang kaya, berdaulat tinggi akan keagamaannya, fanatik akan agama. Rumah yang begitu megah besar bahkan suasana keindahan di depan rumah yang diwarnai oleh air mancur juga taman, membuat Asyifah teringat akan masa kecilnya. Asyifah termasuk anak yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, baik terhadap kedua adik-adiknya, sehingga Asyifah terdidik menjadi anak yang berdalih baik, sopan dan mengerti akan tentang Agama, Karena dari orang tua Asyifah yang mengajarkannya. Begitu juga dengan kedua orang adiknya Asyifah. Qosim dan Qordijah.
22 Maret 2020,
Asyifah berniat untuk tinggal beberapa lama di kota Jakarta barat. Karena ingin melepaskan rasa rindu terhadap kedua orang tuanya, juga keluarga lainnya. Dan Sang suami Syekh Abdul Ghofur berencana ingin membeli rumah di kawasan kebon jeruk untuk mereka tinggal.
" Ummi, bagaimana kalau kita beli rumah di sini saja." Kata Ghofur disaat mereka menikmati sarapan pagi bersama kedua orang tua mereka juga kedua adiknya, dan anak Asyifah.
" Hmmmm, ya mbak, kalau bisa cari aja yang di daerah sini mbak. Biar aku bisa main terus sama Risyiah, biar dekat".
Kata Dijah adik bungsu Asyifah, sambil menyantap nasi.
" Benar Mbak," sahut Qosim sembari minum jus jeruk.
" Iya ummi, beli rumah dekat sini aja biar Risyiah bisa main dirumah kakek juga nenek, sama Tante Dijah juga om Qosim. Jadi Risyiah ada temannya." Tukas Risyiah pada Asyifah.
" Papa juga Mamamu, tergantung gimana baiknya aja buat kalian Asyifah juga buat Goffur dan cucu kakek yang gemesin." Jawab Papa Asyifah dengan lembut. Mama Asyifah hanya menganggukkan kepala mengikuti saran dan usul apa yang diucapkan Suami. Mereka yang berkumpul bersama di meja makan menyantap sarapan pagi. Asyifah dan Suami saling menoleh dan menatap,
" baiklah Pa." Ulasan singkat Asyifah.
*****************************
Pada suatu pagi, Dijah mengajak Risyiah jalan-jalan ke sebuah mall TRANS SUPER MALL ( TSM ), bersama Qosim juga kedua orang tuanya.
Dikarenakan Asyifah yang bekerja di sebuah perkantoran keagamaan, dan Suami yang dapat tawaran mendakwah di salah satu Negara Palestina, untuk beberapa bulan. Asyifah sudah memiliki rumah di kawasan kebun jeruk yang tidak berjauhan dari orang tuanya. Risyiah di titipkan ke rumah orang tua Asyifah, dikarenakan Asyifah bekerja.
Setelah sampai di Mall TSM,
Dijah, Qosim, Papa, Mama, bahkan Risyiah mereka menikmati makanan di salah satu tempat resto yang ada di TSM. Mereka membahagiakan Risyiah,
" Tante, aku mau kesana. Mau lihat permainan itu."
Permintaan Risyiah yang mengajak Dijah untuk menemaninya melihat permainan, yang sedang menikmati makanan dan minuman.
" Ayo, Risyiah." Dijah pun mengajak Risyiah ke permainan itu.
" Om Qosim ikut juga ya Risyiah," kata Qosim. Risyiah menganggukkan kepala.
" Ya sudah pergi sana ajak Risyiah ke tempat permainan itu, Dijah. Biar mama sama papa nunggu di sini saja." Ucapan mamanya.
" Di jaga cucu Papa ya Dijah Qosim." Sahut Papa yang memberi pesan. Qosim dan Dijah menjawab dengan menganggukkan kepala.
" Baik pa.!"
Akhirnya Dijah dan Qosim mengajak Risyiah bermain ke tempat itu. Lalu tiba-tiba handphone Qosim berdering."Kring..!" Pacar Qosim menelpon, Qosim mengangkat telepon itu kemudian menjauhkan diri dan mencari tempat yang tidak berisik dari situ.
" Dijah Mas nelpon dulu ya." Izin Qosim pada Dijah. Tak lama kemudian, Dijah bertemu oleh teman sekolahnya sewaktu SMP. Dan mereka asyik mengobrol, bahkan Risyiah yang sedang bermain tidak dipedulikan oleh
Dijah begitu juga Qosim. Karna mereka lebih asyik mementingkan yang lain.
"Tante...tante." risyiah yang memanggil Dijah, namun Dijah sama sekali tidak kedengaran. Disebabkan suasana di dalam ruangan Mall itu begitu sangat berisik akan suara permainan, suara orang-orang yang berisik, bahkan suara yang lainnya, yang berada di dalam. Seakan membuat Dijah tidak kedengaran suara Risyiah yang memanggilnya.
Risyiah pun memanyunkan bibirnya, dan wajah kesal yang melihat tantenya tidak mendengar. Risyiah mencoba untuk bermain ke tempat lain, meski tanpa ditemani oleh Dijah dan Qosim. Qosim yang lagi asyik menelpon pacarnya, ia pun tidak tahu bahwa Risyiah pergi dari penjagaan mereka berdua. Risyiah tersesat di dalam Mall TSM, sehingga Risyiah pergi keluar dari dalam Mall, dan tiba-tiba Papa ama Mama menghampiri Dijah yang sedang mengobrol bersama temannya. " Ehhh, Tasya sama Della di sini juga." Kata mama Dijah yang menghampiri mereka. " Iya Tante, kami berdua lagi jalan-jalan aja." Jawab Tasya pada mama Dijah. Papa yang sedang berdiri bersama mereka, melihat di sekeliling lokasi tempat permainan itu. Mata liarnya mencari Risyiah cucu kesayanganya di lokasi" Dijah, Qosim masmu mana." Tanya Papa yang menanyakan pada Dijah. Dan tak lama kemudian, Qosim pun kembali ketempat tadi yang di mana Risyiah bermain. Papa mereka sangat sibuk dan melihat kesana kemari," Dari mana kamu Qosim," tanya papa pada Qosim." Habis nelpon pa," ulasan Qosim yang sambil menunduk. Melihat papanya." Apa kita mau pulang pa," jawab pelan Qosim pada papa. " Belum. Dijah, Qosim, Risyiah kemana. Kenapa tidak ada di sini." Tanya tegas papa Dijah dan Qosim tentang keberadaan Risyiah cucunya, pada mereka berdua. Karena tidak terlihat di permainan itu.
" Tu… di, sa...na?" Dijah terkejut, saat ingin kasih tahu Risyiah pada Papanya. Menoleh. Dengan suara terputus putus. " Di mana, Dijah. Kok gak ada disini." Jawab papa dengan suara lembut yang tidak marah. Qosim menepuk kening karena merasa bersalah, karena keteledorannya, dengan menekuk wajahnya, sebab meninggalkan Risyiah saat menerima telepon dari pacarnya," Iya Dijah, Risyiah gak ada disini, emang tadi Risyiah main di mana." Sahut mama yang sangat khawatir akan Risyiah cucu kesayangannya." Semua jangan panik, kita cari Risyiah di setiap Mall ini ya." Tukas papa mereka. " Om, kalau begitu aku sama Tasya ikut mencari ya, Om.'' tanya Della tulus. Mama, Dijah, jadi panik. Mencari Risyiah keseluruh isi dalam Mall TSM tersebut.
" Risyiah, Risyiah." Teriakan mereka yang memanggil, mencari disetiap seisi Mall TSM dan menanyakan satu persatu pada para pengunjung Mall bahkan pada karyawan di TSM. Qosim mendatangkan Satpam yang berada di Sale Motor Yamaha. Meminta bantuan pada satpam," pak satpam, apa bapak ada melihat anak ini pak," tanya Qosim dengan suara engah-engah campur panik berkelit khawatir." Tidak pak, emang kenapa pak. Apa ponakan bapak hilang di Mall," jawab pak satpam." Iya, pak satpam." Akhirnya pun Qosim dan Satpam mencari kembali. Satpam menghubungi melalui pemberitahuan lewat suara Microphone Mall.
Papa dan mama mereka, mencari di bagian luar Mall TSM. Namun, tidak melihatnya." Ya Allah, kemana cucu ku. Risyiah kamu di mana nak." Tukas ibu yang menangis, sambil memeluk suami. Dijah, Qosim juga Tasya dan Della,tidak menemukan Risyiah di dalam Mall.mereka berlari menuju pintu keluar. Mereka berdiri di depan Mall TSM dengan wajah sedih, bahkan Dijah dan Qosim merasa bersalah. Mereka meminta maaf pada papa juga mama mereka," Pa, ma. Qosim minta maaf ya!!, ini salah Qosim yang teledor menjaga Risyiah," disahut oleh Dijah," Dijah juga minta maaf Pa, ma." Qosim dan Dijah memeluk ibu, bersedih." Ya kita berdoa saja pada Allah, semoga Risyiah segera ditemukan, ini pelajaran buat kalian berdua. Agar kalian berdua tuh harus bisa lebih telaten dan benar-benar cermat lagi untuk menjaga Risyiah," mereka berdua menganggukkan kepala dan berkata ," iya, Papa kami janji." Tasya dan Della pun turut merasakan sedih dan prihatin atas hilangnya ponakan Dijah. " Kalau kita pulang, dan tidak membawa Risyiah ke rumah. Apa yang harus kita jawab, jika Asyifah menanyakan ini pada kita, Pa ." Tanya mama yang merasa ketakutan, kalau Asyifah menanyakan masalah ini.
Mereka pun kembali pulang kerumah. Dengan wajah sedih dan tidak membawa Risyiah pulang ke rumah, Tasya dan Della pun ikut bersama mereka pulang. Karna Tasya dan Della satu arah dengan rumah Dijah. Setibanya mereka di rumah, wajah mereka dibaluti dengan murung, sedih bahkan kusam. Atas hilangnya Risyiah di Mall TSM.
Sore hari, Asyifah pulang kerja, bahkan singgah kerumah orang tuanya terlebih dahulu. Karena Risyiah yang dititipkan bersama orang tuanya. Suara mobil yang berhenti didepan rumah terdengar oleh Dijah. Yang sedang duduk sendiri di ruangan keluarga, Dijah berlari menghampiri Papanya yang sedang berdiskusi di ruangan bersama Mamanya." Pa, Papa...mbak Asyifah udah pulang, gimana nih kalau Mbak nanyain Risyiah." Gumam Dijah dengan rasa takut." Sudah kamu jangan gegabah Dijah, biar nanti Papa yang bicara sama Mbakmu. Mama sama Dijah jangan takut ya, biar papa yang urus ini semua, sama Asyifah." Ucapan tegas dan wibawa papanya.
" Assalamualaikum, Risyiah anak ummi, ummi udah pulang nih sayang. Ayo kita pulang sayang." Asyifah yang memanggil Risyiah dari ruangan tamu dengan rasa capeknya, duduk di sopa sambil mengeluarkan coklat buat Risyiah. Papa, Mama, dan Dijah turun dari atas berjalan di tangga dengan langkah pelan, perasaan yang penuh serba salah.
" Waalaikumsalam." Ucap salam dari papa, mama dan Dijah. Asyifah melihat kedua orang tuanya yang menghampirinya." Loh, Risyiah kemana Pa, Ma…Dijah?" Tanya Asyifah pada mereka. Papa duduk di sofa dengan wajah santai dan tegasnya. Mama dan Dijah berdiri di belakang dekat papa duduk." Syifah, Papa, Mama, juga Adik-Adikmu, kami selaku orang tua kamu, papa ingin meminta maaf. Ingin menjelaskan dan memberitahukan pada kamu syifah. Bahwa Risyiah hilang di Mall sewaktu kami mengajaknya jalan-jalan, Syifah." Asyifah sontak terkejut histeris." Astagfirullahalazim, jadi sekarang Risyiah gimana pa. Apa udah di cari di semua tempat pa, ma." Asyifah yang menata kesedihannya." Kami sudah mencarinya Syifah, bahkan papa dan Qosim adikmu sudah melaporkannya ke kantor polisi." Sahut tukas Mama pada Asyifah. Dijah ketakutan, jari-jari diremas-remas. " Masalah ini jangan sampai Goffur Abbi Risyiah mengetahuinya pa, ma. Karena aku tidak mau mengganggu pikiran dia yang sedang mendakwah di palestina."kedua orang tuanya menuruti apa kata Asyifah. Dan mereka berencana mencari Asyifah di setiap kota Jakarta, dan membuat pengumuman melalui jaringan sosial bahkan poster tempel dengan wajah Risyiah, yang ditempelkan di setiap tempat. Dengan memberitahukan, bahwasannya SIAPA YANG MENEMUKAN ANAK SAYA AKAN DIBERIKAN HADIAH. DAN HUBUNGI KE NO:0813XXXXXX
*****************************************
Risyiah tersesat di jalan,
Malam pun tiba, Risyiah yang tidak tahu akan kota jakarta. Ia kebingungan. Wajah mimik yang ketakutan. Berjalan tidak tahu kemana Risyiah melangkah, keadaan yang agak gelap, suasana jalan yang telah hening, bahkan sepi senyap. Risyiah duduk di salah satu kantor pengantar barang JNE. Tempat dimana Aksay bekerja." Ummi, Abi, Risyiah takut." Rintihan Risyiah yang ketakutan, duduk kaki bersila, menangis. Ketika Aksay selesai menutup semua bagian kantor. Aksay mendengarkan suara rintihan anak kecil yang sedang menangis. " Seperti ada suara anak kecil menangis." Ujar Aksay, lalu Aksay menoleh ke samping kiri. Dan melihat Risyiah yang terduduk dengan pakaian sudah mulai Kumal, dan wajah yang begitu cantik, berambut panjang, kulit putih bersih bahkan hidung yang mancung. Duduk dengan kaki melipat, wajah menunduk tangan bersedekap kaki.
" Dik, kamu kenapa di sini? adik tersesat ya. Emang adik habis dari mana kok bisa ada disini. Orang tua kamu, di mana dik?" Aksay yang menghampiri, dan menanyakan. Aksay melihat wajah Risyiah dan sangat terkejut kecil.
" Aku tidak tahu om, tadi aku habis dari Mall sama kakek, nenek, juga sama Om, Tante aku Om. Aku takut, aku mau pulang om. Ummi, Risyiah kangen. Abbi tolong Risyiah." Jawab Risyiah dengan lugu, anak masih berusia 6 tahun. Aksay sampai tidak tega melihat Risyiah yang seperti ini. Lagi pula Risyiah masih kanak-kanak.
" Nama adik siapa dan adik tinggal dimana," tanya Aksay pada Risyiah.
" Nama aku Risyiah Om, aku gak tahu om dimana rumah aku." Sambil menangis. Aksay melihat keadaan malam, dengan kepala menegak ke atas remang-remang langit, melihat suasana.
" Adik ikut Om pulang ya, besok kita cari rumah kamu. Gimana Risyiah?" Aksay yang ingin mengajak Risyiah pulang. " Iya Om," jawab Risyiah sambil menganggukkan kepala.
Akhirnya Aksay membawa Risyiah pulang ke kontrakannya. Diatas motor, Risyiah tertidur dengan tangan memeluk Aksay. Setelah setibanya di kontrakan, Aksay tidak ingin membangun Risyiah yang sedang tertidur lelap. Aksay menggendong Risyiah dari motornya dengan lembut, sampai ke dalam kamarnya. Diatas tempat tidur, Aksay memperhatikan Risyiah tidur diatas kasur. " Ya Allah, kasihan sekali Anak ini. Aku sampai gak tega ngeliatnya, seandainya dia anakku. Pasti aku merasa bahagia, ya Allah pertemukanlah anak ini dengan keluarganya." Aksay berkata kata sambil menatap Risyiah, tanpa disadari air mata Aksay pun terjatuh dari matanya, menangis kecil. Aksay menyelimuti Risyiah, dan Aksay bergegas untuk mandi. Dan melaksanakan shalat isya.
Pukul 05:00 Wib, pagi! Aksay yang telah selesai melaksanakan shalat subuh. Ia tetap masih memperhatikan Risyiah yang tertidur. Terkadang Aksay selalu tersenyum jika melihat Risyiah, Aksay merasa dirinya seperti seorang Ayah. Walau Aksay belum pernah merasakan namanya menikah. Aksay yang lagi bebenah di kamarnya, tiba-tiba Risyiah terbangun dan memanggil Aksay dengan sebutan Abi.
" Abbi ! ummi mana. Kok abbi sendirian beresin baju," Risyiah yang tidak mengetahui bahwa Risyiah bukan di rumahnya, melainkan di rumah Yang Risyiah tidak kenal. Rumah Aksay. Saat itu Aksay yang lagi membelakangi Risyiah, Aksay yang membereskan baju-bajunya. Setelah Aksay membalikan badan, Risyiah terkejut tangan menutup mulutnya, wajah bermimik terkejut.
" Ooh… bukan Abbi, aku kira Abbi aku. Maafin aku ya Om." Risyiah sedikit agak malu.
" Gak apa-apa kok Risyiah, Risyiah kira dirumah ya, hmmm..!" Jawab Aksay dengan wajah tersenyum, Aksay merasakan ada yang membuatnya berbeda. Ketika Risyiah memanggilnya Abbi.
" Risyiah mandi dulu ya, ini Om ada baju buat kamu. Jangan baju ini terus yang dipakai entar bau lagi. Apa Risyiah suka sama bajunya." Aksay menyuruh Risyiah mandi, sedangkan Risyiah tidak pernah mandi sendiri. Bahkan ! Risyah mandi sering dimandikan oleh abinya Terkadang Umminya. " Risyiah suka kok Om sama bajunya, lucu ada gambarnya. Tapi Om…?" Risyiah terdiam, menundukkan kepalanya. " Tapi kenapa Risyiah…?" Tanya Aksay sambil memegang kedua pipi Risyiah. " Aku gak bisa mandi sendiri Om, biasanya Abi sama umi aku yang sering mandikan Risyiah, Om." Aksay langsung terdiam dan terharu." Kalau begitu, bagaimana Om mandiin kamu ya. Anggap aja Om Abbi Risyiah, mau. Nanti kalau gak mau mandi banyak kecoa yang datangi Risyiah. Mau Risyiah digigit kecoa." Aksay yang mengajaknya bercanda, Risyiah tertawa dengan senyuman manis dan wajah cantiknya. Bak putri kecil seperti di dalam dongeng-dongeng. Risyiah pun akhirnya mau dimandikan oleh Aksay. Di dalam kamar mandi, Aksay selalu membuat Risyiah tersenyum bahagia, tertawa bahkan sampai Risyiah lupa pulang dan sejenak melupakan Abi dan Uminya yang memikirkannya.
Setelah selesai mandi, Aksay mengajak Risyiah untuk sarapan." Risyiah ini Om ada sarapan buat kamu, kamu mah kan makan bubur ayam. Enak lho Risyiah? Tawarnya untuk menyuruh Risyiah sarapan. Risyiah anggukan kepalanya. " Om lucu ya bajunya, cantikkan Om Risyiah pakai baju ini." Tanya Risyiah pada Aksay yang ingin mengajaknya makan." Ccttt, cantik sekali Risyiah. Kamu cocok, apa lagi Risyiah anaknya cantik, putih, hidungnya mancung, rambutnya panjang. Wihh pokoknya seperti putri Arab deh kamu Risyiah." Ngerayu. " Emang Risyiah keturunan Arab Om." Sahut Risyiah yang menggelegar. " Oh, ya. Pasti Abbi kamu ganteng donk, apa lagi Ummi Risyiah pasti cantiknya seperti Risyiah." Jawab Aksay." Iya Om, betul kata Om. Ummi aku cantik Om, Ummi selalu memakai itu Om, yang diwajah Om" pekik Risyiah. " Pakai cadar maksud kamu Risyiah." Risyiah menganggukkan kepalanya. Aksay tiba-tiba terdiam dan mulai teringat akan Asyifah wanita yang pernah ia temui di kota Madinah tempo itu. Aksay melamun, seakan-akan Aksay berfirasat bahwa Risyiah ini adalah anaknya Asyifah. Akan tetapi Aksay menganggapnya ini tidak mungkin, dan Risyiah tiba-tiba menepuk pundak Aksay" Om, Om…?" Aksay spontan terkejut, tersentak dari lamunannya. " Ohh, iya. Risyiah mau sarapan." Tukas Aksay." Mau Om, tapi aku belum bisa makan sendiri Om." Aksay tersenyum." Ya udah Om suapin kamu ya. Habis sarapan kamu mau ikut Om kerja." Risyiah cuman menganggukkan kepala, mulut yang terisi bubur. Aksay menyuapi Risyiah dengan tulus. Layaknya seperti anak sendiri.
Pagi sudah menyuluh siang, Aksay pun mengajak Risyiah ke kantornya. Setelah sampai di kantor, teman sekerja Aksay terheran dan terpelongo melihat Aksay yang membawa seorang anak ke kantornya." Bang Alan, siapa tuh yang dibawa Aksay. Bocah perempuan, cakep lagi bocahnya bang." Kata Aang. Alan kepala Direct melihat serius," Assalamualaikum.'' ucap salam Aksay yang memasuki kantornya, kepada temannya. " Walaikum salam." Balasan salam dari teman-teman kantornya. " Ksya, anak siapa yang elo bawa kemari. Anak elo ya." Tanya Alan yang ingin tahu. Risyiah duduk di sofa yang panjang. Dengan mata yang melihat kesana kemari di ruangan kantor. " Risyiah, sini. Kasih salam dulu sama Om Alan juga sama Om Aang dan sama Tante Munah.'' Risyiah menurut dengan perkataan Aksay. Risyiah memberikan salam pada teman kantor Aksay.
" Dia kemarin aku temui di depan kantor kita bang Alan. Sewaktu aku mau pulang. Aku tidak tega juga tidak sampai hati meninggalkannya disitu sendirian. Lagi pula dia anaknya menurut meski sedikit manja. Apa lagi aku suka sama anak-anak bang." Aksay yang memberi tahu kepada Alan dan teman lainnya. Aang dan Munah melihat Risyiah dengan wajah haru penuh sedih. Munah mencoba untuk mendekati Risyiah, begitu Aang. Alan mengizinkan Aksay untuk membawa Risyiah ke kantor, sampai ketemu dengan kedua orang tuanya. Setiap Aksay mengantar barang kemana saja. Risyiah selalu dibawanya, supaya ada orang tuanya yang melihat. Aksay mengajak Risyiah kemana saja, sesampai dibawa ke Monas, TMII, dan ketempat lainnya. Sehabis mengantar barang. Risyiah sangat senang bahkan di wajahnya pun penuh dengan binar-binar kebahagiaan, selalu tersenyum. Aksay menjaga Risyiah seperti merawat anaknya sendiri, meski Aksay belum menikah. Menjaga Risyiah benar-benar telaten dan sigap. Mengajaknya bercanda, tertawa juga menghibur Risyiah. Sehingga Risyiah sudah menganggap Aksay seperti Abinya.