Apa guna api jika tatapan matanya saja bisa menghanguskan; Apalah gunanya salju jika senyumnya saja bisa membekukan; Ingin dekat tapi tak kuat, jika menjauh resah meraja!
Apa gunanya udara jika tawanya saja sudah menghidupkan; Apa gunanya racun jika rasa kesalnya saja bisa mematikan; Ingin dekat tapi tak kuasa, jika menjauh rindu membiru!
Andai saja bisa aku ingin menyentuh
Kalau saja dapat, aku ingin mendekap!
Tautan rasa hanya hadirkan sengkarut; Resah membungkam tawa, bagai sembilu rindu menusuk kalbu; Seperti burung seruni aku ingin menenun sarang dalam relung hatimu.
Apa gunanya hujan jika menatap bening bola matanya saja sudah menyegarkan;Apa gunanya angin bertiup jika mendengar suaranya saja sudah meneduhkan.
"Bagus amat kalimatnya," Mendengar seruan tersebut ada yang tersontak kaget, buru-buru menutup jurnalnya, menatap kikuk, merapikan kacamatanya, buang muka ke kiri dan ke kanan, lalu tersenyum kecil. "Gak kok,"
"Maksudnya?"
"Tulisannya,"
"Oh... Beneran bagus kok,"
Di sahut dengan gelengan kepala.
"Begitu aja malu, biasa aja kali, penggemar Khalil Gibran juga,"
"Maksudnya?"
"Iya tulisan kamu mirip gitu, apa jangan-jangan Sapardi?"
"Gak kenal," menyahut sambil menggelengkan kepala.
"Iya nggak mungkin juga kamu kenal dengan mereka, lah udah pada wassalam ini."
"Iya melalui tulisan maksudnya,"
"Gak pernah baca?"
"Iya pernah,"
"Lah tadi katanya gak kenal gimana toh?"
"Maksudnya baca buku iya pernah, sering malah, buku pelajaran, kalau buku Kahlil dan Sapardi iya ndak pernah."
"Tapi tahu kan,"
"Ndak suka,"
"Berarti kamu pernah baca dong, kamu tuh aneh ya..." terkikik lucu.
"Lebih suka tempe, apalagi yang dibacem."
"Apa sih? Garing tahu nggak,"
"Oh suka yang digoreng kering?"
"Kamu udah minum obat belum sih,"
"Ndak demam ini eh," menempelkan tangan di kening dan leher sendiri.
"Kamu kesambet setan apa sih, Non? Tumben ngelucu, pengen ikutan stand up comedy ya? Tampang loe boleh juga tuh, punya nilai plus-plus!"
Bertanya dengan membelalak. "Maksudnya!?"
"Iya gimana ya, kamu tuh... iya kalau dari paras ibu peri lewatlah, terus pakai kacamata bulat tebal begitu kesan intelek gimana gitu, nah, pintar ngelucu lagi, apa itu bukan plus-plus...!"
"Emangnya pantai apa?"
"Pantai!? Panti kali!?"
"Tempat rekreasi itu apa?"
"Banyak. Iya salahsatunya pantai."
"Lah berarti benar toh,"
"Maksudnya,"
"Di pantai itu ada orang yang menawarkan jasa pijat bukan?"
"Apa gue bilang loe itu pinter!? Pinter ngeles salahsatunya..."
"Mahal!"
"Apalagi sih!?"
"Les bukannya mahal, bagus di rumah belajar sendiri."
"Tuh, tuh, tuh... Lucu loe!"
"Emang saya badut Ancol apa!?"
"Iya Allah lucunya..." Gemes tuh pipi dijawil kanan-kiri. "Anak siapa sih, anak siapa sih..."
Cieciecie...
"Hajar, Lih,"
"Gebet, Lih!"
"Tembak, Lih."
"Kalau perlu lamar, Lih!"
Orang-orang pada berseru melihat aksi si anak lajang kala menjawil pipi si anak dara.
"Nama kamu, Malih?"
"Malih? Dikata gue Malih Tongtong apa!?"
"Ihhh jorok tahu,"
"Jorok? Jorok di mana? Porno loe ya?"
"Kok,"
"Itu..."
"Apaan..."
"Jorok!"
"Tempat buang sampah namanya apa ya?"
"Iya Allah ini cewek untung cantik kalau kagak... ada aja ya jawabannya..." Menatap dengan gemes bercampur dengan rasa kagum. "Ngeselin banget sih loe..." Lagi-lagi pipi si anak dara ditarik kanan-kiri. "Siapa sih bokap loe!?"
"Manusia."
"Keren banget nama bokap loe,"
"Masak sih?"
"Maman Tunisa iyakan,"
"Gak lucu,"
"Namanya juga usaha. Ketawa dong, please. Sebelum ketawa itu dilarang loh."
"Ehek..."
"Ngeden loe,"
"Mencium bau nggak,"
"Belum sih,"
"Kok aku dari tadi mencium bau gitu ya..."
"Gue," sibuk mengendus diri sendiri. "Nggak kok. Wangi ini. Parfum mahal loe ini. Beneran beli dari Sing..."
"Singaparna!?"
"Singaparna, Singapore lah."
"Singapore doang bangga. Nih, tahi lalat saya nih tahi-nya doang di import dari Perancis."
"Iya Allah ampuni Baim ya Allah..."
"Nama kamu, Baim?"
"Gak."
"Terus kok pakai bawa-bawa nama si Baim segala, kurang kerjaan banget."
"Bilang aja loe mau kenalan ya kan,"
"Pedean amat,"
"Sedari tadi gue perhatiin loe mantengi gue gitu, emang gue gak punya mata apa, iyakan, sedari gue datang, bolak-balik ke kantin, terus omong ke teman-teman, gue lihat loe perhatiin gue, loe suka sama senior loe."
"Vulgar amat sih,"
"Lah kata vulgar dia. Terus terang, Non, yang bener mah itu."
"Sorry saya ndak mau kalau harus membayar royalti,"
"Royalti!? Royalti apaan!?"
"Lah Terus Terang itu kalimat iklannya merk lampu apa!?"
"Ya Allah sampai ke situ-situ dianya. Segala Philips dibawa-bawa. Benar-benar deh loe. Siapa sih nama loe?"
"Mau yang pendek apa yang panjang."
"Dimana-mana enakan yang pendek kali ya,"
"Kalau yang cewek sukanya yang panjang."
"Masak sih!?"
"Ihh kok gitu ngeliatnya..."
"Lah situ ngomongnya..."
"Lah kalau hotdog panjang gede terus harganya murah enak nggak."
"Bisa aja loe," Giliran pundak si anak dara yang dijawil.
"Sakit tahu,"
"Darimana sejarahnya ada yang namanya 'tahu sakit,' yang ada tuh tahu isi..."
"Pake bogem!"
"Itu namanya tahu geprek!"
"Lumayan,"
"Dikata lumayan, lucu kali ah... Nama loe siapa?"
"Yang pendek apa yang panjang?"
"Yang pendek,"
"Rat!"
"Rat!?"
"He-eh!"
"Rat? Apaan sih nama begituan, ada nama begituan, dikata tikus got kali ah."
"Katanya yang pendek,"
"Udah yang panjang deh...."
"Raaaaaaaaaaaaat..... na."
"Pake cilukba dia."
"Lucu Ndak?"
"Gak!"
"Masak!?"
Seseorang datang menginterupsi. "Galih waktunya udah lewat lima menit nih, mau dimulai gak sih."
Yang diajak ngomong mengangguk-angguk.
"Iya udah buruan."
"Oke! Kamu bersiap deh."
"Eh, loe siapa nama loe?"
"Ratna, Kak."
"Jangan sok keganjenan deh loe, balik loe ke barisan."
"Siap, Kak."
"Loe kata dia madat apa!?"
"Madat apaan!?"
"Keganjaan."
"Keganjenan, Galih, bukan Keganjaan. Loe juga pake ketawa. Balik kanan sana. Gue plonco habis loe ntar."
"Jangan dia pacar gue...'
Yang diaku pacar kaget bukan kepalang.
"Namanya aja Ratna, nama gue, Galih."
"Terus..."
"Galih dan Ratna bukannya dua sejoli,"
"Tua amat sih loe. Buruan ah..." Judek buru-buru balik kanan.
"Cemburu dia."
"Apaannya?"
"Dia, Lisa."
"Dimana?"
"Di sini tadi."
"Kenapa...?"
"Cemburu...!"
"Siapa?"
"Lisa.... Lisa... Lisa... Si Lisa cemburu..."
"Maaf Mas sebentar ya, Papa saya, Donald Trump Sihombing lagi telepon nih, " Kata Ratna menarik kabel ear phone dari sebelah telinganya, kemudian balik kanan dan berjalan sambil lalu ke barisan, dengan tersipu lucu tentunya.
"Iya Allah secara Galih dikacangi... Segala Donald Trump-lah dikasih marga Sihombing... Benar-benar loe yah... Lucu. Kasmaran aku padamu...!"
"Ehem, Ehem... gebet senior iya," kawan di samping kanan, menyikut. Yang disikut buru-buru menggeleng. "Alah... iya juga ndak soal kok," Yang disikut tetap keukeuh pake sumpah segala lagi. "Sumpah demi..." Si kawanan memeletotkan bibirnya, " cius! Demi apya..?" Yang tadi disikut langsung bersumpah. "Demi seuprit udang rebon dalam sebongkah bakwan Pontianak!" Si kawan ngakak kencang, kontan jadi perhatian semua orang, termasuk para senior tentunya.
"Eh kau si nama kau?" tanya seorang senior melalui corong suara, dengan aksen Batak yang totok.
"Juminten, Tulang. Namanya, Juminten." Malah Ratna yang menyahut. Si senior kaget alang kepalang. Bukan karena nama si cewek yang tadi ditanyakan olehnya akan tetapi karena panggilan Tulang yang turut disertakan oleh si Ratna barusan. "Alamak macam mana pula kau, kau ini ya, dari mana ceritanya aku bisa jadi Tulang kau, betul kau sikit!"
"Soalnya dialeknya sama dengan dialek ojek langganan saya."
"Bawa-bawa tukang ojek pula kau! Turut derajat ku kau bikin! Apa hubungannya!?"
"Kok turun sih, jadi tukang ojek itu pekerjaan mulia loh, tidak ada bedanya dengan dokter, polisi, atau presiden, sama-sama bekerja untuk orang lain loh."
"Mak! Bawa-bawa Presiden pula kau!"
"Bapak saya kan Presiden,"
"Bapak kau Presiden!?"
"Iya. Presiden Direktur PT Angin Sepoi-sepoi."
"Mak! Udah macam Benyamin S, kau. Presiden Direktur PT Angin Sepoi-sepoi. Tua kali kau, Dek. Tapi masih lucu aja lawakan itu."
"Siapa nama kau?"
"Ratna, Tulang, Namanya, Ratna br Sihombing."
"Bah! Halak Hita Dope Peh..."
"Horas Tulang... Horas Martabe..."
"Horas Martabe apa pula kau!?"
"Itu loh salamnya orang Batak kalau di pesta-pesta pernikahan. Iyakan, Minten." Giliran Ratna yang menyikut.
"Martabe?" Yang disikut bingung. "Emang iya?"
"Itu loh yang sambil lempar-lempar beras 'Horas, Horas, Horas Martabe..."
"Maksud kau Horas Jala Gabe...?"
"Oh, udah ganti iya,"
"Lucu kali kau ah... Suka kali aku... Paribanku-nya kau jangan pula kau panggil aku Tulang ah... Mamakku boru Sihombing tahu kau."
"Nggak kan belum kenalan,"
"Ihhh alamakjang keren kali lawakan kau ah..."
"Emangnya Tessi apa ngelawak..."
"Betul, betul, betul lucu kau Rat ngomong-ngomong mau kau jadi pacarku? Suka kali aku cara ngelawak kau. Kalau kau mau amanlah kau kubikin selama per-ospek-an ini. Mau kau iya, pariban..."
"Loe yang di sebelahnya aja, itu udah punya gue!" Sekonyong-konyong Galih menginterupsi lalu mengambil pelantang suara.
"Apa pula si kawan ini, udah macam layangan singit aja dia main nyambar-nyambar. Siapa si Juminten?"
Galih kaget. "Juminten!? Apa pula kau!!! Mana ada nama orang Juminten jaman sekarang kayak begini. "Galih yang sejatinya berasal dari suku Jawa berlagak jadi orang Batak. "Yang ada itu Pretty. Terus Sisca, Udah itu Abigail. Bukan Juminten...!"
Junior-junior pada ngakak.
"Iya nama mantan kau pula yang kau sebut-sebut. Move on kau kawan..."
Junior-junior makin ngakak.
Galih sadar se-sadar-sadarnya. "Iya, iya... kok..."
"Kurang satu Lisa..."
"Apa sih loe, Nar, bawa-bawa gue..." Yang disebut nyap-nyap.
"Ini mantan kau ini, masak dia gak percaya kalau nama cewek itu si Juminten. Terus disebutkannya pula nama-nama mantannya. Panaslah aku!"
"Panas! Panas kepala loe! Eh, Loe siapa nama loe?"
"Juminten, Nantulang."
"Nantulang...!" Si Batak kaget lagi.
"Nantulang itu apa, Nar?"
"Nantulang itu haletnya Tulang."
"Halet? Halet apa Harnet?"
"Halet! Pacar! Istri...!" seru si Batak.
Sekonyong-konyong semua pada kaget, dari Galih, Lisa, Bonar si Batak, lebih-lebih si Juminten yang buru-buru mengklarisifikasi. "Saya ndak tahu eh, katanya, itu panggilan buat seseorang yang sangat kita hormati begitu."
"Begitu, begitu, siapa yang omong Juminten?" Yang ditanya melirik ke Ratna. "Tukang ojek langganannya Ratna."
Bonar kaget. "Kok bisa nyampe pula tukang ojeknya ke kau! Betul kau sikit ah!"
"Lah soalnya kan tetanggaan pariban."
"Ah, mantap kali kau ah bilang aku pariban. Tunggu dulu, tunggu dulu kau bilang tetanggaan, maksud kau, dia tetanggaan sama tukang ojek kau, si Tulang yang kau bilang tadi?"
Sekonyong-konyong Ratna menggeleng. Bonar bingung. "Terus?"
"Tukang ojek saya bertetangga dengan si tukang angkot, terus si tukang angkot bertetangga dengan si tukang angkot lainnya, nah, si tukang angkot lainnya itu bertetangga dengan si tukang parkir, nah si tukang parkir ini..."
"Bertetanggaan dengan si Juminten begitu?"
"Masih bertetangga lagi dengan tukang galian kabel."
"Alamakjang tukang galian kabel dibawa-bawa masih panjang ini berarti, kabel bah..."
Lisa yang jutek, tersipu-sipu lucu.
"Ihhh Lis cantik kali kau rupanya kalau ketawa..."
"Apa sih loe!" Buru-buru menyapu senyum di bibirnya. "Eh, Ratna nama loe Ratna kan?"
"Kok tahu? Bapak kamu petugas sensus iya?" Giliran Galih pasang aksi. Bonar ngakak. "Karena kamu telah menyensuskan hatiku." lanjut Galih.
Lisa kembali tersipu-sipu.
"Cantik kali ito kita ini ternyata,"
"Eh, Ratna maju loe," seru Lisa sambil kembali menyapu senyum di bibirnya.
"Di sini Inanguda.." tanya Ratna.
"Alamakjang Paribanku inilah... Inanguda pula katanya si Lisa. Lucu kali kau ah! Sakit betul perutku kau bikin! Kalau mati ketawa aku kek mana kau, mau kau tanggung jawab ke Mamakku, ah..." ujar Bonar terkaing-kaing. Galih cuma geleng-geleng.
"Berani loe sama gue," gertak Lisa.
"Mak! Lisa kok jadi serius kau, Lis. Bercanda dia itu! Main masukkan ke hati pula kau." Bonar coba mendamaikan.
"Diem loe ah... Maju loe..." tantang Lisa.
Ratna pun maju, Lisa mendekat.
"Udah bosen hidup loe?!" gertak Lisa lagi.
"Belum, Kak." Ratna ciut.
"Kak? Bukannya gue tadi loe kata Inanguda... Emang Inanguda itu apaan!?"
"Ibu peri. Bidadari yang turun dari khayangan.' sahut Ratna. Galih main mata ke Bonar. Bonar menahan tawa. Lisa melirik ke Bonar. "Iya cerita terjadinya danau Toba itu. Si cewek bidadari yang jadi ikan itu kan namanya si Inanguda." sahut Bonar pada Lisa sambil-sambil ia menahan tawa.
"Kenapa loe pegang-pegang perut?" tanya Lisa pada Ratna. "Sakit perutku Inanguda..." ucap Ratna.
Bonar buru-buru berpegangan ke Galih, lalu sembunyi di balik pundak Galih, jelas ia gak kuat menahan tawa.
"Eh, bocah tengil gue juga punya tetangga orang Batak, gue tahu apa maksud dari kata Inanguda itu. Jangan sok-sokan deh loe!"
"Yang tukang gali kabel itu ya," ucap Ratna polos. Tak pelak Bonar ngakak sengakak-ngakaknya. Begitupun Galih, sambil-sambil berseru. "Bener, bener nih cewek, tampangnya doang inosen, penampilan intelek, otaknya nih...."
"Yang pasti bukan otak-otak." sambung Ratna yang berlagak selayaknya member JKT48: kaki separuh membuka, buntut sedikit ditunggingkan, sebelah tangan ditumpukan ke pinggang, tersenyum sumringah dan lebar, sementara sebelah tangan yang lain dengan telunjuk yang menuding ke ujung kanan bibir.
"Serius loe.." gertak Lisa.
"Gak bisa nyanyi, Kak." ujar Ratna.
Lisa Judek. "Maksud loe apa sih!?"
Ratna buka suara, langsung main ke nada tinggi, alias melengking, king, king..."Rocker juga manusia, punya rasa, punya hati, jangan samakan dengan pisau belati... " Yang lain pada tutup telinga. "Tuh jelekkan," ujarnya kemudian.
"Bener, bener loe ya..." gerung Lisa. "Push up loe!"
"Push up itu apaan?" Ratna sok polos.
"Push up kau gak tahu kau Pariban!?" tanya Bonar. Ratna menggeleng. "Kayak begini.. Contohkan, Lih." ujar Bonar menepuk pundak Galih. Bagai terhipnotis entah oleh tepukan Bonar entah oleh karena kepolosan Ratna, Galih pun sekonyong-konyong mencontohkan, sepuluh kali malah. Bonar ketawa ngakak. "Bego kali kau! Mau aja kusuruh-suruh!" Galih nyadar. "Iya, ya, kok gue..." Galih bangkit berdiri, menunjuk ke diri sendiri. Lisa dan Ratna serta yang lainnya ngakak bareng-bareng.
"Ihh Lisa betul lah cantik kali kau kalau ketawa," seru Bonar yang takjub memandang Lisa. Karuan Lisa kikuk bin kikuk sekikuk-kikuknya. "Udah deh, Nar."
Galih yang masih kesal, buka omongan. "Udah dia suruh baca puisi aja kayak orang baca deklamasi gitu, bersuara lantang tapi sambil cengar cengir gitu." Lisa berpikir sejenak, lalu mengangguk mengiyakan. "Ingat bersuara lantang, dan cengar-cengir!" Lisa mengultimatum.
"Sarap dong," ucap Ratna.
"Lah tuh waras tuh," Galih menuding geli.
Ratna pun beraksi seperti adegan film Ada Apa Dengan Cinta, pas kejadian di cafe, saat Cinta marah kepada Rangga, karena sekian purnama Rangga tak ada kabar berita, sambil balik menuding ke Galih tentunya. "Bang Toyib apa kamu lakukan ke aku itu... Jaja Miharja."
"Lucu bener ini anak, emak loe ngidam apa sih?!" celoteh Lisa geleng-geleng kepala.
"Klepon, Kak." lugu Ratna berucap.
"Ya, Allah tolong Baim ya Allah..." Galih sampai nunduk-nunduk menahan tawa yang terpingkal-pingkal. "Sebentar lagi gue bakal beser ini. Ada aja ya jawabannya, pake bawa-bawa kue klepon segala, gue jadi ingat..."
"Eh, Pariban bocor kali kau ah..." seru Bonar.
"Untung aja loe cantik kalau kagak... Udah gue bejek-bejek loe..." seru Galih sewot bin lucu.
"Rujak kali ah dibejek-bejek... Udah buru-buru baca puisi loe!" Lisa geleng kepala.
Ratna mengangguk, mendehem, kemudian beraksi. "Satu ditambah satu heh... heheh... heheheh.... sama dengan dua heh... heheh... heheheh... " berlagak sambil mengembangkan tangan ke udara, secara bergantian, mata membelalak tajam, kaki sedikit menjinjit, dan suara lantang membahana. "Dua ditambah dua sama dengan empat heh... heheh... heheheh... Empat ditambah empat sama dengan heheh... heheheh... hehehehe... kikik....kikikik... kikikikik.... Delapan. Sekian dan Terimakasih." Seperti pemberi informasi yang ada di mall-mall Ratna pun mengakhiri pembacaan deklamasi, lalu melipat kedua tangan ke dada. Di samping kanan dan kiri, depan dan belakang orang-orang sudah pada tepar sambil mencengkeram perut masing-masing, tertawa sampai terkaing-kaing. "Kok..." Ratna melongo bingung.
"Serius loe," Lisa berusaha bangkit berdiri.
"Nyanyi Rocker lagi? Oke!" Ratna malah bertanya balik. Yang berusaha bangkit sontak kebanting lagi. "Bukan!" Lisa buru-buru menghentikan. "Terus?" tanya Ratna lagi. "Baca puisi!" seru Lisa berusaha menegar-negarkan diri.
Ratna mengangguk. "Buruan saya mau serius ini..." Meminta kepada yang lain untuk bangkit berdiri.
Lisa mengancam. "Awas kalau loe nyanyi..."
Ratna memberi isyarat telunjuk dan jempol yang membentuk lingkaran serta ketiga jari yang lainnya tegak sejajar. Ratna kembali mendehem, niatnya mengatur nada suara. Lalu..."Tautan rasa hanya hadirkan sengkarut; Resah membungkam tawa; Bagai sembilu rindu menusuk kalbu; " Ratna bersuara dengan teratur, bagai aliran sungai yang beriak dengan tenang. "Seperti Seruni aku ingin menenun sarang dalam relung hatimu;" Ratna diam sejenak, menatap lurus kepada Lisa. Selang kemudian kembali bersuara. "Apa guna hujan jika menatap bening bola matamu saja sudah menyegarkan; Apa guna angin bertiup jika mendengar suaramu saja sudah meneduhkan..." Yang lain pada terdiam takjub, termasuk Lisa, yang rikuh pada akhirnya.
Ratna bergerak maju, menatap ke arah Bonar dan Galih yang berdiri berdampingan, Lisa kian rikuh, Ratna berhenti tepat diantara kedua lelaki tersebut. Menatap ke arah keduanya. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku bakunya, secarik kertas, menatap kembali ke arah Galih, lebih lama. Selang itu menyerahkan secarik kertas itu kepada... Bonar.
Cieciecie.... Orang-orang pada bertepuk girang.
"Aku..." Bonar pun berlagak bloon, menuding ke diri sendiri, senyum-senyum sendiri. "Dari seseorang buat Pariban," Kata Ratna dengan mata yang menuding ke arah Lisa. "Maaf, Kak, saya nemu waktu di toilet, waktu kakak keluar dengan terburu-buru tadi."
Lisa lirih berucap, "lancang kamu,"
"Rasa suka itu harus diutarakan, jangan dipendam lama-lama, takutnya basi, kalau nasi mah bisa dijadikan nasi aking, kalau cinta..."
"Maksudnya..." Bonar benar-benar bloon deh kayaknya. "Baca aja kalimat terakhir dibawanya. " pinta Ratna. Bonar membuka secarik kertas yang terlipat rapi itu, membukanya secara perlahan. Lalu membaca kalimat yang disebut oleh Ratna tadi dengan lantang. " Dari L buat si bawang Batak yang sudah membuat hatiku klepek-klepek gak karuan. Alamakjang, Lis..."
"Apa sih!?" Lisa kikuk.
"Aku pun klepek-klepek nya sama kau, Lis." ucapnya dengan aksen Batak yang totok itu, karuan yang lain ketawa, setelahnya bertepuk tangan. "Jadian kita, Lis..." Bonar mendekat menyodorkan jari kelingkingnya kepada Lisa. "Sambutlah, Lis." Galih mengimbuhi dengan aksen yang dibuat serupa Bonar. Lisa malu-malu meong ternyata...
"Terima, terima, terima..." seru Ratna sambil bertepuk tangan, yang lain pada turut serta. "Terima, terima, terima..."
Dengan perlahan Lisa menjulurkan kelingkingnya, gegas Bonar meraih kelingking tersebut dan mengaitkannya dengan kelingkingnya. "Kek gini lah baru paten..."
"Terus gue gimana?" Galih melirik ke Ratna.
"Emang kakak mau dituduh pedofil!?"
"Alamakjang ditolak cinta si Kawan... Ah, biarlah yang penting cintaku bersemi... Iya nggak, Lis."
Lisa mengangguk mengiyakan. Ratna mundur teratur.
"Bubar, bubar, bubar, hepi-hepi kita." Ucap Bonar membubarkan barisan. "Hore..." seru peserta ospek bareng-bareng.
Kasihan Galih, sejolinya dengan Ratna ternyata cuma ada di layar kaca!