Pada suatu hari Dika dan kedua temannya pergi ke ladang yang jauh dari desa. Dengan menggunakan perauh mereka mengarungi sungai hingga sampai di tempat tujuan. Mereka mengikat perahu ke pohon yang ada di pinggir sungai dan mulai memasuki kebun karet dengan pohon yang menjulang tinggi mereka menaruh barang bawaan mereka di rumah panggung sederhana yang ada disana.
Mereka mulai bekerja dari pagi hingga sore dan memutuskan untuk tidur disana beberapa hari sebelum kembali ke desa. Mereka naik ke rumah panggung itu dan duduk di teras rumah memandang pepohonan dan burung-burung yang yang sedang berkicau.
Mereka berbincang-bincang berbagai hal tanpa sadar andre berkata “coba disini ada perempuan. Ada yang masakin buat kita pas lagi lapar-laparnya” ucapnya yang langsung di sahut oleh Adit “ iya sih, tapi dihutan gak ada kali cewek disini”.
Karena merasa lapar mereka memutuskan untuk masuk dan memasak makanan dengan hanya menggunakan tungku mereka menghidupkan kayu bakar. Mereka memasak nasi dan juga lauk untuk makan malam.
Hari mulai gelap dari sore hujan turun cukup deras. Adit sedang memandang keluar jendela tak dia sangka apa yang dilihatnya. Di balik pohon ada sesuatu yang bergerak. Ia menyorot senternya dan memandangi pohon itu dengan waktu yang cukup lama. Pelan-pelan sesuatu itu bergerak keluar dari balik pohon.
Ternyata seorang perempuan yang sedang ke hujanan. Adit yang melihat itu merasa kasian dan langsung membuka pintu menyuruh gadis itu masuk. Semakin mendekat mereka bertiga melihat jelas wajah gadis itu.
Gadis yang sangat cantik berada di hutan malam hari. Ada banyak pertanyaan di benak mereka apa yang terjadi tapi mereka hanya bungkam dan menyuruh gadis itu masuk dan memberinya sarung untuk digunakan. Mereka mulai duduk mengelilingi lampu tembok yang diletakan di tengah mereka.
“Dari mana dek?” tanya Adit.
“dari ladang yang disebelah timur sana” Jawabnya singkat.
“kenapa bisa sampai disini? Tersesat?” tanya Dika meragukan gadis itu.
“saya sama nenek saya tinggal di pondok sana tapi ketika mencari sayuran saya tersesat” sahutnya dengan ekspresi sedih.
“kalau begitu istirahat disini dulu sampai besok pagi” ucap Andre. Jam sudah menunjuk kan pukul 9 malam mereka mulai mengantuk. Gadis itu duduk di dekat tungku menghangatkan tubuhnya dan mengeringkan baju yang di pakainya.
Andre, Dika, dan Adit sudah terlelap membiarkan gadis itu untuk merasa nyaman sendirian. Dijam tiga pagi Dika terbangun dan mendengar suara hujan sudah berhenti. Ia memutuskan untuk melihat perahu di pagi buta itu memastikan perahu yang mereka gunakan tidak tenggelam sekaligus membuang air yang ada di perahu.
Ia bangun dan melihat gadis itu tertidur di depan tungku sambil duduk memeluk lututnya. Ia mengambil Pisau panjang yang diikatkan pada pinggangnya dan membawa sebuah senter. Ia berjalan keluar di kegelapan malam sampai ke sungai.
Di rumah itu Adit terbangun karena mencium bau makanan enak tapi tidak ada yang memasak ditungku. Ia membangunkan Andre dan menanyakan apakah dia mencium bau makanan.
“iya ada bau makanan” jawab Andre setelah mengendus mempertajam penciumannya.
“baunya enak jadi lapar” ucap mereka berdua yang kemudian menghampiri tungku.
“kamu juga bangun karena lapar” tanya Andre. Gadis itu memandangi mereka berdua dengan tatapan tajam sambil bertanya. “Kalian cium baunya?” tanya gadis itu pada mereka berdua.
“iya baunya enak makannya kami lapar tapi gak ada yang masak disini” sahut Adit.
Gadis itu diam dan pergi untuk duduk bersender di dinding yang jauh dari tungku sambil memandangi para pria yang sedang merebus air. Rumah itu tanpa sekat jadi dapur dan tempat mereka tidur jadi satu. Andre duduk mendekati gadis itu mereka berbincang-bincang sementara Adit fokus pada masakannya jam menunjukan pukul setengah 4 pagi saat itu.
Gadis itu memandangi Andre membuat pria itu salah tingkah. Ia mulai mendekati Andre dan meraba tubuh pria itu. Andre hanya bisa terdiam seorang gadis sedang menggodanya. Ia membiarkan jari jemari gadis itu memegang tubuhnya dan membuatnya memejamkan mata karena menikmati setiap sentuhan.
“Aaaaarrrggg...!!!” Andre teriak ketika tangan gadis yang berkuku Panjang itu melesat masuk ke tubuhnya dan mencabik kulitnya. Adit reflek menoleh ke arah mereka, betapa kagetnya dia melihat temannya sedang berlumuran darah. Ia melihat gadis itu menarik jantung Andre dan membuatnya mati terkapar di lantai.
Adit ketakutan setengah mati. Ia ingin lari tapi pintu berada di dekat gadis hantu itu. Ia memperhatikan gadis yang sedang memakan hantu itu yang sedang tidak memperhatikan adit.
Adit merasa bahwa ia bisa punya kesempatan untuk lari menuju pintu selama hantu jadi-jadian itu makan. Adit berlari tapi dia tidak lebih cepat dari si hantu jadi-jadian dari belakang gadis itu merobek tulang belakang dan menarik jantungnya. Darah mengalir begitu banyak di lantai kayu itu.
Sementara itu Dika yang tidak tau apapun baru saja selesai menimba air yang ada diperahu dan sudah kembali ke rumah ketika Adit membuka pintu dan diserang oleh hantu jadi-jadian. Iya ketakutan dan bersembunyi di bawah rumah. Di lihatnya darah menetes dari selah papan menetes di pundaknya.
“Bruk” sesuatu jatuh dari tangga dan menggelinding. Dika melotot dan ketakutan ia menyorot sesuatu yang jatuh dan melihat tangan temannya. Dengan mulut yang menganga dia berlari kocar kacir. Mendengar suara langkah kaki gadis jadi-jadian itu reflek menoleh dan langsung berlari mengejar Dika.
Dika sampai di perahu dan berusaha untuk melepas talinya tapi tidak bisa. Karena tidak bisa melepaskannya ia membalik perahu kayu itu dan bersembunyi di bawah perahu.
Hantu jadi-jadian itu menggaruk-garuk perahu dengan kuku panjangnya sampai membuatnya berlubang. Waktu berlalu begitu cepat hari sudah mulai terang Hantu jadi-jadian itu pergi kembali ke hutan dan meninggalkan dika.
Akhirnya Dika bisa selamat dan langsung membalikan perahu lagi dan menimba air di dalamnya. Dengan perasaan sedih dia pulang ke desa dan menceritakan kepada penduduk desa tentang kejadian yang di alami mereka bertiga.
Nenek yang juga ada diladang tempat mereka kemarin bercerita dia juga diganggu saat tidur tapi untungnya selamat. Hantu jadi-jadian itu lebih dulu mendatangi nenek itu saat tertidur lelap.
Nenek yang tidur mendengar seseorang menekan tubuhnya sambil berkata “masak, mentah, masak, mentah” berulang kali hantu jadi-jadian itu melakukannya.
“MENTAH” teriak Nenek itu membuat hantu itu menghilang dan kabur. “ Nenek malam itu langsung pulang ke desa.
Para penduduk desa mulai berhat-hati ketika berbicara di hutan dan tidak membuka pintu untuk orang yang tidak dikenal.
TAMAT
*
*
*
Enak nya hidup jaman sekarang dijauhkan dari hantu jadi-jadian.
Ceritanya tentang 3 laki-laki muda itu terinspirasi dari dongeng jaman dulu oleh mamah aku tapi cerita si Nenek itu cerita nenek aku yang pernah ngalami ini
saat itu nenek ku lelah dan tidur di pondok saat diladang terus dengar suara seseorang bilang “masak mentah” berulang kali dan nenek ku teriak bilang mentah. Seakan-akan bertanya kita siap di santap gak. Hehehe biasanya bukan makan hidup hidup tapi orang bakal jadi sakit-sakitan karena kejadian gitu.