Ponsel yang tergeletak di atas meja rias bergetar, terlihat satu notifikasi chat masuk dari Zio penggemar setiaku .
Aku gerakan tangan kananku untuk membuka chat darinya sembari menyisir rambut panjangku.
[Aku sudah di luar..] - tanpa nama
Begitulah isi chat darinya, Aku menatap pantulan diriku di cermin yang ku anggap sudah sempurna meski tak ada bedanya dari hari ke hari.
Disaat aku hendak mengabil tas, tanpa sengaja mataku melihat bingkai foto ukuran sedang yang menampakan diriku dengan seorang lelaki yang sudah beberapa bulan ini menghilang tanpa kabar dan kepastian. Dia adalah Devano pacarku, sudah hampir 5 tahun kami menjalin hubungan.
Kamu kemana aja?
Sudah 4 bulan gak ada kabar.
Sosial media kamu juga gak aktif.
Kamu baik-baik aja kan disana?
Jika aku ada salah aku minta maaf.
Van please jangan ngilang gini.
Jangan-jangan kamu nemu cewek yg cantik disana.
Mataku terasa perih ketika melihat spam chat yang terabaikan oleh Vano.
Disaat aku masih terkenang dengannya, Ponselku kembali bergetar dan aku melihat kembali pesan dari Zio yang selalu mengaku penggemar setiaku, sebuah senyuman terbit dibibirku ketika melihat pesan darinya yang menggerutu kesal karena kelamaan menunggu diluar.
Di ambang pintu aku melihat Zio sedang bersandar di kap mobilnya, raut wajahnya berubah saat aku keluar dari kost-an, dengan sejuta pesona ia tersenyum ke arahku, padahal di chat tadi ia marah-marah, begitulah Zio lelaki yang selalu ada untukku, yang selalu menahan kekesalannya meski ia marah padaku.
"Maaf ya lama." Ucapku saat mendekat ke arahnya dengan membalas senyumannya.
"Gak pa-pa lah meski aku harus jamuran juga." Sahutnya sembari membukakan pintu mobil untukku.
Jika bersamanya aku selalu merasa seperti seorang putri yang di manja dan di jaga dengan baik. Ahh… perilaku seperti ini kembali mengingatkanku dengan Vano.
"Sudah sarapan?" Tanyanya saat ia mulai melajukan kendaraannya.
"Belum, nanti saja di kantin kampus." Ucapku sembari membuka buku karena hari ini akan ada kuis.
Sesampainya di kampus Kami pun langsung berjalan menuju kantin, seperti biasa Zio yang memesankan siomay dan teh manis hangat kesukaanku.
Dengan senang hati aku langsung melahap siomay yang telah tersaji di depan mata, sedangkan dia hanya memainkan ponselnya dengan menungguku makan.
"Kamu nih kalo makan kebiasaan, itu belepotan saus siomaynya." Tunjuk Zio pada bibirku.
Aku mencoba membersihkannya dengan punggung tanganku namun segera di cegah olehnya.
"Nanti tambah kotor." Tuturnya dengan mengusapkan ibu jarinya di bibirku.
Aku terpaku di buatnya, ini bukanlah pertama kalinya ia bersikap seperti ini, namun kenapa kali ini hatiku berdegup dengan kencang.
"Kayaknya dosennya udah datang. Aku harus segera masuk." Kilahku karena merasa tak nyaman dengan perasaan yang kurasakan saat ini.
Tak mungkin kan aku menyukainya di saat aku mempunyai pacar? Batinku.
Sore ini aku berajalan meyusuri trotoar dengan membawa makanan serta kebutuhan sehari-hari, di lihatnya jalanan yang penuh dengan lalu lalang kendaraan, ponselku berdering dan aku selalu berharap Vano yang menghubungiku.
Harapanku pupus ketika bukan namanya yang tertera di ponsel melainkan yang menghubungiku adalah Zio.
"Apa?" Jawabku malas.
"Kenapa jalan sendirian?" Tanyanya dengan suara yang begitu merdu, tapi tak semerdu suara Vano, aku tak boleh terbuai dengan perlakuan darinya.
Aku arahkan pandanganku ke setiap penjuru untuk melihat apakah ia mengikutiku, namun nihil aku tak menemukan keberadaannya. Dan bagaimana ia bisa tahu aku jalan sendirian? Tanyaku dalam hati.
"Aku tak mengikutimu, lihatlah ke cafe sebrang!."
Akupun segera menuruti perintahnya dan melihat ia yang berdiri di cafe sembari melambaikan tangan padaku di temani teman-temannya.
Segera ku tutup panggilanku dengannya saat ia berjalan menghampiriku, Aku tahu dia menyukaiku dari lama tapi akuntak boleh, Aku segera berusaha tenang disaat hatiku kembali berdetak tak menentu.
“Happy birthday Dinara Almahira.” Ucapnya sembari mengeluarkan cake kecil dari belakang tubuhnya.
“Hei.. kenapa?.” Zio kelihatan panik saat mataku tiba-tiba saja mengeluarkan kristal bening yang tanpa di undang itu.
Aku menggelengkan kepala dengan menangis tersedu. Tangisku semakin pecah saat Zio merengkuh tubuhku.
25 juni adalah hari lahirku, biasanya Vano lah orang pertama yang memberikanku do'a. Tapi sekarang adalah orang lain, kemana dia sebenarnya? Apa hatinya telah berpindah kelain hati? Bahkan hari ini adalah hari aniversary kita yang ke 5 tahun. Dan dia melupakannya.
🍂🍂🍂
Kini Vano benar-benar berubah, sudah satu pekan ini aku berhenti mengiriminya chat dan dia sama sekali tak khawtir padaku.
“Nih.. biar adem hatinya.” Eskrim vanila kesukaanku sudah didepan mata.
“Makasih.” Aku mengambilnya dan tersenyum manis pada lelaki yang tak pernah menyerah untuk mendapatkan hatiku, padahal sudah ribuan kali aku memberitahunya bahwa aku sudah memiliki kekasih.
“Gitu dong senyum, jangan kayak kemarin-kemarin.” Ucap Zio dengan senyuman mempesonanya.
“Nara… kamu harus bahagia!.” Zio menyelipkan anak rambutku yang diterbangkan angin kebelakang telinga. Sungguh sentuhan tangannya langsung menghangatkan hatiku.
“Cobalah lupakan dia! Kau berusaha setia tapi bagaimana dengannya?? 8 bulan bukan waktu sebentar Nar, jika memang dia sayang sama kamu kenapa dia tak bisa menyempatkan waktu untuk sekedar mengabarimu?”
Perkataan Zio benar, disini aku berusaha setia meski ia tak pernah mengabariku, bahkan keluarganya pun ikut menghilang tanpa menjelaskan ada apa dan kenapa, padahal dulu kami baik-baik saja.
“Vano..” Ucapku tertahan saat melihat mobilnya melintas di depanku, aku yakin yang didalam adalah Vano.
“Ada apa Nar?” Tanya Zio ikut melihat ke arah mataku tertuju.
“Aku pergi dulu.”
Kutinggalkan Zio yang duduk di taman, aku harus meminta penjelasan pada Vano.
“Van..” Tanpa malu aku langsung memeluk lelaki yang telah menghilang selama berbulan-bulan. Menangis meluapkan amarah dan kerinduan yang tak tertahankan.
“Anda siapa?” Lelaki itu melepaskan paksa tanganku yang melingkar di perutnya.
Dia bukan Vano, lalu kenapa ia masuk ke rumah Vano?
“Kamu siapa?” Tanyaku balik.
“Harusnya saya yang tanya anda siapa?” Tanya lelaki itu penuh penekanan merasa tak terima karena aku tiba-tiba memeluknya tadi.
“Saya..dimana pemilik rumah ini?” Aku langsung bertanya untuk mendapatkan jawaban yang ku inginkan.
“Oh.. Jadi kamu yang namanya Dinara?”
Darimana ia tahu namaku? Padahal kami baru saja bertemu.
“Saya Fadli, sepupunya Vano. Saya baru pindah ke sini semalam.” Kenalnya dengan mengulurkan tangan padaku.
“Aku tak peduli siapa kamu, Dimana pemilik rumah ini?” Tanyaku sekali lagi, tujuanku datang kesini hanya untuk bertemu dengan Vano, bukan untuk berkenalan dengannya.
“Mereka sudah pindah semenjak kepergian Vano.”
“Aku tau Vano pergi, tapi kenapa ibu dan ayahnya pun harus ikut pindah?” Tanyaku dengan nada yang sedikit emosi, kenapa lelaki ini tak langsung menjawab dimana keberadaannya saja, pikirku.
“Jika kau tau kenapa kau masih mencarinya?”
“Jelas aku harus mencarinya karena ia menghilang tanpa kaaa..”
DEG.. Perasaanku menjadi tak enak, Aku menatap lelaki yang kini berdiri tepat di depanku. Meminta penjelasan maksud dari kata "kepergian".
“Dia pergi untuk selamanya.” Ucapnya pelan.
“Tidak.. tidak...” Ucapku dengan gelengan kepala kuat.
“Dia pergi untuk melanjutkan sekolahnya, kau bohong..” Teriakku tak percaya dengan ucapan lelaki itu.
“Aku berkata serius, terserah kau mau percaya atau tidak. Yang jelas dia sudah tiada,tepat 8 bulan yang lalu ia kritis dan pergi untuk selamanya.”
Buliran bening ini tak dapat lagi terbendung, mengalir deras membasahi kedua pipiku, pikiranku tak menentu dan penglihatanku tiba-tiba menggelap.
“Nar.. Nara..” Samar-samar aku mendengar seseorang memanggil namaku.
Dia bukan Vano melainkan Zio, aku melihat ke sekililing ruangan. Ternyata aku sudah berada di kamar kost-ku.
“Syukurlah kau sadar.” Zio memelukku erat.
“Ikhlaskan dia Nar!” Ucap Zio pelan tepat di telingaku.
Mataku kembali memanas ketika mengingat bahwa Vano sudah tiada. Jika memang ini yang terbaik untuk kita aku ikhlas Van, semoga kau bahagia disana.
Ternyata mengikhlaskan adalah cara terbaik untuk menyembuhkan luka itu sendiri.