"Hiks... Hiks...", terdengar suara tangisan perempuan dari dalam kamar mandi sekolah. Suara tangisan itu adalah suara Reina. Gadis sebatang kara yang mengandalkan beasiswa untuk bersekolah. Dan harus bekerja sambilan disebuah mini market untuk bertahan hidup.
"Kasihan Reina. Pasti ia baru saja di bully oleh Sera", bisik seorang mahasiswi yang baru saja melewati kamar mandi. "Mmm... Benar tapi mau gimana lagi.", ucap mahasiswi yang lainya.
Dengan langkah gontai Reina keluar kamar mandi, mencuci wajahnya, dan melangkahkan kakinya menuju kelas. Wajah Reina benar-benar sangat pucat. Bahkan bibirnya berwarna keungu- unguan.
Orang yang menyebabkan wajah Reina pucat adalah Sera mantan sahabat Reina. Reina dan Sera dulu adalah sahabat sejati. Bahkan Sera yang notabenya orang kaya sering membantu Reina. Terlebih lagi saat Reina dibully oleh teman-temannya. Tapi Sera berubah membenci Reina karna sebuah kejadian 2 tahun yang lalu.
Sesampainya dikelas, Reina segera duduk di dikursinya yang berada disamping jendela. Reina membuka bukunya dan mencoret-coret sesuatu dibukunya. "Maaf tapi aku sudah lelah", ucap Reina lirih.
Saat jam terakhir, terlihat Sera pergi kekamar mandi. Diam-diam seseorang mengikuti langkah Sera. Saat Sera tengah mencuci tanganya, tiba-tiba sebuah benda keras menghantam kepalanya dan menyebabkan pandangannya memburam.
Keesokan harinya terdengar sebuah berita bahwa Sera ditemukan meninggal didalam kamar mandi sekolah. Jenazah Sera cukup mengenaskan. Tangan dan kakinya diikat dan banyak luka tusukan di badanya. Karna insiden itu pihak sekolah meliburkan murid-muridnya.
"Telah ditemukan mayat seorang mahasiswa disebuah kamar mandi sekolah dengan 12 luka tusukan di bagian tubuhnya. Blablabla", suara berita yang ada di TV.
"Ckckck... Bahkan menghitung pun mereka tak bisa" ucap Reina sembari memegang sebuah pisau yang berlumuran darah dan senyum yang mengembang
TAMAT