Perkelahian antar pelajar sudah sering terjadi, dan bukanlah sesuatu yang harus dikejutkan. Tetapi bagaimana jika sosok tersebut merupakan seorang wanita?!
Kerumunan terjadi tepat di salah satu jalan poros yang tertuju pada sebuah sekolah yang bernama Haigen School.
"Hei! Hei! Hei! Kau bilang akan memukulku bukan?!"
"A-ampuni aku, a-aku tidak akan menganggu teman-"
"Bukan hanya temanku! Tapi pada semua orang, apa kau mengerti brengs*k?!"
"Y-Ya! Kami mengerti!"
Rachel Gumino, seorang gadis yang baru saja tiba di semester awalnya tepat di tahun akhir. Bukan hanya memilik paras cantik dan otot, mulutnya juga sulit untuk terkendali.
"Lagi??"
"Jangan heran... seperti itulah dirinya."
Rachel datang di waktu yang pas, dimana kedua temannya sempat mendapat gangguan dari beberapa preman yang telah Rachel urus.
Aren dan Rumi, itulah nama kedua teman Rachel.
Setelah mengurus para preman tersebut, Rachel langsung menyusul Aren dan Rumi. "Hei, apa yang kalian bicarakan?"
"Tidak, tidak ada."
Tiba di sekolah dengan pujian dan sorotan. Semua perhatian dan gosip tentu saja tertuju pada gadis yang memiliki wajah luar.
"Ki dengar dia akan sekelas dengan kita."
"Benarkah? Senangnya~ dia sangat cantik."
"Bukan hanya cantik, dia juga pandai dalam bidang pelajaran."
"Serba bisa, itulah julukan yang orang-orang berikan padanya."
Sebuah kelas dimana menjadi tujuan Rachel, Aren dan Rumi.
"Sekelas lagi??" Ucap Rumi.
"Ini sudah ketiga kalinya." Aren menambahi.
"Aku disini!" Rachel langsung memboking tempat duduk di paling ujung dan berada di urutan kedua, lebih tepatnya di samping jendela.
"Dasar Rachel." Tukas Rachel dan Rumi bersamaan.
'Rachel Gumino, itulah namaku'
'Datang jauh dari Korea menuju Jepang bukanlah hal yang mudah'
'Masa lalu membuat diriku harus melakukan tindakan yang besar'
'Orang Tuaku? Ibuku orang Rusia, sedangkan Ayahku Jepang, yahh mungkin beliau juga memiliki darah luar'
'semua itu menciptakan kerja keras dalam diriku, dan juga... perubahan yang besar.
🍁 🍁
Salah satu guru akhirnya memasuki kelas Rachel.
"Apakah di sini masih memiliki sepasang meja dan bangku yang kosong?" Tanya guru tersebut.
"Ya, disini masih tersisa satu." Rachel mengangkat tangannya sambil menunjuk tempat di sebelahnya yang kosong.
"Baguslah! Kalau begitu anak baru tahun ini akan mendapatkan posisinya." Ucap guru tersebut dengan riang.
"Anak baru? Di musim panas?"
"Kupikir penerimaan murid baru hanya di musim semi dan gugur."
"Kira-kira pria atau wanita?"
"Ku harap dia seorang pria! Hihihi pasti tampan."
"Semoga dia seorang wanita!!"
Harapan kaum pria dan wanita berbeda dan membuat kebisingan di dalam kelas mereka.
*Anak baru?? Aku tidak peduli... selain itu... tahun ini sangat panas.. sial!* Ucapnya dalam hati.
Sesuatu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
"Представляем, меня зовут Зисеок Кай."
"HAAH?!"
"A-제 이름은 카이 지석이에요."
Rachel membulatkan kedua matanya dan otomatis berdiri dari tempat duduknya. "Kai?"
"Hei, apa-apaan ini, ternyata kalian berdua saling mengenal?"
"Whoaa~ dia tampan sekali."
"A-anu... apakah kau bisa menggunakan bahasa kami? Bahasa Jepang?" Guru mereka ikut merasa bingung dengan bahasa asing barusan.
Pria dengan tinggi di atas rata-rata tersebut terlihat kikuk. "Ziseok Kai... namaku."
"Ah~ Ziseok Kai~ selamat bergabung di kelas kami~ ngomong-ngomong bahasa apa itu barusan?"
"Rusia." Rumi menyelanya.
"R-RUSIA?!" Satu kelas heboh dengan kehadiran murid baru yang diketahui berasal dari luar negeri.
"I-ibu rasa kau dan Rachel mengenal satu sama lain... jadi... Rachel tolong bantulah Kai, oke?"
🍁 🍁
"Whoaaa!! Aku tidak menyangka bahwa kau memahami bahasa luar Rumi." Ucap salah satu murid di kelas.
"Hah? Aku tidak mengetahuinya, aku hanya tahu dari tatanan bahasanya saja." Ucap Rumi.
"Haha~ berarti kau berasal dari Rusia."
"Salam kenal, aku Yuta."
"Aku Fukita."
"A-aku wakuya."
Begitu banyak yang penasaran dengan pria bernama Kai tersebut. Seusai pertemuan pertama, meja Rachel dipenuhi dengan banyak orang.
Karena dirinya harus duduk bersebelahan dengan pria tersebut.
"Tapi... mengapa Rachel tiba-tiba meninggalkan kelas disaat Kai memperkenalkan dirinya?" Wakuya bertanya-tanya.
"Apakah... kalian teman Gumi?" Tanya Kai.
"Gumi? T-tunggu, kau bisa bahasa Jepang?!" Tanya Rumi dengan terkejut.
"Hm," Kai mengangguk. "Aku bukan berasal dari Rusia, melainkan Korea." Jelas Kai.
"Hoh! Bukankah Rachel juga berasal dari sana." Sahut Yuta.
"Oh, kau benar juga," Fukita ikut mengangguuk. "Kalau begitu... kalian berdua saling kenal."
Untuk sesaat Kai terdiam lalu tersenyum. "Entahlah."
🍁 🍁
Di sela-sela rasa penasaran mereka pada Kai, di sisi lain Rachel berhasil melepaskan diri dari kelas. Wajahnya terlihat berantakan dari pantulan kaca toilet.
"Apa... apa yang dia lakukan disini?" Lirihnya.
Setelah merasa baik, Rachel akhirnya meninggalkan toilet tersebut. Saat baru saja menapakkan kaki keluar, Aren tiba-tiba muncul dan mengejutkan Rachel.
"Aren! Kau mengagetkan ku!" Ucap Rachel.
"Ya~ aku hanya penasaran, mengapa kau meninggalkan kelas begitu saja." Ujar Aren.
"Aren."
"Hm?"
"Ayo tukar tempat duduk."
"Benarkah?!" Ucap Aren dengan bangga. "Dia itu sangat tampan dan kau tidak ingin satu tempat dengannya?!"
"K-kurasa tampan ada batasannya juga." Ucap Rachel sambil menggaruk kepalanya.
Aren tentu saja setuju. Gadis mana yang tidak ingin dekat dengan pria tampan, ditambah, Kai adalah anak pindahan dari Korea.
Setelah melupakan apa yang barusan ada di pikirannya, Rachel dan Aren, mereka berdua memutuskan untuk kembali kelas. Hanya saja... kemauan seperti itu sedikit tidak diinginkan Rachel.
Tapi apa boleh buat, dirinya masih tidak bisa membuka mulut tentang apapun.
"W-wah kau mengejutkan kami Kai." Ucap Aren yang hampir menabrak tubuh tinggi Kai.
Di ambang pintu, langkah mereka harus terhenti.
"A-aku lelah." Rachel mengambil celah untuk membiarkan dirinya masuk, meskipun yang sedang ia hadapi adalah Kai, seseorang yang masih misterius untuk diceritakan.
"Oh, Kai, mulai sekarang kau akan duduk denganku." Ucap Aren pada Kai yang masih berdiri di hadapannya.
"WHAT?! Berarti aku akan duduk dengan Rachel?!" Kedua telinga Yuta merangsang saat mendengar teman sebangkunya yaitu Aren akan bertukar tempat dengan Rachel.
"Yap!"
Untuk saat ini, Kai memutuskan untuk tidak mengatakan apapun. Dan membiarkan keadaan berjalan sesuai keinginan Rachel.
Kai dengan tubuh tinggi dan juga kekar, kedua matanya yang tidak terlalu sipit, rambut hitam pekat. Beserta dengan pesonanya yang luar biasa. Dalam satu hari saja, pria itu langsung mendapatkan teman yang banyak.
Semua itu menarik semua perhatian kaum wanita, terkecuali bagi Rachel.
Selama jam pelajaran selanjutnya hingga akhir. Dia tidak mengeluarkan ucapan apapun. Setelah semua berakhir pun, ia langsung pergi meninggalkan kelas begitu saja.
"Wah~ kita ditinggal." Ucap Aren dan Rumi bersamaan.
"..............." Kai masih belum mengucapkan apapun.
Setibanya di rumah, Rachel membanting kuat pintu rumahnya dan melempar ke sembarang arah ransel cokelatnya.
"SIAL!" Bentaknya. "Apakah masih kurang jauh untuk pergi darinya?!"
"Mengapa pria bajingan itu ada di sini?!"
"Apakah Paman dan Bibi memberitahukan padanya mengenai diriku?"
"Heiii~ ini sudah tiga tahun lamanya, kupikir di tahun yang keempat akan baik-baik saja, tapi mengapa dia ada di sini?!"
Hari-hari berikutnya selalu sama... di ambang amarahnya, Rachel juga memiliki kegiatan lain, yang berhubungan kuat dengan fisik.
"Selamat siang!"
"Oh! Kupikir kau tidak akan masuk." Ujar Hanama, salah satu teman di klub Rachel.
"Memangnya kau pernah melihatku bolos?! Bahkan aku harus mengorbankan rasa sakit perutku demi latihan."
"Lagipula latihan seperti ini memang tidak boleh kau lewatkan, hampir disetiap jam kau selalu berkelahi." Kini Aren baru saja tiba setelah mengganti pakaiannya.
Pakaian serba putih, dengan bagian depan perut menyilang. Tepat di lingkaran perut terdapat sabuk berwarna hitam, dan itu merupakan ciri khas dari Rachel.
Aren, Hanama, Jie, dan beberapa orang lainnya rata-rata memiliki warna sabuk yang sama, namun terkhusus bagi Rachel, dirinya istimewa.
"Sebelum pelatih datang, ada sesuatu yang harus ku katakan pada kalian." Ucap Jie, gadis yang berada di bawah satu tingkat dari Aren dan Rachel.
"Apa itu?" Tanya Rachel.
"Kita akan kedatangan murid baru." Ucap Jie.
"Hm, benarkah?" Sahut Rachel.
"Entah mengapa belakangan ini murid baru selalu berdatangan, sebelumnya kan..." Aren menggantungkan ucapannya.
Dari pintu luar terdengar ocehan seseorang.
"Nah, disinilah kau akan berlatih." Ucap pelatih yang datang bersama dengan seseorang.
"Oh! Sesuai dugaanku, ternyata kau... Kai." Ujar Aren.
Rachel yang sedang melakukan pemanasan langsung berdiri dan menatap pelatihnya dan juga Kain secara bergantian.
"Halo~" Di balik tubuh Kai, Rumi melambaikan tangannya.
"Kau disini juga?" Tanya Aren.
"Kai memintaku untuk menunjukkan ruang latihan Klub Tekwondo, saat perjalanan kemari, kami bertemu dengan pelatihnya... jadi sekalian aku ingin ikut dan melihat keadaanmu dan juga Rachel." Jelas Rumi panjang lebar.
"Waah penjelasanmu panjang sekali..." Tukas Aren.
"Kau disini rupaya, Rachel," kini pelatih tersebut beralih pada Rachel. "Perkenalkan, dia adalah-"
"A-aduuh!"
"Rachel? Kau kenapa?" Hanama langsung berjalan mendekati Rachel, begitu juga anak-anak yang lain.
"P-perutku sangat sakit!" Rachel memegang perutnya dan juga melonggarkan ikat pingganya hingga berlutut menahan sakit di perutnya.
Pelatih mendekati Rachel dengan wajah khawatir. "K-kalau begitu kau tidak perlu latihan, jadi buatlah dirimu beristirahat dalam satu hari ini." Jelas pelatih itu.
"B-baik." Rachel meraih tasnya dan lalu segera pergi dari tempat itu.
Jie yang memegang papan kertas sebagai absen tanda hadir berdiri di samping Kai. "Tumben sekali..." Lirihnya.
"Maksudnya?" Tanya Kai.
"Kai bukan?"
Kai mengangangguk.
"Kami tahu persis bagaimana sikap Rachel, dan ini merupakan pertama kali baginya untuk tidak mengikuti latihan,"
"Dalam keadaan apapun, gadis itu tidak pernah meninggalkan latihan, bahkan dia hampir masuk Rumah Sakit karena memaksakan dirinya untuk hadir dalam keadaan demam,"
"Aku tidak mengerti, kupikir dia tinggal dengan keluarganya atau kerabatnya... tapi dia tinggal sendirian, itulah yang ku dengar darinya."
Setelah mendengar penjelasan dari Jie, sorot mata Kai perlahan berubah. Pada akhirnya dia akan terus bertemu dengan Rachel.
🍁 🍁
Gadis tersebut duduk di depan kamar apartemennya.
"Memangnya apa yang sudah ku perbuat sehingga Tuhan mengembalikan rasa sakitku?"
Melihat begitu banyak orang yang mulai bermunculan, Rachel langsung memasuki ruangannya.
Di hari berikutnya...
"Raachel!" Sapa Rumi dengan pukulan di punggung Rachel.
"Kau mengejutkanku Rumi." Ucap Rachel sambil mengelus dadanya.
"Apa yang kau pikirkan? Oh! Mungkin rasa sakit kemarin? Apa masih terasa? Jika iya lebih baik jangan memaksakan dirimu."
"Haha~ terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
"Jangan bicara begitu... kau selalu ada disaat aku dan Aren dalam masalah, disaat itu datang, kau selalu memberikan ototmu pada orang lain." Tukas Rumi.
Pagi hari yang selalu sama, Rachel selalu bertemu temannya saat berada di jalan yang sama, apalagi saat pergi menuju sekolah.
"R-Rumi, sepertinya aku meninggalkan sesuatu, aku akan kembali dan kau duluan saja." Ucap Rachel tiba-tiba.
"Benarkah? Apa kau yakin untuk tidak menemanimu?"
"Tenang saja~ aku akan tib tepat waktu."
"Baiklah, hati-hati." Lambaian tangan Rumi mengarah pada Rachel yang mulai menjauh.
"Oh! Kai!" Kini ia menemukan seseorang tepat di depan gerbang sekolah.
Tiga puluh menit ke depan...
"Jadi... apa alasanmu sehingga tidak tiba di sekolah dengan tepat waktu?"
"B-barangku tertinggal di rumah."
"Jangan mencari alasan, wanita otot seperti mu pasti berkelahi lagi bukan?" Guru Bimbingan Konseling memang tidak terlalu akrab dengan Rachel, oleh karena itu saat Rachel tertimpa masalah dengan keterlambatannya, guru Konseling akan datang dengan sendirinya.
"Hah? Rachel tidak-"
"Aku tidak bertanya padamu Rumi, diam atau kau ku keluarkan." Sela guru Konseling tersebut.
Rumi sebenarnya ingin membela Rachel, karena dirinya mengetahui semuanya. Namun ancaman itu dan juga tatapan tajam dari Rachel membuat dirinya mengurungkan niat untuk berbicara apapun.
"Hahaha! Ibu tahu saja." Kini Rachel mengikuti alurnya.
"Sudah ku duga, berdiri dengan satu kaki selama satu jam, aku akan meminta seseorang untuk mengawasimu."
"Mengapa ibu tidak melakukannya sendiri? Dia itu Ratu para pria, mana mungkin ada yang tega dengan wajah suci itu." Para gadis dari kelas lain yang melewati kelas Rachel ikut mencibirnya.
Semua yang senang padanya bukan berarti kehidupannya terbebas dari para heaters.
"Benar juga... aku akan mengawasimu di sini."
*Sialan! Dasar jal*ng! Aku akan mencabut kedua matamu itu sialan!"* Ucap Rachel dalam hati dengan kesal.
Sudah hampir setengah jam, Rachel seperti kehilangan salah satu kakinya. Guru konseling itu selalu menatap dirinya dengan ketat, sehingga ia tidak dapat memberikan istirahat pada kakinya.
"Apa ada yang kau perlukan Kai?" Tanya guru Konseling tersebut pada Kai yang meninggalkan kelas untuk alasan tertentu.
Bruk!
"M-maaf bu..." Kai menumpahkan tinta sepidol yang di bawa tepat di baju guru konseling.
"Tidak a-apa-apa~"
"Noda itu harus segera dihilangkan, jika tidak... maka akan terus terlihat." Ujar Kai dengan parasnya yang tampan.
"B-benar juga, kalau begitu Ibu akan pergi untuk mengurus hal ini."
Tindakan Kai membuat Rachel terbebas dari jeratan.
"Kai, kau memang yang terbaik!" Bisik Rumi dari jendela.
Rachel yang sudah terbebas dari guru Konseling, membuat keseimbangannya goyah, Kai yang ada di dekatnya siap siaga untuk membantunya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Kai yang cukup dekat dengan Rachel.
"Lepaskan!" Rachel langsung melepaskan paksa genggaman Kai darinya.
Istirahat pun tiba...
"Rachel apa kau baik-baik saja?" Tanya Yuta.
"Ini bukan apa-apa... tiga gadis yang mengejekku saat di lorong, aku ingin mencabut kedua mata mereka." Ucap rachel sambil memakan cemilannya.
"Huft... aku tidak menyangka bahwa guru bisa merasakan iri pada muridnya." Tukas Fukita.
"Kai, ayo bergabung." Wakuya yang melihat Kai dan beberapa anak lainnya langsung memberikan sapa dan mengajaknya untuk bergabung.
"Aku harus menemui Guru Konseling untuk memberikan maaf, aku duluan." Rachel langsung bergegas pergi.
"Hei, bukankah ini sedikit aneh?" Tanya Rumi.
"Apanya?" Yuta bertanya balik.
"Setiap Kai datang, Rachel selalu menghindar... dan ini bukan pertama kalinya, hampir memakan satu bulan kedatangan Kai di sekolah ini, namun yang kulihat Rachel hanya memberi kesan kesal pada Kai." Jelas Rumi.
"Aku juga merasakan hal yang sama." Sahut Jie.
"Pantas saja pagi ini dia terlambat, dia beralasan meninggalkan barangnya di rumah, padahal itu hanya bualan untuk menghindar Kai yang ia lihat di depan gerbang." Jelas Rumi.
"Benarkah?!" Tanya Aren dengan heboh.
"Awalnya aku hanya berfikir biasa, tapi setelah Aren mengatakan itu, aku langsung memikirkan hal yang sebelumnya." Tukas Rumi.
"Apakah kita harus menanyakannya langsung pada Rachel?" Tanya Fukita.
Sepulang sekolah...
Kedatangan Kai yang berasal dari Negara yang sama dengan Rachel menjadi bahan pertanyaan bagi teman-teman dekatnya. Hampir memakan satu bulan, namun mereka tidak pernah menemukan Rachel dan Kai saling menyapa melainkan rasa kesal Rachel pada Kai.
Oleh karena itu, saat ini mereka memutuskan untuk bertanya langsung pada Rachel.
"Rachel, disini!" Sapa Fukita yang melihat Rachel keluar dari ruang klub.
"Kau tidak latihan lagi?" Tanya Rumi.
"A-aku tidak membawa seragamku." Jawab Rachel.
"Ada yang ingin kami tanyakan padamu." Ucap Yuta yang langsung pada intinya.
"Ada apa?"
Mereka membawa Rachel kembali ke kelas. Kai yang tak jauh dari tempat itu berniat untuk mengikuti mereka dan mencari tahu apa yang terjadi.
"Sebenarnya apa alasanmu berlaku seperti ini pada Kai? Bukankah dia anak yang baik?"
"Dia juga mengetahui dirimu, tapi kau bersikap seolah-olah tak mengenal dirinya."
"Apa yang selama ini kau pikirkan sehingga harus menunjukkan kekesalanmu pada Kai disetiap waktu."
"Katakan Rachel, kau tidak bisa menyembunyikan apapun dari kami."
'Yaa... diriku yang kembali ke kampung halaman ku bukanlah sesuatu yang direncakan'
'Semuanya terjadi secara mendadak, dan itu semua membuat diriku berubah'
'bukan berubah melainkan merubah'
"Bagaimana perasaan kalian jika harus diberi kebohongan?"
"Dan kebohongan itu selalu terucap di setiap waktu... di setiap detik yang ada..."
"Apakah kalian akan tetap terlihat baik-baik saja?"
"Apakah kalian dapat melupakannya seolah-olah tidal merasakan apapun?"
Seharusnya... semua kalimat itu harus ia pendam seorang diri. Namun pada akhirnya, ia harus mengatakan semuanya di hadapan teman-temannya.
"Sosok gadis seperti Ratu... gadis berotot yang hanya memikirkan perkelaihan... apakah kalian pikir aku tidak terbebani dengan kalimat itu?"
"Memangnya apa yang harus ku katakan pada kalian?"
"Tiga tahun waktu-waktu yang sulit bagiku... tidak mudah melupakannya."
Semua temannta terdiam... Rachel yang mereka kenal seperti monster dan juga cantik, kini tengah menangis tersendu-sendu di hadapan seluruh temannya.
"Aku selalu mencoba untuk menguburnya, namun kalian mencoba untuk kembali menggalinya."
"Kalimat manis... janji manis... harapan manis... semua itu harus ku tinggalkan selama tiga tahun."
"Dan sekarang..."
"Kalian membuatku harus mengatakannya."
Rachel menutup wajahnya dan menangis.
Rachel yang menjadi murid baru tepat di hari penerimaan di tahun pertama saat SMA. Dan ternyata dirinya sedang kabur dan mencoba untuk melupakannya, mencoba untuk melakukan hal lain yang dapat mengecohkannya dari masa lalu.
Masa lalunya yang begitu terbebani menciptakan pengorbanan yang besar.
"Jika kalian ingin tahu alasan sikapku padanya..."
"Itu karena aku membencinya..."
"Hatiku terlalu sakit menerima ucapannya kembali..."
"Pandanganku terlalu perih untuk melihat wajahnya kembali..."
"Perasaanku telalu tertekan karena harus merasakan kehadirannya kembali..."
Dari balik pintu kelas, Kai hanya menunduk dan terlihat melemas. Pandangannya sama sekali tidak pernah tertuju ke manapun. Apa yang ia dengar seperti suara hati yang pernah ia berikan rasa sakit, dan rasa sakit itu tidak akan pernah hilang.
Dan Rachel yang sekarang... kembalinya seseorang dari masa lalu, membuat dirinya harus melawan. Melawan jika takdir harus memaksakan dirinya untuk kembali bertemu dengan dirinya. Tidak ada alasan apapun, Rachel bukanlah Gumi yang dulu.
Sedangkan Gumi yang dulu bukanlah Rachel yang sekarang...
Semuanya berbeda...
Dan semua itu berpusat pada masa lalunya...
END~
Just Info : Untuk lebih lanjutnya akan saya adaptasi menjadi salah satu Chat Story karya saya, oleh karena itu silahkan berkomentar yang banyak, like & share (eaaa), dan tunjukkan pada saya apakah kalian memang menginginkan kelanjutan dari kisah ini.
Untuk Upnya Sekitar akhir Agustus/2021
Sekian~
Fight Back (Melawan)